PENGERTIAN MOBILITAS SOSIAL

By On Saturday, November 22nd, 2014 Categories : Bikers Pintar

Kalau istilah mobilitas sosial kita ganti dengan istilah “gerakan sosial”, kita harus waspada agar kita tidak menyamakan istilah tersebut dengan istilah “gerakan sosial” yang berasal dari kata asing social movement. Gerakan sosial (mobilitas sosial) adalah gerakan warga masyarakat menaiki strata sosial untuk mencapai status yang lebih tinggi. Dalam proses itu orang atau kelompok yang berkepentingan tidak menggunakankekerasan. Sedangkan “gerakan sosial”(social movement) merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu kelas sosial tertentu dengan maksud untuk memperoleh kedudukan sosial yang mereka inginkan.’Gerakan ini dilakukan dengan nada protes penuh emosi disertai dengan kekerasan. Seluruh kegiatan dikuasai oleh ideologi tertentu yangbersemangatrevoiusioner,misalnyagerakankaumburuh di Eropa pada abad ke-19, gerakan kaum buruh “Solidaritas” di Polandia dewasa ini, gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa yang dijajah pada abad ke-20 ini. Sebaliknya gerakan sosial atau mobilitas sosial tidak terikat pada waktu tertentu dan masyarakat tertentu. Dalam setiap masyarakat dan setiap waktu terjadi mobilitas sosial. Paling tidak setiap orang dari masyarakat mana pun semasa hidupnya dari kanak-kanak hingga dewasa dan tua, memasuki dan meninggalkan tahap-tahap kehidupan beserta peranan-peranan yang sesuai dengan tahap-tahap itu. Waktu seseorang masih kanak-kanak, ia berperanan sebagai kanak-kanak yang mesti tunduk dan patuh kepada orang tuanya. Tetapi kalau ia sudah dewasa menjalankan peranan lain entah sebagai bapak atau ibu dan tugas-tugas baru lainnya.

Dilihat dari arah perubahan dalam kedudukan sosial, maka mobilitas sosial dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu:

  1. Mobilitas Horizontal

Mobilitas horisontal teijadi bila ada perubahan kedudukan (posisi) pada strata yang sama. Kedudukan seseorang dapat berubah maju atau mundur, di atas lapisan yang sama, tanpa mengubah tinggi rendahnya kedudukan. Jika dikaitkan dengan besarnya gaji atau honorarium, perubahan kedudukan horisontal itu tidak mempengaruhi tingkat gaji atau honorarium orang yang bersangkutan. Misalnya, A bekerja pada suatu yayasan dan ditempatkan sebagai sekretaris. Lain kali ia dipindah ke bagian keuangan dengan kolom gaji yang sama. Seorang menteri B, misalnya, diserahi departemen pertanian dan beberapa bulan kemudian dipindah ke departemen pengairan. Pergeseran kedudukan dalam contoh di atas tidak menurunkan atau menaikkan posisi petugas yang bersangkutan.

Walaupun orang tersebut menempati kedudukan yang sama tingginya, tidak berarti bahwa ia tidak mengalami kesulitan apa pun dalam menunaikan tugasnya. Justru di sini letak arti dari pergeseran kedudukan seseorang. Orang yang bersangkutan meninggalkan kelompok pekeija yang lama yang sudah dikenalnya dengan baik. Setelah dipindah kedudukannya ia harus mulai dengan mengenali sifat-sifat dan bakat-bakat dari orang-orang dalam kelompok baru itu agar ia dapat bekeija sama dengan mereka dan menghasilkan prestasi yang minimal sama besarnya dengan prestasi kerja sebelumnya. Namun, kesulitan yang timbul pada tingkat horisontal ini tidak seberat kesulitan yang dihadapi jika perpindahan itu merupakan kenaikan kedudukan ke strata yang berbeda. Dalam kasus yang pertama orang yang bersangkutan berhadapan dengan kelas sosial yang sama, sedangkan dalam kasus yang kedua ia harus menghadapi kelas sosial yang berbeda. Perbedaan ini menyangkut masalah kebudayaan yang berlainan seperti tingkat pendidikan, pola berpikir dan merasa, pola tingkah laku dan bahasa pergaulan yang harus dipatuhi. Dalam hal yang terakhir ini orang yang terlibat harus me-miliki kesanggupan beradaptasi secara mendalam. Melalui perkawinan antarsuku dua orang mempelai yang berlainan suku memasuki dan tinggal di dalam kelas sosial tertentu. Apabila kedua mempelai berasal dari strata sosial yang sama, kesulitan yang timbul tidak mempunyai dampak yang berarti, sekurang-kurangnya hanya bersifat sementara. Tetapi, jikalau kedua mempelai itu berasal dari kelas yang berbeda, berarti dari tingkat kebudayaan yang berlainan, hal itu akan mendatangkan kesulitan besar; dampaknya harus mereka pikul sepanjang hidup. Contoh: kasus hidup perkawinan suami yang berasal dari kelas petani desa dengan istri dari kelas ningrat. Dilihat dari sudut tertentu sang suami memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, yaitu kelas kaum ningrat. Tetapi kenaikan kelas itu harus dibayarnya dengan harga tinggi. Sepanjang hidupnya dalam tata pergaulan sehari-hari suami itu harus menyapa istrinya dalam bahasa kromo inggil. Beban berat itu tidak akan dialami suami istri yang berasal dari kelas yang sama, meskipun berlainan suku. Bahasa pergaulan pun tidak lagi menjadi penghalang karena dapat digunakan bahasa Indonesia. Misalnya, perkawinan mempelai dari suku Flores dan suku Cina tidak lagi menghadapi banyak kesulitan. Di luar hidup perkawinan pun orang-orang dari kelas yang sama secara teoretis dapat bergaul lebih mudah, namun dalam kenyataannya terutama di kota-kota besar pergaulan yang akrab antara orang-orang dari kelas yang sama tidak terjadi.

  1. Mobilitas Vertikal

Untuk lebih jelasnya baiklah diterangkan lagi, apa yang dimaksud dengan mobilitas vertikal. Mobilitas vertikal ialah perpindahan seseorang atau suatu kelompok dari satu strata ke strata lain yang lebih tinggi atau lebih rendah. Seperti telah dikatakan di muka anggota masyarakat tidak tinggal menetap pada satu strata sosial yang sama, apalagi kalau strata yang ditempati itu dipandang sebagai strata yang rendah. Selama masih mungkin, setiap orang ingin maju terus mencapai kedudukan setinggi mungkin. Kedudukan tinggi itu tak terpisahkan dari jabatan yang tinggi. Sebaliknya jabatan tinggi yang telah dipegang tidak selalu dapat dipertahankan selamanya oleh pejabat yang bersangkutan. Pejabat itu harus turun dan meninggalkan jabatannya untuk orang lain. Dalam gambaran di atas didapati gerak naik-turun dalam ruang masyarakat, yang disebut mobilitas vertikal. Contoh: Seorang anak yang duduk di sekolah Taman Kanak-kanak akan berusaha untuk pada waktunya naik ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi (SD) dan sesudah itu naik ke SMP, kemudian naik ke SLTA dan jika mungkin lalu masuk Perguruan Tinggi. Sesuai dengan keahliannya yang diperoleh di sekolah siswa yang sudah lulus mendapat pekerjaan tertentu, yang memberikan kepadanya suatu kedudukan pada strata sosial tertentu.

Seorang pegawai yang telah bekerja sekian tahun lamanya biasanya mendapat kenaikan gaji dari waktu ke waktu. Kenaikan gaji ini tidak selalu berarti kenaikan kedudukan ke strata sosial atau kelas yang lebih tinggi. Perpindahan dari strata bawah ke strata atas disebut juga promosi. Misalnya, seorangpenjabat darijajaran bupati diangkat menjadi gubernur; seorang gubernur diangkat menjadi menteri; seorang menteri setelah habis masa jabatannya tidak diangkat lagi sebagai menteri, melainkan harus “turun tahta” dan kembali ke jabatan sebelumnya, atau berhenti sama sekali (pensiun).

Mobilitas sosial vertikal memiliki beberapa ciri. Pertama, masyarakat yang bersangkutan adalah masyarakat yang terbuka, artinya strata atau kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat itu tidak menutup “pintu” untuk lalu lintas naik-turunnya anggota masyarakat mana pun juga. Kedua, setiap warga masyarakat (negara) mempunyai kedudukan hukum yang sama tingginya; agama dan kepercayaan yang dianutnya tidak mempengaruhi kedudukan termaksud. Ketiga, gerak naik ke strata kedudukan yang lebih tinggi mengandaikan kesanggupan seseorang mengatasi sistem seleksi yang semakin berat. Misalnya, bagi setiap orang terbuka kesempatan yang sama untuk menjadi kepala negara, asal ia dapat memenuhi syarat-syarat yangberatyang telah ditentukan.

Mobilitas Vertikal ada bermacam-macam, yakni: Mobilitas Naik (Upward Mobility) dan Mobilitas Turun (Downward Mobility)

Dalam mobilitas naik seseorang atau suatu kelompok mengalami kenaikan status, dari suatu strata yang lebih rendah ke strata lain yang lebih tinggi. Contoh mobilitas naik dapat diambil dari bidang politik, misalnya Golkar. Penanjakan Golkar mulai tampak pada Pemilu 1977 dan secara mutlak berhasil mengungguli partai lain pada Pemilu 1982. Prestasi ini dicapai karena keberhasilannya menjalankan tugas dan memenuhi harapan rakyat. Mobilitas turun disebut juga degradasi. Degradasi dapat terjadi di berbagai bidang. Dalam bidang kerja, misalnya, suatu jabatan harus dipegang oleh orangyang memiliki kemampuan dalam bidangnya. Sedangkan secara sosiologis setiap jabatan berisi suatu kompleks harapan yang harus dipenuhi oleh siapa pun yang memegang jabatan itu. Ini berarti penurunan jabatan merupakan hal yang wajar bagi pejabat yang tidak sanggup memenuhi harapan itu. Namun demikian, untuk mengurangi sakit hati karena degradasi, diterapkan prinsippromouetur et amoveatur yang mengandung dua keuntungan. Dengan prinsip ini, secara formal orang yang terkena degradasi kelihatan naik pangkat, tetapi secara objektif dia turun pangkat. Degradasi dalam bidang kerja dapat juga terjadi karena yang bersangkutan melakukan kesalahan, sakit atau berusia lanjut.

Dalam bidang politik degradasi dialami oleh partai yang semula memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tetapi pada Pemilu berikutnya terpaksa harus mengakui kemenangan partai lain dan harus menyerahkan pemerintahan kepada lawan. Degradasi dalam bidang politik seperti ini biasanya menimbulkan kesulitan karena partai yang kalah sering tidak mau mendukung pemerintahan yang dipegang lawan, bahkan secara diam-diam menentang. Kategori siswa-siswi putus sekolah dan pekerja perusahaan atau proyek yang diberhentikan secara massal merupakan contoh lain dari mobilitas turun.

Gerak naik turun yang tengah kita bicarakan ini teij adi pula di lingkungan agama. Untuk mengetahui adanya mobilitas naik atau turun, dapat digunakan tolok ukur kuantitatif, yakni jumlah penganut. Dilihat  dari ukuran itu secara umum dapat dikatakan bahwa agama Kristen dan Agama Islam mengalami kemajuan pesat dalam empat abad terakhir, sedangkan agama Hindu dan Budha mengalami kemajuan kecil. Bahkan di kawasan Indonesia agama Hindu dan Budha mengalami kemunduran. Tolok ukur kuantitatif sesungguhnya kurang representatif. Tolok ukur ini akan lebih lengkap kalau efektivitas kualitatif agama- agama tersebut ikut diperhitungkan, seperti kebudayaan spiritual, mental dan moral, termasuk juga kemajuan ilmu pengetahuan, yang semuanya bersama-sama membawa kemajuan yang berarti bagi bangsa yang memeluk agama tersebut dan dunia luas umumnya. Namun harus diakui pula bahwa pembuatan tolok ukur yang kualitatif itu lebih sukar daripada tolok ukur kuantitatif.

Masalah yanglebih menarik sesungguhnya bukanlah sekedar konstatasi dari fakta-fakta di atas, tetapi justru soal mengapa arus degradasi itu dapat melanda bangsa-bangsa dan agama-agama tersebut? Jawaban atas soal itu memerlukan penelitian tersendiri.

Incoming search terms:

  • perbedaan gerak sosial dan gerakan sosial
  • perbedaan antara gerak sosial dan gerakan sosial
PENGERTIAN MOBILITAS SOSIAL | ADP | 4.5