PENGERTIAN PENANGANAN GANGGUAN TINGKAH LAKU

By On Tuesday, August 27th, 2019 Categories : Bikers Pintar

PENGERTIAN PENANGANAN GANGGUAN TINGKAH LAKU – Manajemen gangguan tingkah laku merupakan tantangan berat bagi masyarakat kontemporer. Para sosiolog dan politisi serta para psikolog komunitas bekerja dengan asumsi bahwa kondisi ekonomi yang buruk menjadi penyebab sebagian besar masalah tersebut, berbicara tentang distribusi pendapatan yang lebih seimbang dan berbagai program pekerjaan serta berbagai upaya berskala besar lainnya untuk mengurangi kemiskinan materi di kalangan penduduk berstatus sosioekonomi rendah. Dalam bagian ini kami menekankan berbagai metode psikologis yang ditujukan pada individu tertentu dan keluarganya, bukan pada pertimbangan sosiologis semacam itu. Meskipun demikian, seperti yang akan kita lihat, upaya untuk memengaruhi banyak sistem yang terlibat dalam kehidupan seorang remaja (keluarga, teman-teman sebaya, sekolah, lingkungan tempat tinggal) dapat menjadi hal penting bagi keberhasilan upaya penanganan.

Seperti disebutkan sebelumnya, beberapa anak muda yang mengalami gangguan tingkah laku adalah psikopat di masa depan. Dan seperti halnya para psikopat, para remaja yang melakukan tindak kekerasan dan antisosial dengan hanya sedikit penyesalan atau keterlibatan emosi juga amat sangat sulit untuk ditangani. Pemenjaraan, pembebasan, dan residivisme merupakan hukum. Salah satu masalah yang terusmenerus dihadapi masyarakat adalah bagaimana menghadapi orang-orang yang nurani sosialnya tampak sangat kurang berkembang. Hanya dengan memenjarakan para penjahat remaja tidak akan mengurangi kriminalitas. Sebuah studi longitudinal menunjukkan bahwa disiplin dengan hukuman, seperti pemenjaraan para remaja, memicu stabilitas rendah dalam pekerjaan dan tindak kriminal yang lebih banyak di masa dewasa. Dengan demikian, disiplin keras, apakah diterapkan oleh negara atau orang tua, tampaknya berkontribusi besar terhadap tindakan menyimpang dan kriminal di masa dewasa.

Intervensi Keluarga. Beberapa pendekatan yang paling menjanjikan untuk menangani gangguan tingkah laku mencakup intervensi bagi orang tua atau keluarga dari si anak antisosial. Gerald Patterson dan para koleganya telah bekerja selama lebih dari empat dekade untuk mengembangkan dan menguji sebuah program behavioral, yaitu pelatihan manajemen pola asuh (PMP), di mana para orang tua diajari untuk mengubah berbagai respons terhadap anak-anak mereka sehingga perilaku prososial dan bukannya perilaku antisosial dihargai secara konsisten. Para orang tua diajarkan untuk menggunakan teknik-teknik seperti penguatan positif bila si anak menunjukkan perilaku positif dan pemberian jeda serta hilangnya perlakuan istimewa bila ia berperilaku agresif atau antisosial.

Laporan orang tua dan guru mengenai perilaku anak dan observasi langsung terhadap perilaku di rumah dan di sekolah memberikan dukungan bagi efektivitas program. PMP terbukti mengubah interaksi orang tua-anak, yang pada akhirnya berhubungan dengan berkurangnya perilaku antisosial dan agresif. PMP juga terbukti memperbaiki perilaku para saudara kandung dan mengurangi depresi pada para ibu rang mengikuti program tersebut.

Sehuah studi terhadap para penjahat remaja kronis yang dilakukan tim Patterson menemukan bahwa pelatihan orang tua maupun penanganan keluarga yang disediakan oleh pengadilan mengurangi tingkat tindak krimina1. Meskipun demikian, pendekatan pelatihan orang tua, yang mencakup mengajarkan orang tua untuk memantau anak-anak remaja mereka secara lebih ketat dan menggunakan pujian dan konsekuensi yang sesuai dengan umur si anak menghasilkan perbaikan yang lebih cepat. Pemantauan jangka panjang menunjukkan bahwa berbagai efek menguntungkan PMP tetap bertahan dalam 1 hingga 3 tahun. Baru-baru ini, pendekatan pelatihan orang tua dan guru telah dimasukkan dalam berbagai program berbasis komunitas yang lebih besar seperti Head Start dan menunjukkan hasil dalam hal berkurangnya masalah tingkah laku di masa kanak-kanak dan meningkatkan cara pengasuhan yang positif (WebsterStratton, 1998; Webster-Stratton, Reid & Hammond, 2001). Penanganan Multisistemik. Sebuah penanganan baru dan menjanjikan bagi para penjahat remaja berat adalah penanganan multisistemik (PMS) dari Henggeler yaN: telah menunjukkan keberhasilan dalam hal mengurangi tingkat penangkapan karena tindak kriminal dalam empat tahun setelah penanganan. PMS mencakup pemberian berbagai layanan terapi intensif dan komprehensif di dalarn komunitas dengan menargetkan para remaja, keluarga, sekolah, dan dalam beberapa kasus juga kelompok sebaya. Intervensi tersebut memandang masalah Strategi yang digunakan oleh para terapis PMS bervariasi, mencakup teknik-teknik perilaku kognitif, sistem keluarga, dan manajemen kasus. Keunikan terapi ini terletak pada penekanan pada kekuatan individu dan keluarga, mengidentifikasi konteks bagi masalah-masalah tingkah laku, menggunakan intervensi yang berfokus pada masa kini dan berorientasi pada tindakan, dan menggunakan intervensi yang membutuhkan upaya harian atau mingguan oleh para anggota keluarga. Penanganan diberikan dalam lingkugan yang “valid secara ekologis”, seperti di rumah, sekolah, atau pusat rekreasi lokal, untuk memaksimalkan generalisasi berbagai perubahan terapeutik.

Dalam perbandingan dengan kelompok kontrol yang menjalani jumlah sesi yang sama (sekitar 25 sesi) dalam terapi individual tradisional di lokasi kantor terapis, para remaja dalam kelompok penanganan multisistemik menunjukkan berkurangnya masalah perilaku dan jaith lebih sedikit penangkapan karena tindak kriminal selama empat tahun berikutnya. Contohnya, bila lebih dari 70 persen remaja yang menjalani terapi tradisional ditangkap karena tindak kriminal dalam empat tahun setelah penanganan, hanya 22 persen dari mereka yang menyelesaikan penanganan multisistemik yang ditangkap karena tindakan yang sama. Selain itu, pengukuran terhadap anggota lain dalam keluarga mengindikasikan bahwa orang tua yang terlibat dalam penanganan multisistemik menunjukkan penurunan dalam simtomatologi psikiatrik, dan keluarga menunjukkan peningkatan dukungan dan penurunan konflik dan kekerasan dalam interaksi yang direkam dengan video. Secara kontras, kualitas interaksi dalam keluarga para remaja yang menjalani terapi individual tradisional memburuk setelah berakhirnya penanganan. Bahkan para remaja dalam kelompok multisistemik yang berhenti menjalani penanganan setelah mengikuti sekitar empat sesi menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat penangkapan karena tindak kriminal ciibandingkan dengan para remaja yang menyelesaikan seluruh sesi terapi individual tradisional.

Meskipun penelitian yang dilakukan kelompok Patterson dan Henggeler menunjukkan bahwa intervensi bagi orang tua dan keluarga merupakan komponen keberhasilan yang penting, penanganan semacam itu memakan biaya dan banyak waktu (meskipun jelas lebih sedikit dan lebih singkat dibanding pemenjaraan). Memang, beberapa keluarga mungkin tidak mampu atau tidak bersedia terlibat dalam penanganan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk dicatat bahwa penelitian lain menunjukkan bahwa terapi kognitif individual bagi anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku dapat memperbaiki perilaku mereka, meskipun tanpa melibatkan keluarga.

Contohnya, mengajarkan keterampilan kognitif kepada anak-anak untuk mengen-dalikan kemarahan mereka menunjukkan manfaat yang nyata dalam membantu mereka mengurangi perilaku agresifnya. Dalam pelatihan pengendalian kemarahan, anak-anak yang agresif diajari cara pengendalian diri dalam berbagai situasi yang memancing kemarahan. Mereka belajar untuk bertahan dari serangan verbal tanpa merespons secara agresif dengan menggunakan teknik-teknik pengalihan seperti bersenandung, mengatakan hal-hal yang menenangkan kepada diri sendiri, atau beranjak pergi. Anakanak kemudian menerapkan metode pengendalian diri tersebut, sementara seorang anak sebaya memancing dan menghina mereka.

PENGERTIAN PENANGANAN GANGGUAN TINGKAH LAKU | ADP | 4.5