Negara post-industri.

Pengertian post-industrial society (masyarakat post-industrial) adalah Istilah masyarakat post-indus­trial atau pascaindustrial tampaknya berasal dari Arthur Penty, seorang anggota British Guild Socialist dan pengikut William Mor­ris, di akhir ahad ke-19. Penty melihat pada “negara post-industri” yang didasarkan pada kerja dan unit pemerintahan yang terde­sentralisasi. Konsep ini baru dianggap pen­ting pada 1960-an ketika ia mendapatkan makna baru. Dalam maknanya yang baru, istilah ini ada dalam tulisan Daniel Bell dan Alain Touraine, dipakai untuk mendeskrip­sikan struktur sosial baru dan gerakan sosial yang menandai evolusi masyarakat industri di akhir abad ke-20. Dalam tahun-tahun be­lakangan, banyak penggunaan istilah umum ini juga mencakup makna masyarakat kon­temporer sebagai masyarakat postmodern, misalnya oleh Jean-Francois Lyotard.

Terminologi perang. Pengertian post-industrial society (masyarakat post-industrial) adalah

Secara ekonomi, masyarakat post-in­dustrial ditandai oleh perubahan dari eko­nomi memproduksi barang ke ekonomi jasa; dalam hal pekerjaan, kelas profesional dan teknik menempati posisi utama; dan pen­gambilan keputusan dihantu oleh “teknologi intelektual” yang tersebar luas. Bell, terutama dalam The Coming of Post-Industrial Society (1974), mendefinisi­kan “prinsip utama” masyarakat post-indus­tri sebagai sentralitas pengetahuan teoretis sebagai sumber inovasi dan formasi kebi­jakan untuk masyarakat. Dia berpendapat bahwa tipe masyarakat ini berbeda dengan INDUSTRIAL SOCIETY dan masyarakat pra-in­dustri. Pengertian post-industrial society (masyarakat post-industrial) adalah Masyarakat jenis ini terutama mem­produksi jasa, mayoritas angkatan kerjanya adalah pekerja kerah putih, bukan pekerja manual, dan banyak dari pekerja ini adalah karyawan profesional, manajer atau tenaga teknis. WORKING CLASS akan hilang, dan karakteristik dan konflik masyarakat in­dustrial juga hilang. Tatanan baru yang didasarkan pada status dan konsumsi akan menggantikan tatanan yang berbasis kerja dan produksi. Menurut Bell dan Touraine, masyarakat post-industrial juga merupakan masyarakat berpendidikan tinggi, dan ide utama tentang masyarakat pengetahuan adalah penting bagi semua versi teoretis. Masyarakat industrial berjalan dengan ma­terial dan pengetahuan, sedangkan masyara­kat post-industrial tergantung pada aspek imaterial clan pengetahuan teoretis, seperti yang berkembang di universitas, pusat-pusat riset dan tempat kerja jenis baru. Masyara­kat post-industrial tidak hanya mencari pengetahuan teoretis untuk banyak industri khasnya, seperti komputer, kimia dan pener­bangan, tetapi juga menggunakan banyak sumber daya nasional untuk mengembang­kan pengetahuan itu, dengan mendukung pendidikan tinggi, riset dan pengembangan. Pergeseran penekanan ini tercermin dalam pertumbuhan arti penting “kelas pengeta­huan,” yang terdiri dari kaum ilmuwan dan profesional, serta “institusi pengetahuan.” Jelas bahwa diskusi masyarakat post­industrial selama 20 tahun terakhir ini me­rupakan pembaruan yang cukup radikal dalam pernikiran ilmu sosial tentang per­ubahan di masyarakat modern; Kumar (1976, hlm. 441) dan kawan-kawannya telah mengklaim bahwa “paling tidak, teori­sasi post-industrial menandai datangnya pembaruan prinsip-prinsip sentral dalam periode formatif dari sosiologi, bahwa studi ini menjadi saling terkait.” Kedatangan ma­syarakat post-industrial telah melahirkan “terminologi perang” khusus, yang mere­fleksikan beberapa kebingungan, atau seti­daknya perbedaan pandangaii yang muncul dari kajian atas masyarakat post-industrial dari sudut pandang keias baru dan konflik baru. Ada tiga definisi utama. Pekerja kerah putih adalah mereka yang pekerjaannya dijalankan dalam kondisi dan situasi yang lebih mirip dengan kondisi pabrik dan meng­ikuti pola kerja terstruktur. Pekerja kantoran adalah mereka yang membutuhkan banyak pengetahuan untuk mengoperasikan dan berinteraksi dengan peralatan automasi dan kecerdasan buatan di dalam setting admi­nistratif dan komersial; dalam pengertian itu istilah tersebut tidak hanya mencakup orang-orang yang bekerja di dalam kantor. Pekerja informasi atau pengetahuan, sehagai sebuah istilah, menggantikan rigiditas sensus dan klasifikasi statistik, tetapi penggunaan praktisnya mengandung nada optimis yang sering menghalangi pemahaman yang lehih baik terhadap perubahan dalam sifat peker­jaan dan struktur organisasi. Pengertian post-industrial society (masyarakat post-industrial) adalah Touraine (1971) dan Bell sepakat me­ngenai pentingnya universitas, riset dan peran “kelas pengetahuan” bagi aparatur produksi dan manajerial dalam masyarakat baru terse­but. Tetapi mereka berbeda pendapat ten­tang hasilnya. Bell menganggap akan mun­cul harmoni institusional dan politik dan integrasi sosial yang lebih besar, sedangkan Touraine—yang lebih mewaspadai potensi manipulatif dan dipengaruhi oleh ide Mei 1968 dan kemunculan gerakan sosial di Ero­pa—meramalkan akan terjadi pendalaman konflik antara mereka (guru dan mahasiswa) yang menjunjung nilai-nilai humanistis dari pendidikan liberal, dengan orang-orang tek­nokratik, yang mengejar pertumbuhan eko­nomi. Dalam pengertian ini, konsep masyara­kat post-industrial telah dipakai secara luas oleh pemikir sosial lainnya yang menekan­kan pada ciri yang berbeda, misalnya pen­carian dunia di balik materialisme oleh para generasi muda, atau hilangnya peran kelas pekerja sebagai agen perubahan seperti yang dibayangkan Marx sebagai akibat TECHO­LOGICAL CHANGE dalam masyarakat modern. Walaupun masyarakat industri dan post­industrial tidak sekadar dihubungkan oleh perubahan fundamental dalam sifat dari WORK, teknologi dan kelas sosial, namun ada lima area problematik yang dianggap merupakan tantangan sentral bagi semua aktor yang terlibat; ilmuwan dan produsen, pakar ergonomis dan pengguna, semuanya berhadapan dengan “arsitektur kompleksi­tas” dari perubahan fundamental dan hal­hal baru yang melampaui perangkat teoretis dan metode masyarakat industrial. Ini meru­pakan inti dari semua debat teoretis tentang masyarakat post-industrial dan masyarakat post-modern.