Relasi sosial.

Pengertian power (kekuasaan) adalah Dalam pengertian paling umum, kekuasaan adalah kemam­puan (kapasitas) untuk memproduksi, atau memberi kontribusi pada, hasil—menyum­bangkan sesuatu kepada dunia. Dalam ke­hidupan sosial, kita bisa mengatakan bah­wa kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut di atas melalui relasi sosial: ini adalah kapasitas untuk memproduksi, atau memberi kontribusi, hasil dengan memengaruhi orang lain. Definisi umum ini menawarkan kerangka umum untuk mengkarakteristikkan beber­apa perbedaan utama dalam bagaimana kekuasaan diperdebatkan di abad ke-20. Dengan fokus pada kekuasaan sosial, kita bisa mengaju kan banyak pertanyaan.

Subjektivitas. Pengertian power (kekuasaan) adalah

Pertama, siapa atau apa yang memili­kinya? Kebanyakan orang memandang ke­kuasaan sebagai kemampuan agen, individu atau kelompok kolektif, meski beberapa pihak memandangnya sebagai properti im­personal: kapasitas sistem sosial untuk men­capai tujuan yang mengikat secara kolektif (Talcott Parsons) atau untuk mereduksi kompleksitas (Niklas Luhmann) atau me­kanisme sosial untuk “mendisiplinkan” in­dividu, membentuk diskursus mereka, ke­inginan mereka, bahkan “subjektivitas” mereka (Michel Foucault). Tetapi kita tidak perlu berbicara tentang struktur impersonal sebagai “memiliki kekuasaan”: semua pan­dangan “strukturalis” itu dapat dirumuskan kembali sebagai pernyataan tentang berbagai kondisi yang menambah atau mengurangi kekuasaan agen, individu atau kolektif, un­tuk bertindak (lihat ACTION AND AGENCY). Kedua, hasil (outcomes) mana yang dianggap sebagai efek dari kekuasaan? Banyak yang sepakat dengan Bertrand Russell dan Max Weber, yang menegaskan bahwa hasil itu adalah hasil yang diniat­kan. Menurut Russell, kekuasaan adalah “produksi efek yang diniatkan” (1938, h. 25); menurut Weber, kekuasaan adalah “probabilitas seorang aktor dalam relasi sosial akan berada dalam posisi melak­sanakan kehendaknya, terlepas dari basis probabilitas itu” (1921-2). Tetapi apakah niat saja sudah cukup? Bagaimana jika, seperti Stoik, saya hanya ingin mendapat­kan apa yang bisa saya dapatkan, atau seperti konformis, hanya ingin apa yang diinginkan orang lain, atau seperti Syco­phant yang hanya ingin apa (yang menurut saya) diinginkan orang lain terhadap saya? Apakah saya cukup berkuasa, jika efek yang ingin saya wujudkan akan terwujud­kan karena Anda mengancam atau mem­bujuk saya, atau karena saya mengantisi­pasi bahwa Anda akan melakukan hal itu, atau jika saya hanya dapat memproduk­sinya dengan biaya besar (misalnya, de­ngan mengorbankan nyawa saya) atau jika saya hanya dapat memproduksi efek yang kecil? Dan apakah niat itu adalah aktual atau hipotetis? Apakah kekuasaan juga bu­kan kapasitas untuk meraih apa-apa yang mungkin saya inginkan, tetapi tidak secara aktual? Dan apakah niat itu niscaya atau diperlukan? Haruskah semua efek kekua­saan itu diinginkan? Dapatkah kekuasaan tidak dilakukan secara rutin, seperti ketika saya membuat keputusan investasi saya mengorbankan pekerjaan orang lain yang tidak saya kenal, atau memberi pekerjaan kepada orang lain yang tak saya kenal? Mungkin, sebaliknya, hasil dari kekuasaan diidentifikasi sebagai sesuatu yang memen­garuhi kepentingan orang yang berkuasa dan mereka yang dipengaruhi oleh kekua­saan. Asumsi bahwa yang berkuasa akan menang dengan mengorbankan orang yang dikuasai adalah asumsi yang terbatas, dan ini banyak dijumpai dalam literatur ten­tang kekuasaan, meskipun ini jelas adalah salah satu kemungkinan saja. Ketiga, apa yang membedakan hu bungan kekuasaan? Pengertian power (kekuasaan) adalah Dengan cara apa yang berkuasa secara signifikan memengaruhi orang lain untuk menghasilkan, atau menyumbang­kan, Hasil? Beberapa orang, seperti Weber, berfokus pada hubungan dominasi—pada kekuasaan atas orang lain, memaksakan ketundukan orang dengan cara mulai dari VIOLENCE dan paksaan, manipulasi, Au­THORITY, hingga ke persuasi rasional (meski bentuk kekuasaan yang disebut terakhir ini masih diperdebatkan). Yang lainnya, seperti Hannah Arendt, memandang relasi kekua­saan pada dasarnya adalah kooperatif. Dia mendefinisikan kekuasaan sebagai “ke­mampuan manusia untuk bertindak secara harmonis,” yang berbeda dengan hubung­an kekuasaan melalui kekerasan dan pak­saan dan “hubungan perintah-kepatuhan”; kekuasaan, menurut pendapat ini, “milik suatu kelompok dan tetap eksis selama ke­lompok itu utuh” (1970, hlm. 44, 40). Yang lainnya mencoba mengombinasikan kedua aspek itu ke dalam pandangan yang lebih komprehensif, menekankan pada perlunya pihak yang berkuasa untuk bekerja sama dan menjalin koalisi clan menghindari atau mengatasi penentangan. Keempat, bagaimana pandangan tentang kapasitas kekuasaan? Apakah “kekuasaan” menunjukkan apa yang dapat dilakukan pelaku atau agen dalam berbagai kondisi, atau hanya dalam kondisi yang benar-benar dapat diraih? Menurut pendapat pertama, Anda berkuasa jika Anda dapat menghasil­kan hasil yang tepat dalam berbagai situasi yang berbeda-beda; menurut pendapat kedua, Anda berkuasa jika Anda dapat melakukan sesuatu hanya dalam situasi yang memampukan Anda melakukannya (misal­nya, situasi preferensi voting memampukan Anda menentukan hasil). Panclangan per­tama menunjukkan kemampuan yang dapat dipakai di berbagai macam konteks, dan yang kedua menunjukkan pada apa yang dapat dilakukan dalam tempat dan waktu tertentu. Pendapat lainnya (yang lazim di ka­langan sosiolog stratifikasi sosial) mencakup akses kekuasaan ke, atau kapasitas untuk mewujudkan, hasil yang diharapkan (seperti sumber daya atau privilese) oleh pelaku/ agen. Pengertian power (kekuasaan) adalah Menurut pendapat ini, kekuasaan dapat dipandang sebagai kemampuan untuk mengamankan keuntungan atau keunggul­an tanpa usaha. Tetapi pendapat lain me­nyatakan hal ini lebih merupakan kebetulan ketimbang sebagai hasil dari kekuasaan. Kelima, bagaimana kekuasaan diidentifi­kasi, atau diukur? Robert Dahl dan pengikut­nya melihat pada siapa yang unggul dalam pembuatan keputusan di mana ada banyak konflik kepentingan; Peter Barach dan Mor­ton Baratz merekomendasikan fokus pada penentuan agenda (1970); dan Steven Lukes mengusulkan bahwa kekuasaan dapat me­nyangkut tindakan pembentukan keyakin­an dan keinginan yang, ternyata, mungkin tidak disengaja (1974). Beberapa kalangan berfokus pada sumber daya sebagai “in­deks kekuasaan,” dan yang lainnya pada kemampuan untuk membuat perbedaan, sebagai “poros,” dalam keputusan ✓oting, sedang yang lainnya lagi pada pengukuran biaya kesempatan dari usaha untuk menjaga kepatuhan dibandingkan biaya kegagalan upaya itu. Yang jelas, bagaimana kita men­jawab pertanyaan terakhir ini akan tergantung pada bagaimana kita menjawab sennia per­tanyaan lainnya.