Keadaan manusia.

Pengertian progress – kemajuan adalah Manusia terus me­langkah ke depan di sepanjang sejarah. Bah­kan di Abad Pertengahan, yang dianggap masa-masa stagnan, telah terjadi kemajuan teknologi. Misalnya, ada pencapaian arsitek­tur dan permesinan yang bagus seperti tampak dalam pembangunan katedral Gothic. Francis Bacon mengutip tiga penemuan se­belumnya: kompas, bubuk mesiu, dan mesin cetak. Tetapi penemuan itu belum disadari. Waktu itu tak ada yang menganggapnya se­bagai “kemajuan”—hanya penemuan alat oleh orang, yang kebanyakan tak terkenal, untuk memenuhi kebutuhan. Filsafat, pe­mikiran tentang hukum alam, tidak diser­takan dalam penemuan itu, dan para pene­mu itu kebanyakan adalah seniman atau tukang mekanik. Saat itu belum ada ide tentang kema­juan; yakni, ide bahwa usaha yang keras dan punya tujuan, sering kali dilakukan oleh kelompok teroganisir, dipedomani oleh pengetahuan alam yang makin bertambah, dapat meraih tujuan untuk meningkatkan “keadaan manusia” dengan cara objektif dan dapat diukur—dan upaya semacam ini selalu punya nilai moral dan spiritual. Ide ini, bersama dengan institusi pemerintahan perwakilan berbasis hak pilih, menjadi kekuatan berpengaruh paling lama di dunia modern.

Pahlawan kultural.

Kemajuan, sebagai ide dan cita-cita, muncul mendadak di abad ke-17, di Inggris, dan perumus klasiknya adalah Sir Francis Bacon, yang dalam New Atlantis (terbit 1627) mengajak dilakukannya upaya-upaya besar, dengan kerja laboratorium, work­shop dan sebagainya, untuk memperluas dan membenarkan pengetahuan manusia tentang alam, dan menyudahi kemandeg­an selama berabad-abad. Umat manusia harus mampu menentukan nasibnya sen­diri: “kekuasaan dan kerajaan manusia me­nguasai alam.” Kuncinya adalah berkon­sentrasi pada operasi yang terencana dan terarah. Orang-orang yang menjalankan proyek ini akan menjadi pahlawan kultural. Bacon dengan empati tidak mengang­gap langkah besar ini sebagai bagian dari pola sejarah yang terus maju, entah itu di masa lalu atau di masa depan. Dia menge­mukakan siklus, naik turun, bagi negara dan individu; tetapi, berbeda dengan ga­gasan tentang keberuntungan di era perte­ngahan, teorinya mengasumsikan bahwa siklus itu dapat dikendalikan dengan usaha sadar. Tidak ada jaminan bahwa kemajuan yang dibayangkannya akan herlangsung selamanya; kewaspadaan yang tinggi di­butuhkan agar tidak terpeleset rnundur. Sekali lagi, penelitiannya terhadap alam bukan ilmu murni. Filsuf alami Abad Pertengahan, dengan sikap aristokratknya terhadap studinya dan terikat oleh otoritas Aristoteles yang melumpuhkan, adalah fil­suf yang “terlalu murni,” terisolasi dari per­hatian sehari-hari masyarakat. Ujian upaya ilmiah ini adalah pragmatis: “langkah-lang­kah yang paling berguna adalah pengeta­huan yang paling benar.” Visi kemungkin­an kemajuan manusia ini, yang dimediasi melalui Thomas Hobbes, menjadi inspirasi Royal Society (didirikan pada 1660). Ia dominan di era Pencerahan. Ide kemajuan merepresentasikan salah satu perubahan terbesar dalam kesadaran manusia; tetapi ia baru muncul pada abad ke-17 di Inggris. Dan dominasinya di negara-negara “maju” adalah yang perbedaan yang paling penting antara mereka dengan negara lain. Manfaat luas dari gagasan ini bersifat tak langsung; namun manfaat itu amat penting di akhir abad ke-20. “Kemajuan” menjadi cita-cita yang mendorong banyak orang. Kemajuan harus dinilai berdasar­kan standar objektif yang semi-kuantitatif. Ini menimbulkan perubahan (lihat juga SociAL a IANGE; TECI INOLOGICAL Ci IANGE), sumber utama alienasi antara negara Barat dan negara lain yang mementingkan peme­liharaan gaya hidup warisan. Pemakaian istilah kemajuan karenanya memiliki da­sar kuat; maka partai-partai politik ge­mar menggunakan retorika “kemajuan” ini untuk menunjukkan kebenaran dan kela­yakan eksistensi mereka. Mereka meno­lak masa lalu yang dianggap kolot. Sikap semacam ini meluas ke bidang lain—se­perti kemajuan puisi, kemajuan agama. Ide kemajuan era Pencerahan ini harus dibedakan dengan konsep kemajuan lain, yang biasanya dikacaukan—gagasan ke­majuan tak terelakkan dalam sejarah, atau bahkan dalam kosmos, hingga ke utopia.

Gerakan Reformasi. Pengertian progress – kemajuan adalah

Kepala sekolah Deasey, dalam nov(.1 liv, ses karya James Joyce, menyatakan “semua sejarah manusia maju ke tujuan besar, perwujudan Tuhan.” Ide ini juga ide “modern”, ide ini belum ada di niasa pra­modern. Akarnya bukan di dalam ide Ba­conian tetapi dalam pola sejarah apokalip­tik. Kitab Wahyu, yang memprediksi masa depan berdasarkan otoritas ilahiah, adalah satu-satunya buku dalam Bible yang paling berpengaruh di dunia Kristen. Buku itu dianggap memprediksikan terjadinya pe­ningkatan kejahatan secara terus-menerus, dan kemunduran sampai datang intervensi ilahi, dan setelah itu sejarah akan berhenti dan dunia akan diubah. Model dunia nier ini menggantikan model siklus dan perubahan tanpa henti. Pola linier apoka­liptik ini, setelah era Reformasi, diganti­kan dengan model linier lainnya, kali ini dari arah berlawanan: Tuhan menghakimi dan membimbing kejadian historis dalam mengeliminasi kejahatan, sampai tercapai­nya era perdamaian, kemakmuran dan keadilan. Gerakan Reformasi dan perang sipil Amerika diinterpretasikan oleh ba­nyak kaum Protestan sebagai dua contoh tindakan Tuhan dalam sejarah. Skema interpretasi historis yang non­religius, atau bahkan bertentangan dengan agama—seperti Comteanisme, Hegelian­isme dan Marxisme—mengambil dua un­sur esensial dari interpretasi perubahan his­toris ini. Pertama, sejarah dipandang linier, bergerak ke depan. Kedua, teori apokalip­tik memandang kejadian-kejadian besar telah ditakdirkan, dan karenanya individu wajib berperan dalam drama agung ini. Pengertian progress – kemajuan adalah Berbagai jenis konflik, seperti perseteruan Wahyu, adalah mesin kemajuan universal. (Lihat juga HIsToRicism) Terakhir, ide kemajuan tidak boleh di­kacaukan dengan ide kemajuan melalui Evo­LtmoN. Jadi Erasmus Darwin, dalam Zoo­nomia tahun 1794-6, menjelaskan gerakan evolusioner maju di sepanjang Great Chain of Being. Walaupun cucunya, Charles Dar­win, secara efektif melemahkan pendapat optimis itu, dengan teori seleksi alamnya, Dua ide kemajuan yang dijelaskan di atas telah mendominasi sejarah abad ke-20. Ide Baconian yang terbatas telah dipakai berkali-kali, menghasilkan banyak kemajuan di bidang pengobatan hingga perang. Mungkin ini adalah salah satu penyebab kesuksesan teknologi di Eropa Barat dan Amerika Utara yang lebih maju ketimbang bangsa lain yang baru menge­nal ide kemajuan belakangan. Keyakinan terhadap kemajuan tek­nologi historis, sebaliknya, telah memberi­kan dampak negatif terhadap sejarah abad ke-20 ini. Inti ideologi-ideologi besar—Mani­fest Destiny, komunisme nasional, Nazis­me—didasarkan pada gagasan tentang kemajuan menuju UToPIA, yang mungkin bervariasi. Metanaratif ini, yang mendomi­nasi dan menentukan segala aspek masyara­kat dan kebudayaan, pada dasarnya adalah varian dari pola apokaliptik, seperti, misal­nya, Nazi Reich, yang dikatakan akan “ber­tahan hingga seribu tahun,” adalah versi dari abad milenial. Ideologi-ideologi ini memba­yangkan pola tindakan yang tetap, dan pasti sukses, tetapi dihambat oleh orang-orang atau kelompok yang “jahat,” seperti Yahudi di Jerman, “borjuis” dan religius di negara komunis, dan sebagainya. Kelompok dan individu tersebut harus dilenyapkan, sebab mereka menghalangi pencapaian kejayaan historis yang menguntungkan. Pengertian progress – kemajuan adalah Kekecewaan mendalam postmodernisme terhadap “grand narrative” ini adalah bagian dari penolakan terhadap skema tirani “kemajuan” tersebut (lihat MoDERNism AND PosTmoDERNism). Pengaruh kemajuan teleologis histo­ris di negara demokratis ditunjukan oleh fakta bahwa kemajuan dimasukkan dalam konstitusi AS. Mahkamah Agung AS berbicara tentang “standar kesopanan yang menandai kemajuan masyarakat yang de­wasa” (Hudson v. McMillan, 1992). Jadi tampaknya diasumsikan bahwa kemajuan moral akan mengiringi pendewasaan ma­syarakat, dan setiap tahap kemajuan me­representasikan perbaikan—asumsi yang dapat dipertanyakan, seperti yang ditunjuk­kan oleh sejarah Jerman abad ke-20 ini. Ambruknya gagasan tentang kemajuan yang tak terelakkan ini meninggalkan ruang hampa yang mungkin harus diisi oleh para pemikir di abad ke-21.