PENGERTIAN RATIONAL CHOICE THEORY (TEORI PILIHAN RASIONAL) ADALAH

By On Tuesday, April 13th, 2021 Categories : Bikers Pintar

Area kehidupan sosial.

Pengertian rational choice theory (teori pilihan rasional) adalah Hingga hari ini, kebanyakan ilmu­wan sosial menerima begitu saja beberapa versi dari klaim Max Weber bahwa penye­baran nalar instrumental di seluruh area kehidupan sosial adalah ciri khas dari dunia Barat modern. Karena pendapat ini menge­sankan superioritas Barat di atas peradaban lain, ia ditentang oleh para kritikus postkolo­nial. Tetapi pendapat ini juga ditentang dari arah berbeda, oleh klaim utama teori pilihan rasional: yakni, bahwa sebagian besar ke­hidupan sosial dapat diterangkan melalui model tindakan rasional individual. Rasiona­litas telah dipahami melalui banyak cara, na­mun dalam pengertian ini ia dipahami dalam term utilitarian sebagai upaya memaksimal­kan kepuasan preferensi individu. Model perilaku yang memaksimalkan ini telah dipakai secara luas dalam ilmu ekonomi kontemporer, dan teori pilihan rasional ingin memperluas pendekatan “ekonomi” itu ke semua area kehidupan sosial dan berharap bisa menghasilkan penjelasan yang kuat ber­dasarkan sedikit asumsi sederhana. Di luar bidang ekonomi, pengaruh yang kuat dapat dijumpai di bidang teori pilihan publik dan area lain dalam ilmu politik, dalam sosiologi danbahkan dalam Marxisme akademis.

Dilema tahanan. Pengertian rational choice theory (teori pilihan rasional) adalah

Teoretisi pilihan rasional khususnya ber­usaha mengeksplorasi diskrepansi antara rasionalitas aktor individual dan irasionali­tas kebanyakan perilaku kolektif. Pertama, Kenneth Arrow (1951) telah menunjukkan bahwa preferensi individu biasanya tidak bisa dikelompokkan ke dalam struktur pre­ferensi kolektif dan, karenanya, bahwa sering tidak akan ada hasil yang dapat dikatakan memaksimalkan preferensi kolektif. Kedua, dikatakan bahwa perilaku kolektif melibat­kan interaksi strategis dari individu-individu yang rasional. Masing-masing individu ber­tindak berdasarkan penilaiannya terhadap kemungkinan tindakan individu lain. Dalam situasi “dilema tahanan,” yang dicirikan oleh tiadanya komunikasi efektif (bayangkan dua tahanan diinterogasi secara terpisah tentang kejahatan yang mereka la­kukan bersama), aktor rasional akan mence­maskan tindakan aktor lainnya dan kare­nanya berusaha meminimalisasikan kerugian dirinya sendiri. Karenanya masing-masing sebisa mungkin berupaya menghindari hasil yang buruk, tetapi mereka secara kolektif ga­gal untuk mendapatkan hasil terbaik. Fenomena “penunggang bebas” (free rider) menimbulkan prohlem lain berkaitan dengan rasionalitas perilaku kolektif. Bebe­rapa hal (udara besar, pertahanan nasional) adalah hal-hal yang hanya dapat disediakan secara kolektif dan rasional. Pelaku yang mementingkan diri sendiri akan beruasha untuk mendapatkan manfaat dari hal-hal baik itu sembari membiarkan pihak lain mengeluarkan biasa untuk menyediakannya. Pengertian rational choice theory (teori pilihan rasional) adalah Persoalannya adalah bahwa jika ada terlalu banyak “penunggang bebas” ini maka kebai­kan kolektif tidak akan tersedia sama sekali. Mancur Olson (1965) telah mengembang­kan argumen ini untuk menunjukkan bahwa bahkan jika semua anggota satu kelompok sama-sama berminat terhadap kebaikan tersebut, hal itu bukan berarti mereka akan selalu mengorganisasikan diri untuk menge­jarnya. Tindakan kolektif oleh kelompok be­sar akan terjadi hanya jika problem penung­gang bebas dapat diatasi: dengan kata lain ia tergantung pada eksistensi insentif selektif untuk pelaku dan terkadang juga tergantung pada unsur paksaan. Sebaliknya, kelompok dengan sedikit anggota (seperti oligopoli bis­nis) biasanya akan lebih baik mengorganisasi­kan dan menyepakati tindakan yang optimal. Model perilaku dalam teori pilihan ra­sional tidak harus selalu realistik. Tujuannya adalah memberikan prediksi yang sukses, dan, jika prediksi gagal, mengembangkan model tindakan rasional yang lebih tepat atau menyediakan cara untuk mengidentifi­kasi tempat unsur nonrasional dalam tinda­kan manusia. Perilaku elektoral sering dikutip sebagai contoh dari kasus terakhir ini. Dalam pemilu skala besar satu suara seseorang hanya akan berefek kecil terhadap hasil, dan perbedaan hasil elektoral juga kemungkinan kecil. Asumsi perilaku rasional yang mementing­kan diri sendiri, karenanya, menunjukkan bahwa hampir tak seorangpun yang repot­repot memilih dalam pemilu nasional. Kare­na kebanyakan orang dewasa dalam pemilu ini diwajibkan untuk melakukannya, maka contoh ini menunjukkan bahwa asumsi rasion­alitas individual mungkin harus diperlonggar. Kritik yang simpatik menyatakan bah­wa versi awal teori pilihan rasional terlalu se­derhana dalam memandang aktor. Teori itu kurang bisa menjelaskan, misalnya, perilaku altruisme dan karakter ekspresif dari tinda­kan manusia, atau tidak bisa menunjukkan bahwa kapasitas kognitif manusia terlalu terbatas dalam memutuskan sesuatu yang ra­sional di dalam situasi yang amat kompleks. Yang lainnya menunjukkan bahwa rasion­alitas seharusnya dianggap sebagai proyek transformasi diri jangka panjang (termasuk transformasi preferensi seseorang), bukan maksimalisasi jangka pendek. Kritik lainnya diarahkan pada penjelas­an asumsi rasionalitas. Asumsi ini membawa kita untuk memperkirakan adanya konsis­tensi dalam perilaku individu namun tidak memberi tahu kita apa-apa tentang motivasi individu. Jadi analisis ciri signifikan dari ke­hidupan sosial dari segi aksi rasional indivi­dual sesungguhnya didasarkan pada asumsi tentang apa yang sesungguhnya memotivasi individu tersebut. Dalam hal ini individual­isme dari penjelasan pilihan rasional sering kali mengandalkan pada asumsi lain yakni bahwa preferensi individu sesungguhnya mencerminkan lokasi struktur sosial mereka (lihat INTERE.sis). Dapat diperdebatkan apakah asumsi rasionalitas aktor yang ketat ini bisa menguatkan penjelasan asumsi tambahan itu. Akan tetapi, isu paling serius yang di­angkat teori pilihan rasional yang berkaitan dengan asumsi yang dikemukakan di atas, yakni bahwa dominasi nalar instrumental, yang bukan sesuatu yang sementara secara historis—seperti ditunjukan Weber—se­sungguhnya adalah ciri fundamental dari kondisi manusia. Di sini perlu untuk di­catat bahwa pandangan tentang individu manusia sebagai pemaksimalisasi rasional atas utilitas mereka sendiri merupakan pandangan baru (Taylor, 1989) dan kedua, di sini perlu dilihat bahwa ada dua pema­haman berbecla di mana rasionalitas di­hubungkan dengan individu. Ini mungkin mengacu pada apa yang biasa dinamakan fakultas nalar, sebuah kapasitas umum un­tuk mengembangkan rantai penalaran yang saling terkait atau argumentasi. Ini mung­kin juga mengacu pada ciri rantai penalaran itu sendiri (konsistensi, maksimalisasi utili­tas, dsb.) atau pada karakter konsep dan perangkat intelektual lainnya (horoskop, analisis peluang, analisis cost-henefit) yang dipakai dalam konstruksinya—dan pada karakter jalannya suatu tindakan tertentu. Pengertian rational choice theory (teori pilihan rasional) adalah Asumsi bahwa individu adalah rasional, bahwa mereka biasanya punya fakultas penalaran dan bahwa mereka mampu me­ngembangkan rantai penalaran, tidak memberi tahu apa-apa kepada kita ten­tang alat konseptual yang mungkin mereka pakai dalam proses penalaran. Karena itu pertanyaan tentang apa jenis penalaran yang dipakai oleh individu dan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri se­bagai aktor adalah pertanyaan yang lebih informatif ketimbang pertanyaan apakah tindakan mereka sesuai dengan persyaratan teknis dari model rasionalitas instrumental tertentu. Karena sebagian besar perangkat konseptual yang tersedia bagi individu akan didapatkan dalam interaksi dengan orang lain, maka ada pengertian penting di mana jenis penalaran yang dipakai dalam tindak­an mereka akan bergantung pada kondisi sosial di luar aktor tersebut. Teori pilihan rasional tidak terlalu ber­simpati terhadap perbedaan-perbedaan itu. Teori ini berasumsi bahwa semua individu manusia adalah pemaksimal utilitas mereka sendiri. Menurut pandangan ini, apa yang membedakan orang Barat terdidik dengan orang paling “primitif” lain bukanlah karak­ter rasionalitas instrumentalnya namun kon­disi eksternal yang mesti mereka hadapi.

PENGERTIAN RATIONAL CHOICE THEORY (TEORI PILIHAN RASIONAL) ADALAH | ADP | 4.5