Sosiologi aliran Chicago.

Pengertian role processes (proses peran) adalah Konsep pe­ran merupakan aspek titama dari teorisasi mikrolevel dalam sosiologi selama seabad terakhir. George Herbert Mead (1934) me­nekankan proses “role taking” (pengambil­an peran) atau pembacaan isyarat orang lain untuk menentukan disposisi mereka dan kemungkinan tindakan. Di awal dekade abad ke-20, pandangan peran yang lebih struktural muncul dalarn teorisasi dan riset dari sosiologi aliran Chicago di Amerika. Di sini peran dilihat sebagai seperangkat ekspektasi yang diasosiasikan dengan posisi dalam struktur sosial (Park, 1926) atau se­bagai manifestasi perilaku dari ekspektasi ini (Linton, 1936). Peran, karenanya, dikonsep­tualisasikan sebagai tambahan untuk posisi dan norma struktur sosial, sebuah pandang­an yang dikemukakan di paruh kedua abad ke-20 oleh Talcott Parsons (1951), yang me­mandang “peran-status” sebagai bangunan sistem sosial yang diatur oleh sistem norma, keyakinan dan nilai kultural.

Peran sosial.

Akan tetapi, ada banyak keberatan ter­hadap pandangan struktural ini. Karya awal oleh Jacob Moreno (1934 [19531) misalnya, menekankan buka-n hanya dimensi struk­tural dari peran (apa yang dinamakannya sebagai “peran psikodramatis”), tetapi juga “peran psikosomatik” di mana individu ber­tindak sesuai dengan kebutuhan biologis, dan “peran sosial” di mana individu menun­jukkan perilaku yang diasosiasikan dengan keanggotaan di dalam kategori umum (mi­salnya pria, wanita, tua, muda). Pandangan peran yang lebih kompleks ini pada 1950-an dan 1960-an dilengkapi dengan pandangan tentang aspek dinamis dari peran sebagai tindakan strategis. Pendekatan dramaturgis Erving Goffman (1959, 1967) menekankan bahwa peran ditata untuk menghadirkan pandangan tertentu tentang diri, dan Ralph H. Turner (1962) mengemukakan proses “penciptaan peran” di mana individu secara sadar dan tak sadar memberikan isyarat yang menandai peran di baliknya yang ingin mereka lakukan dalam suatu situasi. Karya Ralph Turner juga memastik­kan pandangan fenomenologis mengenai dinamika peran. Dia berpcndapat bahwa orang beranggapan bahwa isyarat orang lain adalah konsisten dan menunjukkan peran yang dapat diidentifikasi. Pengambilan pe­ran karenanya berkisar di seputar usaha individu untuk menemukan peran yang ada di balik konfigurasi isyarat yang dikirim­kan orang lain. Individu terus-menerus ber­usaha memverifikasi peran satu sama lain, dan karenanya, orang-orang terus-menerus saling rnemantau respons dengan anggapan bahwa respons ini adalah sinyal peran yang koheren (R. H. Turner, 2002). Konsep diri selalu penting dalam cara sosiolog mengkonseptualisasikan dinamika peran. Interaksionis simbolis menekankan bahwa individu amat termotivasi untuk men­ciptakan peran yang konsisten dengan iden­titas mereka (Cooley, 1909; Mead, 1934; Stryker, 1980; Swann, 1990; R. H. Turner, 2002). Ketika individu tidak dapat melaku­kannya, mereka akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan konsistensi antara diri mereka dengan peran mereka: mereka mungkin rneninggalkan situasi; me­reka mungkin melipatgandakan usaha untuk menjadikan penciptaan peran sesuai dengan identitas; dan terkadang mereka bahkan mengubah identitas (McCall dan Simmons, 1966). Akan tetapi, terdapat debat hangat mengenai apakah orang memiliki diri stabil dan trans-situasional atau identitas yang me­reka coba konfirmasikan melalui penciptaan peran dalam semua situasi (Mead, 1934; R. H. Turner, 1962; J. H. Turner, 1999, 2000, 2002) atau apakah orang membawa diri yang jamak untuk setiap situasi tempat me­reka berada (Goffman, 1959). Jika individu membawa banyak identitas dan diri, maka mengubah identitas situasional akan kurang traumatis ketimbang jika individu membawa satu identitas inti ke semua situasi. Perhatian terhadap hubungan antara diri dan peran menimbulkan teori dan riset tentang problem yang dihadapi individu saat memainkan peran-peran (Merton, 1949; Goode, 1960), khususnya problem keterba­tasan peran (kesulitan untuk memenuhi semua ekspektasi yang diasosiasikan dengan peran) dan konflik peran (tuntutan yang tak bersesuaian di antara berbagai peran). Perhatian yang terkait dengan ini adalah pada peran yang menyimpang, dengan dua tradisi yang muncul di pertengahan abad ke-20: teori keterbatasan, di mana individu dipaksa untuk melakukan peran menyim­pang oleh rintangan struktural -dalam tne­menuhi cita-cita kultural (Merton, 1938; Quinney, 1979), dan teori labelling, di mana interaksi mikro dapat melabeli dan meny­alurkan orang ke peran yang menyimpang (Lemert, 1951). Yang lebih baru, teori dan riset menjauhi studi penyimpangan dan menuju ke analisis emosi yang muncul ketika diri dikonfirmasi­kan atau didiskonfirmasikan (Higgins, 1989; Smith-Lovin, 1.990; J. H. Turner, 1999). Ke­gagalan untuk mengonfirmasikan diri akan menimbulkan emosi negatif—misalnya ke­marahan, ketakutan, kesedihan, malu, dan rasa bersalah—sedangkan konfirmasi akan menimbulkan emosi positif—kepuasan, kebahagiaan, kebanggaan. Mereka yang mengalami emosi negatif akan herusaha menghindari perasaan ini dengan melaku­kan reaksi defensif, seperti persepsi selektif terhadap isyarat orang lain, mengabaikan legitimasi orang lain, atau menggunakan kebaikan jangka-pendek yang diakumulasi­kan dalam situasi di masa lalu di mana diri dikonfirmasikan dengan tujuan rnelupakan episode diskonfirmasi (McCall dan Simmons, 1966; J. H. Turner, 1999, 2002). Jika reaksi itu ternyata tak dapat berhasil, maka orang mungkin akan memperkuat reaksi defen­sifnya dengan menggunakan represi penuh dengan mengabaikan pengalaman emosi negatif dari kesadaran (Scheff, 1988; J. H. Turner, 1999). Sepanjang dekade terakhir ini, bebera­pa konsep peran baru telah bermunculan. Salah satu pandangan menyatakan bahwa peran merupakan sumber daya yang dapat dipakai untuk mendapatkan akses ke peran lain (Baker dan Faulkner, 1991). Di sini, kemampuan untuk memainkan satu peran membuat individu bisa mendapatkan akses ke peran lain yang memberikan penguatan positif. Ide barti lainnya adalah peran diang­gap sebagai objek kultural yang dapat ber­fungsi bukan hanya sebagai sumber daya un­tuk mendapatkan akses ke peran lain tetapi juga sebagai penanda simbolis dari hakikat diri seseorang (Callero, 1994).

Kerangka kultural longgar. Pengertian role processes (proses peran) adalah

Karya lain telah memperluas pandang­an Ralph Turner mengenai fenomenologi peran. Jonathan Turner (1994, 2000, 2002), misalnya, menegaskan bahwa individu mem­bawa konsep peran mereka dalam pengeta­huan. Pandangan ini melampaui pandangan Ralph Turner bahwa peran hanya meru­pakan “kerangka kultural longgar” untuk menginterpretasikan tindakan. Pengertian role processes (proses peran) adalah Menurut J. H. Turner, individu dalam pikirannya mem­bawa konsep detail tentang peran, dan konsep ini membuat penciptaan peran dan pengambilan peran menjadi proses generatif. Dalam skema J. H. Turner (2002), ada (a) “pre-assembled roles” yang sudah diketahui semua orang (misalnya peran ibu, putri, pekerja, murid); (b) “combinational roles” di mana orang mengumpulkan dua peran yang dipahami dalam satu situasi (misalnya “anak perempuan” yang mengombinasikan peran ini dengan “tuan rumah” dalam satu pertemuan keluarga); (c) “generalized roles” (misalnya bersikap semangat, dermawan, serius, sedih, tegas, malu dan sejenisnya) yang dapat diadopsi untuk peran lain dalam satu situasi; dan (d) “trans-situational” yang biasanya diasosiasikan dengan kategori so­sial seseorang—misalnya gender, kelas, etnisitas dan usia. Jadi, menurut J. H. Turner, konsep peran itu disesuaikan, tetapi juga mengungkapkan potensi generatif karena elemen dari berbagai konsep dikumpulkan dalam satu situasi—misalnya saat ibu bertin­dak dengan bukan hanya mentinjukkan diri dalam kelompok gender tetapi juga dalam kelompok usia, kelas dan etnis. Orang men­ciptakan jenis peran yang kompleks ini dan orang-orang yang melihat peran-peran itu tidak terlalu kesulitan dalam menginterpre­tasikannya karena mereka memiliki stok pengetahuan konsep banyak peran. Pengertian role processes (proses peran) adalah Ringkasnya, analisis peran masih meru­pakan aspek menarik dari mikrososiologi. Teori peran eksplisit dan tradisi risetnya tak lagi menonjol seperti di era 1950-an, 1960-an dan 1970-an (lihat Biddle, 1990), sedangkan analisis peran menjadi lebih ter­integrasi dengan teori umum dan program riset umum dalam mikrosisologi. Jadi, mes­ki tak ada lagi mode analisis diskret, kon­sep peran tetap menjadi kajian sosiologi dewasa ini.