PENGERTIAN NILAI-NILAI SOSIAL

23 views

Pengertian kebudayaan telah dipaparkan, walaupun dalam kerangka yang sederhana. Di dalam per-nyataan tentang kebudayaan telah disinggung bahwa budaya masyarakat khususnya unsur rasa pada dasarnya menghasilkan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai sosial yang dihasilkan oleh unsur rasa masyarakat tersebut secara umum dapat dinyatakan sebagai keyakinan relatif kepada yang baik dan buruk, yang benar dan salah, kepada apa yang seharusnya ada dan apa yang seharusnya tidak ada. Nilai-nilai memainkan peranan penting di dalam kehidupan sosial. Kebanyakan hubungan-hubungan sosial didasarkan bukan saja pada fakta-fakta positif, akan tetapi juga pada pertimbangan-pertimbangan nilai, demikian diungkapkan oleh Maurice Duverger dalam Sosiologi Politik.18 ” Ia (ba-ca: nilai-nilai mencerminkan suatu kualitas preferensi dalam tindakan. Nilai-nilai inti memberikan sumbangan yang berarti kepada pembentukan pandangan dunia mereka. Nilai-nilai juga memberikan perasaan identitas kepada masyarakat dan menentukan seperangkat tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, nilai-nilai merupakan komponen yang penting dari orientasi-orientasi kognitif dan evaluatif bagi suatu bangsa (masyarakat).

Dengan demikian, nilai-nilai itu mengandung standard normatif untuk perilaku, baik dalam hubungannya dengan kehidupan pribadi maupun dalam hubungannya dengan kehidupan sosial. Di dalam kenyataan sehari-hari kiranya sulit untuk secara pasti dan tegas mengetahui nilai-nilai yang dianut oleh seseorang maupun sekelompok orang atau suatu masyarakat. Tetapi menurut Kluckhohn semua nilai budaya dalam semua kebudayaan, pada dasarnya mengenai lima masalah pokok, yaitu:

  1. Nilai mengenai hakekat hidup manusia
  2. Nilai mengenai hakekat dari karya manusia
  3. Nilai mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
  4. Nilai mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitar
  5. Nilai mengenai hakekat dari manusia dengan sesamanya.

Koentjaraningrat telah melakukan deskripsi mengenai cara berbagai kebudayaan di dunia mengkon- sepsikan masalah-masalah tersebut di atas.  Terhadap nilai mengenai hakekat hidup manusia, misalnya ada kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakekatnya merupakan suatu hal yang buruk dan menyedihkan dan karena itu harus dihindarkan. Budaya-budaya (nilai-nilai) yang terpengaruh oleh agama Budha misalnya, dapat disangka mengkonsep- sikan hidup itu sebagai suatu hal yang buruk. Pola- pola kelakuan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju kearah tujuan untuk bisa memadamkan hidup itu (nirvana-meniup habis) dan meremehkan segala kelakuan yang hanya mengekalkan rangkaian kelahiran kembali (samsara). Misal lain lagi adalah bahwa ada budaya yang memandang bahwa karya manusia itu pada hakekatnya bertujuan untuk memungkinkannya hidup; lain kebudayaan memandang hakekat karya itu untuk memberikannya kedudukan yang penuh kehormatan di dalam masyarakat; sedangkan lain budaya menganggap karya manusia sebagai suatu gerak hidup yang menghasilkan lebih banyak karya lagi.

Contoh terhadap nilai yang berorientasi pada waktu adalah sebagai berikut; ada kebudayaan yang memandang penting dalam kehidupan manusia itu masa lampau. Dalam kebudayaan serupa itu orang akan lebih sering mengambil sebagai pedoman dalam kelakuannya contoh-contoh dan kejadian-kejadian dalam masa lampau. Sebaliknya, pula banyak kebudayaan yang hanya mempunyai suatu pandangan yang sempit. Warga suatu kebudayaan serupa ini tidak akan memusingkan diri dengan zaman lampau maupun masa yang akan datang. Lain kebudayaan malah jus- teru mementingkan pandangan yang berorientasi sejauh mungkin terhadap masa yang akan datang. Dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang penting.

Mengenai nilai manusia terhadap lingkungan sosial atau dalam hubungan dengan sesamanya, adalah sebagai berikut: ada kebudayaan yang amat mementingkan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya. Dalam pola kelakuannya, manusia yang hidup dalam suasana kebudayaan serupa itu akan berpedoman pada tokoh-tokoh pemimpin, orang-orang senior atau orang-orang atasan. Lain kebudayaan lebih mementingkan hubungan horisontal antara manusia dengan sesamanya. Orang dalam kebudayaan serupa ini akan amat merasa tergantung kepada sesamanya, dan usaha untuk memelihara hubungan baik dengan tetangga dan sesamanya merupakan suatu hal yang dianggap penting dalam hidupnya. Dibalik kebudayaan serupa ini ada kebudayaan yang lebih memen-tingkan individualisme, menilai tinggi anggapan bahwa manusia itu harus berdiri sendiri dalam hidupnya dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan se-dikit mungkin bantuan orang lain.

Suatu penelitian di daerah Lampung mengungkapkan tentang pandangan-pandangan terhadap makna hidup, fungsi keija. Pandangan untuk kedua hal ini adalah bahwa hidup adalah untuk keluarga, hidup untuk agama dan hidup untuk masyarakat. Para orang tua lebih memandang bahwa hidup untuk keluarga, sedangkan hidup untuk agama dan untuk masyarakat terlihat lebih dominan dikalangan para remaja. Mengenai fungsi kerja, terlihat adanya kecen-derungan bahwa kerja itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yaitu untuk mendapatkan nafkah. Apabila hasil penelitian ini dikaji dengan menelaah uraian di atas, maka di sini terdapat budaya yang memandang bahwa karya manusia itu pada hakekat- nya bertujuan untuk memungkinkannya hidup, sedangkan dari pandangan terhadap makna hidup kelihatannya terdapat orientasi pada budaya yang lebih memandang horisontal.

Incoming search terms:

  • makna nilai kekeluargaan
  • makna nilai kekeluargaan uraian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *