PENGERTIAN NALAR, RASIONALITAS DAN RASIONALISME

By On Saturday, August 24th, 2013 Categories : Bikers Pintar

reason, rationality and rationalism (nalar, rasionalitas dan rasionalisme)

Rasionalitas adalah masalah yang sama-sama dihadapi oleh ilmu-ilmu sosial dan filsafat. Sebelum membahas berbagai macam isu yang muncul dari masalah tersebut, paling baik dikemukakan terlebih dahulu definisi-definisi provisional dari ketiga pandangan yang terkait dengan nalar, rasionalitas dan rasionalisme itu.

Nalar adalah nama salah satu kemampuan milik manusia yang mampu melihat, mengenali, merumuskan dan melancarkan kritik terhadap berbagai kebenaran. Perbedaan-perbedaan pandangan filosofik mengenai nalar menyangkut keberadaan utamanya (irasionalisme ekstrim bisa menyangkal bahwa kemampuan seperti itu benar-benar ada); hakikat operasi-operasinya (misalnya, apakah ia benar-benar dapat mengamankan data, atau apakah ia hanya dapat membuat inferensi-inferensi; seberapa kuatnya inferensi-inferensi yang dapat dibuatnya; apakah ia bisa membuat penemuan-penemuan ataukah ia hanya dapat mengecek penemuan-penemuan yang dibuat dengan sarana-sarana lain?); wilayah- wilayah operasinya (apakah ia terbatas pada penalaran deduktif, atau pada sains; apakah ia bisa diterapkan terhadap masalah-masalah moral, estetika, [dan] politik; dapatkah ia memulai suatu tindakan?).

Rasionalitas adalah sifat bawaan yang diperlihatkan oleh individu-individu atau kelompok-kelompok individu dalam pemikiran, perbuatan atau lembaga-lembaga sosial mereka. Berbagai ciri khas dapat dilihat, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, sebagai tanda- tanda atau ciri-ciri yang mendefinisikan rasionalitas sebagai berikut:

1. Suatu tendensi untuk bertindak hanya setelah melakukan pengembangan atau penghitungan, sebagai kebalikan dari tindakan karena dorongan [pihak lain] atau karena kepatuhannya kepada tiruan-tiruan yang tidak diperiksa secara cermat.

2. Suatu tendensi untuk bertindak sesuai dengan rencana jangka panjang.

3. Satu pengendalian terhadap perbuatan melalui aturan-aturan yang bersifat abstrak dan umum.

4. Efisiensi instrumental: seleksi sarana-sarana secara murni dengan efektivitas dalam rangka meraih tujuan yang ditentukan secara jelas, sebagai kebalikan dari membiarkan sarana-sarana untuk diseleksi oleh adat kebiasaan atau dorongan.

5. Suatu kecenderungan untuk memilih berbagai tindakan, lembaga, dan sebagainya, dalam pengertian sumbangannya kepada kriteria tunggal dan yang secara jelas ditentukan, bukan dengan melakukan evalusasi terhadap hal-hal itu dengan berbagai kriteria yang membingungkan dan tidak jelas, atau dengan menerima kesemuanya itu karena kebaikan kebiasaan-kebiasaannya.

6. Suatu kecenderungan untuk mensistema- tisasikan keyakinan-keyakinan dan/atau nilai- nilai dengan sistem koheren tunggal.

7. Suatu kecenderungan untuk menemukan pemenuhan manusiawi dalam pelaksanaan atau pemuasan kemampuan-kemampuan intelektual, bukan dengan emosi atau sensualitas.

 

Rasionalisme adalah nama sejumlah doktrin atau sikap:

1. Desakan otoritas yang dimiliki oleh individu, tindakan kognitif yang tidak terikat, sebagai kebalikan dari otoritas yang dimiliki oleh beberapa sumber di luar yang memiliki hak-hak istimewa (Wahyu, Gereja).

2. Penilaian yang lebih tinggi terhadap pemikiran atau inferensi sebagai lawan dari sensasi, observasi atau eksperimen, dalam aktivitas kognitif.

3. Pandangan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok orang atau individu-individu, harus menjalani kehidupan mereka sebaik-baiknya dengan rencana-rencana eksplisit yang dipilih secara intelektual, bukan dengan adat istiadat, secara coba-coba dan kemudian gagal, atau dengan petunjuk otoritas atau sentimen [lain] mana pun.

Perlu dicatat bahwa doktrin (1) bertentangan dengan para pendukung nalar manusia, yang diduga didistribusikan secara universal atau secara merata kepada semua orang, [dan] kepada semua penganut Otoritas yang memiliki hak-hak istimewa. Dengan perkataan lain, para Rasionalis dalam pengertian (1) memasukkan kedua sisi yang dipertentangkan (2), yakni, kedua penganut pemikiran dan penganut indera sebagai sumber utama pengetahuan. Dengan perkataan lain, masalah-masalah (1) dan (2) satu sama lain saling bertolak belakang. Karena “rasionalisme” secara luas digunakan dengan kedua pengertian itu, dan masalah-masalah itu saling terkait dengan cara-cara yang rumit, maka kegagalan melihat ambiguitas ini cenderung menimbulkan kebingungan. Salah seorang tokoh kunci dalam rasionalisme Barat adalah Descartes, yang merupakan tokoh rasionalis dalam kedua pengertian tersebut. Di satu pihak, dia merekomendasikan bahwa semua gagasan tradisional perlu diragukan, sebagai sejenis karantina intelektual, dan dia hanya menghargai gagasan-gagasan itu bila logikanya memang sesuai dengan pikiran yang bebas (enquiring mind). Meskipun Descartes ketika menerapkan metode ini pada akhirnya menghargai teisme sebagai akibat keyakinan atas kelahirannya, fakta nalar batiniah dalam Court of Appeal y ang pertama dan terakhir pada gilirannya membentuk dan mendorong rasionalisme dalam pengertian (1). Namun dia juga seorang tokoh rasionalis dalam pengertian kedua, dan menganggap kekuatan-kekuatan rasional bawaan lahir jauh lebih penting daripada informasi inderawi. Pandangannya mengenai pemikiran manusia secara gigih dihidupkan kembali oleh ahli bahasa kontemporer. Noam Chomsky, terutama dalam bukunya Cartesian Linguistics (1966) dan didukung dengan argumen yang menyatakan bahwa jangkauan kompetensi linguistik yang mengagumkan di antara sebagian besar umat manusia tidak dapat dijelaskan tanpa asumsi mengenai struktur gramatikal pembawaan yang hadir dalam semua pikiran, yang karena itu cocok dengan salah satu aspek “nalar” kuno.

Pada abad-abad ke-17 dan ke-18, program rasionalisme Descartes (pengertian)

1) diimple-mentasikan, antara lain, oleh para pengikut mazhab “Empirisis Inggris” (British Empiricist), yang barangkali salah seorang di antaranya yang terbesar adalah David Hume. Namun pada saat yang sama mereka menghapuskaan rasionalisme (pengertian

2). Hume (1976 [1739-40)), misalnya, secara mendasar berpendapat bahwa pemikiran itu bukan apa-apa melainkan sekedar sisa berbagai sensasi: pemikiran mengenai suatu obyek yang sudah ada sama seperti memiliki sisa pada alat dapur ketika orang sudah tidak makan lagi.

Abad ke-18 sering dikatakan sebagai Abad Nalar (the Age of Reasorft: namun dalam filsafat, abad ini juga disebut sebagai Krisis Nalar (the Crisis of Reason). Hal ini terlihat jelas dalam buku Hume. Penemuan utamanya adalah ini: bila rasionalisme (1), keterikatan semua keyakinan terhadap bukti yang diperoleh seseorang individu, dipadukan dengan empirisisme, pandangan yang menyatakan bahwa indera saja mencukupkan persediaan data pada penampilan individu yang bersangkutan, maka berarti kita mengakhirinya dengan sebuah jalan buntu: persediaan data yang disajikan oleh indera semata tidak cukup kuat untuk menjamin kesepakatan kita terhadap keyakinan-keyakinan tertentu yang tampaknya penting bagi perbuatan dalam kehidupan terutama, kehadiran tatanan kausal di dunia, atau obyek-obyek berkesinambungan, atau kewajiban moral. Solusi yang diajukan Hume terhadap masalah ini adalah bahwa kecenderungan-kecenderungan manusiawi yang penting ini, seperti menarik kesimpulan dari masa lampau ke masa depan, perasaan yang secara moral dipaksakan, karena tidak dijamin dengan satu-satunya persediaan data yang ada pada kita, hanya bersumber pada dan dibenarkan oleh kebiasaan, sejenis Hukum Adat dalam pemikiran.

Immanuel Kant (1929 [1781]) mencoba mengemukakan penolakan yang lebih kuat tetapi kurang begitu precarious terhadap skeptisisme Hume itu. Solusinya adalah, secara substansial, bahwa pemikiran manusia memiliki struktur yang rigid dan universal, yang mendorong manusia untuk (antara lain) berpikir dalam pengertian sebab dan akibat, merasa berkewajiban untuk menghormati etika jenis tertentu (pelaksanaan aturan-aturan dan keutuhan moral secara esensial), dan sebagainya. Dengan demikian kewajiban-kewajiban logika batiniah yang oleh Descartes dipercaya sebagai hakim-hakim atas gagasan-gagasan yang diwarisi secara kultural betul-betul sah, tetapi kewajiban-kewajiban itu hanya sah untuk dunia sebagaimana dialami oleh makhluk-makhluk yang memiliki sejenis pemikiran kita; kewajiban-kewajiban itu tidak bersumber pada benda-benda alam, karena “berada dalam diri mereka sendiri.” Kewajiban-kewajiban itu bersumber dalam diri kita.

Di antara banyak warisan intelektual Kant adalah masalah nalar menjadi bersifat sosiologis. Dua orang tokoh terpenting dalam sosiologi adalah Emile Durkheim dan Max Weber. Masing-masing jelas mewarisi masalah Kant, tetapi mereka menerapkannya ke dalam sosiologi dan ke dalam keragaman budaya manusia dengan cara-cara yang sama sekali berbeda, dan memang secara diametral berlawanan satu sama lain. Durkheim mengikuti Kant dalam kepeduliannya terhadap kewajiban-kewajiban konseptual kita, dalam keteguhannya berpegang pada kewajiban konseptual sebagai sesuatu yang pokok dalam kemanusiaan kita. Namun meskipun Kant puas untuk menjelaskannya dengan menegaskan struktur pemikiran manusia yang sangat universal, Durkheim justru berusaha mencari akar-akar kewajiban itu dalam kehidupan nyata berbagai komunitas yang berbeda dan lebih dari itu dalam [upacara-upacara] ritual. Inti agama adalah ritual, dan fungsi ritual adalah memberikan kepada kita beberapa konsep bersama, dan memberikan konsep-konsep itu dengan otoritas memaksa bagi semua anggota komunitas yang ada. Ini adalah argumen pokok dari bukunya The Elementary Forms of Religious Life (1915 [1912]). Bagi Durkheim, semua manusia bersifat rasional, rasionalitas menampakkan diri dalam kewajiban konseptual, tetapi bentuk yang diambil oleh rasional bervariasi antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Karena memiliki kewajiban-kewajiban yang sama maka para anggota umat manusia menjadi bagian dari komunitas sosial.

Jika bagi Durkheim semua manusia bersifat rasional, maka bagi Weber sejumlah manusia lebih rasional daripada yang lain. Dia mencatat bahwa jenis rasionalitas yang dianalisis oleh Kant perbuatan dan pemikiran yang secara teratur terikat dengan aturan secara khusus merupakan ciri salah satu tradisi tertentu, yaitu tradisi yang menyebabkan munculnya masyarakat kapitalis dan industrialis modern. (Weber tidak begitu eksplisit peduli dengan Kant dibandingkan dengan Durkheim, namun demikian hubungan itu jelas ada). Masalah bagi Weber bukan mengapa semua manusia bersifat rasional (semua manusia berpikir dalam bentuk dan terbatasi oleh konsep-konsep), tetapi mengapa sejumlah orang secara khusus bersifat rasional, yang terutama sekali sangat menghormati aturan-aturan dan mampu menyeleksi sarana-sarana karena efektivitasnya, bikan karena kecocokannya dengan adat, sehingga karenanya cenderung menegakkan lembaga- lembaga kapitalis dan birokratik modern.

Weber (1961 [1924]; 1968 [1922]) mencatat bahwa jenis dunia yang dikodifikasikan oleh para filsuf besar di Abad Nalar, [yaitu] dunia yang tidak kebal terhadap penelitian dan manipulasi, bukan mengutuknya, yang teratur secara rasional bukan dunia yang dihuni oleh seluruh umat manusia, melainkan hanya oleh para peserta tradisi historis yang menyebabkan munculnya kapitalisme dan birokrasi berskala luas. Dia percaya bahwa jenis mentalitas rasionalitas ini merupakan salah satu prakondisi esensial bagi peradaban kapitalis atau birokratik, dan bukan merupakan kelanjutan yang diperlukan dari prakondisi-prakondisi lain bagi peradaban tersebut: sehingga dengan perkataan lain berlawanan dengan materialisme historik. Dia tidak percaya bahwa munculnya kapitalisme itu bisa dijelaskan dengan pengertian prakondisi-prakondisi materialnya semata-mata. Salah satu faktor penting lain yang tidak terikat masih diperlukan juga. (Dia memodifikasi, bukan mengubah, pandangan materialis, sebagaimana dia juga tidak menyatakan atau yakin bahwa bahwa kondisi nonmaterial yang diperlukan, atau setiap perangkat kondisi semacam itu, pernah bisa dikatakan cukup memadai.) Karena itu di tangannyalah masalah filsafat mengenai rasionalitas menjadi masalah sosiologi bagaimana rasionalitas akhirnya mendominasi salah satu peradaban tertentu dan akhirnya, melalui rasionalitas itu, mendominasi seluruh dunia?

Tradisi-tradisi Durkhemian dan Weberian bukanlah satu-satunya tradisi yang digunakan oleh para filsuf untuk menaruh kepedulian dengan Nalar yang menjangkau ilmu-ilmu sosial. Setidak- tidaknya ada dua tradisi lain lagi.

Dalam [tradisi] Kant, sifat rasionalitas yang diberikan kepada struktur pemikiran manusia yang kaku dan universal, tetapi tidak kepada [dunia] materi yang ditangani oleh pikiran (atau pikiran-pikiran) itu, cenderung menjurus kepada dualisme yang menekan dan tidak menyenangkan: dunia itu adalah mesin yang buta dan amoral, dan campur tangan baik dari rasionalitas kognitif atau pun tindakan moral ke dalamnya merupakan pemaksaan yang misterius oleh pikiran-pikiran mengenai tatanan berdasarkan materi yang berbeda dan tidak dikenal oleh tatanan itu. Pada inti filsafat Hegel terletak pandangan dasar bahwa

Nalar tidak hanya (sebagaimana pendapat Kant) bertanggungjawab atas individu yang berupaya keras menemukan perilaku dan penjelasan-penjelasan yang konsisten, tetapi ia juga merupakan sejenis Tuan Boneka Sejarah yang besar sekali dan bersifat impersonal. Dengan perkataan lain, pola sejarah memiliki prinsip mendasar yang bukannya tidak dikenal oleh berbagai upaya rasional dalam diri kita melainkan, sebaliknya, merupakan semacam jaminan bagi upaya-upaya tersebut. Gagasan tersebut jelas menarik, bersifat inheren dan tidak boleh tidak bersifat spekulatif, tetapi tampaknya sudah mendapatkan dukungan dari pandangan yang menyatakan bahwa sejarah itu kemajuan, yang pada saat yang sama sudah menjadi model yang disukai. Marxisme, yang meskipun tidak mempercayai adanya unsur-unsur mistik dalam Hegel, mengambil alih intuisi yang mendasari suatu desain historiss rasional. Orang- orang yang tetap berpegang pada beberapa versi pandangan ini biasanya tidak disebut sebagai rasionalis-rasionalis, meskipun gagasan-gagasan mereka relevan dengan perdebatan mengenai hubungan antara nalar dengan kehidupan.

Tradisi lain yang relevan, selain tradisi Marxis- Hegelian, terkait dengan nama-nama besar Scho-penhauer, Nietzsche dan Freud. Kant mengidentifikasikan Nalar dengan semua yang terbaik pada manusia. Schopenhauer (1958 [1819]) mengajarkan bahwa manusia didominasi oleh Kehendak irasional yang buta, yang kekuatannya tidak dapat mereka serang di dunia ini, meskipun mereka kadang-kadang dapat menghindarinya melalui kontemplasi dan rasa belas kasih estetik Nietzsche (1909-13) sependapat dengan pandangan-pandangan Schopenhauer, tetapi membalik nilai-nilainya: mengapa Kehendak itu harus dikutuk, dengan mengatasnamakan moralitas yang sebenarnya merupakan hasil dari rasa geram dan kesal, manifestasi yang kusut dari Kehendak yang akan dikutuk itu? Freud (1930) mengambilalih wawasan-wawasan kedua pakar tersebut (meski-pun bukan nilai-nilai Nietzsche), mengembangkan tatanannya dalam konteks praktek klinik dan psikiatri, menemukan cara yang bersifat umum setidak-tidaknya untuk memperkecil beberapa manifestasi yang lebih patologik dari kekuatan-kekuatan irasional dan menata organisasi untuk menerapkan dan mengawasi cara tersebut. Sejauh ini dia tidak mendukung dominasi kekuatan-kekuatan irasional tetapi, sebaliknya, justru berusaha mereduksi kekejaman kekuatan-kekuatan itu, dia tidak dapat (berbeda dengan Nietzsche) dituduh irasionalisme namun pandangan-pandangannya mengenai pengawasan yang berbelit-belit dan tersembunyi terhadap nalar yang terlibat seperti sesuatu yang bukan nalar mirip sekali dengan pandangan Nietzsche, meskipun sebagaimana telah dikemukakan pandangan-pandangan itu dikembangkan dalam bentuk yang tampak jauh lebih spesifik, dan terkait dengan praktek klinik.

Para pakar ilmu-ilmu sosial mungkin sekali menghadapi masalah Nalar dan Rasionalitas (dengan bermacam-macam formulasinya) dalam kaitannya dengan berbagai tradisi dan masalah yang sudah dispesifikasikan. Bidang-bidang utama dari masalah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Nalar pembawaan versus pengalaman sebagai sumber kognisi, perdebatan yang menentang para pakar seperti Descartes dan Chomsky hingga kelompok-kelompok empirisis dan behavioris.

2. Pengamanan atas kewajiban-kewajiban logis batini baik terhadap perlengkapan mental manusia yang sangat universal maupun terhadap budaya tertentu dengan perkataan lain oposisi (katakanlah) dari Kant dan Durkheim.

3. Masalah bentuk rasionalitas yang secara historik bersifat -khusus, sumber-sumbernya, dan peranannya dalam mendorong timbulnya peradaban modern apa yang mungkin disebut sebagai masalah Weberian.

4. Kelayakan, dalam prinsip atau dalam kasus-kasus tertentu, untuk menempatkan rencana rasional dalam sejarah.

5. Perdebatan mengenai apakah kekuatan pendorong yang nyata, dan lokasi kepuasan yang asli, di dalam jiwa manusia harus dicari dalam dorongan-dorongan irasional atau dalam tujuan, perhitungan, wawasan atau kendali rasional atau dalam proporsi apa.

6. Rasionalitas dalam pengertian kriteria eksplisit dan rencana yang sadar, sebagai kebalikan dari penghormatan kepada tradisi dan kesinambungan dalam pengelolaan sebuah pemerintahan.

7. Rasionalisme dalam pengertian mendukung penelitian yang bebas sebagai kebalikan dari perlawanan terhadap otoritas Revolusi atau pun Tradisi.

Berbagai masalah ini tentu saja saling terkait, meskipun sama sekali tidak identik, tetapi masalah-masalah itu sering membingungkan, dan tidak adanya konsistensi terminologik sering mempertajam kebingungan ini.

Incoming search terms:

  • pengertian rasionalitas
  • Rasionalitas
  • rasionalitas adalah
  • arti rasionalitas
PENGERTIAN NALAR, RASIONALITAS DAN RASIONALISME | ADP | 4.5