Kerangka konseptual.

Pengertian sekte adalah Istilah ini kebanyakan dipakai untuk menunjukkan gagasan kelompok religius yang memisahkan diri dari agama utama atau ide politik utama dan memper­tahankan eksklusivitas ideolOgi, kultural dan sosialnya. Kontras implisitnya biasanya den­gan pandangan gereja yang lebih inklusif dan universalistik, dengan ajaran yang berada di titik tengah antara sekte, dan gereja. Gereja, denominasi dan sekte dan kultus telah mem­bentuk kerangka konseptual bagi banyak studi dinamika organisasional dan ideologis dari berbagai kelompok agama.

Doktrin sosial. Pengertian sekte adalah

Max Weber (1864-1920) menegaskan fakta bahwa keanggotaan suatu sekte bukan hanya sukarela namun juga kondisional ber­gantung pada kualifikasi spesifik. Dia juga menganalisis peran pemimpin karismatik di beberapa sekte religius dan memuji organi­sasi sekte Protestan yang kapasitas menanamkan asketisisme dunia yang punya afinitas kuat dengan semangat kapitalisme pada umumnya dan dengan etos bisnis ke­cil Amerika pada khususnya (1948). Ernst TroetIstch (1865-1923), menekankan kapa­sitas tipe-sekte religius untuk menciptakan semacam “doktrin sosial” (1911 (1931, 1981)) yang berbeda dengan doktrin dari iipe gereja dan mistisisme. Fokus pada kaitan an­tara aspek sosiologis, doktrinal dan etis dari kolektivitas religius ini kemudian mengil­hami banyak studi hubungan antara eksklu­sivisme sekte religius dengan latar belakang sosial, selera kultural dan disposisi politik dari anggota sekte tersebut (1ihat, misalnya Niebuhr, 1929; Wilson, 1961; Beckford, 1975). Dinamika internal dan relasi eksternal dari beberapa organisasi politik ekstrem juga menunjukkan karakteristik sektarian (Orfoole, 1977); dan tendensi sektarian eksi, di beberapa kelompok psikoterapi (jone,„ 1984). Pengertian sekte adalah Jadi, walaupun kontras implisit ngan gereja dan mistisisme telah kehilan; an banyak relevansinya dalam masyarakat sekuler, konsep sekte masih dapat clipakai sebagai titik referensi dalam studi-studi or­ganisasi religius, politik dan ideologis yang eksklusif. Kegunaan konsep ini diperk udt lagi oleh spesifikasi Wilson (1970) tnengetiai rujuh subtipe sekte dan oleh usaha untuk memahami proses menghilangnya eksklu sivisme dan makin tolerannya beberapa tipe sekte tertentu saja (Yinger, 1970). Namun sy­jak 1970-an ada tendensi untuk mengaplika­sikan istilah “kultus” atau “gerakan agama baru” uang berbeda dari agama utama yang tidak selalu menunjukkan eksklusivisme sosial, doktrinal atau etika (lihat, misalnya, Wallis, 1976; Stark dan Bainbridge, 1985). Meskipun demikian, di banyak masyarakat industri maju dI mana organisasi agama ll’lall kehilangan banyak kekuasaannya, aktivitas dinamis dan kelompok sektarian yang tak toleran telah menunjukkan respons bermu­suhan dan berusaha berkuasa. Secara khu­sus, perhatian sosiologis difokuskan pAda cara-cara negatif media massa dalam nleng­gambarkan gerakan mirip sel<te dan dilema yang dihadapi agen negara yang ikut campur dalam kontroversi keagamaan (Beckford, 1985, 1993). Pengertian sekte adalah Fokus studi tipe-sektc jenis ini telah melemahkan kaitan konsep sekte de­ngan teologi dan etika, seperti halnya anali sis sekte dalam term teori pilihan rasional (Iannaccone, 1988). Konsep sekte juga diaplikasikan untuk bentuk againa selain Kristen, namu► hasi1 nya berbeda. Di satu sisi, konsep illi hisa berguna untuk meringkas 1«mfigur3si rin, etika dan bentuk organisasi yang kompleks. Tetapi, di lain pihak, ia memasukkan asumsi Kristen ke dalam analisis kultur yang ses­ungguhnya didasarkan pada landasan yang amat berbeda. Jadi, meski memang ada karakteristik sektarian (misalnya, separa­tisme dan eksklusivisme) dalam beberapa gerakan reformasi Hindu (Bhatt, 1968) dan Buddhisme (Ling, 1980), akan keliru jika dikatakan bahwa karakteristik itu sama de­ngan tipe sekte Kristen.