Mekanisme sosial.

Pengertian scientific-technological revolution (revolusi sains-teknologi) adalah Salah satu transformasi paling signifikan di dunia modern adalah revolusi sains dan teknologi di abad ke-20. Revolusi ini merepresentasikan transformasi fundamental di bidang sains, dalam hubu­ngan antara sains dan teknologi dan dalam hubungan antara sains dan masyarakat. Per­bedaannya dengan masa sebelumnya adalah pada mekanisme sosial yang mendukung riset, lingkungan di mana periset bekerja, cara ilmuwan direkrut, organisasi riset sains/ teknologi, cara merumuskan, memilih dan mengatasi problem, dan struktur imbalan yang menimbulkan hasrat akan pengeta­huan. Pada intinya, hubungan antara sains dan masyarakat telah berubah secara subs­tansial di abad ke-20 ini, dan salah satu as­pek dari perubahan ini adalah meningkatnya usaha untuk menghubungkan sains dengan teknologi dalam rangka mencapai tujuan ekonomi atau tujuan nasional lainnya.

Revolusi ilmiah.

Sebagaimana transformasi lainnya yang memengaruhi bidang intelektual, transforma­si sains membutuhkan waktu sebelum ia di­akui dan diinterpretasikan. Tetapi bahkan sebelum revolusi itu terjadi, tampak jelas bahwa bukan hanya sains dan teknologi yang dipengaruhi tetapi juga seluruh proses yang membentuk pemikiran sosial, dan bah­kan substansi dasar dari pemikiran sosial di masa depan. Revolusi ilmiah sebelumnya, di awal era modern, memberikan basis untuk per­bandingan. Cara berpikir tentang alam, jenis pertanyaan dan metode pencarian jawaban (yang valid) telah berubah. Sebelum era ini, yang menonjol adalah para sarjana skolas­tik—yang memuja pemikiran klasik dan ti­dak menyukai karya empiris. Dengan revolu­si ilmiah ini muncullah formulasi teori (yang idealnya diekspresikan secara matematis) yang dapat diuji dengan observasi empiris (dari pengalaman). Karya Galileo di ahad ke-17 adalah karya terobosan yang memicu, melembagakan dan mendefinisikan revolusi ilmiah ini. Perubahan politik mengiringi re­volusi kognitif dan akhirnya sains meraih independensi dari pengawasan negara (pada waktu itu, gereja). Belakangan, ilmu-ilmu baru bermuncul­an atau makin matang. Namun ilmu baru ini mungkin bervariasi menurut perspektif atau pendekatan dari sains yang sudah mapan, masing-masing dibentuk oleh observasi­teori dan produk dari revolusi sebelumnya. Contohnya adalah epidemiologi, ilmu peng­obatan, dan ekologi. Hal yang sama berlaku bagi aplikasi metode ilmiah untuk studi kemasyarakatan, termasuk penggunaan eks­perimen ekonomi dan sosial. Dalam kasus ini, dipakai asumsi sederhana tentang sifat aktor sosial dan juga ada pra-anggapan bahwa riset sosial yang dipedomani oleh observasi-teori yang sesuai akan dapat mem­berikan pemahaman yang lebih baik—se­cara umum —terhadap tindakan sosial dan masyarakat. Sebaliknya, revolusi sains dan teknologi yang lebih baru sepenuhnya berbeda karak­ternya. Di balik penemuan dan inovasi yang sepertinya tak pernah usai, ada revolusi or­ganisasi. Yang berubah paling radikal di abad ke-20 adalah organisasi sains sosial, dan inilah yang merupakan transformasi fundamental. Banyak dari tren yang memun­culkan revolusi saat ini—seperti spesialisasi yang lebih besar, makin dekatnya sains dan teknologi dan sains dengan negara—telah terlihat. Tetapi di abad ke-20 ini hubungan­hubungan kumulatif yang saling terkait telah menimbulkan efek—revolusi sains dan teknologi. Dalam bentuk umumnya revolusi ini merupakan konsekuensi dari dorongan rasio­nalitas yang merupakan penggerak utama kebangkitan Barat, terutama sejak Refor­masi Protestan (lihat juga PROTESTANT ETHIC THESIS). Metode penghitungan (akuntansi) perusahaan kapitalis telah diperluas dan diaplikasikan untuk teknologi dan kemu­dian ke sains. Konsep yang dahulu diang­gap milik dunia bisnis saja—seperti kontrak, anggaran dan manajemen waktu, output, produksi, kepemilikan, produktivitas, dan sebagainya—telah banyak dipakai dalam administrasi (sekarang manajemen) sains dan teknologi. Lebih jauh, di banyak masya­rakat, relevansi—terutama relevansi dengan kemakmuran ekonomi dari mereka yang memberi kontribusi untuk mendukung riset melalui pajak, yang tingkat kepuasannya mungkin menentukan nasib pemerintah di masyarakat demokratis—telah menjadi kri­teria penting dalam mengevaluasi sains. Usaha untuk mencari rasionalitas ekono­mi tampak amat jelas di dalam birokratisasi riset. Bagi ilmuwan individual hal ini berarti perubahan dari penjelajah independen men­jadi karyawan yang diposisikan di tangga karier dalam organisasi besar, dari genera­lis ke spesialis, dan dari partisipan personal dalam komunitas mandiri ke anggota aso­siasi profesional (lihat juga BUREAUCRACY). Secara historis, sejumlah faktor telah mendukung revolusi ini. Misalnya, peng­akuan—khususnya sejak awal abad ke­20—bahwa teknologi dan sains dapat di­manfaatkan untuk memproduksi senjata telah menjadi stimulus bagi munculnya revo­lusi ini, dan mengarahkan konsekuensinya. Ketika ilmuwan atau insinyur yang mem­pelajari sifat materi atau bahan dapat me­ningkatkan keahlian yang berguna untuk mendesain senjata perang, maka tidak perlu banyak usaha untuk meyakinkan pemerin­tah guna memberikan dukungannya. Selain itu, keyakinan bahwa sains dan teknologi dapat meningkatkan kemakmuran bangsa, dari segi materi berdasarkan ukuran indika­tor ekonomi, juga menjadi stimulus untuk transformasi sains dan teknologi. Akibatnya adalah sains dan teknologi mendapat lebih banyak dukungan keuang­an, di mana riset lebih banyak dijalankan di dalam laboratorium industri dan pemerin­tahan, sering diarahkan oleh perintah orga­nisasional, atau untuk memenuhi kewajiban perjanjian. Riset, di dalam dan di luar uni­versitas, telah menjadi tim riset, dan usaha sains-teknologi dijustifikasi dalam term produksi paten, publikasi, personel. Fokus riset telah bergeser dari problem il­miah ke paper atau hak paten. Di masa lalu ilmuwan atau ahli teknologi—pemikir inde­penden—bisa menekuni satu persoalan sela­ma bertahun-tahun. Dewasa ini, akuntabili­tas organisasi (dan karyawan), dan cita-cita karir dari orang-orang sains dan teknologi, menyebabkan sejumlah publikasi atau paten (dan/atau jumlah halaman atau aplikasi atau kontrak atau kutipan atau mahasiswa) per tahun digunakan sebagai indikator valid dari tingkat produksi.

Pertimbangan revolusi. Pengertian scientific-technological revolution (revolusi sains-teknologi) adalah

Setiap pertimbangan revolusi sains-tek­nologi di abad ke-20 harus memerhatikan salah satu ciri utamanya—kesuksesannya yang nyata. Entah problemnya dimunculkan oleh perusahaan kapitalis atau pemerintah, atau dipilih berdasarkan relevansi dengan zaman, ilmu atau kemasyarakatan, secara keseluruhan sains dan teknologi patut men­dapat pujian. Pengertian scientific-technological revolution (revolusi sains-teknologi) adalah Tetapi pertanyaan kritisnya adalah apa­kah organisasi sosial dewasa ini mengizinkan jenis transformasi pemikiran ilmiah dan sosial yang diasosiasikan dengan ilmuwan perintis seperti Copernicus, Kepler, Galileo, Newton, Faraday, Snow, Darwin, Mendel, Pasteur dan Einstein, atau dengan Adam Smith, Marx, Durkheim, Weber dan ilmuwan sosial besar lainnya. Setelah jelas bahwa organisasi sosial sains dan teknologi biasanya tidak mendo­rong—bahkan melemahkan—kerja inovatif, muncul tesis yang muram. Singkatnya: setelah umat manusia—yang terus bertambah jum­lahnya dan tingkat konsumsinya—semakin mendekati batas kemampuan ekosistem planet, muncul problem serius dan mening­katnya tekanan bagi sains dan teknologi untuk memproduksi solusinya. Sebagai aki­bat revolusi sains-teknologi di abad ke-20, muncul mekanisme untuk menerjemahkan tekanan tersebut ke dalam tuntutan rasiona­litas ekonomi—lebih banyak akuntabilitas, efisiensi, produktivitas—cialam penggunaan sumber daya yang dialokasikan oleh ma­syarakat untuk riset. Pengertian scientific-technological revolution (revolusi sains-teknologi) adalah Tingkat produktivitas sains-teknologi yang makin tinggi mungkin juga menurunkan tingkat inovasi teknologi, seperti ditunjukkan oleh indikator kinerja kontemporer. l’Ada akhirnya, setelah terjadi transformasi d;x organisasi sosialnya, sains dan teknologi ti dak dapat memberikan kualitas yang dibti­tuhkan untuk mempertahankan masyarakat industri. Pada intinya, masyarakat modern menamam dalam dirinya sendiri benih-benill kehancuran dirinya.