Diskursus politik publik.

Pengertian pragmatism (pragmatisme) adalah Istilah ini bi­asanya dipakai untuk gerakan filsafat kla­sik di AS. Ia muncul di dekade terakhir abad ke- 19 dan memperoleh hegemoni nyata di dalam kehidupan intelektual AS selama, dan sesudah, Era Progresif (1896- 1914). Sejak 1930-an, dan bahkan setelah 1945, ia sebagian besar digantikan oleh pemikiran baru yang lain dalam filsafat, ilmu sosial dan diskursus politik publik. Pragmatisme AS juga menarik perhatian Eropa, terutama sekitar 1910, walaupun penjelasan dan diskusi kritis pragmatisme menunjukkan kesalahpahaman dan tenden­si untuk merendahkannya dengan mereduk­sinya menjadi ekspresi khas Amerika saja.

Pendiri pragmatisme.

Pengertian sehari-hari dari “pragma­tis” jelas ikut berperan dalam kesalahpa­haman ini, yang berkonotasi mengabaikan prinsip teoretis atau moral dan memper­lakukan ciri situasi tertentu sebagai ba­gian dari kalkulasi. Istilah pragmatisme punya akar kata Yunani kuno yang sama dengan istilah PRAXIS, praktik dan sejenis­nya. Pendiri pragmatisme, Charles Peirce (1839-1914), menciptakan istilah ini ber­dasarkan refleksinya terhadap penggunaan Kant untuk istilah “pragmatis” dan “prak­tis.” Kuliah dan tulisan Pierce sekitar 1878 kini dianggap sebagai dokumen orisinal dari pragmatisme. Ini pertama kali dike­nal oleh sedikit intelektual di Cambridge, Bersama dengan Peirce dan James, to­koh utama pragmatisme antara lain John Dewey (1859-1952) dan George Herbert Mead (1863-1931). Perbedaan di antara semua pernikir itu begitu jelas, setidaknya di mata penganut “pragmatis” itu sendiri. Karenanya upaya untuk mengelompokkan mereka dalam satu aliran atau gerakan menjadi upaya yang senantiasa dipertan­yakan. Tetapi pandangan yang diterima luas menyatakan bahwa walaupun ada perbedaan namun ada cukup banyak inti pandangan yang sama untuk menjustifi­kasi “pragmatisme” sebagai orientasi filsa­fat tersendiri. Massachusetts, dan baru mendapat perha­tian luas 20 tahun kemudian, ketika Wil­liam James (1842-1910) menyampaikan kuliahnya tentang “Pragmatism.” Peirce kemudian menjauhkan diri dari prag­matisme James dan menyebut filsafatnya sendiri sebagai “pragmatisisme.” Apa tema dasar dari pragmatisme? Pen­dekatan Peirce berawal dari kritiknya terhadap prinsip metodologi keraguan ra­dikal Descartes dan pemikiran kepastian ego akan dirinya sendiri yang dijadikan dasar filsafat baru, Kubu pragmatis mem­pertanyakan makna dari keraguan Carte­sian, dan mendukung keraguan yang lebih substansial, yakni dasar kOgn1S1 di dalam situasi problem riil. Dalam pragmatisme, gagasan ego yang ragu-ragu diganti den­gan ide pencarian kooperatif akan TRUTH untuk mengatasi problem tindakan riil (li­hat ACTION AN1) AGENCY). Keraguan riil ter­jadi dalam tindakan, dibayangkan sebagai suksesi fase siklis. Jadi setiap persepsi ten­tang dunia dan setiap tindakan di dalam­nya didasarkan pada keyakinan tentang kondisi dan kebiasaan yang biasanya men­imbulkan kesuksesan. Tetapi kebiasaan ini selalu menghadapi tentangan dari dunia, yang dianggap sebagai sumber destruksi ekspektasi nonreflektif. Fase resultan dari keraguan riil me­nimbulkan rekonstruksi konteks. Persepsi harus memahami aspek realitas yang baru atau berbeda; tindakan harus dikaitkan dengan elemen dari dunia atau direorga­nisasikan strukturnya. Rekonstruksi ini adalah tindakan kreatif dari aktor. Jika dia sukses, melalui perubahan persepsi, dalam bertindak secara berbeda dan karenanya bertindak lagi, maka sesuatu yang baru akan muncul: cara baru bertindak yang dapat diinstitusionalisasikan dan menjadi rutinitas yang diikuti tanpa banyak pemiki­ran. Jadi pragmatis memandang semua tin­dakan manusia dalam pertentangan antara kebiasaan nonreflektif dengan prestasi kre­atif. Ini juga berarti bahwa kreativitas di sini dilihat sebagai prestasi dalam situasi yang membutuhkan suatu solusi, bukan sebagai bentuk penciptaan baru tanpa la­tar belakang pemikiran mendalam.

Model pragmatisme. Pengertian pragmatism (pragmatisme) adalah

Dari model pragmatisme dasar ini, di mana tindakan dan kognisi dikombinasikan dengan cara tertentu, kita bisa menurunkan klaim sentral lain dari pragmatisme. Dalam metafisika pragmatisme, realitas bukanlah deterministik; ia memampukan dan menun­tut tindakan kreatif. Pengertian pragmatism (pragmatisme) adalah Dalam epistemologi pragmatisme, pengetahuan bukan repro­duksi dari realitas namun instrumen untuk menghadapi realitas. Semantik pragmatisme yang menentukan makna konsep dalam konsekuensi praktis tindakan dillasilkan dari penggunaan atau perbedaannya dari konsep lain. Jadi, dalam teori kebenaran pragma­tisme, kebenaran kalimat hanya dapat diten­tukan melalui proses kesepakatan tentang kesuksesan tindakan berdasarkan kalimat itu, dan bukan berdasarkan pada, misalnya, hubungannya dengan realitas yang tidak ditafsirkan. Kesalahpahaman tentang prag­matisme sebagai gerakan yang bertujuan menghancurkan pencarian pengetahuan se­jati terutama berasal dari isolasi kalimat in­dividual, seperti pernyataan William James tentang kebenaran, dari seluruh kompleks pemikiran pragmatis. Wakil-wakil utama pragmatisme mem­beri sumbangan pada bidang penelitian yang berbeda-beda. Peirce terutama ter­tarik untuk mengembangkan teori umum pengetahuan ilmiah dan teori tanda atan sEmioncs. Karya-karyanya, yang sulit diringkas, mencakup pemikiran penting ten­tang penggunaan tanda intersubjektif dan tentang produksi hipotesis secara kreatif (`abduction’). Teori tanda ini, terutama dalam penekanannya pada “diskursus” ilmuwan dalam komunitas eksperimental, sangat penting bagi “diskursus etika” yang dikembangkan oleh Karl-Otto Apel dan Jurgen Habermas (lihat DiscouRsE; Emics) dan untuk teori “tindakan komunikatif” Habermas. William James terutama berkarya di bidang psikologi, di mana dia melihat pros­pek adanya jalan k.eluar dari dilema antara keyakinan religius dalam kehendak bebas agen moral dan citra saintifik dunia sebagai semesta yang diatur oleh proses kausal (se­bab-akibat). Pengertian pragmatism (pragmatisme) adalah Solusinya, menurut James, ter­letak dalam fungsionalitas untuk survival organisme manusia dalam lingkungannya yang dilihatnya di dalam kapasitas manusia untuk memerhatikan kesan perseptual dan untuk memilih di antara ragam tindakan. Sebuah psikologi “fungsionalis” (lihat FUNC­TIONALISM) dapat dijabarkan melalui pema­haman semua tindakan mental dalam term fungsinya bagi organisme untuk menguasai lingkungan. John Dewey, yang pemikirannya per­tama kali dikembangkan secara indepen­den dari pragmatis pertama, meninggalkan pendekatan neo-Hegeliannya dan berusaha menghubungkan diri dengan aspek episte­mologis dan psikologis dari pragmatisme se­bagaimana yang dikembangkan oleh Peirce dan James. Tujuannya adalah menyusun sebuah filsafat yang memperluas gagasan inti dari pragmatisme ke semua domain fil­safat tradisional (metafisika, logika, etika, estetika), dan khususnya bidang filsafat so­sial dan politik. Dia lebih menekankan versi demokrasi radikal sebagai inti normatif dari pragmatisme. George Herbert Mead, kawan Dewey, berusaha keras mengembangkan strategi penerjemahan tema-tema pragmatis James ke dalam program ilmu sosial empiris ber­basis biologi. Kontribusi utamanya untuk teori sosial adalah teorinya tentang ciri-ciri spesifik dari komunikasi manusianya untuk menyusun tema susunan struk tur personalitas dalam dinamika hubungan interpersonal. Mead menyerang asumsi diri substansial prasosial dan menggantikannya dengan teori asal usul diri di mana bahkan interaksi seseorang dengan dirinya send­iri dikonseptualisasikan sebagai hasil dari struktur sosial. Mead juga menggagas arah problem perkembangan kognitif, seperti su­sunan objek permanen di dalam pengalaman dan struktur waktu.