PENGERTIAN DAN PERMASALAHAN NILAI SOSIAL

By On Tuesday, November 18th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Menurut pemahaman populis nilai sosial ialah segala yang dianggap baik dan jahat bagi kehidupan bersama. Nilai sosial menurut pemahaman ilmiah akan dibicarakan di bawah. Terlebih dahulu kita lihat masalah berikut.

Pertama, apakah nilai sosial itu hanya merupakan perkara su-bjektif, tergantung pada penilaian seseorang? Kalau demikian, nilai sosial tidak ada di dalam realitas, melainkan hanya berada di dalam kepala seorang penilai. Benarkah itu hanya masalah psikologis dan bukan sosiologis? Pada waktu lampau jawaban atas masalah sosial itu memang tidak unanim, namun dewasa ini sosiolog umumnya sepakat bahwa nilai sosial merupakan fakta sosial yang nyata dan dapat dipelajari secara analitis-ilmiah.

Kedua, adakah gunanya mengkaji nilai sosial dari sudut pandang sosiologis? Bukankah sudah cukup dengan kaca mata ekonomi atau dengan kaca mata etika? Jawaban atas soal ini memang belum pasti, masih diperlukan pengkajian secara sosiologis. Alasannya memang mendasar, banyak kejadian di masyarakat yang tidak dapat diterangkan oleh rumusan-rumusan ekonomi. Misalnya, mengapa banyak orang rela mati dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya? Mengapa di negara-negara maju banyak orang rela meninggalkan negara, orangtua dan sanak saudaranya yang serba kecukupan dan tinggal pergi bersama suku-suku bangsa yang buta huruf, miskin dan menderita; lantas menyibukkan diri dalam karya pendidikan, kesehatan dan karya perikemanusiaan lainnya? Mengapa kita rela melestarikan eksistensi Pancasila sebagai dasar negara, bahkan sebagai asas tunggal keorganisasian massa warga negara Indonesia? Kejadian-kejadian seperti itu jelas tidak dapat diterangkan berdasarkan nilai-nilai ekonomi semata, karena para pelakunya tidak memperoleh keuntungan ekonomi, bahkan sering kali sebaliknya. Mereka melihat adanya nilai lain: nilai sosial.

Demikian pula hal-hal di atas tidak dapat diterangkan secara me-muaskan hanya dengan menunjuk nilai-nilai etika belaka karena nilai etika atau moral pada hakikatnya mengikat hati nurani manusia. Manusia yang melalaikannya dijatuhi sanksi dan dinyatakan melakukan kejahatan moral. Sedangkan pada contoh di atas tiada hal-hal yang sifatnya mengikat suara hati. Semuanya dilakukan bukan karena “wajib”, melainkan melulu karena hasrat dan kemauan sukarela. Para peminatnya melihat bahwa perbuatan itu semua mengandung nilai-nilai yang berguna bagi manusia dan masyarakat. Nilai-nilai itulah yang disebut nilai-nilai sosial. Jadi kejadian dalam masyarakat seperti diuraikan di atas akan memberikan jawaban yang lebih memuaskan jika dibahas secara sosiologis. Kecuali hal-hal tersebut di atas masih ada masalah lain yang pembahasannya tidak dapat diserahkan kepada ilmu lain selain sosiologi. Lagi pula sosiologi melalaikan pembahasan masalah tersebut, tidak bisa lagi ditunjukkan tolok ukur yang khas sosiologis. Masalah termaksud di atas lebih jelas jika diterangkan dengan contoh seperti berikut ini.

Mengapa ruang status sosial tingkat menengah atas di Indonesia setengah abad yang lampau ditempati oleh para bangsawan dan sekarang diduduki oleh orang-orang pandai bukan tingkat bangsawan? Mengapa hal demikian terjadi? Atas dasar kriteria mana hal itu benar- benar teijadi? Siapakah yang menentukan berlakunya tolok ukur (kriteria) itu? Untuk berapa lama tolok ukur itu berlaku dan kapan diang-gap tidak berlaku lagi? Sesungguhnya dengan contoh di atas serta pertanyaan-pertanyaan yang mengikutinya kita berhadapan dengan alat-alat penentu (determinan) yang dipakai masyarakat untuk menilai segala sesuatu yang ada di dalam masyarakat, bahkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Setelah penilaian itu dilakukan maka tiap-tiap orang, barang dan ciptaan manusia diberi tempat yang sesuai dengan nilai yang diberikannya.

PENGERTIAN DAN PERMASALAHAN NILAI SOSIAL | ADP | 4.5