PENGERTIAN KESUSASTRAAN INDONESIA MODERN

By On Saturday, March 29th, 2014 Categories : Bikers Pintar

PENGERTIAN KESUSASTRAAN INDONESIA MODERN – Ung­kapan sastra masyarakat modern Indonesia. Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki berbagai jenis sastra berdasarkan bahasa setiap suku bangsanya. Bentuk sastranya berupa sastra lisan dan tulisan. Beberapa sastra tulisan adalah sastra Jawa, sastra Sunda, sas­tra Madura, sastra Bali, sastra Melayu, sastra Bugis- Makasar, sastra Batak, sastra Aceh, dll. Masing- masing sastra ini memiliki sastra tradisional sebelum terjadinya proses penyatuan bangsa Indonesia yang melahirkan sastra Indonesia modern.

Di kalangan ahli masih terdapat perbedaan pen­dapat mengenai kapan sebenarnya sastra Indonesia modern dimulai. Tetapi jika sastra Indonesia modern merupakan ungkapan pengalaman manusia Indonesia sebagai satu kesatuan budaya, maka sastra ini harus dimulai sejak gejala persatuan budaya itu tampak, walaupun itu mungkin hanya terbatas pada beberapa suku bangsa atau golongan sosial saja. Sastra Indo­nesia menggunakan bahasa yang dipahami semua suku bangsa di Indonesia, yaitu bahasa Indonesia.

Bahasa sebagai ungkapan budaya yang sama ada­lah bahasa Melayu-Rendah. Konotasi rendah hanya untuk membedakan dengan bahasa Melayu-Tinggi yang masih lazim digunakan di wilayah Kesultanan Riau, asal bahasa Melayu-Tinggi. Bahasa Melayu- Rendah adalah bahasa budaya kota besar di Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Belanda, Cina, Arab, India, pribumi jelata dan para ningrat. Pada pertengahan abad ke-19 bahasa Melayu-Rendah ber­laku sebagai sarana budaya penduduk kota, sehingga karya sastra dalam bahasa ini, dari lingkungan sosial dan suku bangsa mana pun, merupakan sastra Indo­nesia. Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Melayu-Rendah hanya dipakai dalam lingkungan masyarakat Cina di Indonesia dan disebut bahasa Melayu-Cina pada tahun 1920-an. Lingkungan pri­bumi di kota-kota telah beralih menggunakan bahasa Indonesia hasil Sumpah Pemuda tahun 1928. Jadi bahasa sebagai alat ucap kebudayaan baru di kota- kota Indonesia mengalami perkembangan sejak mun­culnya sampai sekarang, karena pengaruh pergeseran sosial dan politik.

 

Sastra Melayu-Rendah (1870-1942)

berkembang di lingkungan masyarakat Cina di Indonesia, karena masyarakat ini tidak memiliki bahasa sosial-budaya. Masyarakat pribumi dan Belanda masih dapat meng­gunakan bahasa ibu, namun jika mereka ingin hasil sastranya diterima lingkungan budaya dan masya­rakat kota, mereka menggunakan bahasa Melayu- Rendah.

Karya sastra pertama terbit sekitar tahun 1870-an masih dalam bentuk syair, hikayat lama Cina dan ter­jemahan novel barat. Novel Barat pertama yang di­terjemahkan adalah Robinson Crusoe dan Lawati- lawan Merah pada tahun 1875. Sampai tahun 1890-an diterbitkan terjemahan Mengelilingi Bumi dalam 80 Hari oleh Jules Verne (1890), Graaf de Monte Christo karya Alexandre Dumas (1894), Kapten Flamkerge karya Paul Sauniere dan Rocambole karya Ponsc a du Terrail yang diterjemahkan setelah tahun 1900 an.

Baru setelah tahun 1890-an muncul karya asli, se­perti Nyai Dasima karya G. Francis (peranakan Ing. gris) pada tahun 1896. Pada tahun 1900, H. Kommer menulis beberapa cerita: Cerita Siti Aisah, Cerita Nyi Painat Cerita Nyai Sarikem, Cerita Nyonya Kong Hong Nio. Pengarang lain, F.D. J. Pangemanan pa­da tahun 1900 menerbitkan Cerita Si Conat (peram­pok jagoan) dan Cerita Rossina (1903). F. Wiggers mengarang Nyai Isah (1903) dan drama Raden Bei Surioretno serta beberapa cerita syair, Syair Java Bank Dirampok. H.F.R. Kommer menulis Nona Leonie (1903). Dari kalangan penulis Cina peranakan mun­cul karya Gouw Peng Liang, Lo Fen Kui. Thio Tjin Boen menulis Cerita Oey See dan Tambahsia (1904). Dari lingkungan pribumi, selain Pangemanan mun­cul juga R.M. Tirtoadisuryo yang menulis Busono (1910) dan Nyai Per mana (1912). Kemudian seorang indo bernama Had j i Moekti menulis Hikayat Siti Maria h (1912).

Umumnya karya-karya tersebut berupa bacaan po­puler yang mengambil dasar kisah nyata yang di­pungut dari berita surat kabar, tentang kehidupan para perampok, para nyai dan kejahatan pembunuh­an orang kaya. Hal ini disebabkan karena para pe­ngarang itu kebanyakan wartawan. Kisahnya berupa rangkaian jalannya sidang pengadilan kejahatan pem­bunuhan. Itu sebabnya setiap cerita dibubuhi kete­rangan “cerita yang terjadi belum lama berselang”. Dari segi sastra, cerita ini dinilai kurang. Hal ini ber­kaitan dengan tingkat apresiasi pengarang yang baru sampai pada tahap penghargaan terhadap bacaan po­puler, seperti halnya novel terjemahan saat itu. Na­mun beberapa pengarang pribumi seperti R.M. Tir­toadisuryo dan Mas Marco Kartodikromo, bahkan Hadji Moekti menampilkan kecenderungan sastra un­tuk mempersoalkan kondisi sosial bangsanya melalui cerita.

Sastra Melayu-Rendah ini ditulis oleh lingkungan pribumi sampai sekitar tahun 1925. Pada tahun-tahun ini masih terbit novel dan cerita pendek dari Mas Marco, Semaun dan W.R. Supratman {Gadis Desa). Kecenderungan untuk mempermasalahkan masyara­kat jajahan makin jelas, meskipun kebanyakan dipan­dang dari segi sosialisme.

Sebaliknya dari lingkungan penulis Cina, sastra Melayu-Rendah berkembang sampai jaman pendu­dukan Jepang. Karya mereka sekitar 3000 buku, be­rupa drama, syair, novel, terjemahan cerita Cina dan Barat. Karya-karya mereka cenderung populer, meski­pun ada karya penting dari segi sastra, seperti karya Kwee Tek Hoay, Tan Boen Kim, Tio Ie Soei, Tjoe Bou San, dan Gouw Peng Liang. Itu sebabnya sastra Melayu-Rendah sering disebut sastra Melayu-Cina, ka­rena perkembangannya didominasi masyarakat Cina. Lingkungan pribumi telah menulis dalam bahasa Indo­nesia pada tahun 1920-an.

 

Sastra Balai Pustaka (I920-1950-an).

Untuk meng­imbangi perkembangan sastra Melayu-Rendah yang diisi oleh para penulis pribumi sebagai wadah mem­berikan kesadaran sosial-politik pada bangsanya, maka pemerintah jajahan mendirikan badan pener­bit untuk penduduk pribumi, yaitu Balai Pustaka. Bal^i Pustaka semula bernama Komisi Bacaan Rak­yat (Volkslectuur) pada tahun 1908 dan pada tahun 1917 berubah nama menjadi Balai Pustaka. Alasan didirikannya badan ini adalah untuk mencegah bacaan cabul dan liar dari sastra Melayu-Rendah. Cabul ka­rena menyorot kehidupan pernyaian dan liar karena memiliki misi politis. Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa, Melayu-Tinggi, Sunda dan Jawa. Juga bahasa-Bali, Batak dan Madura, namun terba­tas. Jumlah karya sastra dalam bahasa Melayu, Sunda dan Jawa hampir sama banyaknya, bahkan karya dari satu bahasa diterjemahkan untuk sastra bahasa lain. Dengan demikian karya bahasa Melayu-Tinggi (ba­hasa sekolah resmi) menjadi bagian sastra Indonesia.

Karya sastra yang muncul seperti karya Marah Rus- li: Siti Nur bay a (1920), La Ha mi (1952), Anak dan Kemenakan (1956). Siti Nurbaya dianggap sebagai per­mulaan sastra Indonesia modern secara konvensional. Pengarang pertama sastra Balai Pustaka adalah Me- rari Siregar yang menulis Azab dan Sengsara Seorang Gadis (1919), Binasa karena Gadis Priangan (1931) dan Cinta dan Hawa Nafsu (1924). Nur Sutan Iskan- dar dapat disebut “raja pengarang Balai Pustaka”, karena menghasilkan banyak karya tulis, baik terje­mahan maupun karya asli. Karyanya antara lain Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923), Ka­rena Mertua (1932), Hulubalang Raja (1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935), dan masih banyak lagi. Abdul Muis telah menulis sejak jaman Melayu- Rendah, namun karya pentingnya diterbitkan Balai Pustaka, seperti Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jo­doh 933), Surapati (1943) yang kemungkinan besar bersumber pada novel Melayu-Rendah atau sastra Indo-Belanda karangan Melati van Java alias Nico- lina Maria Christina van Sloot. Tulis Sutan Sati me­nulis Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tak Di­sangka (1929), Tak Membalas Guna serta Memutus­kan Pertalian (1932). Aman Datuk Madjoindo menulis Menebus Dosa (1932), Si Cebol Rindukan Bulan (1934), Sampaikan Salamku Kepadanya (1935). Su- man Hasibuan menulis Kasih Tak Terlarai (1929), Mencahari Pencuri Anak Perawan (1932), Percobaan Setia (1931). Adinegoro mengarang Darah Muda (1927) dan Asmara Jaya (1928). Sutan Takdir Alisjah­bana menulis Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Anak Pera­wan di Sarang Penyamun (1932).

Seorang pengarang Balai Pustaka yang berasal dari lingkungan penulis novel populer di Medan adalah Hamka. Karya-karyanya antara lain Di Bawah Lin­dungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1938), Tuan Direktur (1939), Di dalam Lem­bah Kehidupan (1940) yang merupakan kumpulan ce­rita pendek. Pengarang Bali, I Gusti Nyoman Pandji Tisna, menulis Nyi Rawit Ceti Penjual Orang (1935), Sukreni Gadis Bali (1936), I Swasta Setahun di Bedahulu (1938). Penulis bukan dari Sumatra yang lain adalah Said Daeng Muntu yang menulis novel Pem­balasan (1935) dan Karena Kerendahan Hati (1914). Dari Minahasa muncul Marius Ramis Dayoh dengan Pahlawan Minahasa (1935) dan Putra Budiman (1941).

Karya Balai Pustaka mengalami pembatasan pe­nulisan tertentu, yaitu tidak mengandung unsur anti pemerintah, tidak menyinggung golongan sosial ter­tentu, tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Naskah yang masuk disensor. Masalah yang digarap berkisar pada kehendak kaum muda untuk memper­oleh kebebasan dalam memilih jodohnya yang harus berbenturan dengan kehendak orang tua, juga masa­lah didaktis moral.

 

Sastra Pujangga Baru (1930-1942).

Pengarang sas­tra Melayu-Rendah kebanyakan para wartawan yang belajar menjadi golongan intelektual dengan cara oto- didak dan satrawan Balai Pustaka dari lingkungan guru yang berpendidikan formal Belanda (Kweek- school). Sebaliknya kaum Pujangga Baru muncul dari berbagai macam pendidikan tinggi dengan kesadaran budaya yang lebih tinggi. Kesadaran kebangsaan, da­lam arti ingin memajukan budaya bangsa secara me­nyeluruh, dan kesadaran bersastra, dalam arti ingin menciptakan karya-karya baru, amat kuat pada Pu­jangga baru.

Kesadaran kebangsaan muncul di lingkungan ini sejak tahun 1922 dengan munculnya berbagai sajak bertema nasionalisme dari Muhammad Yamin, Bung Hatta, Sanusi Pane, dll. Kesadaran ini dengan sen­dirinya menghendaki adanya sastra untuk seluruh bangsa secara sadar. Kesadaran membangun bangsa muncul setelah majalah Pujangga baru pada tahun 1933. Di masa itu muncul polemik kebudayaan ten­tang cara bagaimana Indonesia akan membangun kebudayaannya, secara Barat atau campuran Barat- Indonesia. Semua itu tercermin dalam karya mereka.

Niat untuk menciptakan karya sastra baru tampak dari usaha mereka mengembangkan bentuk sastra ba­ru, seperti soneta, prosa liris, penulisan drama serta esai, yang sampai waktu itu belum berkembang disam- ping novel. Sastra Pujangga Baru adalah sastra in­telektual, nasionalistik dan elitis yang menjadi “ba­pak” sastra modern Indone°ia. Gerakan sastra ini ter­cermin dalam majalah Poedjangga Baroe yang di­pimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Ham­zah, dan Armijn Pane. Para penulisnya bukan hanya orang-orang dari lingkungan sastra, tetapi juga dari kalangan pemikiran kebudayaan umumnya.

Para sastrawannya terbagi dua kelompok, yaitu “seni untuk seni” dan “seni untuk pembangunan ma­syarakat”. Kelompok pertama meliputi Sanusi Pane dan Amir Hamzah, sedang kelompok kedua dipelopori oleh Sutan takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi. Para sastrawan ini berasal dari ber­bagai wilayah Indonesia, bukan hanya dari wilayah budaya dan golongan sosial tertentu.

Para sastrawan Pujangga Baru antara lain: Sutan Takdir Alisjahbana, yang sudah muncul sejak jaman Balai Pustaka, memimpin gerakan pembaharuan bu­daya dan sastra ini tahun 1933. Karyanya Layar Ter- kembang (1936), Tebaran Mega (kumpulan sajak). Armijn Pane menghasilkan Belenggu (1940), kumpul­an sajak Jiwa Berjiwa (1939), Gamelan Jiwa (1960), kumpulan drama Jinak-jinak Merpati (1954), dan kumpulan cerpen Kisah Antara Manusia (1953). Per­hatian Sutan Takdir dan Armijn Pane dalam kebu­dayaan umum sangat besar dan melahirkan beberapa esai sastra, film, kemasyarakatan, dan filsafat. Se­mangat modernisme amat kuat. Novel Belenggu me­nimbulkan kontroversi panjang di kalangan budaya­wan jamannya.

Amir Hamzah, juga dari Sumatra, menulis dua kumpulan sajak, Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rin­du (1941). Sajak-sajak ini banyak menggali sastra Melayu-Klasik dan bersifat keagamaan. Sanusi Pane menulis sajak, drama dan telaah sejarah. Bukunya Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Madah Kelana (1931). Semua kumpulan sajaknya bersifat ke­agamaan dan filsafat dengan sumber budaya Indo­nesia-India. Dramanya berjudul: Sandhyakalaning Majapahit (1933) dan Kertajaya (1932). Muhammad Yamin, penulis sajak dan drama, menghasilkan karya buku Tanah Air (1922), Indonesia Tumpah Darahku (1928) dan drama Ken Angrok dan Ken Dedes (1930) dan Kalau Dewi Tara Telah Berkata. Rustam Effendi menulis kumpulan sajak Percikan Permenufigan (1927) dan drama bersajak alegoris Bebasari (1926). J.E. Tatengkeng terkenal kumpulan sajaknya Rindu Den­dam (1934). Masih banyak sastrawan jaman ini yang menulis dalam majalah Poedjangga Baroe, namun be­lum berhasil membukukan karyanya.

 

Sastra Angkatan 45 (1942-1952)

Tumbuh bersama­an dengan gejolak sosial-politik-budaya yang hebat di Indonesia. Mereka hidup dalam tiga jaman sekali­gus, jaman penjajahan Belanda, jaman Jepang dan jaman Kemerdekaan. Pengalaman hidup yang hebat dan menggoncangkan membuat sikap hidup lebih realistik dibanding Pujangga Baru yang cenderung romantik dan idealistik. Gaya pengucapan sastra me­reka lebih bebas, ekspresif dan lugas dibanding Pu­jangga Baru yang lebih dekoratif, patuh pada norma sastra dan kemerduan bunyi kata.

Walau demikian mereka kebanyakan orang intelek­tual yang rata-rata otodidak, karena tidak sempat me­nyelesaikan pendidikan formal akibat keadaan. Orien­tasi sastra dan budaya mereka lebih luas dibanding Pujangga Baru yang terbatas pada sastra Belanda. Angkatan 45 menyerap pengaruh Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia bahkan Cina. Nasionalisme bukan masalah lagi; keindonesiaan mereka adalah otentitas penciptaan berdasarkan situasi nyata Indo­nesia.

Tokoh utama angkatan ini adalah Chairil Anwar yang meninggal pada usia muda. Ia menghasilkan kumpulan sajak Kerikil Tajam (1949), Deru Campur Debu (1949). Asrul Sani dan Rivai Apin membuku­kan sajaknya bersama Chairil Anwar dalam Tiga Me­nguak Takdir (1950). Idrus merupakan penulis prosa dengan gaya kesederhanaan yang lugas, langsung, se­hari-hari dan pekat. Karyanya Dari A ve Maria ke Ja­lan Lain ke Roma (1948), novelet Aki (1950) dan Pe­rempuan dan Kebangsaan (1950). Pengarang prosa terbesar jaman ini adalah Pramoedya Ananta Toer yang menulis roman tebal Perburuan (1950), Keluarga Gerakan (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1950), Bukan Pasar Malam (1951) dan kumpulan cerpen Cerita dari Blora (1952). Sastra­wan yang juga terkenal adalah Muchtar Lubis dengan novel Tak Ada Esok (1951), Jalan Tak Ada Ujung (1952) dan kumpulan cerpen Si J amal (1951).

Achdiat Kartamihardja biasanya menolak disebut Angkatan 45, namun ia keluar dari jaman ini dan me­lahirkan novel yang kontroversial Atheis (1948) yang menceritakan runtuhnya kaum intelektual oleh desak­an budaya luar, terutama bidang agama. Ia juga me­nulis drama. Trisno Sumardjo walau berasal dari pe­dalaman, namun karyanya menunjukkan minat huma­nisme universal, yaitu Katahati dan Perbuatan (1952) dan terjemahan karya W. Shakespeare. M. Balfa – me­nulis cerpen Lingkaran-lingkaran Retak (1952). Dra­mawan Utuy Tatang Sontani menulis drama Suling (1951) dan novel sejarah Tambera (1949).

 

Sastra Tahun 50-an dan 60-an.

Pada tahun 1953 terbit majalah sastra Kisah asuhan kritikus H.B. Jas- sin. Majalah ini diisi oleh sastrawan yang pada masa sebelumnya belum muncul. Mereka rata-rata kelahir­an tahun 1930-an, sedang generasi Chairil Anwar se­kitar tahun 1920-an. Ciri karya mereka adalah domi­nasi genre cerita pendek sebagai karya mereka yang utama; cerpen mereka bersifat autobiografis; lebih berorientasi ke sastra dan budaya sendiri daripada ke sastra asing. Hasil utama angkatan ini berupa kum­pulan cerita pendek dan kumpulan puisi yang pernah dimuat dalam majalah Kisah. Peranan H.B. Jassin sangat kuat di kalangan sastrawan ini.

Para penulisnya antara lain: Nugroho Notosusanto dengan kumpulan cerpennya Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayange (1959) yang mengisah­kan para pelajar menjadi tentara di masa revolusi dan kisah antarkeluarga. Ajip Rosidi menulis kumpulan cerpen Tahun-tahun Kematian (1955), Di Tengah Ke­luarga (1956), Sebuah Rumah buat Hari Tua (1957), Pertemuan Kembali (1961), dan kumpulan sajak Cari Muatan (1959), Surat Cinta Enday Rasidin (1961). Subagio Sastrowardojo menulis kumpulan puisi Sim- phoni (1957) dan sejumlah cerpen. W.S. Rendra menulis kumpulan sajak Balada -orang Tercinta (1957) dan Empat Kumpulan Sajak (1961) serta kumpulan cerpen Ia Sudah Ber­tualang (1963) yang semuanya pernah dimuat di ma­jalah Kisah dan majalah lain. Trisnoyuwono menulis cerpen yang dikumpulkan dalam Laki-laki dan Mesiu (1957), Angin Laut (1958), Di Medan Perang (1962) yang bersisi kisah revolusi dan kehidupan militer ta­hun 1950-an. A.A. Navis menulis cerpen Robohnya Surau Kami (1956), Bianglala (1963) dan Hujan Pa­nas (1964) yang berisi ejekan sosial. Nh. Dini menulis kumpulan cerpen Dua Dunia (1956) dan novelet Hati yang Damai (1961). Toto Sudarto Bachtiar, penyair, menghasilkan karya Suara (1956) dan Etsa (1958). Kirdjomuljo, penyair dan penulis drama, menulis kar­ya Romance Perjalanan (1955). Penyair Ramadhan K.H. menulis Priangan Si Jelita (1958). Cerpenis Riyono Praktikno menghasilkan karya Api dan Si Rangka (1953).

Majalah Kisah hanya bertahan sampai tahun 1956, nam i i para sastrawan ini sering menulis di majalah lain jaman itu, seperti Siasat, Mimbar Indonesia, Indo­nesia, Budaya, Prosa, Buku Kita. Penyair yang mun­cul sebelum Kisah dan menulis terus menulis sampai jaman ini adalah Sitor Situmorang dengan karyanya Surat Kertas Hijau (1954), Dalam Sajak (1955), kum­pulan sajak Wajah Tak Bernama (1956), kumpulan drama Jalan Mutiara (1954) dan kumpulan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956).

Pada tahun 1960-an para sastrawan ini terus me­nulis dalam majalah pengganti Kisah, yaitu Sastra, asuhan H.B. Jassin. Penulisnya menggeluti cerita pen­dek, antara lain Motinggo Busye, Purnawan Tjondro- negoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohammad (penyair), Sapardi Djoko Damono (pe­nyair) dan Satyagraha Hurip. Mereka mulai berorien­tasi kepada sastra luar negeri. Mereka tidak hanya me­nulis karya sastra tetapi juga teori sastra.

 

Sastra Tahun 70-an

Muncul setelah adanya Orde Baru tahun 1966 dalam bidang politik dengan sastra­wan baru kelahiran tahun 1940-an. Para satrawan ini menulis dalam majalah yang terbit pada tahun 1966, yaitu majalah Horison. Umumnya mereka duduk di perguruan tinggi, sehingga orientasi sastra dunia mu­takhir lebih besar. Orientasi ini pada beberapa sastra­wan menyadarkan perlunya menggali sendiri kekaya­an sastra tradisional Indonesia. Semangat avant garde terlihat pada karya-karya majalah Horison. Walau mereka menulis sejak tahun 1966 dan sebagian sudah dimulai sejak awal tahun 1960-an, sosok mereka baru mantap pada tahun 1970-an. Mereka menolak metode realisme, sehingga timbul karya sastra surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dll. Konsep sastra perorangan sangat beragam.

Dipandang dari segi pembaharuan ucap sastra, be­berapa sastrawan yang berhasil adalah Sutardji Cal- zoum Bachri, Putu Wijaya, Danarto, Abdul Hadi dan Sapardi Djoko Damono. Sutardji menggali kekayaan sastra mantra Sumatra yang mengandalkan daya sa­ran kata, bahkan patah kata. Obsesinya adalah reli­gius, yakni pemahaman hal-hal transendental. Ia sam­pai pada pemahaman ketidakberdayaan manusia me­mahami Tuhan, sehingga akhirnya menyerah serta mengabdi kepada sesama manusia sebagai wujud pe­mahaman terbatas. Pada Danarto kecenderungan itu juga ada. Hanya saja ia tanpa banyak bertanya mele­bur diri pada hakikat Tuhan yang hanya dirasakan dengan pengalaman mistik. Itu sebabnya cerpennya cenderung surrealistik, karena pengalaman demikian hanya mampu diutarakan lewat simbol dan gambaran di luar pengalaman manusia. Putu Wijaya cenderung pada pemahaman sosial dan pengalaman manusia in­dividu lewat gambaran simbolik absurd. Metafora dan realisme dijadikan satu. Abdul Hadi cenderung pada obsesi religius dengan menggunakan ucap sastra ima- jis; begitu pula Sapardi Djoko Damono.

Seorang sastrawan angkatan 1960-an yang menda­pat tempat pada tahun 1970-an adalah Iwan Sima- tupang. Karyanya berupa novel, cerpen dan drama, kurang mendapat perhatian pada jamannya, dan bah­kan menimbulkan kesalahpahaman pada jamannya. Ia cenderung simbolis mendekati paham novel baru Eropa tahun 195fran. Karena sifat karyanya ini, Iwan Simatupang, yang lahir mendahului jamannya, dite­rima sebagai bagian sastra tahun 70-an. Sastrawan lain yang muncul pada jaman ini adalah Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jt, Arief Budiman, Goenawan Moham­mad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Wisran Hadi, Wing Karjo, Taufik Ismail dan banyak lagi.

Karya sastra penting angkatan ini, antara lain: O, Amuk, Kapak, tiga kumpulan sajak Sutardji. Laut Be­lum Pasang, Meditasi, Potret Panjang Seorang Pe­ngunjung Pantai Sanur, Tergantung pada Angin oleh Abdul Hadi WM; Dukamu Abadi, Aquarium, Mata Pisau, Perahu Kertas, Sihir Hujan oleh Sapardi Djoko Damono; Interlude dan Parikesit oleh Goenawan Mo­hammad; kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhataan, Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam; Godlobt Adam Makrifat, dan Berhala oleh Danarto; novel Telegram, Stasiun, Pabrik oleh Putu Wijaya, juga kumpulan cerpen Gres dan Bomy novel I wan Simatupang Ziarah, Kering, Merahnya Merah, Koongy dan kumpulan cerpen Tegak Lurus dengan Langit; cerita drama karya Putu Wijaya Aduhy Edan, Dagdigdug; drama karya Arifin C. Noer Tengul, Sw- mwr Tanpa Dasar, Kapai-kapai. Masih banyak lagi karya drama tahun 70-an dari berbagai penuUs.

Sastra Tahun 80-an. Setelah angkatan simbolisme tahun 70-an dengan majalah Horison, tidak ada lagi media sastra baru yang muncul. Mereka yang lahir ta­hun 1950-an sering menulis di media umum dan karya­nya cenderung populer. Pernah terjadi pemberontak­an terhadap sastra simbolistik tahun 70-an di lingkung­an anak muda kelahiran ini dalam majalah populer- musik Aktuil di Bandung. Mereka menamakan diri kelompok Puisi Mbeling (1974) yang bersajak menu­rut naluri puitik mereka dengan menggunakan kata- kata sehari-hari, peristiwa sehari-hari dengan kadar humor yang tinggi dan kecerdasan pikir yang tajam. Sajak mereka bernada mengejek para penyair maja­lah Horison yang memang rumit dalam ungkapan maupun makna, karena sifat simboliknya. Gerakan Mbeling ini diteruskan dalam bentuk novel dan cer­pen pada tahun 80-an dan penghujung tahun 70-an. Mereka ini adalah kaum muda yang getol menulis di sembarang majalah pop.

Para penulisnya antara lain Remy Sylado, Yudhis- tira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma (Mira Sato), Kurniawan Junaidi. Namun karya mereka sulit dilacak, karena tersebar di ber­bagai majalah umum. Wadah khusus bagi idealisme sastra mereka tidak ada. Berbeda dengan para sastra­wan Horison yang kebanyakan berpendidikan tinggi, para sastrawan tahun 80-an jarang selesai dengan pen­didikan tingginya.

Karya yang dapat mewakili angkatan ini adalah Sa­jak Sikat Gigi dan novel Arjuna Mencari Cinta karya Yudhistira, Manusia Kamar karya Seno Gumira Aji­darma.

PENGERTIAN KESUSASTRAAN INDONESIA MODERN | ADP | 4.5