Ilmu sosial kontemporer.

Pengertian positivism (positivisme) adalah Seperti konsep ideologi, yang pertama kali mengemuka pa­da periode yang sama, gagasan positivisme membukakan jalan yang penuh pertentang­an sekaligus ironis. Berawal dari tulisan Auguste Comte, positivisme ditawarkan sebagai “filsafat untuk mengakhiri semua filsafat” oleh VIENNA CIRCLE, dan disamakan dengan sains tout court oleh pendukung FUNCTIONALISM, dan BEI lAviouRism di Ameri­ka pada masa pasca-perang. Istilah ini men­jadi polemik, dan bahkan disalahgunakan, di dalam ilmu sosial kontemporer—hanya ada sedikit sosiolog dewasa ini yang meng­klaim atau menerima label positivisme. Dan, seperti ideologi, ia mengandung banyak arti sehingga ada banyak definisi positivisme dan karenanya ada banyak kritik terhadapnya; Halfpenny (1982), misalnya, membedakan tak kurang dari 12 subspesies. Penyebaran dan inversi makna kata ini tampak dalam pe­rubahan yang telah mentransformasi PHILOS­OPHY OF SCIENCE sejak 1960-an dan muncul penentangan terhadap hegemoni positivisme dalam penelitian sosial dengan munculnya persoalan baru tentang “dualisme ilmu alam dan ilmu kultural” (Habermas, 1967).

Teologis atau fiksi.

Dalam pengertian filosofisnya yang pa­ling luas, positivisme merujuk pada teori pengetahuan yang diusulkan oleh Francis Bacon, John Locke dan Isaac Newton, yang menegaskan keutamaan observasi dan pen­carian penjelasan kausal dengan cara gene­ralisasi induktif (Kolakowski, 1966). Dalam ilmu sosial, ia diasosiasikan dengan tiga prinsip yang saling terkait: prinsip ontolo­gis dari fenomenalisnw yang menyatakan bahwa pengetahuan dapat didasarkan pada pengalaman saja (berkaitan dengan penui­jaan “fakta” yang dapat langsung ciiindra); prinsip metodologis kesatuan metode ilmiah yang memproklamirkan bahwa prosedur ilmu alam dapat diaplikasikan secara lang­sung untuk dunia sosial dalam rangka me­nyusun kaidah atau generalisasi hukum fenomena sosial; dan prinsip aksiologis dari netralitas yang menolak memberi status pen­getahuan pada pemyataan yang normatif dan mempertahankan perbedaan ketat an­tara fakta dan nilai. Dapat dinyatakan bahwa ada tiga tradisi positivisme, Perancis, Jerman dan Amerika. Tradisi Perancis dimulai oleh Auguste Comte dan mentornya, Saint-Simon (yang berutang budi pada Condorcet) dan contoh terbaiknya adalah sosiologi Emile Durkheim. Ambisi Comte adalah menemukan ilmu masyara­kat naturalistik yang bisa menjelaskan masa lalu umat manusia dan mempredik­si niasa depannya dengan menggunakan metode penelitian yang terbukti sukses dalam bidang studi alam, yakni obser­vasi, eksperimentasi dan perbandingan. Dalam karyanya yang berjudul Course of Positive Philosophy (Comte, 1830-42), dia menyatakan bahwa manusia telah berkembang melalui tiga tahap. Dalani tahap “teologis atau fiksi,” fenomena dijelaskan melalui intervensi entitas su­pranatural, dan dalam tahap “metafisika atau abstrak” fenomena dijelaskan melalui perujukan pada abstraksi. Dalam taliap “positif atau ilmiah” pencarian seba b-se­bab dasar dari fakta telah ditinggalkan dan diganti dengan pencarian akan “hukum,” yaitu “relasi suksesi dan kemiripan” yang mengaitkan fakta-fakta. Comte mencip­takan istilah “sosiologi” untuk menunjuk­kan ilmu yang akan mensintesiskan semua pengetahuan positif, mengungkap misteri statika dan dinamika kemasyarakatan, dan membimbing pembentukan pemerin­tahan positif. Durkheim menolak substansi filsafat Comte namun tetap memakai metodenya. Durkheim menegaskan adanya kesinambu­ngan logis antara ilmu sosial dan alam dan menegaskan aplikasi prinsip kausalitas alam untuk masyarakat. “Tujuan utama kami,” katanya dalam The Rules of Sociological Method (Durkheim, 1895), yang merupakan manifesto untuk penjelasan sosiologis ilmiah, “adalah memperluas rasionalisme ilmiah ke perilaku manusia Apa dinamakan posi­tivisme menurut kami tak lain adalah kon­sekuensi dari rasionalisme ini.” Untuk mem­bangun independensi sosiologi dari semua filsafat dan menjadikannya bidang ilmiah yang otonom, Durkheim mengemukakan konsep masyarakat sebagai realitas objektif sui generis yang konstituennya, strukturnya dan fungsinya tunduk pada regularitas yang rnengikat individu-individu sebagai “keniscayaan yang tak bisa dihindari.” Dia juga mengusulkan seperangkat prinsip me­todologis yang “memperlakukan fakta so­sial sebagai sesuatu”: menolak prakonsepsi umum dan lebih memilih definisi objektif, menjelaskan fakta sosial dengan fakta sosial lainnya, membedakan sebab efisien dengan fungsi dan membedakan keadaan sosial nor­mal dengan keadaan sosial patologis, dan sebagainya. Prinsip-prinsip ini diilustrasi­kan dengan tegas dalam Suicide, yang jelas merupakan contoh positivisme Perancis, di mana Durkheim menghindari analisis mak­na bunuh diri dan memilih menjelaskan tipe dan sebab sosialnya melalui analisis statistik korelasi dan variasi kelompoknya. Tradisi positivisme Jerman-Austria ber­akar dalam MEMODENSTREIT (“konflik ten­tang metode”) yang menyeret para ekonom neoklasik dan historis dan para filsuf neo­Kantian sejak 1880-an ke dalam perdebatan tentang apakah kehidupan sosial dapat dijelaskan melalui penjelasan kausal atau hanya melalui pemahaman interpretatif seperti dalam filsafat VERSTEHEN. Kelompok filsuf analitis, matematikawan dan ilmuwan (di antaranya adalah Moritz Schlick, Ernst Mach, Rudolf Carnap, Carl Hempel dan Otto Neurath) yang kelak dikenal sebagai lingkaran Vienna pada tahun 1923-36, lebih mendukung pada penjelasan dan kesatuan ilmu (sains). Tujuan mereka adalah mene­rapkan sintesis empirisme Humean, positiv­isme Comtean, dan analisis logis yang akan menghilangkan filsafat spekulatif dengan cara meletakkan seluruh pengetahuan ber­dasarkan pengalaman (Ayer, 1959). Menu­rut positivisme logis ini, pengetahuan ilmiah didasarkan pada fakta-fakta yang dirumus­kan dengan “kalimat protokol” (Mach) yang memberi kepastian sebab didasarkan pada rekaman pengalaman indriawi, atau dielaborasi melalui “kaidah korespondensi” (Carnap), menjembatani antara bahasa teo­retis dan bahasa observasi. Pengertian positivism (positivisme) adalah Selain proposisi logika analitis, satu-satunya pernyataan yang bermakna adalah pernyataan yang dapat diuji dengan “prinsip verifikasi” yakni dites melalui observasi. Dalam menentang keras ide Geisteswissenschaften yang dilandaskan pada perbedaan antara ilmu alam dan ilmu kebudayaan, lingkaran Vienna menegaskan bahwa penjelasan ilmiah dalam sosiologi atau sejarah mengikuti “kaidah penutup” atau model “deduktif-nomologis” yang sama seperti dalam ilmu alam (Hempel, 1965) di mana sebuah explanandum dideduksi dari kombinasi kondisi awal dengan hukum uni­versal dan penjelasan yang sinonim dengan prediksi. Di AS, pemahaman yang serupa terha­dap ilmu sosial be’rkembang menjadi apa yang oleh Bryant (1985) dinamakan se­bagai positivisme instrumental, sebuah tradisi penelitian sosial naturalistik inkre­mentalis yang berkomitmen menggunakan standar ketat sebagaimana yang dilakukan di bidang biologi atau fisika. Berdasarkan konsep nominalis dan voluntaristik tentang masyarakat sebagai sekadar kumpulan indi­vidu, tradisi ini menguat tanpa kritik berarti sejak 1930-an sampai 1960-an dan meresap dalam sosiologi Amerika. Ia menonjol kare­na perhatiannya pada isu metode dan pengu­kuran, termasuk perbaikan teknik statistik, penekanannya pada operasionalisasi dan verifikasi (Zetterberg, 1954), dan prioritas­nya pada desain quasi-eksperimental, survei kuantitatif dan riset tim. Ia disebut “instru­mental” karena instrumen penelitian sebagian besar akan menentukan persoalan yang diaju­kan, definisi konsep (melalui konstruksi indi­kator empiris) dan karenanya menentukan pengetahuan yang diproduksi. Pengertian positivism (positivisme) adalah Pedoman prak­tik dan evaluasi ilmiahnya adalah feasibilitas (feasibility) tekniknya, testabilitasnya (test­ability) dan replikabilitasnya (replicability). Positivisme instrumental pertama kali diartikulasikan oleh George Lundberg, yang mengadaptasi dari doktrin “operasional­isme” ahli fisika P. W. Bridgman (yang ber­pendapat bahwa makna dari suatu variabel didefinisikan berdasarkan operasi yang di­perlukan untuk mengukurnya), dan dari Wil­liam F. Ogburn (1930) yang menyamakan sosiologi ilmiah dengan verifikasi kuantitatif dan akumulasi “sedikit demi sedikit pengeta­huan baru”—dia dengan sombong mempre­diksi bahwa semua sosiolog suatu saat nanti akan menjadi ahli statistika. Tetapi yang melembagakan positivisme di universitas Amerika adalah Paul Lazarsfeld. Lazarsfeld bukan hanya memperkenalkan ke dalam so­siologi sejumlah inovasi metodologis (antara lain analisis multivarian, sampling bola salju, dan analisis struktur laten) dan teknik yang dipinjam dari riset pasar seperti studi panel; dia juga menemukan wadah organisasional yang akan melahirkan profesionalisasi, bi­rokratisasi dan komersialisasi riset sosial positif di Amerika dan negara-negara satelit­nya: “biro riset terapan” (Pollak, 1979).

Dominasi positivisme. Pengertian positivism (positivisme) adalah

Kebangkitan dan dominasi positivisme mendapat kritik dan tentangan dari dua arah, anti-positivis dan post-positivis. An­tipositivis telah berpendapat bahwa ilmu alam dan ilmu kemanusiaan adalah berbeda secara ontologis dan logis, dan bahwa ide dasar penjelasan masyarakat secara ilmiah adalah gagasan yang sulit dipertahankan (Winch, 1958). Proponen HERMENEUTICS dan sosiologi “interpretif”—dan juga pen­dukung postmodernisme dan DECONSTRUC­TION, serta cabang FEMINISM tertentu—ber­pendapat bahwa penjelasan kausal atas perilaku manusia tidak dimungkinkan sebab tindakan, institusi dan keyakinan manusia pada dasarnya mengandung makna (Taylor, 1977). Tugas “studi “manusia” karenanya bukan menspesifikasikan hukum perilaku manusia yang seragam tetapi memahaminya dengan menginterpretasikannya dalam kait­annya dengan niat subjektif. Menurut Ga­damer (1960), semua interpretasi semacam itu melibatkan proyeksi prasangka kultural yang didasarkan pada suatu jaringan atau “horizon” ekspektasi dan asumsi yang ada di dalam suatu tradisi kultural. Tujuan sosiologi interpretatif karenanya tidak dapat mendu­plikasi atau mengkonfirmasi riset sebelumnya tetapi merevisi prasangka dengan menjelas­kan dimensi baru dari suatu fenomena. Kritik feminis terhadap positivisme pa­da 1980-an muncul dengan alasan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa sains adalah institusi yang dibentuk berdasarkan gender yang merefleksikan sudut pandang dan penindasan lelaki, dan karenanya mere­ka berusaha mengemukakan pandangan reformis untuk mendobrak akar “andro­sentrisme” tersebut (Harding, 1984). Kritik ini merentang mulai dari empirisme feminis (yang menyatakan bahwa sexisme dapat dikoreksi dengan penegakan metodologi penelitian ilmiah standar) ke epistemologi feminis (yang berpendapat bahwa perem­puan bisa menghasilkan pengetahuan yang sejati) hingga ke feminisme postmodern, yang mempertanyakan gagasan dasar me­ngenai universalitas dan nalar yang men­dasari sains. Menurut Sandra Harding, prin­sip imparsialitas, bebas-nilai, dan objektivitas adalah alat kontrol sosial yang membantu lelaki dalam proyek mereka mendominasi bidang ilmu. Menurutnya, objektivitas yang sejati bukan datang dari gagasan patriarkis metode ilmiah tetapi dari komitmen pada “nilai partisipatoris” antirasisme, antikla­sikisme, dan antisexisme. Karenanya yang memberikan paradigma penelitian rasional bukan sains tetapi diskusi moral dan politik. Para pendukung post-positivisme ber­usaha memperbaiki pemahaman sains yang telah diterima luas. Pengertian positivism (positivisme) adalah Serangan dari W. V. O. Quine, Karl Popper, Thomas Kuhn, Paul Feyerabend dan Imre Lakatos telah melemahkan dasar filsafat positivis dari ilmu alam (Chalmers, 1982) dengan menunjukkan bahwa teori-teori ilmiah bukan dibangun secara induktif atau diuji secara individual hanya berdasarkan bukti fenomena, sebab tidak ada yang namanya observasi bebas­nilai. Hasil teori itu juga tidak dilandaskan secara ketat pada alasan rasional sebab teori rivalnya selalu “diabaikan” dan kriteria eva­luasi “paradigma” atau kerangka ilmiah yang luas tidak dapat dibandingkan (Gid­dens, 1978). REALISM dari Bhaskar (1975) juga menolak fenomenalisme dan verifika­sionisme dengan membedakan tiga level rea­litas (riil, aktual, dan empiris) dan dengan menegaskan eksistensi struktur tersembunyi dan mekanisme yang mungkin beroperasi secara independen dari pengetahuan kita tentang realitas tersebut, walaupun faktor kausalnya tetap bisa diteliti. “Rasionalisme terapan” dari Pierre Bourdieu—yang ber­asal dari sosiologi epistemologi historis A. Koyre, G. Bachelard dan G. Canguilhem­juga menggoyahkan kerangka epistemologis dari positivisme dengan menyatakan bahwa fakta-fakta ilmiah sesungguhnya adalah “di­taklukkan dan dikonstruksi” (Bourdieu et al., 1973) melalui pembagian pemahaman umum, aplikasi konsep relasional sistematis, dan konfrontasi metodik dari model yang disusun berdasarkan bukti yang dihasilkan dari metodologi yang berbeda. Teori kri­tis dari FRANKFURT sci tool. mengombinasi­kan elemen-elemen kritik anti-positivis dan post-positivis dalam menolak SCIENTISM (ide bahwa hanya sains yang menghasilkan pe­ngetahuan), yang mengemukakan penjelas­an dan prediksi berdasarkan hukum univer­sal, dan mendikotomikan fakta clan nilai. Pada saat yang sama teori kritik menyerang idealisme hermeneutika dan menolak klaim akan TRUTI-I ilmiah. Jadi Habermas (1968) berpendapat bahwa ilmu sosial tidak dapat menganalisis relasi kausal eksternal kecu­ali ia menyesuaikan diri dengan rasionalitas teknis yang mendasari positivisme. Karena semesta sosial adalah dunia “yang ditafsir­kan,” maka ia juga pasti menerangkan relasi internal dari makna dan tujuan dan karenanya merekonstruksi konsep objektivitas sains alam guna memulihkan dimensi kritis dari sains sebagai alat pembebasan. Tetapi positivisme tidak mati meski me­lemah: sebagai filsafat sains, positivisme mungkin didiskreditkan, tetapi ia masih aktif memberi informasi clan masih mendominasi desain dan implementasi riset sosial empiris. Dan ia tampaknya akan terus bertahan, atau bahkan berkembang, sebagai epistemologi selama proyek interpretrasi dan penjelasan “satu atap” Max Weber belum direalisasi­kan secara penuh oleh ilmuwan sosial.