PENGERTIAN FAKTOR PEMBATAS

By On Monday, March 10th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Dalam ilmu lingkungan, adalah faktor fisik maupun kimia yang menentukan apakah suatu organisme dapat bertahan hidup dalam suatu ekosistem tertentu. Dalam banyak ekosistem, curah hujan merupakan suatu faktor pembatas.

Ada dua jenis faktor pembatas yang dapat meng­atur pertumbuhan populasi, yaitu faktor pembatas ekstrinsik dan intrinsik. Faktor pembatas ekstrinsik berasal dari luar populasi, seperti zat hara, iklim, cahaya, dan penyakit untuk tanaman. Untuk hewan, contoh faktor ekstrinsik yang mengontrol populasi adalah persediaan makanan, iklim, penyakit, dan interaksi antar spesies.

Faktor pembatas intrinsik adalah faktor pembatas yang terjadi di dalam populasi itu sendiri, antara lain teritorialisme. Misalnya, suatu kelompok singa akan melakukan kegiatan sehari-hari mereka di atas satu wilayah kekuasaan tertentu. Wilayah kekuasaan ter­sebut akan selalu mereka pertahankan terhadap ke­lompok singa lain yang masuk. Teritorialisme dapat membatasi ukuran populasi dengan mengurangi per­sediaan makanan bagi anggota kelompok yang lemah, sehingga mereka akan terusir ke daerah yang lebih ra­wan dan lama kelamaan akan mati.

Jika persediaan makanan dalam suatu tempat ba­nyak, luas wilayah akan lebih kecil. Ini berani bah­wa dalam lokasi itu lebih banyak anggota kelompok yang dapat hidup. Sebaliknya, dengan kelangkaan ma­kanan wilayah akan makin meluas, dan ini berarti bahwa ukuran populasi semakin kecil.

Faktor intrinsik lain yang membatasi jumlah po­pulasi adalah ketegangan sosial. Setiap organisme mempunyai ruang pribadi, yaitu suatu wilayah di se­kitar organisme (yang tidak boleh dimasuki organisme asing) yang besarnya bergantung pada berbagai situasi, umur, status, jenis kelamin, dan norma-norma sosial jenis tersebut. Jika suatu organisme asing masuk ke dalam ruang pribadi organisme lain dari spesies yang sama, maka terjadi perubahan fisiologis kedua orga­nisme tersebut. Interaksi sosial sesama jenis dalam „ suatu wilayah tertentu disebut kerapatan sosial yang bertolak belakang dengan kerapatan populasi aritme- tik, yaitu jumlah total organisme dalam suatu wilayah tertentu tanpa memperhatikan interaksi sosial mere­ka. Jika kerapatan populasi meningkat, kerapatan so­sial pun meningkat. Kerapatan sosial yang terlalu ting­gi disebut kelewatpadatan (overcrowding).

Menurut Liebig (1840), keberadaan, kelimpahan, atau distribusi suatu organisme ditentukan oleh ting­katan kondisi dari satu atau lebih faktor pembatas, di bawah atau di atas kondisi yang dibutuhkan oleh organisme itu. Suatu faktor dapat membatasi pertumbuhan suatu organisme. Misalnya, seorang petani menanam jagung di lahan yang kekurangan nitrogen. Walaupun energi matahari, air, dan zat hara lain yang diperlukan ja­gung tersebut tersedia dengan baik, tetapi pertumbuh­annya tetap lambat jika salah satu zat hara, dalam hal ini nitrogen, tidak tersedia. Dalam kasus ini, nitro­gen merupakan faktor pembatas (Hukum Minimum Liebig).

Hukum Liebig berlaku jika berada pada kondisi imbang {steady state), yaitu jika aliran masuk energi dan materi seimbang dengan aliran keluarnya. Misal­nya, kadar CO2 yang merupakan faktor pembatas paling menentukan dalam suatu danau berada dalam keadaan seimbang dengan produktivitas danau itu, dengan asumsi bahwa keadaan cahaya, nitrogen, fos­for -lan unsur hara vital lainnya cukup dan dalam icondisi seimbang (bukan merupakan faktor pemba­tas). Tetapi jika badai membawa lebih banyak CO2 ke danau, laju produksi akan berubah dan tergantung pada faktor lainnya juga.

Jika laju tersebut berubah, maka tidak ada kese­imbangan dan unsur pokok minimum. Oleh karena itu reaksinya tergantung pada konsentrasi semua un­sur pokok yang ada, yang dalam masa transisi ini ber­beda dengan kondisi sebelumnya. Laju produksi akan berubah lagi begitu berbagai unsur terpakai, sampai mungkin CO2 menjadi terbatas lagi. Dengan demi­kian sistem tersebut akan berlaku dengan pembatasan, seperti Hukum Minimum.

Faktor interaksi, yaitu konsentrasi tinggi atau per­sediaan dari suatu unsur, atau aksi dari beberapa fak­tor di luar minimum dapat mengubah laju penggunaan unsur yang minimum. Kadang-kadang ada yang da­pat disubstitusi, misalnya jika strontium banyak ter­dapat, maka makhluk moluska dapat menggantikan kalsium dengan strontium bagi pembentukan kulit kerasnya.

Berapa jenis tumbuhan membutuhkan lebih se­dikit zink jika berada pada daerah yang terlindung sinar matahari daripada jika tumbuh di daerah penuh sinar. Oleh karena itu, konsentrasi zink yang rendah di dalam tanah akan menjadi faktor pembatas untuk tanaman yang tumbuh di tempat teduh. Hal ini tidak terjadi pada tanaman yang tumbuh di daerah terbuka.

Dalam hubungan dengan Hukum Liebig, maka ti­dak saja terlalu sedikit unsur sinar, panas, dan air me­rupakan faktor pembatas, sebaliknya terlalu banyak unsur-unsur itu juga menjadi faktor pembatas. Jadi organisme mempunyai tingkatan ekologi dari mini­mum ke maksimum yang disebut toleransi.

 

Incoming search terms:

  • faktor pembatas
  • pengertian faktor pembatas
  • Jelaskan yang dimaksud dengan faktor pembatas
  • faktor pembatas adalah
  • Faktor pembatas dalam Ekosistem
  • Apa yang dimaksud faktor pembatas
  • jelaskan yang dimaksud faktor pembatas
  • faktor pembatas populasi
  • apa yang dimaksud dengan faktor pembatas
  • faktor pembatas ekosistem
PENGERTIAN FAKTOR PEMBATAS | ADP | 4.5