PENGERTIAN FILM FOTOGRAFI

By On Monday, March 17th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Atau film potret, adalah emulsi peka-cahaya yang disalutkan pada suatu penopang atau dasar berupa lembaran bahan yang fleksibel, un­tuk merekam bayangan yang difokuskan kepadanya oleh suatu sistem lensa khusus. Sistem lensa ini lazim disebut kamera atau tustel foto.

 

Pembikinan Film.

Sebagai penopang umumnya di­gunakan film plastik. Plastik film yang fleksibel umumnya terbuat dari selulosa asetat. Bahan ini di­peroleh dengan memauk serat kapas dengan asam asetat (cuka murni). Selulosa asetat dilarutkan dalam aseton sehingga diperoleh cairan kental dan jernih. Cairan ini dikeringkan dalam drum pu­tar, yang dinding dalamnya disalut kromium. Sete­lah pelarutnya menguap karena dipanaskan, akan di­peroleh lembar plastik yang fleksibel, tipis, dan jer­nih. Penopang atau dasar yang fleksibel dalam ben­tuk gulungan sinambung itu kemudian disalut dengan emulsi.

Bahan emulsi film pada prinsipnya terbuat dari ge­latin, perak nitrat, dan kalium bromida. Pada waktu ramuan ini dicampur, terjadilah reaksi kimia dan ter­bentuk kristal endapan perak bromida, yang tersus- pensi dalam gelatin. Sementara itu kalium nitratnya dibuang dengan pencucian. Kepada gelatin itu kemu­dian ditambahkan zat-zat tambahan sesuai dengan tu­juan film. Sesudah itu gelatin disalutkan pada peno­pang dan dikeringkan. Seluruh proses penyalutan ha­rus dilaksanakan dalam kegelapan total.

Film tersalut itu dipotong-potong, digulung, dan dikemas. Untuk kamera bioskop, pita film itu juga harus dilubangi.

 

Foto Hitam-Putih.

Industri, masyarakat keilmuan, kedokteran dan biro iklan merupakan contoh bidang- bidang yang memerlukan fotografi. Karena tujuan­nya beraneka macam, maka dikembangkan lebih dari 200 jenis film hitam-putih. Banyak di antaranya sa­ngat berbeda sifatnya dari film yang lazim digunakan oleh kaum awam. Dewasa ini film hitam putih jenis hiburan praktis telah tergeser sama sekali oleh film berwarna, tidak saja di negeri maju, tetapi juga di ne­geri yang sedang berkembang. Fotografi hitam-putih terbatas untuk keperluan resmi (pasfoto), penerbitan hitam-putih, dan kedokteran (foto Roentgen).

Sifat fotografi suatu film pada hakikatnya adalah ihwal respons film itu terhadap cahaya. Ciri cahaya adalah warna dan intensitas, baik intensitas total mau­pun intensitas tiap warna komponen. Dalam hal pe­motretan, dua variabel dapat diatur untuk memper­oleh intensitas cahaya, yaitu besarnya celah yang di­lewati cahaya, dan lama pemotretan. Sifat fisika film mencakup keawetan, sifat tembus cahaya dan keda­taran lembar penopangnya, tebalnya emulsi, serta ka­rakteristik penyerapan atau pemantulan cahaya oleh salutan emulsi itu.

Ditentukan ba­nyaknya garis per milimeter yang nyaris tak dapat di­pisahkan satu sama lain. Daya pisah film modern ber­variasi dari 55—2000 garis per milimeter. Emulsi de­ngan daya pisah luar biasa digunakan misalnya da­lam spektroskopi/pembuatan mikrosirkuit terpadu, dan penelitian ilmiah lain. Biasanya emulsi ini juga’ harus tipis untuk menghindarkan hamburan cahaya dalam emulsi.

Ketajaman. Emulsi dikatakan tajam bila mampu menghasilkan bayangan (gambar) yang pinggirnya ta­jam, tidak baur. Ukuran kuantitatif ketajaman (yaitu akutans) dilakukan dengan menganalisis struktur bayangan yang terbuat dari mata pisau yang ditem­pelkan pada emulsi.

Zat Warna Antihalasi. Cahaya yang berhasil me­nembus emulsi dapat dipantulkan kembali ke dalam emulsi oleh filmnya. Pantulan ini akan membentuk lingkaran terang yang mengelilingi bayangan dari objek yang terang, sehingga ketajaman potret menu­run. Untuk menghilangkan atau meminimalkan apa yang disebut efek halasi (halo adalah lingkaran yang mengelilingi bulan purnama atau matahari bila udara lembap) ini, kebanyakan film dibubuhi zat warna yang menyerap cahaya pada dasar emulsi. Dalam proses pencucian, zat warna ini akan terbuang, habis.

Film Berwarna. Proses Warna Aditif. Sudah sejak tahun 1861, James Clark Maxwell, fisikawan besar Inggris, memperagakan gambar berwarna pada layar, dengan menggunakan tiga potret sekelompok pita warna-warni. Pita itu dipotret tiga kali dengan cahaya putih tiga kali, yang tiap kali dilewatkan larutan ber­warna merah, atau hijau atau biru. Pada peragaan di­buat slaid positif berdasarkan ketiga film negatif itu. Slaid ini serentak diproyeksikan dengan cahaya pu­tih ke layar sehingga proyeksinya tepat berimpit. Se­belum mencapai layar, berkas cahaya itu dilewatkan larutan berwarna tersebut di atas.   sebuah gambar warna-warni pita seperti asli­nya. Penemuan lebih dari seabad yang lalu inilah yang merupakan kunci asas yang digunakan dalam film ber­warna aditif. Gagasan pemisahan warna ini dilaku­kan orang bukan saja terhadap film atau emulsinya, tetapi juga terhadap kameranya.

 

Kepekaan terhadap Warna.

Kepekaan suatu emulsi potret terhadap warna menyatakan respons emulsi itu terhadap cahaya yang beraneka warna. Perak bro­mida, bahan peka-cahaya utama dalam semua emulsi film modern, ternyata hanya peka terhadap cahaya M biru dan cahaya yang lebih pendek gelombangnya, SP yakni ungu dan ultraviolet. Untuk meningkatkan dan mengendalikan respons suatu emulsi film terhadap cahaya dengan warna tertentu, harus dibubuhkan ber­bagai zat warna ke dalam emulsi. Dalam tahun 1873, H.W. Vogel, ahli kimia Jerman, menemukan bahwa kepekaan emulsi dapat diperlebar dengan mengguna­kan zat warna. Zat warna merah memekakan emulsi terhadap cahaya hijau, dan zat warna biru terhadap cahaya merah. Zat warna yang paling banyak digu­nakan dalam emulsi potret adalah golongan sianina.

Ditilik dari kepekaan terhadap warna ini, emulsi digolongkan dalam empat kelas: (1) bahan peka-biru (; -au tak dipekakan terhadap warna) hanya peka akan I cahaya biru, ungu, dan ultraviolet, (2) bahan ortokrornatik juga peka hijau, di samping peka biru dan ultra- I violet, (3) bahan pankromatik peka terhadap semua I warna tampak maupun ultraviolet, (4) bahan lain-lain | yang khusus, misalnya bahan peka cahaya inframe-rah, atau sinar-X.

Film dan Intensitas Cahaya. Respons bahan potret I terhadap pemotretan dan dalam proses pencuci-cetakan (development) diperikan oleh rapatan (hitam- nya) film beserta kurva karakteristiknya dan kecepatan pemotretan. Kurva itu dialurkan berdasarkan hasil sederetan pemotretan yang dikendalikan dengan cermat. Makin lama waktu singkapan pemotretan f (exposure), akan makin hitam hasil film itu setelah dicuci. Kehitaman ini dinyatakan oleh istilah rapatan (densitas). Bila rapatan itu dialurkan terhadap lama j singkapan, akan diperoleh kurva karakteristik yang bentuknya mirip huruf S, yang sebagian besar bagian 5 tengahnya berupa garis lurus.

Kecepatan. Kepekaan emulsi terhadap cahaya atau I kecepatan bereaksinya terhadap cahaya, yang lazim debut kecepatan, dapat dijadikan sangat bervaria­si. dengan menyesuaikan ukuran kristal perak halida I dalam emulsi dan dengan pemekaan kimiawi. Dalam I tahun 1925, Samuel E. Sheppard, kimiawan Amerika, | menemukan bahwa perak sulfida dalam bentuk bintik- I bintik renik dalam kristal perak halida akan meningkatkan kepekaan itu.

Tegasan atau definisi suatu film adalah kejernihan I direproduksikannya suatu rincian oleh suatu film. Kejernihan ini merupakan efek gabungan antara keber- butiran dan ketajaman. Biasanya hasil foto yang ku­rang berbutir-butir akan tampak lebih terpilah dan tajam.

Butiran. Sebaran tak teratur (atau penggumpalan) butiran perak mengakibatkan film yang telah dicuci itu tampak berbutir-butir. Gejala ini baru tampak nyata pada potret yang sangat diperbesar. Butir pe­rak itu sendiri masing-masing baru tampak bila di­amati di bawah mikroskop. Makin besar butiran kristal perak halida dalam emulsi akan makin banyak | cahaya yang diserap ketika dilakukan pemotretan. Butiran ini nanti akan menyebabkan terbentuknya butir- I an perak berwarna hitam yang besar pula pada film I setelah dicuci. Oleh karena itu film cepat {fast film, misalnya film dengan bilangan ASA 400) lebih ber­butir-butir dibandingkan film lambat (misalnya film ASA 100).

Sekitar awal abad ke-20 digunakan emulsi yang di­tutup dengan unsur-unsur halus berwarna merah, hi­jau, dan biru (proses Autokrom, Dufaycolor, dan Finlay). Yang berperanan sebagai filter warna dalam pembentukan bayangan. Setelah film dicuci dengan proses yang urutannya terbalik, unsur-unsur berwar­na itu berperanan sebagai filter pandangan, sehingga pengamat akan melihat bayangan berwarna. Namun proses ini masih dirasakan terlalu rumit dan mahal.

Proses Subtraktif. Hampir semua film berwarna modern menggunakan warna primer subtraktif, yakni kuning, magenta, dan sian, untuk membentuk ga­bungan warna. Zat warna kuning akan menyerap war­na biru, zat warna magenta menyerap warna hijau, dan zat warna sian menyerap warna merah. Bayang­an zat warna diciptakan dalam tiga lapisan emulsi yang terbentuk satu di atas yang lain, dengan plastik atau kaca sebagai penopang. Cahaya putih yang menem­bus zat ini akan diteruskan tetapi warna-warna ter­tentu akan tertahan karena penyerapan.

Kodachrome merupakan film berwarna pertama untuk penggunaan umum oleh awam. Pada film ini terdapat tiga lapisan emulsi, yang masing-masing di­bubuhi zat warna berlainan. Lapisan teratas hanya pe­ka terhadap cahaya biru. Di bawah lapisan ini ada la­pisan filter kuning, yang akan menyerap semua ca­haya biru yang belum terserap. Lapisan filter ini da­lam pemrosesan akhir nanti akan terbuang habis. Di bawah lapisan filter ini terdapat lapisan emulsi yang peka-hijau, dan di bawahnya lagi lapisan peka-merah. Pencucian film jenis Kodachrome merupakan proses kompleks yang menghasilkan tiga bayangan zat war­na terpisah, yang terbentuk dalam ketiga warna pri­mer subtraktif (kuning, magenta, dan sian). Ciri film jenis ini adalah bahwa zat warna terbentuk selama pencucian tiap lapisan dengan menggabungkan dua komponen bahan pencuci: bahan pencuci itu sendiri dan suatu bahan kimia khusus yang disebut penggan­deng zat warna. Dalam film berwarna lain, yang le­bih sederhana pencuciannya, sehingga dapat diproses sendiri oleh si pemotret, penggandeng itu telah dibu­buhkan dalam lapisan-lapisan emulsi, tidak dalam la­rutan pencuci.

Film Negatif Berwarna untuk membuat potret ber­warna serupa dengan film positif berwarna, kecuali bahwa warna-warna tidak dibalik dalam pemrosesan­nya; oleh karena itu warna yang dibubuhkan ke da­lam film negatif ini adalah komplementer dengan war­na objeknya. Bila kertas foto warna dikenai cahaya putih yang telah dilewatkan film negatif ini, akan di­peroleh foto berwarna positif. Kertas foto warna ini memiliki emulsi yang serupa dengan emulsi film ne­gatif berwarna itu. Dari film negatif ini dapat dibuat foto berwarna dengan segala ukuran, foto hitam pu­tih, maunun slaiu transparan berwarna.

 

PENGERTIAN FILM FOTOGRAFI | ADP | 4.5