PENGERTIAN INDONESISCHE STUDIECLUB

By On Saturday, March 29th, 2014 Categories : Bikers Pintar

PENGERTIAN INDONESISCHE STUDIECLUB – Kelompok studi yang didirikan di Surabaya pada bulan Juli 1924 untuk mendiskusikan berbagai problem kehidupan sosial ekonomi bangsa Indonesia. Indonesische Studieclub berkeinginan mendorong kaum terpelajar di kalangan orang-orang pribumi untuk memupuk keinsafan hi­dup bermasyarakat, memupuk pengetahuan politik, senantiasa mendiskusikan masalah-masalah nasional dan sosial, serta bekerja sama untuk membangun. Kelompok studi ini merupakan usaha nyata bekas anggota-anggota Perhimpunan Indonesia (PI) yang kembali ke tanah air, untuk merealisasikan ide-ide me- reka tentang pembangunan Indonesia, yang telah ter­bentuk dan berkembang ketika mereka masih aktif da­lam organisasi PI di Negeri Belanda. Terbentuknya Indonesische Studieclub ini merangsang dibentuknya kelompok-kelompok studi di tempat lain, seperti di Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Solo. Selain Indonesische Studieclub, kelompok studi yang paling aktif adalah Algemene Studieclub di Bandung.

Dokter Sutomo merupakan salah satu angkatan muda yang berhasil menyelesaikan pendidikan per­guruan tingginya di Negeri Belanda di tahun 20-an. pendidikan dan pengalamannya sebagai anggota dan kemudian sebagai ketua PI memberikannya wawasan yang bersifat nasional. Ketika ia kembali ke Indo­nesia pada tahun 1923 dan melihat berbagai ketim­pangan dalam kehidupan bangsa Indonesia, dia meng­hendaki adanya perubahan dan berusaha keras me­realisasikan ide yang dikemukakannya tentang Indo­nesische Vereniging. Maka dibentuklah kelompok studi yang dipimpinnya dan yang kemudian terkenal dengan nama Indonesische Studieclub. Rapat pem­bentukan organisasi ini diadakan di rumah R.M. Hariyo Suroyo di Jalan Sudirman no 35 Jakarta se­karang, yang dihadiri oleh sekitar 25 orang cende­kiawan, antara lain Sunaryo, Sunyoto, Mr. Kusnun, dr. Saleh, serta beberapa orang Belanda. Untuk mem­pertegas idenya tentang Indonesische Vereniging, pada tahun 1925 dr. Sutomo keluar dari Budi Utomo yang dinilainya makin berorientasi ke Jawa-jawaan. Per­hatiannya kemudian dicurahkannya pada kelompok studi yang didirikannya.

Indonesische Studieclub pada mulanya merupakan sebuah perkumpulan pemimpin-pemimpin (kaum ter­pelajar) yang bekerja di Surabaya saja. Akan tetapi organisasi ini kemudian mempunyai pengaruh yang cukup luas. Satu tahun setelah berdirinya, Indone­sische Studieclub mengadakan interinsulaire dag atau Hari Nusantara di Surabaya. Hari Nusantara ini merupakan pertemuan besar antara berbagai suku bangsa, seperti Jawa, Madura, Sumatra, Bali, Kali­mantan, Sulawesi, Maluku, dsb. Tujuan utamanya adalah menyebarluaskan prinsip-prinsip persatuan dan solidaritas Indonesia.

Gerakan Persatuan Indonesia terus dipropaganda­kan oleh Indonesische Studieclub. Atas inisiatif or­ganisasi ini, di Surabaya dibentuk panitia Persatuan Kebangsaan yang diketuai oleh R.P.M. Singgih. Di Bandung dibentuk pula kepanitiaan serupa atas ini­siatif Algemene Studieclub yang diketuai oleh bekas sekretaris Indische Vereniging, Mr. R.M. Sartono. Ke­dua panitia ini mempropagandakan persatuan Indo­nesia. Sebagai hasilnya, dibentuk panitia bernama Komite Persatuan Indonesia pada bulan September 1926. Selain pemimpin-pemimpin Indonesische Studie­club dan Algemene Studieclub, kepanitiaan ini meli­batkan pemimpin-pemimpin dari Partai Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Islamieten Bond, Pasundan, Persatuan Minahasa, Sarekat Ambon, Sarekat Ma­dura. Panitia ini bertujuan membentuk suatu fede­rasi. Tetapi usaha ini terpaksa terhenti sebelum ber­hasil, karena tindakan keras pemerintah Hindia Be­landa akibat adanya pemberontakan PKI tahun 1926. Meskipun Komite Persatuan Indonesia tidak berha­sil, semangat persatuan Indonesia di kalangan kaum pergerakan makin bertambah kuat.

Di bidang penerbitan, Indonesische Studieclub me­nerbitkan sebuah majalah yang bernama Suluh Indo­nesia. Majalah ini kemudian dipersatukan dengan ma­jalah Algemene Studieclub di Bandung dengan nama Suluh Indonesia Muda. Majalah yang diterbitkan ber­sama ini merupakan mimbar untuk menyebarkan apa yang diperjuangkan oleh kedua kelompok studi ini.

Pada saat-saat Indonesische Studieclub mempro­pagandakan persatuan Indonesia, kehidupan rakyat Indonesia makin tertekan. Politik penghematan yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak ta­hun 20-an ternyata mempunyai pengaruh buruk ter­hadap kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti ini Indonesische Studieclub juga melakukan kegiatan- kegiatan sosial-ekonomi yang bertujuan untuk me­ringankan penderitaan rakyat. Asrama-asrama pelajar didirikan, Vrouwenhuis (Wisma Wanita) juga didiri­kan guna menampung wanita-wanita tuna susila un­tuk dididik keterampilan mencari nafkah yang halal. Sekolah pertenunan diselenggarakan. Selain itu, pada bulan Maret 1926 Bank Bumi Putra didirikan. Karena keberhasilan bank ini, pada kongres PPPKI (federasi organisasi pergerakan tempat Indonesische Studie­club juga ikut bergabung) bulan September 1928, Bank Bumiputra kemudian diubah menjadi Bank Nasional Indonesia. Indonesische Studieclub merintis pula ber­dirinya koperasi, baik koperasi konsumsi maupun ko­perasi produksi. Atas usaha organisasi ini, koperas- koperasi kecil yang ada dihimpun dalam Persatuan Koperasi Indonesia (PCI).

Pada tanggal 16 Oktober 1930, Indonesische Studie­club mengadakan reorganisasi, dan mengubah nama Indonesische Studieclub menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Latar belakang diadakannya re­organisasi ini adalah tekanan yang makin kuat dari pihak pemerintah Hindia Belanda terhadap organisasi- organisasi pergerakan non-kooperatif dan kesadaran akan kebangsaan yang makin kuat. Anggaran dasar organisasi diubah, sehingga anggota organisasi tidak lagi terbatas pada kaum terpelajar, tetapi juga kepada masyarakat umum. Dalam anggaran dasar yang baru dicantumkan pula bahwa PBI bertujuan mencapai ke­bahagiaan yang sempurna bagi tanah air dan rakyat Indonesia atas dasar nasionalisme Indonesia. Menurut keterangan asas-asasnya, PBI berpendapat bahwa rak­yat Indonesia telah sadar akan kedudukannya dan bahwa rakyat Indonesia mempunyai hasrat yang ti­dak dapat diganggu gugat untuk memperbaiki kedu­dukannya. Program kerja PBI sendiri menekankan pemberian perlindungan, penerangan, dan pimpinan. Pada tahun 1935, bersama-sama dengan Budi Utomo yang lebih dahulu membubarkan diri, PBI menjelma menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) dengan dr. Sutomo sebagai ketuanya.

PENGERTIAN INDONESISCHE STUDIECLUB | ADP | 4.5