Konstruk historis dan sosiokultural.

Pengertian seksualitas adalah Seksualitas manusia bukan sekadar ba­waan biologis yang dapat dijelaskan dalam term biologi. Bahkan di antara hewan seka­lipun seks adalah perilaku multifungsional, menggunakan semacam sosialisasi, pembe­lajaran sosial, etika. Bahkan beberapa reaksi seksual dasar seperti ereksi mungkin menun­jukkan fungsi nonseksual, menunjukkan hubungan kekuasaan, agresi, persahabatan, dan sebagain.ya. Seksualitas manusia adalah konstruk historis dan sosiokultural. Bentuk dan maknanya dapat dipahami hanya dalam konteks kultur sosionormatif secara keselu­ruhan, terrnasuk stratifikasi gender, stereotip maskulinitas dan feminitas, bahasa emosi, representasi tubuh dan aturan kesopanan verbal. Perbedaan antara motif dan tinda­kan eroto-seksual dan nonseksual baik di level individual maupun sosial adalah kon­vensional, bergantung pada nilai umum dari suatu masyarakat. Oposisi daya tarik seksual dan nonseksual atau cinta dan persahabatan merupakan fungsi sikap antiseksual tra­disional, sebuah usaha untuk memisahkan perasaan dan pengalaman erotik “dasar” yang ditabukan dari aspek kehidupan lain­nya. Seksualitas bukan hanya tampak dalam bentuk nonseksual, tetapi “adalah mung­in untuk mengkaji perilaku selcsual dalam kapasitasnya untuk mengekspresilcan dan melayani motif-motif nonseksual” (Gagnon dan Simon, 197.3, hlm. 17).

Rumusan normatif. Pengertian seksualitas adalah

Setiap masyarakat membuat bebera­pa jenis perbedaan antara jenis seks .yang “benar” dan “salah.” Rumusan normatif ini sering diformulasikan dalam bahasa me­dikobiologis sehingga perilaku atau orientasi yang secara moral dan sosial dilarang akan diberi label “abnormal” atau “patologis.” Tetapi beberapa pola perilaku yang jelas disfungsional atau tidak tepat dalam satu konteks, misalnya konteks reproduksi atau pemeliharaan hubungan keluarga, dapat menjadi fungsional dan berguna dalam konteks lain (misainya, memberi kepuasan emosional, perasaan nyaman). Di balik se­tiap definisi normatif “benar” dan “salah” ini relasi kekuasaan dalam seksualitas selalu tersembunyi, seperti kontrol sosial pria ata’s wanita, orang tua atas anak, negara atau individu. Perselisihan mengenai aturan dan definisi inilah yang merupakan inti seluruh sejarah seksualitas, Setiap masyarakat membuat bebera­pa jenis perbedaan antara jenis seks .yang “benar” dan “salah.” Rumusan normatif ini sering diformulasikan dalam bahasa me­dikobiologis sehingga perilaku atau orientasi yang secara moral dan sosial dilarang akan diberi label “abnormal” atau “patologis.” Tetapi beberapa pola perilaku yang jelas disfungsional atau tidak tepat dalam satu konteks, misalnya konteks reproduksi atau pemeliharaan hubungan keluarga, dapat menjadi fungsional dan berguna dalam konteks lain (misainya, memberi kepuasan emosional, perasaan nyaman). Di balik se­tiap definisi normatif “benar” dan “salah” ini relasi kekuasaan dalam seksualitas selalu tersembunyi, seperti kontrol sosial pria ata’s wanita, orang tua atas anak, negara atau individu. Perselisihan mengenai aturan dan definisi inilah yang merupakan inti seluruh sejarah seksualitas, Semua tren ini amat memengaruhi sikap dan perilaku seksual. Di semua masyarakat industri anak muda kini memulai kehidupan seksualnya lebih awal ketimbang generasi se­belumnya. Pengertian seksualitas adalah Sikap terhadap seksualitas prani­kah makin permisif, dan dalam kebanyakan kasus hubungan itu dianggap bisa diterima secara sosial dan moral. Kepuasan seksual menjadi salah satu faktor terpenting dalam kesuksesan dan stabilitas pernikahan. Teknik seksual makin beragam dan canggih; orang menunjukkan tuntutan, ekspektasi dan kece­masan yang lebih besar terhadap kehidupan seksualitas mereka. Perubahan dalam seksualitas perem­puan amat penting. Perbedaan usia di awal kehidupan seksual bagi anak lelaki dan perempuan semakin berkurang atau bahkan sudah tidak ada. Wanita keberatan terhadap “standar ganda” dalam moralitas seksual. Sebagai akibat dari sikap sosial yang lebih liberal kini terjadi penurunan terus-menerus dalam tingkat frigiditas dan anorgasmia sek­sual perempuan. Seksualitas menjadi aspek penting dari identitas personal dan sosial perempuan. Toleransi baru ini pelan-pelan mengubah status sosial minoritas seksual. Homoseksual tak lagi dianggap sebagai kejahatan moral atau penyakit yang tak tersembuhkan, tetapi dianggap sebagai gaya hidup dan, apa pun penyebab orientasi seksual ini, tidak dipakai sebagai alasan untuk diskriminasi sosial atau moral atau penghukuman legal. Di banyak negara Eropa undang-undang yang mela­rang homoseksualitas telah dicabut. Orga­nisasi gay dan lesbian mulai bermunculan memperjuangkan hak-hak asasi mereka. Secara keseluruhan proses ini berarti individualisasi dan personalisasi seksualitas, dan pergeseran dari kontrol sosial ekster­nal ke kontrol diri moral internal. Pengertian seksualitas adalah Tetapi perubahan ini tidak unilateral dan sangat kontradiktif. Rumusan seksual mengandung variasi penting gender, golongan, etnis, kul­tural, dan sebagainya. Melemahnya regulasi sosial atas seksualitas yang dikombinasikan dengan informasi dan pengetahuan yang tidak memadai menyebabkan konsekuensi sosial dan psikologis yang tidak diharapkan: kenaikan tingkat kehamilan remaja dan aborsi, pelecehan seksual, wabah penyakit menular seksual. Erotika komersial ikut memanipulasi seksualitas manusia, dan kon­tak ekstensif tanpa cinta atau keterlibatan emosional mengubah kebebasan seksual menjadi alienasi seksual. Bahaya seks tanpa batas ditunjukkan oleh wabah A1DS, yang menimbulkan kembali kecemasan dan keta­kutan seksual di masa lalu, memicu situasi kepanikan moral. Orang-orang konserva­tif menganggap kebebasan seksu. al sebagai keadaan kekacauan moral besar-besaran yang menyebabkan kehancuran kultur dan masyarakat. Alternatif untuk kecemasan ini adalah perkembangan regulasi-diri dan pro­mosi pendidikan seks yang cukup.