PENGERTIAN DEPRESI VERSUS DEMENSIA

By On Friday, August 30th, 2019 Categories : Bikers Pintar

PENGERTIAN DEPRESI VERSUS DEMENSIA – Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sejumlah riwayat kasus dan berbagai penelitian mencatat bahwa simtom-simtom pada orang lanjut usia, yang tampak seperti demensia, akan berhenti secara spontan atau membaik bila depresi yang mereka alami ditangani. Memang, kasus-kasus depresi pada orang lanjut usia sering kali salah didiagnosis sebagai demensia karena hendaya kognitif yang sering kali terjadi pada orang-orang yang mengalami depresi. Ini merupakan isu penting dalam diagnosis diferensial karena depresi umumnya dapat dipulihkan, sedangkan demensia biasanya tidak demikian.

Para pasien depresi dapat menjadi pelupa, membuat keluarga mereka mencurigai terjadinya demensia. Namun, bila orang yang depresi dapat mengeluh bahwa ia menjadi pelupa, maka mereka yang menderita demensia dapat lupa bahwa mereka lupa! Terlebih lagi, pasien depresi cenderung mengecilkan kemampuan mereka dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai umpan balik negatif. Orang lanjut usia yang depresi, meskipun lebih banyak mengeluhkan tentang masalah memori dibanding pasien kontrol yang tidak mengalami depresi, namun tidak mendapatkan hasil yang lebih buruk dibanding kelompok kontrol dalam berbagai tes memori neuropsikologis (O’Connor dkk., 1990); kinerja mereka dalam berbagai tes tersebut di atas rata-rata atau superior sekalipun mereka mengeluhkan masalah kelemahan memori. Kesenjangan antara keluhan masalah memori dan kelemahan memori aktual pada orang lanjut usia yang mengalami depresi juga ditemukan pada orangorang yang berusia lebih muda dan mungkin mencerminkan penilaian yang merendahkan diri sendiri dalam sindrom klinis depresi.

Perbedaan lain antara mereka yang mengalami depresi dan mereka yang mengalami demensia adalah orang-orang yang depresi cenderung melakukan lebih banyak kesalahan karena lupa; mereka mungkin tidak menjawab pertanyaan karena terlalu sulit bagi mereka untuk mengingat sesuatu atau karena mereka khawatir melakukan kesalahan. Di sisi lain, orang-orang yang menderita demensia cenderung melakukan kesalahan acak atau konfabulatori. (Konfabulasi adalah mengisi beberapa kekosongan dalam memori dengan berbagai cerita yang hanya karangan dan sering kali mustahil yang dianggap benar oleh orang yang bersangkutan).

Tentu saja, pasien dapat mengalami demensia sekaligus depresi. Contohnya, pasien Alzheimer dapat menjadi depresi karena semakin besarnya keterbatasan fisik dan kognitifnya. Dan juga perlu diingat penelitian baru-baru ini yang menunjukkan hubungan sebab akibat yang bertentangan, yaitu bahwa depresi meningkatkan risiko terjadinya penyakit Alzheimer.

PENGERTIAN DEPRESI VERSUS DEMENSIA | ADP | 4.5