PENGERTIAN KONTROL SOSIAL ATAU SOCIAL CONTROL

235 views

Kontrol sosial merupakan konsep yang penting dalam hubungannya dengan norma-norma sosial. Norma-norma sosial di dalam dirinya telah mengandung harapan-harapan dan sebagai standard perilaku maka diharapkan agar warga masyarakat dapat berperilaku sesuai (“conform”) dengan norma-norma sosial. Deskripsi ini kelihatannya menunjuk pada hubungan antara norma-norma sosial dengan peran- nan-peranan sosial.

Kontrol sosial (social control) pada dasarnya dapat diartikan sebagai pengawasan sosial yaitu suatu sistem yang mendidik, mengajak dan bahkan memaksa warga masyarakat agar berperilaku sesuai dengan norma-norma sosial. Dengan demikian, dari sudut sifatnya dapat dikatakan bahwa pengawasan sosial itu dapat bersifat preventif maupun represif atau bahkan kedua-duanya. Prevensi merupakan suatu usaha untuk mencegah terjadinya perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial, sedangkan represif bertujuan untuk mengembalikan keserasian yang terganggu akibat perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial.

Roucek dan Warren berpendapat bahwa kontrol sosial itu memiliki dua tipe, yaitu “formal social control” dan “informal social control”. Apabila ditinjau, maka pembagian pada dua tipe tersebut pada dasarnya membicarakan mengenai subyek, yaitu siapa yang melakukan pengawasan sosial. Di dalam tipe kontrol sosial formal (formal social control) pengawasannya dilakukan oleh negara atau badan-badan yang mempunyai kedudukan tetap, serta menggunakan prosedur yang tetap pula. Karakteristik daripadanya adalah bahwa dalam melakukan pengawasan, digunakan peraturan-peraturan tertulis, dan sebagainya. Sedangkan kontrol sosial yang informal, menunjuk pada fungsi dari norma-norma sosial dalam mengawasi atau meng-endalikan perilaku para warga masyarakat. Dalam kasus-kasus serius pengawasan dilakukan dengan paksaan, kekerasan atau dengan penghukuman. Biasanya, masyarakat itu sendiri telah menyediakan sanksi-sanksi apabila terjadi pelanggaran terhadap norma-norma sosial yang berkisar mulai dari ekspresi tidak senang sampai pada pengasingan dari masyarakat, misalnya dengan memasukkan dalam lembaga pemasyarakatan (penjara) atau menghukum dengan hukuman mati atau hukuman lain seperti yang tertera dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pada dasarnya kelompok-kelompok sosial seperti keluarga, klan bahkan semua anggota masyarakat turut berpartisipasi (peranserta) dalam pengawasan ini. Kontrol sosial informal misalnya dengan memberi pujian atau celaan atau juga melalui aktivitas lain seperti upacara atau perguncingan; yang semuanya bermaksud agar dapat terjadi perubahan perilaku kearah penyesuaian dengan norma-norma sosial. Dengan demikian, pelaku pengawasan bisa saja terdiri dari kelompok utama (primary group) maupun oleh kelompok sekunder (secondary group). Pengawasan (sosial) yang informal oleh keluarga, biasanya bersifat spontan dan tidak terencana, sebab setiap anggota kelompok dapat saja memberi reaksi.

Pemberian saksi dalam pengawasan atau kontrol tersebut di atas pada dasarnya merupakan suatu syarat, oleh karena pengujian mengenai tingkah laku memang menggambarkan adanya kesetiaan pada norma sosial adalah dengan melihat apakah tingkahlaku yang menyimpang dari keseragaman tersebut mendapat sanksi. Perhatian pada sanksi dari norma-norma sosial akan memperjelas kesepakatan antara norma-norma subsisten dan norma-norma aktual. Apabila tingkah laku yang tidak sesuai dengan ketentuan dari suatu aturan normatif tidak memperoleh sanksi, maka dapat dikatakan bahwa aturan normatif itu tidak sejalan dengan norma subsisten.

Incoming search terms:

  • kontrol sosial
  • pengertian kontrol sosial
  • fungsi kontrol sosial
  • kontrol sosial adalah
  • pengertian social control
  • sosial kontrol
  • Fungsi kontrol
  • social control adalah
  • arti kontrol sosial
  • #########################

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *