PENGERTIAN GENDER DAN KESEHATAN

By On Friday, August 23rd, 2019 Categories : Bikers Pintar

PENGERTIAN GENDER DAN KESEHATAN – Pada usia berapa pun sejak dilahirkan hingga usia 85 tahun atau lebih, jumlah laki-laki yang meninggal lebih banyak dibanding perempuan. Laki-laki memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk meninggal karena kecelakaan kendaraan bermotor dan pembunuhan, sirosis, penyakit jantung, penyakit–paru-paru, kanker paru-paru, dan bunuh diri. Meskipun demikian, tingkat morbiditas—yaitu kesehatan yang buruk secara umum atau insiden beberapa penyakit spesifik pada perempuan lebih tinggi. Contohnya, tingkat kejadian penyakit diabetes, anernia,–triasalah pencernaan, systemic lupus erythematosus, dan artritis rhematoid lebih tinggi pada perempuan; mereka menuturkan berobat ke dokter lebih sering, minum obat-obatan yang diresepkan lebih banyak, dan dua pertiga dari seluruh operasi di Amerika Serikat dilakukan terhadap perempuan. Dan pada tahun-tahun terakhir ini, keuntungan perempuan dari sisi mortalitas menurun. Contohnya, angka kematian karena penyakit kardiovaskular turun pada kaum laki-laki pada akhir abad ke-20, namun tidak demikian pada perempuan (Rodin & Ickovics, 1990); kematian karena penyakit kardiovaskular lebih umum terjadi pada perempuan etnis Afrika Amerika dibanding perempuan kulit putih.

Apa saja kemungkinan penyebab perbedaan tingkat mortalitas dan morbiditas pada laki-laki dan perempuan? Dari sisi keuntungan biologis perempuan mungkin memiliki semacam mekanisme yang melindungi mereka dari beberapa penyakit yang mematikan. Data yang diperoleh dari berbagai studi epidemiologis dan observasional menunjukkan bahwa estrogen dapat melindungi dari penyakit kardiovaskular, untuk menyebut satu contoh. Berdasarkan bukti tersebut, banyak perempuan menjalani terapi penggantian hormon setelah mengalami menopause sebagai upaya untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Meskipun demikian, terkait dengan satu jenis penyakit kardiovaskular, data yang diperoleh dari uji coba klinis terapi penggantian hormon bagi perempuan pascamenopause yang dilakukan secara random untuk pertama kalinya (dan hingga saat ini adalah satu-satunya), yang disebut the Heart and Estrogen/Progestin Replacement Study (HERS), gagal menghasilkan pengurangan risiko PJK pada perempuan yang menjalani terapi penggantian hormon (Hulley dkk., 1998). Berbagai studi lanjutan perlu dilakukan untuk menemukan, jika ada, efek protektif estrogen untuk mengurangi risiko PJK pada kaum perempuan.

Dari sudut pandang psikologi, beberapa bukti menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk berkepribadian Tipe A dan juga tidak se-hostile laki-laki (Waldron, 1976; Weidner & Collins, 1993). Eisler dan Blalock (1991) mengajukan hipotesis bahwa pola Tipe A merupakan bagian dari dan kumpulan komitmen kaku terhadap peran gender maskulin tradisional, yang menekankan prestasi, keahlian, perkompetisian, tidak meminta bantuan atau dukungan emosional, kebutuhan yang berlebihan untuk memegang kendali, dan kecenderungan untuk marah serta mengekspresikannya saat merasa frustrasi. Mereka mengaitkan berbagai atribut tersebut pada kencederungan laki-laki untuk lebih mudah terkena berbagai penyakit koroner dan risiko kesehatan lain yang disebabkan stres, seperti hipertensi (Harrison, Chin, & Ficarrotto, 1989).

Meskipun demikian, semakin banyak bukti yang mengindikasikan bahwa kernarahan tidak selalu lebih banyak dirasakan dan ditunjukkan oleh laki-laki (a.1., Kring, 2000; Lavoie dkk., 2001). Terlebih lagi, meningkatnya hostilitas dan menahan atau mengekspresikan kemarahan berhubungan faktor-faktor risiko PJK pada kaum perempuan (Matthews dkk., 1998; Rutledge dkk., 2001). Selain itu, kecemasan dan depresi lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki dan juga berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang peran berbagai variabel psikologis tersebut dalam perbedaan angka kematian karena penyakit kardiovaskular pada laki-laki dan perempuan.
Pertanyaan lain berkaitan dengan mengapa kesenjangan antara angka kematian laki-laki dan perempuan berkurang. Pada awal abad ke-20 sebagian besar kematian disebabkan oleh epidemik dan infeksi, namun dewasa ini sebagian besar kematian disebabkan oleh penyakit yang ditimbulkan oleh gaya hidup. Salah satu kemungkinan yaitu perbedaan gaya hidup antara laki-laki dan perempuan menyebabkan perbedaan angka kematian pada kedua jenis kelamin tersebut dan gaya hidup tersebut saat ini tidak lagi sangat berbeda antara keduanya. Laki-laki lebih banyak merokok dan mengonsumsi alkohol dibanding perempuan. Perbedaan tersebut kemungkinan merupakan kontributor terhadap angka kematian karena penyakit kardiovaskular dan kanker paru-paru yang lebih tinggi terjadi pada laki-laki. Namun demikian, pada tahun-tahun terakhir, perempuan mulai lebih banyak merokok dan minum alkohol, dan perubahan tersebut disertai dengan meningkatnya kejadian kanker paru-paru dan kegagalan turunnya angka kematian karena penyakit kardiovaskular pada perempuan.

Penjelasan lain difokuskan pada identifikasi dan penanganan penyakit pada perempuan. Contohnya, walaupun penyakit kardiovaskular merupakan pembunuh nomor satu pada perempuan, namun masih diyakini secara luas bahwa laki-lakilah yang seharusnya lebih khawatir terhadap penyakit jantung. Selain itu, perempuan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk dirujuk ke program rehabilitasi kardiovaskular setelah mengalami serangan jantung, yang mungkin berkontribusi terhadap tidak berkurangnya angka kematian perempuan karena penyakit tersebut. Terdapat beberapa kemungkinan penjelasan atas perbedaan morbiditas pada laki-laki dan perempuan. Pertama, karena umumnya perempuan berumur lebih panjang dibanding laki-laki, mereka lebih mungkin menderita beberapa penyakit yang berhubungan dengan penuaan. Kedua, perempuan dapat lebih memperhatikan kesehatannya dibanding laki-laki sehingga lebih mungkin datang ke dokter untuk mendapatkan diagnosis. Ketiga, perempuan lebih sering mengalami stres dibanding laki-laki dan mereka menilai stres berdampak lebih besar pada mereka, terutama jika menyangkut peristiwa kehidupan yang besar (Davis, Matthews & Twamley, 1999). Keempat, para dokter cenderung menangani masalah dan keluhan kesehatan perempuan secara kurang serius dibanding masalah kesehatan laki-laki (a.I., Weisman & Teitelbaum, 1985). Terahhir, bukti-bukti menunjukkan bahwa perbedaan morbiditas perempuan tergantung pada variabel sosiodemografis, seperti penghasilan, pendidikan, dan etnisitas. Contohnya, memiliki pendidikan dan penghasilan yang lebih tinggi dikaitkan dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang lebih sedikit, termasuk obesitas, merokok, hipertensi, dan berkurangnya frekuensi olahraga. Di Amerika Serikat, disayangkan bahwa perempuan cenderung memiliki penghasilan yang lebih rendah dibanding laki-laki. Meskipun demikian, bahkan dengan mengontrol perbedaan tingkat penghasilan dan pendidikan, suatu studi baru-baru ini menemukan bahwa perempuan etnis Meksiko Amerika dan Afrika Amerika masih berkemungkinan lebih besar untuk memiliki lebih banyak faktor risiko PJK dibanding laki-laki. Pengumpulan data ilmiah mengenai cara terbaik untuk meminimalkan risiko perempuan mengidap sejumlah penyakit kelihatannya terhambat oleh kecenderungan untuk tidak meliba tkan perempuan dalam berbagai studi penelitian. Perempuan tidak banyak disertakan dalam penelitian mengenai kesehatan dan stres (Rodin & Ickovics, 1990; Taylor dkk., 2000). Perempuan bukan hanya tidak disertakan dalam berbagai studi, namun banyak penelitian yang berasumsi bahwa laki-laki dan perempuan memberikan respons yang sama terhadap stres sehingga dapat memiliki kesamaan dalam masalah kesehatan yang disebabkan oleh stres. Taylor dan para koleganya mempertanyakan asumsi tersebut dan berpendapat bahwa perempuan dapat memberikan respons secara berbeda terhadap stres, baik secara perilaku maupun biologis (Taylor dkk., 2000). Berbagai studi di masa depan perlu menggunakan sampel perempuan dan laki-laki dalam jumlah yang sama, mempertimbangkan bahwa laki-laki dan perempuan dapat merespons stres secara berbeda, dan memfokuskan pada masalah kesehatan khusus yang dialami perempuan. Worrtm’s Health Initiative telah melakukan langkah yang menjanjikan dalam hal ini. Dimulai pada tahun 1992, ini merupakan studi selama 15 tahun terhadap sampel yang terdiri lebih dari 200.000 perempuan dengan beragam etnis. Salah satu bagian proyek tersebut adalah mengevaluasi intervensi preventif seperti diet rendah lemak dan terapi penggantian hormon bagi osteoporosis, penyakit jantung koroner, dan kanker. Berbagai bagian lain penelitian tersebut mencakup menyelidiki mengapa perempuan berstatus sosioekonomi rendah berisiko tinggi menderita berbagai penyakit dan mempelajari berbagai faktor psikososial seperti stres kehidupan dan kepribadian yang meningkatkan risiko terhadap penyakit-penyakit tersebut.

PENGERTIAN GENDER DAN KESEHATAN | ADP | 4.5