PENGERTIAN ORGANISASI TULISAN

By On Saturday, October 24th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Isi atau pikiran yang terdapat dalam tulisan, terutama tulisan ilmiah, menuntut penyampaian yang sistematis. Pikiran disusun dalam satu kerangka atau bagan (outline). Dengan sistematika yang dipakai, pembaca dapat mengikuti jalan pikiran lain harus jelas terlihat. Pikiran yang disampaikan berjalan melalui garis lurus (yang menanjak), dari satu titik ke titik berikutnya, sehingga mencapai titik akhir tulisan (klimaks).
Tulisan biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama, vaitu (1) pendahuluan atau p^mbuka, (2) batang tubuh tulisan dan (3) penutup. Masing-masing bagian dapat terdiri dari beberapa alinea. Biasanya pendahuluan dan penutup lebih pendek daripada batang tubuh tulisan. Pendahuluan memperkenalkan isi tulisan, batang tubuh memaparkan isi tulisan, dan penutup menyimpulkan isi tulisan.
Alinea, biasanya, mengandung satu pokok pikiran tertentu yang biasanya terdapat dalam apa yang disebut kalimat topik. Ide yang terdapat dalam kalimat topik dikembangkan melalui ide-ide penunjang (supporting ideas) yang dikemukakan melalui kalimat-kalimat lain dalam alinea. Jadi, dalam alinea yang baik terdapat satu ide pokok dengan ide-ide penunjang yang semuanya membentuk satu keterpaduan (koherensi), dan keterpaduan ini diwujudkan dengan bentuk bahasa atau hubungan yang terdapat di antara satuansatuan makna (pikiran) yang terdapat dalam alinea. Jika sebuah kalimat topik sebuah alinea berbunyi, misalnya, “salah satu sebab kenakalan remaja ialah broken home”, maka kalimat-kalimat lain harus mengandung pikiran-pikiran yang memperjelas pernyataan dalam kalimat topik. Berikut terdapat beberapa contoh mengembangkan ide yang terdapat dalam kalimat topik.
Pikiran yang terdapat dalam kalimat topik dapat dikembangkan dengan (1) urutan alami (natural order) dan (2) urutan logis (logical order) (Moore, R.H. 1964 : 78-83).
Urutan alami dapat dirinci sebagai berikut.
1. Urutan menurut waktu (the order of time)
Urutan semacam ini biasanya digunakan untuk memaparkan proses. Misalnya, bagaimana membuat kue bolu.
2. Urutan menurut ruang (the order of space)
Urutan semacam ini digunakan dalam Jeskripsi karena lebih mudah mengikuti suatu penjelasan jika digambarkan dari kiri ke kanan, dari bawah ke atas, dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, atau sebaliknya.
Urutan logis dapat dirinci menjadi:
a. Urutan Klimaks (the order of klimaks)
Dalam urutan semacam ini, detail yang paling penting diberikan pada akhir tulisan.
b. Urutan umum ke Khusus (the order of general to specific)
Urutan semacam ini menyajikan gambar umum terlebih dulu sebelum memberikan hal-hal yang spesifik atau rinci. Dalam pelajaran biologi, misalnya, klasifikasi binatang atau tumbuh-tumbuhan dimulai dari phylum, dari phylum ke genus, dan dari genus ke species.
c. Urutan Khusus ke Umum (the order of specific to general)
Urutan semacam ini adalah kebaiikan dari urutan nomor dua di atas.
d. Urutan sebab-akibat (the order of causa to effect). Urutan semacam ini mulai dengan suatu sebab dan menurut akibat-akibat yang mungkin terjadi. Misalnya, terjadinya resesi ekonomi mengakibatkan apa-apa saja ?
e. Urutan akibat sebab (the order of effect to causa) Urutan semacam ini adalah kebaiikan dari urutan nomor empat di atas.
f. Urutan dikenal tidak dikenal (the order of familiarity)
Cara semacam ini mencoba menerangkan sesuatu yang rumit ) yang belum dikenal) melalui sesuatu yang lebih dikenal).
g. Urutan Mudah Sulit (the order of complexity)
Urutan semacam ini bergerak dari yang mudah ke yang lebih sulit.
h. Urutan kegunaan 1[the order of utility)
Urutan semacam ini menyajikan hal-hal yang rinci terlebih dulu sedemikian rupa sehingga pembaca dapat memahami apa yang datang kemudian. Sebelum perlunya pemberantasan korupsi dilakukan, harus diterangkan terlebih dulu akibat-akibat yang sangat merugikan yang ditimbulkan korupsi.
i. Urutan keberterimaan (the order of acceptability)
Urutan semacam menyajikan terlebih dulu pikiranpikiran yang dapat diterima oleh pembaca sebelum pikiran-pikiran yang mungkin akan ditolaknya. Penulis mengakui hal-hal yang tidak dapat disangkal yang dikemukakan lawannya. Lalu penulis mematahkan argumentasi lawannya.
j. Urutan Kesan Dominan ke Kurang Dominan (the order of the dominant impression)
Urutan semacam ini menyajikan kesan yang paling dominan mengenai sesuatu terlebih dulu, lalu memberikan detail-detail yang mendukung kesan yang dominan itu.
k. Urutan Efek Psikologis (the order of psychological effect) Dalam urutan semacam ini, seseorang menceritakan atau melukiskan apa yang paling menarik menurut penglihatannya atau pikirannya. Sebuah mobi! Mercy, misalnya, dilukiskan keindahan bentuknya oleh
seorang anak, dan kekuatan mesinnya oleh ayahnya.
KALIMAT
1. Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia
Apabila ftta menulis karangan, sering kita membuat kalimat baru yang belum pernah muncul sebelumnya. Kalimat tersebut dikatakan baru karena unsurunsur pembentuknya baru, sedangkan pola kalimatnya merupakan pola kalimat yang memang terdapat dalam bahasa yang bersangkutan dan digunakan berulang kali. Perhatikanlah kedua kalimat berikut ini:
a. Guru membuat kalimat.
b. Wartawan menulis karangan. Jika dibandingkan kalimat a dengan kalimat b, maka akan terlihat bahwa pola kalimat a sama dengan pola kalimat b, yang berbeda adalah kosakata yang mengisi gatra kedua kalimat. Pada kalimat a, yang mengisi gatra subjek adalah sebuah nomina (kata benda) : guru; dan yang mengisi gatra predikat adalah verba (kata kerja) membuat dan objek yang terdiri dari nomina kalimat.
Makna kedua kalimat di atas berbeda karena unsur-unsur pembentuknya (kosakata,nya) berbeda. Kedua contoh kalimat di atas memperlihatkan bahwa dengan memakai pola yang sama kita dapat membuat kalimat baru-dalam arti maknanya lain— yang jumlahnya “tidak terbatas”.
Selain membuat kalimat baru dengan memakai pola yang sama, dapat diadakan perluasan (expansion) pada struktur kalimat tanpa mengubah pola dasarnya. Kalimat
di atas dapat diperluas menjadi :
1) Guru kami membuat kalimat.
2) Guru yang mengajar bahasa Indonesia membuat kalimat.
3) Guru membuat kalimat di papan tulis.
4) Kemarin, guru membuat kalimat di papan tulis.
Kalimat-kalimat yang diperluas di atas memperlihatkan bahwa pola dasar kalimat tidak mengalami perubahan. Pola dasarnya masih tetap : Nomina-1 Verba Trans (itif) Nomina-2. Pada kalimat 1), subjek kalimat diberi keterangan yang terdiri dari adjektiva (kata sifat) : kami; pada kalimat 2), subjek diterangkan oleh sebuah anak kalimat 3), dan 4) verba membuat, secara berturut-turut, diterangkan oleh sebuah frase adverbial tempat : di papan tulis dan adverba waktu : kemarin. Jika keterangan yang ditambahk^n melalui perluasan dihilangkan, maka kalimat asal akan diperoleh kembali dengan pola dasar yang sama. Dalam menulis kalimat yang struktur-nya rumit, kita harus mempertahankan pola dasar, sebab kalau tidak, maka akan terjadi kalimat rancu. Kalimat (a) di atas, dapat diperluas’tanpa menghasilkan* kalimat yang rancu. Misalnya-
Beberapa hari yang lalu, guru yang mengajar bahasa Indonesia banyak membuat kalimat panjang yang rancu serta sukar dimengerti di kala para murid sudah mulai mengantuk.
2. Jumlah Pola Dasar Bahasa Pada umumnya, pola dasar setiap bahasa terbatas jumlahnya. Pola dasar kalimat seperti itu menghasilkan kalimat-kalimat sederhana, yaitu
kalimat-kalimat yang rmempunyai satu subjek dan satu predikat.
Dalam bahasa Indoensia terdapat, antara lain, pola dasar berikut.
a. Nomina-1 Nomina-1
Saya guru.
b. Nomina Adjektiva
Anak itu gembira.
c. Nomina-1 verba-Trans(itif)
Wartawan menuiis
Nomina-2
karangan.
d. Nomina Verba-lntrans (itif)
Dia bekerja
e. Nomina Adverba
Dia di luar.
f. Nomina Mereka
Kata Penghubung
(Lingking Verb)
kelihatan Adjektiva gembira.
g. Nomina-1 Verba-Trans
Mereka membuat

(1) Saya guru.
(2) Dia dokter.
Kalimat kompleks adalah gabungan kalimat sederhana dengan sebuah anak kalimat (dependent clause).
(1) Dia berpesan.
js. Dia berpesan sebelum dia berangkat.
(2) Dia berangkat.
Kalimat setara-kompleks merupakan gabungan dua atau lebih kalimat sederhana dengan sebuah anak kalimat.
(1) Ali sedang membaca buku.
(2) Ali sedang menulis surat.
(3) Lampu mati.

Keempat kalimat di atas dapat digabung sebagai berikut: Mahasiswa (yang) rajin itu membeli buku sejarah setelah dia menerima uang. atau
Setelah menerima uang, mahasiswa (yang) rajin itu membeli buku sejarah.
Unsur-unsur Bahasa Bahasa dapat dibagi ke dalam beberapa unsur, yaitu (a) kata, (b) frase, (c) klausa, (d) kalimat, dan (e) wacana. Kata dapat digabung dengan kata lain untuk membentuk frase. Klausa adalah rangkaian kata dan salah satu diatara kata tersebut ada yang bertugas sebagai subjek kata kerja dan satu lagi dapat bertugas sebagai kata kerja : ketika dia tiba. Ketika dia tiba adalah sebuah klausa yang tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat. Oleh karena itu rangkaian demikian disebut anak kalimat (dependent clause). Klause yang bisa berdiri sendiri disebut kalimat (sentence atau independent clause). Wacana (discource) adalah rangkaian kalimat yang satu sama lain diikat oleh hubungan makna. Rangkaian kalimat A di bawah ini adalah sebuah wacana, sedangkan rangkaian B bukan.
A. Bagaimanakah kedudukan manusia dalam tata susun ciptaan itu? Penyair Inggris Shakespeare menyebut ma-nusia the apogee of creation (puncak dari ciptaan). Kitab Injil menyebutnya penguasa alam atas nama Allah, dan dia juga sebagai “teman sekerja Allah” yang mempunyai tanggungjawab atas terpeliharanya alam yang diciptakan Allah sebagai tempat dan sumber hidupnya.
B. Kemarin saya didatangi oleh seorang mahasiswa
yang sedang menulis tesis tentang kebudayaan Batak. Walaupun begitu konsep kebudayaan sering membingungkan banyak orang. Salah satu hal yang sering dilupakan ialah manusia adalah produk budayanya.

Incoming search terms:

  • organisasi tulisan
  • pengorganisasian tulisan
PENGERTIAN ORGANISASI TULISAN | ADP | 4.5