PENGERTIAN KEPEMIMPINAN MAHASISWA

194 views

Harapan Terhadap Kegiatan Mahasiswa dalam Menunjang Kepemimpinan Mahasiswa – Kegiatan kemahasiswaan dewasa ini bukan hanya sekedar rekreasi atau sebagai pengisi waktu saja, tetapi juga diharapkan dapat menunjang proses pendidikan formal. Jadi, kegiatan-kegiatan tersebut diha-rapkan relevan dan merupakan bagian dari proses belajar, yakni membina mahasiswa untuk mempersiapkan dirinya dalam dunia kerja di kemudian hari.

Dalam lingkungan kampus, kesempatan tersebut ada dalam kegiatan ekstrakurikuler, yaitu pada waktu luang dari pelajaran atau pada waktu libur. Banyak kegiatan yang dapat diselenggarakan, sehingga setiap mahasiswa dapat memilih sesuai dengan minat dan keinginannya. Pemilihan tersebut dapat pula ditinjau dari manfaatnya.

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di lingkungan kampus juga memberikan kesempatan pada para mahasiswa untuk berkecimpung dalam organisasi yang dikelola sehubungan dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Para mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan dan kecakapannya dalam organisasi. Sehubungan dengan hal ini maka segi kepemimpinan pada diri mahasiswa juga dapat dikembangkan. Yang berbakat dan mampu menjadi seorang pemimpin dapat dipilih oleh rekan-rekan mahasiswa yang lain untuk menjadi pemimpin. Bidang-bidang yang dikembangkan dalam studi ekstrakurikuler menyangkut bidang-bidang sosial, olah raga dan kesenian, selain itu juga bidang diskusi dan kegiatan ilmiah. Pimpinan dalam organisasi sehubungan dengan bidang-bidang yang telah disebutkan tadi dapat mengelola program latihan, program pertandingan dan lain sebagainya. Kadang-kadang kita melihat bahwa kegiatan ekstrakurikuler ini sudah menjangkau masyarakat luar kampus, misalnya dengan mengadakan pementasan-pementasan, atau pertandingan-pertandingan.

Sehubungan dengan uraian tersebut di atas, maka kehidupan kampus mengembangkan interaksi antara setiap anggota civitas acade- mica, juga dengan masyarakat luas karena kampus adalah bagian dari masyarakat luas. Kegiatan-kegiatan kampus selain sebagai anjang pertemuan bagi para mahasiswa, jiiga bersifat terbuka bagi seluruh civitas academica, antara lain staf pengajar, karyawan, alumnus, dan para mahasiswa. Dapat dikatakan bahwa pertemuan di dalam kampus, khususnya dalam kegiatan ekstrakurikuler, yaitu dalam suasana tidak resmi, membuka kesempatan sebagai berikut:

  1. Membina keberanian para mahasiswa untuk bertatap muka, bertanya, berpendapat, memberikan ide-ide baik terhadap sesama para mahasiswa ataupun dengan para pengajar. Dalam hal ini hambatan psikologis para mahasiswa dapat dihilangkan sedikit demi sedikit, kegiatan ini juga melatih mental para mahasiswa untuk terjun dalam masyarakat.
  2. Kegiatan-kegiatan seperti ini dapat dipergunakan sebagai wadah pemecahan persoalan yang tidak dapat diselesaikan di dalam ruang kuliah, baik di antara para mahasiswa dengan mahasiswa, para mahasiswa dengan staf pengajar, atau di antara staf pengajar sendiri.
  3. Kegiatan ini juga mempunyai arti dalam pembinaan sopan santun pergaulan, suatu hal yang berharga bagi para mahasiswa untuk kelak kemudian hari.
  4. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler melatih para mahasiswa untuk membagi waktu belajar dan kegiatan di luar jam kerja, sehingga keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler tidak dapat dijadikan alasan untuk kegagalan studi. Dalam hal ini para mahasiswa menjadi manajer bagi dirinya sendiri.

Kegiatan ekstrakurikuler menjadi penting artinya bagi penunjang pendidikan formal, dalam hal ini bersifat sebagai berikut:

  1. Membantu mempercepat pendewasaan para mahasiswa.
  2. Memberikan pengalaman bagi para mahasiswa, dalam mengamalkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, sehingga para mahasiswa mempunyai bekal di kemudian hari.
  3. Kegiatan olah raga dan kesenian adalah membina para mahasiswa dalam bidang kesejahteraan rohani dan jasmani, rasa sosial, dan hubungan masyarakat.
  4. Membina keterampilan berorganisasi, kepemimpinan, berkomunikasi, dan pemecahan persoalan.

Sesuai dengan uraian tersebut di atas, kegiatan kemahasiswaan merupakan kekuatan bagi kaum muda khususnya, bagi strata elite, dan juga bagi masyarakat luas. Beranjak dari pemikiran ini, perlu diperhatikan pembinaan kegiatan kemahasiswaan, terutama sehubungan dengan masalah kepemimpinan. Hal ini menjadi pokok pemikiran bagi para ahli, bagi para pemimpin, juga bagi para staf pengajar karena kemajuan bangsa ada di tangan kaum muda, khususnya yang berkecimpung dalam bidang ilmiah. Oleh karena itu, perlu dipikirkan tentang kepemimpinan di dunia kampus, karena kampus dapat menjadi ‘moral force’ terutama di negara-negara berkembang. Pembinaan kepemimpinan yang baik diharapkan menghasilkan pemimpin yang berhasil di kemudian hari.

Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat menolong kelompoknya, sehingga dapat melakukan tugasnya secara efisien dan efektif dan memenuhi harapan masing-masing anggota kelompoknya. Sering dipertanyakan apakah seorang pemimpin yang berhasil disebabkan oleh bakat dari lahir atau oleh suatu latihan? Begitu juga di dalam lingkungan kampus seringkah kita melihat ada seorang mahasiswa yang begitu menonjol kepemimpinannya. Ia disegani oleh rekan- rekannya, dia diterima sebagai seorang yang mampu mengelola suatu organisasi kemahasiswaan, mampu memberikan ide-ide yang cemerlang, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, mahasiswa yang menjadi pemimpin yang berhasil tidak dikarenakan bakat dari lahir saja, tetapi juga tidak dapat dilatih dalam kursus-kursus kemahasiswaan. Yang jelas adalah kerja sama pimpinan mahasiswa tersebut dengan kelompok-kelompok kegiatan yang dikelolanya, yang dapat membuat dan melatih seseorang menjadi pemimpin yang berhasil.

Sifat yang sangat atau biasanya menolong mahasiswa agar menjadi seorang pemimpin yang berhasil dalam tugasnya adalah sebagai berikut:

–              Kemauan kuat dan konsekuen dalam memperjuangkan atau mene-tapkan tujuan kelompok yang dikelolanya.

–              Kemampuan dan minat untuk dapat mengerti perasaan dan keinginan dari sesama para mahasiswa, para staf pengajar, para karyawan, juga meraba keinginan masyarakat luas.

–              Pimpinan mahasiswa tersebut harus cukup memiliki pengetahuan dan dapat menilai kemampuan dirinya sendiri, setelah itu baru menilai kemampuan orang lain atau anggota kelompoknya. Dia harus mempunyai motivasi untuk maju, juga kelemahan-kelemahan dalam kepribadiannya. Dia harus mengetahui akibat kepribadiannya, perkataannya, perbuatannya terhadap orang lain. Begitu juga dari orang lain terhadap dirinya. Dia harus mampu menerima dirinya sendiri, sebelum orang lain menerima dirinya sebagai seorang pemimpin.

–              Bersedia dan mampu memakai cara memimpin yang demokratis, mampu memikirkan rencana jangka panjang dan jangka pendek, mampu membuat keputusan dan mau berpikir kritis. Di samping itu dia harus mau menerima pendapat orang lain, memberikan kesempatan berpartisipasi bagi orang lain terhadap ide-ide bagi organisasi yang dipimpinnya.

– Dalam situasi yang memerlukan keberanian ia sebagai pemimpin harus berpegang teguh pada kepribadiannya sebagai seorang pemimpin. Ia mau bertanggung jawab untuk kelompoknya, juga terhadap tugas-tugas kelompoknya. Ia juga harus bijaksana sesuai dengan situasi yang ada.

Dalam membicarakan harapan dalam kegiatan kemahasiswaan, kepemimpinan dalam kemahasiswaan, alangkah baiknya bila kita juga sedikit mengulas situasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan kegiatan pembinaan mahasiswa ini. Situasi yang mungkin terjadi adalah adanya “pertentangan”. Pertentangan di antara anggota kelompok mungkin saja terjadi misalnya dalam menyusun program, dalam pengemukaan ide, dan sebagainya. Melihat adanya pertentangan ini, maka kita berprasangka bahwa pertentangan itu adalah negatif. Timbul suatu pertanyaan, apakah benar bahwa pertentangan adalah suatu hal yang negatif?

Pertentangan berarti bahwa hubungan antaranggota menjadi luar biasa intensifnya. Kita dapat menilai pertentangan itu positif, bila pertentangan membawa kegunaan yang lebih berarti bagi kemajuan kelompok dan memuaskan harapan para anggotanya. Pertentangan kita nilai negatif bila menyebabkan matinya kreatifitas dan ide dari anggota kelompok serta timbul ketidaksportifan, kekerasan, atau permusuhan.

Pertentangan dalam dunia kemahasiswaan, dapat timbul di antara para mahasiswa sendiri, di antara hubungan mahasiswa dan staf pengajar, di antara karyawan, di antara staf civitas academica dengan pemerintah. Pertentangan di antara para mahasiswa dengan mahasiswa, misalnya dalam pemilihan ketua senat atau bila mahasiswa menyandang misi tertentu atau kekuatan dari luar kampus yang dibawa masuk ke dalam kampus. Pertentangan di antara para mahasiswa dengan staf pengajar bila ada larangan-larangan terhadap kegiatan yang dikelola dan ditampilkan oleh para mahasiswa. Kadang-kadang ada juga pertentangan dalam ide dari para mahasiswa yang tidak sesuai dengan para staf pengajar. Pertentangan di antara staf civitas academica akan terjadi bila ada ketidaksesuaian antara keinginan pemerintah dengan ide yang datang dari kampus. Dan banyak hal yang dapat dijadikan sumber pertentangan, begitu pula adanya masalah pribadi.

Pembinaan dalam kegiatan kemahasiswaan juga menawarkan pendewasaan dalam mengatasi pertentangan-pertentangan. Diharapkan bahwa kita harus belajar dan bekerja dengan pertentangan-Apabila pertentangan ditekan dan ditutupi, maka pertentangan akan menjadi besar dan mungkin meledak pada saat tertentu. Pertentangan dapat dikeluarkan dalam suatu diskusi, dalam musyawarah, dalam rapat-rapat, agar pertentangan-pertentangan ini mencapai titik temu suatu persetujuan dan dapat dikontrol oleh seluruh anggota kelompok. Kesempatan untuk mengemukakan pendapat, untuk mengajukan keberatan-keberatan akan mengurangi ketegangan, dan pertentangan-pertentangan dapat diatasi. Yang terpenting kita bisa mewujudkan kompromi dan memberikan suasana yang bebas, sehingga orang bergairah.

Setelah kita menguraikan situasi-situasi yang harus diperhatikan, maka kita dapat mencapai suatu kesimpulan bahwa dalam masyarakat atau kelompok yang demokratis akan terdapat kemajuan. Untuk mencapai kemajuan, hampir selalu ada pertentangan. Yang lebih penting lagi dan harus diperhatikan bahwa bila dalam suatu kelompok tidak ada konflik atau pertentangan sama sekali, maka terdapat kemungkinan-kemungkinan yang berarti:

–              Tidak ada perkembangan atau tidak ada kemajuan dalam kelompok tersebut.

–              Konflik-konflik ditekan secara autoriter, hal ini mungkin akan mematikan ide dan kreatifitas, tetapi juga mungkin akan meledak dan menghancurkan persatuan kelompok.

Yang perlu diperhatikan bagi seorang pemimpin atau anggota kelompok adalah tidak perlu takut konflik atau pertentangan karena pertentangan tidak dapat begitu saja dihilangkan. Yang terpenting adalah justru mencari jalan pemecahannya dengan sikap toleransi dan mau berkompromi untuk membicarakan pertentangan itu, sehingga akan terdapatlah suatu cara untuk mencapai tujuan kelompok dengan cara yang efisien dan efektif.

Dalam dunia kemahasiswaan yang penuh dengan ide dan keinginan, akan terdapat banyak pertentangan di antara para mahasiswanya. Kemudian perwujudan ide atau hasil pemikiran dari para mahasiswa juga kadangkala mendapat pertentangan dari staf dosen dan penguasa. Hal ini dapat dikatakan biasa karena kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan kepemimpinannya selalu menjadi sorotan dari berbagai pihak.

Yang amat perlu adalah kompromi, toleransi, dan saling mau mende-ngarkan di antara berbagai pihak yang bertentangan, agar dapat mencapai tujuan kelompok.

Incoming search terms:

  • kepemimpinan mahasiswa
  • pengertian kepemimpinan mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *