PENGERTIAN PENELITIAN LINTAS BUDAYA MENGENAI KEPRIBADIAN

18 views

Jika seorang ahli antropologi percaya, bahwa para warga dari suatu masyarakat yang sedang dipelajarinya, memiliki ciri-ciri kepribadian bersama, yaitu apa yang dikenal dalam antropologi budaya sebagai jenis kepribadian dasar, basic personality structure, atau kepribadian rata-rata, modal personality, * bagaimanakah sampai pada suatu konsepsi mengenai jenis kepribadian itu, dan bagaimana dia dapat membuktikan kepada orang lain, bahwa memang ada tipe kepribadian umum semacam itu? Usaha semacam ini amat sulit, dan gampang sekali orang membuat kesimpulan yang keliru. Marilah kita lihat bagaimana sebagian orang menanggulangi persoalan ini.

Pada kaum pemuda, yang belum lagi mempunyai kedudukan, ditemukan sikap lebih menguasai diri. Mereka akan memasuki gedung upacara dengan tenang, tanpa menarik perhatian, dan di antara orang-orang yang lebih senior dan sedang berlagak itu mereka duduk diam-diam serta bersungguh-sungguh. Tetapi untuk pemuda-pemuda ini ada pula sebuah gedung upacara yang lebih sederhana. Di gedung ini mereka secara miniatur melakukan upacara seperti dilakukan golongan senior, dan dalam upacara di kalangannya itu mereka meniru sikap orang senior dan juga menunjukkan sikap angkuh bercampur membadut”.1 Di sini Bateson mengadakan generalisasi mengenai cara berlaku yang bersifat umum, dan bukan melaporkan sesuatu kejadian tertentu tentang cara orang-orang tertentu memasuki gedung upacara, apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan, dan bagaimana gerak-gerik mereka. Bila dirasakan bahwa perlu dikemukakan dokumentasi untuk mendukung generalisasi ini, catatan- catatan lapangan dapat dimasukkan dalam naskah atau dalam lampiran. Perhatikan bahwa Bateson menceritakan tingkah laku orang dewasa yang sudah berhasil dan kaum pemuda yang belum mempunyai kedudukan apa-apa, waktu mereka memasuki gedung upacara, dan digambarkannya tingkah laku golongan pemuda dalam dua macam tempat kejadian: di tengah-tengah orang yang lebih tinggi kedudukannya, dan di dalam gedung upacara bagi kaum pemuda. Di bagian lain digambarkannya perilaku khas di tempat kejadian lain, misalnya dalam suatu upacara inisiasi: “Jika dalam beberapa adegan upacara inisiasi ada perlakuan yang menimbulkan rasa perih atau sakit, maka tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang senang menyiksa dan dengan demikian melakukan tugasnya secara sinis dalam suasana lelucon dan menertawakan”. Gambaran Bateson didasarkan kepada hasil pengamatan dan interpretasi yang diberinya. Jika warga masyarakat diamati di tempat-tempat kejadian dan dalam peristiwa-peristiwa yang berlainan, dan jika timbul kesan bahwa ada konsistensi dalam tingkah laku mereka, maka seorang ahli etnologi tentu akan dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan sementara mengenai kecenderungan- kecenderungan kepribadian mereka itu. Kesimpulan ini dapat disokong atau dibantah berdasarkan informasi-informasi baru, seperti tes-tes proyektif.

Dalam mengamati perilaku, berguna sekali untuk mengingat bagaimanakah perilaku warga masyarakat lain dalam keadaan yang sama. Dengan demikian mungkin akan kelihatan kontras yang menyolok. Gregory Bateson dan Margaret Mead membuat sebuah film yang berjudul Childhood Rivalry in Bali and New Guinea (Persaingan pada masa kanak-kanak di Bali dan di Irian), di mana diadakan perbandingan antara tingkah laku anak-anak Bali dengan anak-anak latmul. Margaret Mead menghadiahkan sebuah boneka kepada seorang anak Bali dan juga kepada anak-anak dari masyarakat latmul; reaksi mereka dalam kejadian yang serupa itu didokumentasikan melalui film. Anak Bali itu tidak bersedia menerima boneka tadi; ibu dari anak itu mempergunakan boneka itu untuk memperolok-olokkan anaknya dengan seolah-olah menyusukan boneka itu, dan tindakan ini menimbulkan rasa cemburu pada anak tadi dan menurut berita, memang ibu-ibu di Bali sering mengganggu anak-anaknya secara demikian. Anak-anak latmul dengan tenang bermain-main dengan boneka di samping ibu mereka, dan ibu mereka tidak mengolokkan mereka. Sebuah upacara melobangi cuping telinga yang dilakukan terhadap anak-anak yang seumur di Bali dan di antara suku latmul juga direkam dalam suatu film. Di Bali, seorang kakak (perempuan) melihat upacara itu tanpa memperlihatkan rasa cemas mengenai rasa sakit yang diderita oleh adiknya, sedangkan kakak (lelaki) anak latmul kelihatan cemas sekali; nampak benar bahwa dia ikut menderita, dan merasa kasihan pada adiknya. Film-film ini memperlihatkan perbedaan- perbedaan yang menunjukkan bahwa di Bali ada perangsang mengenai timbulnya persaingan antara anak-anak, sedangkan di kalangan latmul hal itu tidak terjadi. Walaupun contoh-contoh mengenai anak-anak dalam film itu sedikit sekali dibandingkan dengan banyaknya penduduk di daerah itu, namun perilaku anak-anak itu nampaknya sesuai dengan pola-pola khas yang terdapat dalam kebudayaan yang berlainan itu.

Melihat contoh dalam film tadi, tentu timbul pertanyaan apakah sebabnya anak latmul yang senang rukun dan berperasaan halus itu akhirnya tumbuh menjadi orang dewasa yang suka nampang, suka bersaing, seperti yang digambarkan dalam buku berjudul Naven. Bateson menjelaskan bahwa ini terjadi akibat perploncoan yang ganas yang dialami setiap anak lelaki dalam upacara inisiasi: “… dia mengalami tindakan-tindakan kekerasan tanpa bertanggung jawab serta penghinaan-penghinaan, sehingga sebagai kompensasi yang berlebihan dia menjadi orang yang kasar — yang disebut orang pribumi ‘orang panas’. Film Bateson-Mead itu memperlihatkan bahwa observasi (atau film) mengenai tingkah laku dapat dilakukan dengan situasi yang kebetulan atau situasi yang sengaja diadakan. Para ahli antropologi pada umumnya mengamati hidup seperti yang berlangsung di sekitarnya, serta mencatat apa yang mereka lihat, seperti dengan upacara melobangi cuping telinga anak Bali dan Iatmul itu. Tetapi dapat pula suatu situasi dengan sengaja dibentuk, seperti yang dilakukan oleh Margaret Mead waktu dia memberikan boneka kepada anak-anak itu.

Beberapa penelitian telah dilakukan pada masyarakat yang berbeda-beda mengenai permainan dengan boneka. Salah satu penelitian yang paling luas ialah yang dilakukan oleh Jules dan Zunia Henry mengenai permainan dengan boneka di kalangan anak Indian suku Pilaga di Amerika Selatan. Anak-anak ini diberi boneka berupa ibu, boneka berupa bapa, dan beberapa boneka berupa “anak-anak”, beberapa gunting, segumpal malam atau wax untuk dibentuk pigura, dan sebuah main-mainan penyu mekanis. Boneka yang berupa ayah mempunyai tangan dan kaki yang dapat dilepaskan. Anak-anak itu tidak saja sanggup melepaskan tangan dan kaki boneka berupa ayah itu, tetapi mereka sering pula membuat buah dada atau bagian-bagian kelamin dari malam dan menempelkannya pada boneka-boneka tersebut untuk membeda-bedakan kelamin mereka. Dalam permainan boneka itu yang dilakukan anak-anak itu tercermin banyak tingkah laku seksual dan persaingan di antara saudara-saudara kandung.

Incoming search terms:

  • pengertian penelitian lintas budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *