PENGERTIAN SEJARAH SOSIAL

By On Monday, August 26th, 2013 Categories : Bikers Pintar

gerontology social social history (sejarah sosial)

Definisi yang paling terkenal tentang sejarah sosial diciptakan oleh G. M. Trevelyan: “sejarah tanpa nuansa politik”. Namun, definisi ini pun sering dikutip dengan tidak benar. Yang sebenarnya ditulis oleh Trevelyan (1942) dalam pengantar bukunya English Social History adalah: “sejarah sosial bisa didefinisikan secara negatif sebagai sejarah dari sekelompok masyarakat tanpa mengikutsertakan politiknya”. Ia sendiri mengatakan bahwa definisi itu masih belum memadai, tetapi karena kebanyakan karya sejarah pada saat itu berisi politik tanpa menampilkan masyarakat, sehingga muncul rangsangan cukup kuat untuk membuat perimbangan, karena “tanpa sejarah sosial, sejarah ekonomi gersang dan sejarah politik kabur”. Ia menulis: sejarah sosial tidak hanya menyediakan mata rantai yang dibutuhkan antara sejarah ekonomi dan politik. Ruang lingkupnya bisa mencakup kehidupan sehari-hari penghuni sebuah kawasan di masa lampau: ini meliputi manusia dan juga hubungan ekonomi dari berbagai kelas yang berbeda, ciri-ciri dari kehidupan keluarga dan ru-mah tangga, kondisi ketenagakerjaan dan aktivitas waktu luang, sikap manusia terhadap alam, budaya dari masing-masing jaman yang muncul dari kondisi-kondisi kehidupan umum ini serta mengambil bentuk dalam agama, literatur, arsitektur, pembelajaran, dan pemikiran.

Trevelyan meneliti periode enam abad untuk mencari sesuatu dari kehidupan kaum kaya dan miskin , perempuan dan laki-laki, anak-anak dan orang tua, untuk menganalisis dan menuturkan cerita, berusaha mendefinisikan dan menghargai ciri-ciri keinggrisan sebagai sumbangan bagi pembentukan moral selama masa perang. Ia menekuni permasalahan koherensi dan periodisasi dalam sejarah sosial yang tidak seperti jaringan sejarah politik dapat dipersatukan dalam sebuah kerangka nama-nama besar seperti raja, parlemen dan perang; menyadari bahwa perubahan-perubahan sikap dan praktek terjadi secara bertahap, nilai-nilai lama yang bisa bertahan hidup bersama dan berinteraksi dengan yang baru. Ketekunan ini bertahan lama.

Meskipun penulisan sejarah pada masa itu didominasi narasi politik, telah mulai muncul beberapa pendekatan alternatif. Pertama, di Inggris sejarah sosial berkembang bersama dengan sejarah ekonomi.Karya-karya klasik pertama bidang sejarah ekonomi dilahirkan pada masa-masa di antara kedua perang, di mana banyak di antaranya ditulis oleh perempuan, termasuk Eileen Power, profesor sejarah ekonomi di London School of Economics yang disamping memiliki perhatian besar terhadap sejarah ekonomi juga terhadap sejarah sosial, seperti yang tertuang dalam Medieval English Nunneries karya Power pada tahun 1922 (Berg 1992).

Kedua, kaum intelektual yang bergabung dalam Partai Buruh berusaha menganalisis lembaga-lembaga dan ketimpangan-ketimpangan sosial berdasarkan sejarah untuk menemukan jalan keluarnya, terutama dalam karya Barbara dan J. L. Hammond tentang dampak industrialisasi bagi kelompok buruh miskin (Hammond dan Hammond 1911; 1917; 1919) dan dalam karya Beatrice dan Sidney Web tentang sejarah serikat dagang dan pemerintahan daerah (Webb dan Webb 1894; 1929).

Pada sekitar waktu yang bersamaan di Perancis muncul reaksi yang mirip terhadap sejarah yang membuka jalan bagi kelahiran sebuah jurnal Annales d’histoire economique et sociale pada tahun 1929. Annalistes memiliki program yang baku yang tidak hanya meneliti masyarakat dan ekonomi di masa lampau tetapi juga berusaha mengintegrasikan kajian kemasyarakatan, ekonomi, politik, kehidupan intelektual, geografi dan demografi yang kesemuanya dalam pengertiannya yang luas, serta idealnya dalam rentang waktu yang panjang (meski kadang-kadang terjadi atas sebuah lingkup tempat yang kecil) dalam usaha memahami apa yang mereka sebut sebagai “peradaban” (civilization), suatu jaringan interaksi rumit yang membentuk masyarakat. Pada tahun 1946 judul jurnal itu berubah menjadi Annales: Economies, Societes, Civilisations (dan bertahan sampai saat ini). Aspirasi terhadap sejarah total ini menjadi stimulus penting dalam skala internasional selama beberapa dekade terutama di bawah kepemimpinan Braudel (1949) pada tahun 1950-an dan 1960-an mengingatkan para sejarawan bahwa mereka bisa lebih berani, meskipun hanya sedikit yang berani menjajal tantangan tersebut, dan lebih sedikit lagi yang mampu menyelaraskan praktek dengan ambisi. Perkembangan ini memberi dorongan baru baik dalam pembentukan definisi sejarah sosial maupun metodologinya. Tetapi di atas semuanya, ini adalah perkembangan yang sistematik. Sejarawan Perancis adalah ilmuwan yang pertama menerapkan teknik-teknik kuantitatif dalam kajian politik, struktur sosial dan demografi. Mereka sangat positivis karena sangat jarang mempertanyakan bagaimana struktur yang mereka pelajari atau struktur dari mana data mereka dikumpulkan terbentuk. Terdorong oleh Annales, sejarah sosial mendapatkan legitimasi dan kemashuran yang lebih besar dalam kehidupan akademis Perancis dibandingkan dengan tempat-tempat lain (Prost 1992).

Sejarah sosial di Inggris tidak berkembang secepat di Perancis. Setelah tahun 1945 tradisi penulisan kelompok intelektual buruh tentang sejarah gerakan buruh dan kelas pekerja, terutama oleh G. D. H. Cole (1948), dan kemudian Asa Briggs (1991), tetap berlanjut sejalan dengan hubungan erat antara sejarah ekonomi dan sosial, meski kemudian mereka mulai terpisah pada tahun 1960-an.

Sebuah stimulus baru yang juga penting adalah Kelompok Sejarah Partai Komunis, yang beberapa di antaranya sempat memperoleh reputasi internasional: Hilton (1987), Kieman (1988), Hill (1986), Hobsbawm(1978; 1987), E. P. Thompson (1992) dan Dorothy Thompson. Mereka memiliki minat dalam sejarah ide-ide radikal, protes sosial dan kelompok-kelompok kelas bawah (subordinate groups), dan suatu preferensi terhadap kesusasteraan (literary) di atas sumber-sumber kuantitatif.

Varian liberal, di mana Trevelyan dan G. M. Young menjadi pengikutnya, terus berjalan. Salah satu karyanya yang penting, karya G. Kitson Clark (1962) The Making of Victorian Englcinddipersembahkan untuk Trevelyan. Clark adalah seorang “sejarawan politik sejati”, tetapi “memiliki keinginan besar untuk menulis apa yang disebut “sejarah yang mendalam” (history in depth), yang mengkombinasikan sejarah demografi, ekonomi dan politik dengan kajian kelompok-kelompok sosioekonomi pada setiap tingkatan dan aspek- aspek inti dari budaya seperti agama. Di sini ia merasa sangat yakin bahwa hal ini adalah jalur yang benar bagi perkembangan historiografi”. H. J. Perkin (1969) telah mendalami kajiannya tentang The Origin of the Modern British Society 1780-1880 dan mendefinisikan sejarah sosial sebagai sebuah “disiplin yang berdiri sendiri” yang dibangun di seputar tema sejarah struktur sosial (Perkin 1962). bukannya sebuah “wadah yang menampung segala sesuatu mulai dari perubahan fisik manusia sampai simbol dan ritual” seperti yang dianggap oleh sebagian orang (Hobsbawm 1980) Perkin (1992) berusaha menganalisis bagaimana sebuah “kelas masyarakat yang mandiri” muncul di tengah perubahan industrialisasi, sementara yang lain memberi penekanan pada konflik. Sejarah sosial telah berkembang lebih pesat dan menjadi makin beragam di Inggris pada tahun 1960-an.

Ekspansi ilmu-ilmu sosial pada periode pascaperang, terutama sosiologi, telah mempengaruhi bidang sejarah. Sebuah contoh yang jelas adalah karya Kelompok Cambridge bagi Sejarah Populasi dan Struktur Sosial, yang dibentuk pada tahun 1964 oleh Peter Laslett dan E. A. Wrigley. Kelompok ini telah menerapkan teknik-teknik kuantitatif yang dikembangkan di Perancis dan pertanyaan-pertanyaan serta konsep-konsep yang sebelumnya hanya dibatasi untuk sosiolog dan antropolog pada kajian demografi dan struktur sosial selama periode yang panjang (Laslett 1965; 1988). Hasilnya telah mengubah pemahaman kita tentang proses perubahan populasi (Wrigley dan Schofield 1981) dan struktur rumah tangga (Laslett dan Wall 1972) di Inggris selama beberapa abad dan telah sangat berpengaruh di mana- mana. Karya ini memunculkan pertanyaan umum yang penting tentang hubungan antara perubahan ekonomi dan sosial terutama selama proses industrialisasi (Wrigley 1988), dan lebih spesifik lagi, tentang peran relatif dari keluarga dan agen-agen kesejahteraan yang lain dalam mendukung kaum miskin di masyarakat-masyarakat Eropa. Di AS sosiologi historis kuantitatif sangat mempengaruhi kajian-kajian mobilitas sosial (Thernstrom 1964) dan protes sosial (Tilly dan Shorter 1974).

Yang juga penting dari tahun 1960-an adalah tumbuhnya budaya oposisi di berbagai bidang akademi. Hal ini telah menarik minat sejarawan di Inggris dan juga di berbagai tempat lain terhadap sejarah sosial, terutama “sejarah dari bawah” (history from below), yang juga sangat dipengaruhi oleh publikasi karya E. P. Thompson (1963) The Making of the English Working Class.

Sejarah sosial pada tahun 1960-an, yang ditulis dari perspektif manapun, diorganisasikan di seputar konsepsi tentang masyarakat yang terstruktur secara hirarkis, di mana kelas menjadi kategori pengorganisasi yang utama. Pada tahun 1970-an dan 1980-an makin banyak sejarawan yang menyadari bahwa perilaku dan keyakinan (beliefs) (terhadap politik sebagai contohnya) tidak dapat diuraikan dengan memuaskan sebagaimana dalam pengertian posisi-posisi sosioekonomi seperti yang diperkirakan sebelumnya. Perhatian yang makin besar terhadap sejarah perempuan telah menjelaskan bahwa jenis kelamin sama pentingnya dengan kelas sebagai sebuah kategori sosial. Perhatian-perhatian ideologis yang berubah, yang dikombinasikan dengan tantangan akademis yang lebih besar terhadap strukturalisme dalam segala bentuknya, menjadikan sejarawan sosial lebih peka terhadap keragaman identitas yang dimiliki masing-masing individu berkaitan dengan ras, bangsa, kelompok umur dan agama serta kelamin dan kelas.

Hal ini juga telah diperumit dengan penulisan sejarah sosial, yang melahirkan kekhawatiran akan sebuah keruntuhan dalam empirisisme acak. Yang lain berpaling pada antropologi untuk memahami kerumitan sosial, terutama dalam etnografi budaya dari Geertz dan pandangan-pandangan Mary Douglas. Tugas ini diperumit lagi oleh pengaruh akademi Foucault dan sosiolinguistik, semiotik dan teori kesusasteraan: Saus- sure, Derrida, Bakhtin, Baudrillard dan Bourdieu pre-eminently. Dampak dari berbagai teoretisi yang sangat berbeda ini adalah kontroversi (American Historical Review 1989; Past and Present 1991). Mereka menantang para sejarawan untuk mengakui bahwa obyek penelitian mereka  kelompok-kelompok sosial, kegilaan, dan lain-lain tidaklah sebagaimana adanya melainkan bentuk-bentuk yang dari waktu ke waktu harus diinterpretasikan; demikian juga dengan bahasa-bahasa dari sumber-sumber tertulis, yang memberi sumbangan pada pembangunan dari, bukan semata ungkapan dari, perasaan dan tindakan. Dan mereka dapat menyediakan lingkup sumber daya yang lebih kaya untuk menginterpretasikan berbagai sumber yang digunakan oleh sejarawan sosial, yaitu oral, visual, material dan juga dokumentasi.

Dengan adanya pengaruh-pengaruh ini, para sejarawan mulai memberi perhatian yang lebih-besar pada “budaya” (culture) ketimbang “masyarakat” (society) (Hunt 1989) atau di Perancis disebut”mentalitet” (Chartier 1982). Pendekatan ini penting karena memungkinkan para sejarawan mengkonseptualisasi nilai-nilai, keyakinan, bahasa, organisasi politik, kegiatan ekonomi dan lain-lain sebagai unsur-unsur interaksi dari sistem yang sama, jadi tidak sebagai karakteristik aktivitas manusia yang terisolasi. Bahayanya adalah, seperti “sejarah total”, bisa menjadi sedemikian inklusif sehingga kehilangan spesifitasnya dan bisa tetap menjadi aspirasi yang diinginkan di mana sejarawan sosial dapat terus mengupayakan keragaman tema-tema. Tetapi pendekatan ini dapat mengembangkan berbagai teori dan konsep independen yang belajar dari disiplin ilmu lain, jadi bukan menjadi parasit bagi disiplin ilmu lain; dan ia memberi kontribusi besar bagi ilmu-ilmu sosial: analisis waktu, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Incoming search terms:

  • pengertian sejarah sosial
  • sejarah sosial
  • contoh ketimpangan sosial dalam sejarah
  • Pendapat travelyan mengenai peran sejarah
  • ketimpangan sosial dalam sejarah
  • contoh ketimpangan sosial yang terjadi dalam sejarah
  • contoh sejarah sosial
  • pendapat trevelyan mengenai peran sejarah
  • sejarah ketimpangan sosial
PENGERTIAN SEJARAH SOSIAL | ADP | 4.5