Penilaian atau keputus­an.

Pengertian prejudice – prasangka adalah Istilah ini di sini didefinisikan sebagai penilaian negatif terhadap suatu kelompok atau individu. Konsep ini bcrasal dari kata Latin prejudicium, yang mengacu pada penilaian atau keputus­an, atau preseden, atau hal buruk. Kono­tasi dasarnya antara lain bias, parsialitas, predisposisi, prakonsepsi. Dalam penggu­naan modern, istilah ini memuat banyak makna berbeda. Tetapi yang paling umum adalah penilaian awal yang buruk yang di­lakukan lebih dulu, dan penilaian ini terus dianut walaupun kemudian fakta tidak co­cok dengan penilaian tersebut.

Definisi prasangka.

Karena konotasinya yang luas dan kom­pleks dalam bahasa sehari-hari, istilah ini se­lalu diinterpretasikan dalam konteks spesifik penggunaannya (lihat Williams. 1964, hlm. 28-9). Dalam ilmu sosial modern penggu­naan khasnya adalah merujuk ke prasangka kategoris yang memiliki komponen kognitif (keyakinan, stereotip) komponen afektif (ti­dak suka, menghindari), dan evaluatif atau konatif (seperti disposisi terhadap kebijakan publik). Definisi prasangka adalah definisi yang beragam yang masing-masing fokus pada karakteristik tertentu dari sekian banyak karakteristik yang ada. Misalnya, beberapa otoritas menyebutkan bahwa prasangka bu­kan hanya negatif dan kategoris tetapi juga tidak fleksibel, kaku, dan didasarkan pada pengetahuan yang tidak lengkap atau pe­nilaian yang salah. Alport (1976, hlm. 515- 16) berpendapat bahwa prasangka adalah sikap yang berlebihan dan keliru—miskon­sepsi yang tidak bisa dibalikkan oleh pe­ngetahuan. Di lain pihak, Klineberg (1968, hlm. 440) berpendapat bahwa pembalikan melalui pengetahuan itu bukanlah salah satu ciri prasangka yang tepat. Dengan demikian, tampaknya akan lebih baik jika pembalikan itu dianggap sebagai korelasi untuk studi empiris ketimbang sebagai bagian dari defi­nisi formal dari konsep tersebut. Banyak temuan riset menunjukkan bah­wa sikap dalam ucapan yang dicap sebagai prasangka mungkin hanya spesifik untuk satu kelompok atau mungkin juga umum dalam kelompok lain; prasangka-prasangka itu mungkin memuat komponen kognitif, atau afektif atau evaluatif; prasangka pra sangka itu mungkin berkaitan dengan int(1. aksi sosial personal saja atau terhadap kebi jakan publik yang lebih luas; dan prasangka mungkin penting atau tidak penting bagi suatu aktor. Karena adanya variasi ini, riset ilmu sosial biasanya berfokus pada orientasi negatif terhadap kelompok ras dan etnis atau kategori, sedangkan karakteristik lainnya diteliti untulc tujuan lain. Bukti-bukti riset telah menghasilkan sejum lah generalisasi empiris tentang pra%angka dalam pengertian ini. Konsep yang berlcaitan erat dengan prasang­ka adalah etnosentrisme. Pengertian prejudice – prasangka adalah Dalam bentuknya yang lebih ringan, etnosentrisme mungkin tak lebih dari sikap positif terhadap kelom, poknya sendiri atau jalan hidupnya sendiri. Tetapi pada umumnya istilah ini juga berko­notasi perasaan akan superioritas kelompok dibandingkan kelompok lain. Dalam masing­masing kasus, etnosentrisme. Meskipun demikian, ada tendensi empiris yang nyata untuk menggeneralisasikan etnosentrisme­pada satu titik ekstrem, kelompok sendiri dianggap lebih unggul ketimbang semua ke­lompok lain dalam hanyak hal penting (lihat Williams, 1964, hlm. 22-8). Secara umum, studi historis dan komparatif menunjukkan bahwa semakin mengemuka dan semakin intens keyakinan akan keunggulan suatu kelompok, semakin besar kemungkinan un­tuk menyalahkan kelompok lain jika terjadi sesuatu atau kondisi yang tidak diharapkan dalam kelompok tersebut. Setelah etnosen­trisme menjadi semakin unconditional, in­tensif dan kaku secara emosional, semakin besar kemungkinannya berkonflik dengan kelompok lain; konflik ini, pada giliran­nya, memperkuat dan menegaskan etnosen­trisme. Dengan cara ini, etnosentrisme sering berubah menjadi prasangka.

Prasangka negatif. Pengertian prejudice – prasangka adalah

Kategori etnis dan ras adalah konstruksi sosial (Iihat ETI-INICITY; RACISM). Mereka berkem­bang secara resiprokal dengan diferensiasi so­sial dan interaksi di antara orang-orang yang pada awalnya dianggap berbeda dalam hal kekerabatan, geografis dan mode subsistensi. Interaksi antarorang yang dihubungkan me­lalui jaringan kekerabatan dan perkawinan dan kedekatan tempat tinggal pada akhirnya menimbulkan karakteristik kultural tersen­diri. Ketika kelompok ini bertemu dengan kelompok lain yang berbeda, maka terjadi relasi etnis. Perdagangan jarak jauh, penak­lukan militer dan migrasi dan perpindahan penduduk akan terus berkembang, rentang perbedaan sosiokultural akan makin lebar, dan ketika populasi bertemu dengan kultur yang berbeda, maka ada kemungkinan relasi etnis akan didefinisikan sebagai “rasial.” Jadi relasi ras adalah perkembangan dari ekspansi interaksi perdagangan dan politik setelah “perjalanan penemuan” di abad lima belas dan enam belas. Pengertian prejudice – prasangka adalah Ketika kelompok etnis dan ras yang berbeda telah bertemu, ComPErmoN ekonomi akan memperkuat prasangka. Demikian pula, ba­tas-batas kelompok dan sikap negatif akan dipertegas melalui perebutan kekuasaan atau prestise sosial. Ancaman terhadap kepenting­an suatu kelompok, karenanya, merupa­kan pemicu munculnya konflik kelompok. Banyak riset telah mengungkapkan proses psikologis (misalnya frustasi, ketersingkir­an, rasionalisasi) dan struktur personalitas (seperti otoritarianisme) adalah aspek pent­ing dalam perkembangan dan pemeliharaan prasangka dalam diri individu (LeVine dan Campbell, 1972; Simpson dan Yinger, 1953). Tetapi, di luar sumber psikologis ini, kondisi sosial apa yang memengaruhi tingkat dan in­tensitas prasangka kategoris? Prasangka negatif dan diskriminasi ada­lah saling menguatkan. Apa pun kasusnya, peningkatan permusuhan, stereotip negatif dan sikap sosial yang berjarak biasanya me­nimbulkan diskriminasi, termasuk tindakan penyingkiran dan memperkuat segregasi. Dalam urutan resiprokal, peningkatan dis­kriminasi menimbulkan prasangka yang ma­kin luas dan mendalam. Pengalaman di AS menunjukkan bahwa pengurangan diskrim­inasi terhadap warga kulit hitam (terutama melalui tindakan politik dan hukum) sering kali diikuti dengan penurunan prasangka. Ringkasnya, diskriminasi memunculkan dan memperkuat prasangka; prasangka men­ciptakan basis dan dalih untuk mendukung diskriminasi. Setelah terbentuk, prasangka etnis ter­tentu sebagai sekumpulan keyakinan, nilai dan perasaan mungkin akan menyebar dan menjadi umum di kalangan populasi melalui proses SOCIALIZATION dan peneri­maan. Melalui indoktrinasi dan contoh anak-anak akan mempelajari prasangka sebagai bagian dari kultur keluarga dan masyarakat. Ketika prasangka itu menjadi umum, otoritas dan mereka yang sehaluan akan menciptakan tekanan dan dorongan menuju konformitas. Dengan cara ini, “tradisi” prasangka kultural akan makin kuat dan kokoh.