PENGERTIAN PELIK-PELIK MANUSIA

By On Wednesday, November 12th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Apakah manusia itu? Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah se-mudah keterangan yang dituangkan dalam sebuah kamus. Secara seder-hana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manusia berarti “makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Yang agak lebih jelas pendapat Aristoteles yang seperti diketahui walaupun hidupnya di Yunani Purba pada tahun 384-322 sebelum Masehi pemikirannya tetap dianut hingga sekarang oleh siapapun juga dan di mana pun juga. Aristoteles mengatakan bahwa di alam ini ada tiga jenis makhluk dengan roh yang tarafnya bertingkat-tingkat. Yang paling rendah tarafnya adalah anima avegetativa atau roh vegetatif yang dimiliki tumbuh-tumbuhan. Jadi tumbuh-tumbuhan hanya mempunyai roh vegetatif dengan fungsinya ter-batas pada makan, tumbuh menjadi besar dan berkembang biak. Yang lebih tinggi dari itu anima sensitiva atau roh sensitif yang dimiliki binatang sehingga binatang yang memiliki dua jenis anima, yakni anima vegetative dan anima sensitiva itu, selain menjadi besar dan berkembang biak, juga mempunyai perasaan, naluri, nafsu sehingga mampu mengamati, ber-gerak, dan bertindak. Yang paling tinggi adalah anima intelektiva atau roh intelek yang hanya dimiliki manusia. Jadi manusia mempunyai tiga jenis anima atau roh. Karena memiliki roh yang lengkap itu, manusia menjadi besar, berkembang biak, bernafsu, bernaluri, bergerak, bertindak, juga berpikir, berkehendak.

Manusia merupakan totalitas – kesatuan terpadu secara menyeluruh – antara roh dan jasad, rohani dan jasmani, jiwa dan raga yang tidak mungkin dipisahkan. Apabila keduanya berpisah, dengan lain perkataan roh tidak menyatu lagi dengan jasad, yang disebut mati, maka manusia itu tidak ada atau tidak disebut manusia lagi, melainkan mayat yang lama kelamaan membusuk. Memang di Mesir Purba, penguasa yang wafat, tubuhnya bisa dibalsem sehingga tetap utuh hingga ribuan tahun lamanya, tetapi tetap ia tidak disebut manusia. Roh harus dibedakan dari rohani atau jiwa. Roh atau dalam bahasa Latinnya anima adalah sesuatu yang menyebabkan jasad hidup. Tegasnya, roh adalah penyebab hidup, bukan penyebab kesadaran. Kenyataan bahwa roh adalah penyebab hidup, bukan penyebab kesadaran tampak pada seseorang di saat sedang tidur. Pada waktu tidur ia tidak sadar akan dirinya dan alam sekitarnya. Walaupun demikian tidak bisa dikatakan jasadnya telah kehilangan roh. Pada jasadnya masih terdapat roh, hanya pada saat tidur itu penyebab kesadaran tidak berfungsi. Jika kita melakukan sesuatu kepada orang yang sedang tidur, misalnya menyodorkan ikan ayam atau melontarkan kata-kata kotor, ia tidak akan mereaksi; lain kalau ia tidak sedang tidur.

Apakah artinya ini? Ini berarti bahwa pada waktu > a sadar, ada sesuatu yang berperan padanya, yang berperan adalah akunya. Akunya itulah yang merasa senang, marah, sedih, dan lain-lain. Tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Terbukti pada waktu tidur ia tidak melakukan reaksi apa-apa. Akunya itu adalah apa yang disebut rohani. Jadi yang merasakan senang, susah, sedih, marah, kecewa, dan lain sebagainya adalah rohaninya, bukan jasmaninya. Dengan demikian, proses rohaniah “aku” menyebabkan kesadaran, menjadi sadar untuk berkehendak atau berbuat, adalah proses kegiatan roh bersama pancaindera. Setiap indera dari pancaindera mempunyai pusat masing-masing yang kesemuanya terdapat di otak dan memiliki ^perangsang masing- masing. Perangsang untuk masing-masing indera dinamakan adequatus. Jelasnya, mata tidak dapat menangkap suara, oleh karena perangsang- nya adalah cahaya, telinga tidak mampu mendengar cahaya, sebab perangsang telinga adalah suara, dan lain-lain (Djunaedi : 1980, 17).

Manakala kita melihat sesuatu di luar diri kita, sebenarnya bukan karena mata semata-mata, karena penginderaan sesungguhnya dilakukan oleh pusat penglihatan yang terdapat di dalam otak. Seseorang yang pusat penglihatannya di otak itu rusak, misalnya karena terpukul, maka ia tidak dapat lagi melihat, meskipun matanya tampak utuh. Demikianlah, maka seseorang – sebagai manusia yang mempunyai anima intelektiva – yang akan melaksanakan kehendaknya, setelah ia melihat atau mendengar sesuatu, ia akan meminjam anggota tubuh lainnya. Misalnya ketika ia melihat sesuatu yang berharga di jalan, ia meminjam tangannya untuk memungut; sewaktu ia mendengar suara anaknya ia meminjam mulut untuk memanggilnya; ketika ia mencium bau benda terbakar ia meminjam kakinya untuk lari mencari sumber api; dan lain sebagainya.

Itulah sikap (attitude) dan perilaku (behavior) yang merupakan objek telaah penting dalam komunikasi. Seperti telah diulas pada bab-bab terdahulu, sikap yang terdapat dalam diri manusia secara tertutup itu, (inward) terdiri dari unsur-unsur kognisi yang berkaitan dengan pikiran, afeksi yang bersangkutan dengan perasaan, dan konasi yang berhubungan dengan tekad atau itikad. Sikap yang selalu tertutup itu, baru terbuka (outward) sehingga dapat terlihat menjadi opini atau diekspresikan secara nirverbal dan menjadi perilaku. Perubahan sikap, perubahan opini, perubahan perilaku manusia, baik secara diri sendiri, dalam bentuk kelompok, atau dalam bentuk masyarakat, itulah tujuan komunikasi dengan segala kerumitannya.

 

PENGERTIAN PELIK-PELIK MANUSIA | ADP | 4.5