Konsep multidimensional.

Pengertian secularization (sekularisasi) adalah Secara kon­vensional, konsep ini mendeskripsikan cara di mana pemikiran, praktik dan institusi agama kehilangan signifikansi sosialnya (Wilson, 1966). Definisi semacam itu mengasumsikan bahwa ada satu titik dalam sejarah ketika aspek ini memainkan peran signifikan dalam kehidupan sosial. Ia juga mengimplikasi­kan bahwa hal peran itu tak lagi signifikan. Banyak penulis, khususnya sosiolog agama, mengatakan bahwa sulit menggunakan kon­sep ini, sebab ia selalu terkait erat dengan definisi agama dan perubahan agama yang masih menjadi perdebatan. Dalam kenyata­annya sekularisasi dianggap sebagai konsep multidimensional yang mencakup beragam bentuk keterlibatan agama dalam masyara­kat di dalam kerangka klasifikatoris yang menyatu (Dobbelaere, 1981).

Definisi agama. Pengertian secularization (sekularisasi) adalah

Kebanyakan definisi agama masuk ke dalam salah satu dari tiga kategori, institu­sional, normatif atau kognitif, yang menjadi basis untuk mendiskusikan berbagai macam makna di balik proses sekularisasi. Jadi satu contoh agama yang didefinisikan secara in­stitusional adalah agama yang berada di dalam tradisi Yahudi-Kristen dan dinamak­an gereja. Banyak agama mistis di Timur, di Iain pihak, didasarkan pada aturan norma­tif untuk perilaku. Definisi kognitif agama membuat konsep seperti yang sakral bisa jadi basis organisasi religius. Proses sekulari­sasi yang terkait dengan ketiga pandangan tentang agama yang berbeda-beda ini juga bervariasi (Martin, 1969). Ada yang mera­gukan metodologi yang menopang konsep tersebut: idealisasi masa lalu; asumsi tentang homogenitas religius dalam masyarakat; dan perhatian terhadap kategori historis dari pengalaman religius (Glasner, 1977). Beberapa bentuk sekularisasi berasal dari definisi agama dalam term institusional, termasuk yang telah dijelaskan di atas. Varia­bel utama yang dipakai untuk mendiskusi­kan proses sekularisasi biasanya antara praktik agama formal, denominasionalisme, ekumenikalisme dan gerakan liturgi. Praktik agama dianggap mencakup aspek-aspek aja­ran Kristen konvensional seperti pembapti­san, konfirmasi, pernikahan, Sekolah Ming­gu, Easter Communicants, dan keanggotaan dan kehadiran gereja. Ini dipakai sebagai indeks yang menggambarkan penurunan praktik religius sejak Revolusi Industri. Pengertian secularization (sekularisasi) adalah Denominasionalisme, meski pada awalnya barangkali adalah tanda dari kebangkitan agama, menunjukkan, setidaknya di Ing­gris, contoh proses sekularisasi yang diawali dengan Reformasi. Karena organisasi-organi­sasi yang lemah ingin bergabung, gerakan ekumenis merupkan contoh dari proses sekularisasi yang diiringi dengan ajakan kem­bali ke standar ibadah profesional tradisional, seperti dicontohkan dalam gerakan liturgis. Bentuk sekularisasi lainnya, yang di­dasarkan pada agama yang didefinisikan secara institusional, berhubungan dengan di­kotomi gereja dengan SECT yang pertama kali dibahas oleh Max Weber (1904-5) dan Ernst Troeltsch (1931). Gereja didefinisikan sebagai bagian integral dari tatanan sosial. Gereja biasanya ditolak oleh organisasi so­sial yang keberatan dengan rutinisasi ge­reja. Penulis-penulis selanjutnya memperluas tipologi dengan menunjukkan bahwa sekte adalah bentuk organisasi religius yang pal­ing tak tersekularisasikan, sedangkan gereja dan denominasi adalah bentuk yang paling tersekularisasikan (Herberg, 1955). Pandangan yang lebih evolusioner me­ngenai proses sekularisasi memandangnya sebagai bentuk diferensiasi saat masyarakat berkembang dan menjadi makin kompleks. Pendapat ini menyatakan bahwa organisasi agama menjadi modern, simbolisme makin bervariasi, individualisme makin signifikan, dan karenanya agama institusional akhirnya layu (Bellah, 1964). Di balik diskusi evolusi masyarakat ini terdapat pandangan bahwa komunitas sosial dan religius, yang pada awalnya insidental, menjadi makin terdife­rensiasi sehingga aspek-aspek sekular dari kehidupan muncul bersama dengan tatanan legitimasi religius yang baru. Pandangan lain proses sekularisasi, yang berkembang dari definisi yang didasarkan pada aspek normatif, dititikberatkan pada makin umumnya dimensi agama dalam ma­syarakat, bukan pada diferensiasinya. Jadi norma dan nilai agama dikatakan menjadi rumusan perilaku sosial dalam masyarakat tradisional, sehingga bahkan detail kos­metik dan model baju diatur berdasarkan prinsip agama. Untuk masyarakat modern yang sekular, yang lebih cocok adalah sistem integratif yang umum yang mengakui diferen­siasi dan diversitas. Pengertian secularization (sekularisasi) adalah Jadi gereja yang menyatu­kan dan meliputi segala-galanya digantikan dengan agama sipil (Bellah, 1967) atau, di Amerika, sistem tiga-iman, Protestan-Kato­lik-Yahudi (Herberg, 1955). Bentuk lain dari sistem normatif yang serba meliputi telah dipakai untuk mengi­lustrasikan proses sekularisasi berdasarkan perubahan nilai-nilai religius, yang dilan­daskan pada kekuasaan ilahiah, ke nilai­nilai duniawi. Emansipasi kapitalisme dari kontrol etis adalah salah satu contohnya, di mana kekuatan penggerak etika Puritan memberikan kehidupan yang tenang dan teratur yang dicurahkan untuk pengum­pulan dan investasi kekayaan (1ihat PROT­ESTANT ETHIC THEsts). Penekanan Protestan pada kebebasan individu dan independensi pemikiran telah mengubah otoritas religius atas aspek-aspek kehidupan seperti mo­ralitas, pendidikan, kerja, menjadi negara sekular (Troeltsch, 1912). Karenanya adalah jelas bahwa seku­larisasi bukan konsep bermakna tunggal dalam pemikiran sosial abad ke-20. Bera­gam manifestasinya muncul baik itu dari hubungannya dengan definisi agama yang berbeda-beda, maupun dengan keterba­tasan metodologis operasionalnya. Namun penggunaan yang hati-hati atas istilah ini secara generik berdasarkan sistem klasifi­kasi yang luas dapat memberikan basis untuk mengembangkan konsep ini dalam pemikiran ilmu sosial.