PENGERTIAN NEGARA SOSIALIS DAN DUNIA EKONOMI KAPITALIS

54 views

PENGERTIAN NEGARA SOSIALIS DAN DUNIA EKONOMI KAPITALIS – Hubungan antara negara sosialis dan ekonomi-dunia kapitalis telah menjadi bahan perdebatan seru akhir-akhir ini, terutama di kalangan ilmuwan sosial Barat kelompok Marxian. Christopher Chase-Dunn (1982), misalnya, mengemukakan posisi yang telah populer di kalangan para penganut teori sistem dunia Wallersteinian pada tahun-tahunbelakangan ini. Ia berpendirian bahwa tidak hanya bangsa dari negara-negara sosialis itu yang mempunyai ikatan ekonomi yang kuat kepada dunia kapitalisme, tapi sebetulnya bahwa negara-negara sosialis adalah bagian integral dari ekonomi-dunia kapitalis. Posisi yang mereka tempati dalam ekonomi-dunia ialah semi pinggiran. Negaranegara sosialis mempunyai peran ini, menurut Chase-Dunn, karena mereka rnenangani produksi komoditi untuk pasar dunia dan mengadakan perj anjian-perjanjian dengan perusahaan kapitalis multinasional. Jadi, Chase-Dunn memandang bahwa masyarakat sosialis tidak sungguh-sungguh sosialis sama sekali. Tapi pada dasarnya adalah kapitalis dengan pemerintahan yang diatur oleh gerakan politik sosialis.

Di sisi yang sangat berlawanan dari Chase-Dunn adalah Albert Szymanski (1982). Szymanski berpendapat bahwa bangsa-bangsa negara sosialis secara keseluruhan adalah sosialis. Mereka mempunyai ekonomi yang membuat produksi-untuk-dipakai dan bukan produksi untuk mencari keuntungan. Lebih lanjut, ekonomi negara-negara sosialis pada dasarnya otonom dari kapitalisme Barat, ekonomi pertukaran antara bangsa kapitalis dan sosialis bukan yang paling penting dan merupakan sampingan saja.

Szymanski berusaha mengajukan bukti-bukti yang mendukung posisinya (analisisnya hampir semua didasarkan pada kejadian-kejadian di Uni Soviet). Pertama, perjanjian-perjanjian dengan para kapitalis Barat yang berhu-bungan dengan Uni Soviet — perjanjian yang meliputi pertukaran berbagai barang dan teknologi — dibuat karena maksud pihak Uni Soviet sendiri. Perjanjian-perjanjian ini tidak cukup mengefektifkan proses ekonomi di Uni Soviet, karena perjanjian-perjanlian itu tidak memberikan investasi langsung apapun atau manajemen hak-hak kapitalis ke dalam perusahaan-perusahaan di Uni Soviet. Kedua, walaupun masyarakat-masyarakat negara sosialis menanam modal mereka di negara kapitalis baik pusat ataupun pinggiran, investasi ini terlalu kecil dibandingkap dengan yang telah dilakukan olehnegara-negara kapitalis maju. Misalnya pada tahun 1978 investasi Amerika Serikat di negeri kapitalis pinggiran melebihi investasi Soviet di negara-negara tersebut dengan faktor 2.200. Ketiga, masyarakat negara-negara sosialis berdagang lebih banyak di kalangan mereka sendiri daripada dengan masyarakat ‘ kapitalis. Misalnya, pada tahun 1978 sekitar 60 % perdagangan Uni Soviet terjadi dengan bangsa-bangsa negara sosialis lain, tapi hanya 28 % dari perdagangannya dilakukan dengan bangsa-bangsa kapitalis pusat. Lebih lanjut, pada tahun yang sama hanya sekitar 4% dari perdagangan masyarakat kapitalis pusat di negara-negara sosialis. Terakhir, bila ada ikatan ekonomi yang kuat antara negara-negara sosialis dan kapitalis, fluktuasi ekonomi yang sangat berciri kapitalisme seharusnya terefleksikan dalam fluktuasi serupa pada masyarakat-masyarakat sosialis. Tapi hubungan antara masyarakat kapitalis dan sosialis dalam hal ini tidak kuat. Sebetulnya, “periode pertumbuhan industri yang tercepat di USSR, 1928-1941, bertepatan dengan periode depresi terpanjang dan mendalam dalam sejarah modern kapitalisme (Szymanski, 1982:75).”

Perbedaan pendapat antara Chase-Dunn dan Szymanski menjadi kompleks dan menjangkau persoalan yang luas, dan karena itu sulit untuk menengahi dengan suatu cara tertentu saja. Sebetulnya, perbedaan tersebut hanyalah bagian dari pembahasan yang luas tentang sifat sistem ekonomi di Uni Soviet dan Eropa Timur . Dalam pandangan Szymanski, haruslah diketahui bahwa masyarakat negara sosialis benar-benar mempunyai ekonomi yang berbeda dalam beberapa hal penting dari kapitalisme Barat. Masyarakat negara sosialis tidak mempunyai kelas kapitalis perorangan yang melakukan maksimisasi keuntungan sebagai tujuan; mereka memanfaatkan perencanaan ekonomi terpusat dalam tingkatan yang tak pernah dikenal di kapitalisme Barat; dan mereka, khususnya Uni Soviet, sangat minimal memanfaatkan mekanisme pasar untuk membuat keputusan ekonomi. Jadi, masyarakat negara sosialis mempunyaibeberapa ciri penting yang biasanya dihubungkan dengan cara organisasi ekonomi sosialis (Gorin, 1985; Davis dan Scase, 1985). Di sisi lain, Szymanski sangat keliru dalam mengira masyarakat negara sosialis pada dasarnya mewujudkan harapan-harapan Marx dan Engels yang dianggap sebagai isi dari masyarakat spsialis. Kebenaran yang nyata ialah bahwa Uni Soviet dan Eropa Timur menyimpang sekali dari konsep klasik Marxian tentang sosialisme. Walaupun Marx tidak menyebut secara jelas pikirannya tentang masyarakat sosialis masa depan itu seperti apa, kita tahu hal-hal mendasar yang ada dalam pikirannya. Salah satunya, ia berpikir tentang sebuah masyarakat dengan tingkat kesetaraan ekonomi yang lebih tinggi dari yang berlaku di Uni Soviet dan Eropa Timur (libat Bab 10). Selain itu, ia berpikir bahwa sosialisme relatif bersifat demokratis, yang memberi kesempatan luas bagi setiap orang dalam semua proses perencanaan ekonomi. Ciri penindasan politik dari negara sosialisme modern menunjukkan bahwa harapan demokrasi merupakan sesuatu yang sulit diwujudkan. Terakhir, adalah kenyataan bahwa Marx memahami sosialisme yang sejati sebagai yang terbentuk lebih sekitar produksi-untuk-dipakai daripada produksi-untukdijual. Masyarakat negara sosialis kontemporer tidak hidup untuk harapan ini, karena ekonomi mereka terarah untuk produksi komoditi—memperbesar nilai tambah barang-barang yang dibuat. Kesimpulannya, adalah kesalahan yang serius untuk menyebut negara sosialis kontemporer sebagai “negara Marxis”. Walaupun negara-negara ini secara historis menyebut dirinya Marxis, ini hanyalah sebagian kecil Clari kebenaran. Hal ini membawa kita kembali pada posisi Chase-Dunn. Penting untuk memahami bahwa ia tidak mengklaim bahwa masyarakat negara sosialis adalah kapitalis dalam cara yang sama dengan yang ada di masyarakat kapitalis Barat. Ia mengetahui bahwa masyarakat sosialis telah mempunyai bentuk-bentuk khas organisasi ekonomi internal. Posisinya muncul dari sudut pandang sistem dunia yang dimilikinya. Masyarakat negara sosialis adalah, menurutnya, percobaan penting dalam sosialisme yang gagal, masyarakat-masyaraka t ini telah dihambat oleh keberadaan ekonomi-dunia kapitalisme (Chase-Dunn, 1989a). Masyarakat sosialis sulit sekali untuk bertahan hidup dalam ekonomi-dunia kapitalis. Mereka dituntut untuk berinteraksi dengan sistem itu, dan akibatnya mereka mau tidak mau memakai cara kapitalis kembali. Jadi, Uni Soviet dan Eropa Timur secara bertahap telah masuk dalam ekonomi-dunia dan kehilangan sebagian besar makna sosialis yang semula mereka miliki. Ada bukti yang baik untuk menunjukkan bahwa hal inilah yang banyak terjadi lebih dari dua atau tiga dekade yang lalu, dan lebih cepat dan substansial di Eropa Timur daripada diUni Soviet sendiri (Frank, 1980; Abonyi, 1982; Rossides, 1990). Andre Gunder Frank (1980), misalnya, telah menunjukkan secara sangat rinci bagaimana masyarakat negara sosialis telah melebur diri mereka sendiri ke dalam kapitalisme global. Sejak awal dekade 1970an mereka mulai berdagang besar-besaran dengan kapitalisme Barat, danbanyak perjanjian keuangan dan industri yang penting telah dibuat. Analisis Frank berhenti pada tahun 1979, tapi nampaknya proses reintegrasi yang digambarkannya untuk dekade 1970an berlanjut hingga dekade 1980an. Sebetulnya, nampak bahwa proses ini tumbuh terus dengan lompatan-lompatan (dalam Aganbegyan, 1989).

Pada alchirnya, posisi Chase-Dunn menjadi semakin valid dan memberi kejelasan. Masyarakat negara sosialis hanya mengandung sedikit pikiran sosialis Marxian, mereka mulai dan sedang dalam proses kehilangan sebagian besar dari yang dimilikinya. Kesimpulan ini diikuti pertanyaan akhir yang penting: Pernahkah masyarakat negara sosialis mempunyai hubungan di antara mereka sendiri dibandingkan dengan hubungan di antara negara negara kapitalis yang telah lebih berkembang? Memang, pernah ada sistem dunia sosialis yang terpisah, walaupun jelas bahwa sistem ini tidak pernah secara struktur menyerupai sistem dunia kapitalis (Chase-Dunn, 1982; Chirot, 1986). Dengan kata lain, Uni Soviet tidak pernah bertindak sebagai suatu “pusat” sosialis yang mengeksploitasi tetangga-tetangganya di Eropa Timur, atau negara sosialis yang kurang berkembang seperti Kuba. Uni Soviet tidak tergantung pada negara sosialis lain untuk kebutuhannya akan bahan mentah. Kenyataannya, ia memainkan peran penting dalam ekspor bahan mentah kepada negara sosialis lain (Chirot, 1986). Lebih lanjut, Uni Soviet secara historis bertindak dalam cara-cara yang telah direncanakan untuk membantu negara-negara sosialis yang kurang maju untuk meningkatkan perkembangan ekonomi mereka. Misalnya, ia telah membayar gula Kuba di ataS harga pasar dunia (Eckstein, 1986). Walaupun benar bahwa Uni Soviet telah mendominasi secara politik maupun militer atas negara-negara Eropa Timur, begitu pula atas banyak negara-negara sosialis yang kurang maju, namun dominasi tersebut tidak sebanding dengan dominasi ekonomi seperti yang dilancarkan oleh beberapa bangsa lainnya dalam sistem kapitalis dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *