Pertumbuhan in­dustri.

Pengertian populism (populisme) adalah Gerakan politik de­ngan kapasitas besar untuk meraih duku­ngan populer, tetapi tanpa ciri-ciri sosia­lisme khas Eropa, dinamakan gerakan populis, terutama di Amerika Latin sepan­jang abad ke-20. Ciri timimmya adalah: adanya massa yang diniobilisasi secara sosial dengan sedikit atau tanpa organi­sasi kelas yang otonom; kepemimpinan sebagian besar berasal dari sektor kelas menengah atas; dan tipe koneksi karismatik antara peniinlpitl dan pengikut.

Ideologi eklektik. Pengertian populism (populisme) adalah

Perubahan demografis akibat ekspansi ur­ban, sebagai akibat dari pertumbuhan in­dustri, dan efek “revolusi ekspektasi yang makin meningkat,” membuat tipe ekspresi politik ini menonjol di negara yang berada pada tahap perkembangan seperti yang ter­jadi di Amerika Latin. Di Asia dan Afrika populisme sebagai bentuk organisasi poli­tik yang bersaing bebas kurang menyebar dibandingkan di Amerika Latin, meski ada beberapa ciri populisme di dalam NATIONAI. POPULAR REGIME. Revolusi di Mexico, yang dimulai sejak 1910, adalah contoh dari pemberontakan dengan pengikut massa dan dukungan ber­bagai kelas, yang diiringi dengan ideologi eklektik yang mencakup unsur-unsur libera­lisme, nasionalisme dan sosialisme. Peruvian Aprista Party, yang didirikan oleh Victor Raul Haya de la Torre di pengasingan pada 1924, sebagian diilhami oleh pengalaman Mexico dan biasanya disebut sebagai contoh utama dari populisme. Dalam oposisinya terhadap Lenin, Haya berpendapat bah­wa di negara-negara Dunia Ketiga impe­rialisme adalah tahap pertama kapitalisme, bukan terakhir, dan karenanya harus dipa­kai strategi khusus untuk mengekang potensi ekonominya, dan mencegah upaya dominasi politiknya. Diusulkan dibentuk aliansi tegas antara kelas menengah, petani dan pekerja manual. Usulan ini bertentangan dengan ga­gasan Marxis yang lebih menekankan pada peran proletariat urban. Cabang partai ini yang diharapkan akan menjadi Latin Ameri­can International didirikan pada 1930, dan segera mendapat banyak pengikut penting dari kalangan serikat pekerja dan komu­nitas Indian, meskipun tulang punggung­nya dibentuk oleh kelas menengah miskin. Setelah mencoba menggulingkan kekuasaan otoriter dengan kekerasan—dengan cara militeristik—”Aprismo” menjadi lebih mo­derat setelah Perang Dunia II dan pada 1985 mendapatkan kepresidenan. Partai lain dengan ciri yang sama dengan Aprismo adalah Accion Democratica di Venezuela, Liberacion Nacional di Costa Rica, Revo­lutionario Dominicano di Republik Domi­nica, dan Movimiento Nacionalista Revo­lucionaire di Bolivia. Di Brasil, pada 1930, gerakan sipil-mi­liter membawa Getulio Vargas kekuasaan, dan dia bertahan selama 15 tahun. Dia per­nah menjadi gubernur pragmatis di salah satu negara bagian di masa rezim federal sebelumnya, dan tetap menjadi pragmatis. Pengertian populism (populisme) adalah Dia mendapat dukungan dari kelompok pejabat muda penting yang dikenal sebagai tenentes, yang menginginkan reformasi, de­ngan mengusung berbagai ide mulai dari liberalisme hingga nasionalisme dan fasisme, yang dianggap cocok untuk negara yang mengalami proses perubahan dari masyara­kat rural ke urban dan industrial. Vargas memerintah negeri itu dengan tangan besi, memberlakukan undang-undang dasar 1937 yang diilhami oleh CoRPoRArism Mussolini. Selama tahun-tahun terakhir Perang Dunia II Brasil mengalami kemajuan penting dalam industrialisasinya, dan Vargas memanfaat­kan kesempatan ini untuk menarik massa menjadi tenaga kerja urban, dan mengawali fase populis dalam kekuasaannya. Ini me­nimbulkan reaksi militer-konservatif, pada 1945, tetapi setelah lima tahun dia kembali meraih kekuasaan melalui pemilihan bebas. Di bawah kekuasaan Vargas serikat pekerja mendapatkan legislasi yang menguntung­kan dan dukungan negara, tetapi dengan mengorbankan kontrol administratif dan mengalami korupsi. Dalam tahun-tahun se­lanjutnya, setelah kekuasaan militer yang panjang (1964-1985), warisan pengikut Var­gas masih kuat, terbelah menjadi dua ke­lompok, moderat (Partido do Movimento Democratico Brasileiro), dan populis radikal (Partido Democratico Trabalhista), yang dipimpin oleh Leonel Brizola. Di Argentina populisme diekspresikan dalam Peronisme, sebuah gerakan politik yang diluncurkan oleh Kolonel Juan D. Per­on, Sekretaris Partai Buruh dalam rezim mi­liter nasionalis yang berkuasa pada 1943-6. Dia sukses dalam membentuk aliansi antara militer, beberapa sektor industrialis, dan ke­las populer, yang di antaranya adalah sejum­lah besar migran baru dari pedalaman yang tiba di kota-kota besar. Dia juga mendapat dukungan dari beberapa pemimpin lama serikat pekerja. Pengertian populism (populisme) adalah Peronisme mengombina­sikan elemen ideologis dari cendekiawan Katolik dan sayap kanan nasionalis, terma­suk beberapa simpatisan fasis, dan dengan kubu sosialis tradisional atau pragmatis, serta beberapa politisi dari Partai Radikal. Gerakan ini mengalami satu periode radika­lisasi dan kekerasan selama 1970-an, yang ditimbulkan oleh salah satu cabang gerilya­nya, kelompok Montoneros, yang akhirnya dikeluarkan dari organisasi pada 1974. Pada 1989, setelah beberapa tahun perubahan in­ternal dan demokratisasi, Peronisme pulih kembali dari dampak yang disebabkan oleh kematian pimpinannya, dan mendapatkan kekuasaan kepresidenan, dengan program reformasi moderat dan penghormatan ke­pada kebebasan sipil. Di Chili gerakan kelas buruh ternyata kebal terhadap populisme. Sejak awal ia diorganisasikan dalam partai Marxis, ber­dasarkan aktivitas akar rumput dengan sedikit atau tanpa birokrasi. Sayap kiri di Chili jelas lebih asosiasionis ketimbang mo­bilisasional, tetapi di negara Amerika Latin lainnya sosialisme, terutama Leninis, juga dapat berbentuk populis, seperti di bawah Fidel Castro di Kuba. Di beberapa negara populisme telah ke­hilangan kekuasaannya atas kelas pekerja, dan membuat Marxis bisa mengembangkan sayapnya. Di lain pihak, dengan akulturasi gaya hidup urban dan industrial, pola orga­nisasi dan ideologi sosial-demokratis cende­rung berkembang di dalam partai populis.