Area perumahan miskin.

Pengertian slums (kampung kumuh) adalah Pergerakan orang ke perkotaan di awal dekade Revolusi In­dustri menimbulkan area perumahan miskin yang luas, kekurangan fasilitas penting dan amat padat. Kampung kumuh ini berbeda tajam dengan lingkungan kota-kota pra-in­dustrial dan pedesaan. Di perkotaan perbe­daan orang kaya dan miskin amatlah tajam. Karenanya nada peyoratif dari istilah ini dikenakan pada penduduk kampung ku­muh. Orang-orang yang lebih kaya meng­gambarkan mereka sebagai orang-orang yang menolak nilai dan norma dominan ma­syarakat mereka.

Citra kampung kumuh. Pengertian slums (kampung kumuh) adalah

Jadi muncul perbedaan antara “orang miskin layak” dan “orang miskin yang tak layak”—yang disebut terakhir ini juga dise­but “orang miskin yang tidak berharga” (Matza, 1966), “kelas berbahaya” (Chevalier, 1973) dan dalam literatur Marxis dinamakan “Iumpenproletariat.” Karakteristik stereoti­pe dari penghuni kampung kumuh adalah retaknya struktur keluarga dan kurangnya organisasi komunitas. Sikap apati menye­babkan level kekerasan dan kejahatan yang tinggi. Penjelasan atas perilaku ini berkisar mulai dari atribusi kelemahan moral in­dividual—yang mesti diperbaiki melalui pendidikan daniatau hukuman—hingga ke kekurangan dalam masyarakat, yang mesti diperbaiki dengan reformasi sosial (Wax­man, 1977). Transmisi antargenerasi dari karakteristik perilaku ini dipopulerkan oleh konsep Lewis (1967) tentang “subkultur ke­miskinan”; dia berpendapat bahwa di dalam kebanyakan kondisi POVERTY, anak-anak disosialisasikan sejak kecil dengan nilai-nilai orang tuanya; konsep “siklus deprivasi” me­nyatakan bahwa berbagai macam problem yang saling terkait yang dihadapi oleh orang miskin menyebabkan mereka hampir tidak mungkin keluar dari kemiskinan. Kedua pendekatan ini banyak dikritik (lihat Lea­cock, 1970; Coffield et al., 1980). Setelah lingkungan kumuh abad ke­19 telah dibersihkan dan dikembangkan ulang, mereka digantikan oleh bentuk pe­rumahan murah, apartemen, dan sebagain­ya, yang pada gilirannya dilabeli dengan karakteristik yang mengandung stigma. Citra kampung kumuh yang muncul dalam perkembangan industri Barat abad ke-19 ini tidak cocok dengan perkembangan Dunia Ketiga di paruh kedua abad ke-20. Pengertian slums (kampung kumuh) adalah Di sini tingkat pertumbuhan 10 persen per tahun disebabkan oleh migrasi besar-besar­an dari pedesaan dan angka kelahiran yang tinggi di kalangan kaum migran. Beberapa migran ini mendapatkan rumah yang buruh di daerah perkotaan, yang lainnya mem­bangun rumah petak sendiri. Namun suplai perumahaan sederhana jauh lebih sedikit ketimbang permintaan; mayoritas migran dewasa ini harus membangun rumah sendiri di pinggiran kota. Orang-orang pinggiran, para penghuni liar, kini menempati separuh dari total populasi kota. Citra populasi penghuni rumah-rumah petak cenderung diberi nada peyoratif oleh pencluduk yang lebih kaya. Namun studi terhadap area-area ini menunjukkan atribut yang amat berbeda dan menimbulkan perbe­daan antara “kawasan kumuh yang meng­andung harapan” dengan “kawasan kumuh tanpa harapan” (Stokes, 1962). Ciri khas dari yang disebut pertama adalah kawasan kumuh yang dihuni orang migran dengan harapan mendapatkan hidup yang lebih baik, semampu mungkin mengikuti nilai so­sial yang dominan, sering terlibat dalam ak­tivitas komunitas; sebaliknya, yang disebut belakangan, dihuni oleh orang-orang yang memandang diri mereka terpuruk, gagal mengatasi problem kehidupan perkotaan, dan yang menunjukkan sikap apatis. Tetapi penyamaan daerah pinggiran dengan ka­wasan penuh harapan, dan kawasan kumuh kota dengan kawasan tanpa harapan adalah tidak valid; sebab seperti ditunjukkan oleh Turner di beberapa kota Amerika Latin para migran pertama-tama tinggal di rumah sewa di perkotaan untuk membangun “jembatan” dan kemudian “mengonsolidasikan” po­sisinya dengan membangun tempat tinggal­nya sendiri di pinggiran. Perbedaan tajam antara degradasi ka­wasan kumuh dan orientasi yang sering ditemukan di daerah pinggiran jelas terlalu dilebih-lebihkan. Pengertian slums (kampung kumuh) adalah Ada banyak penduduk kawasan kumuh yang tidak bisa dikatakan dalam kondisi kemiskinan ekstrem, dan juga di pinggiran tidak semuanya dalam kondisi demikian. Kesuksesan yang berbeda-becia dari tiap orang menimbulkan standar hidup dan sikap sosial yang berbeda-beda. Di dae­rah kota pinggiran diferensisasi sosial ini beraasl dari komersialisasi pasar perumahan setelah penduduk yang sukses menjadi tuan tanah, dan para penyewanya tak mampu mendapatkan uang cukup untuk memba­ngun rumah sendiri. Kurangnya pertumbuhan ekonomi di kebanyakan negara miskin dan berkembang di dua dekade terakhir ini jelas menyulitkan perbaikan industri. Tetapi ini belum men­jadi titik awal keresahan sipil, seperti yang pernah diperkirakan pada 1960-an. Namun ketegangan yang berasal dari kemiskinan jelas ada, dan sering disebarkan melalui saluran politik, organisasi komunitas dan ikatan etnis. Hal ini menyebabkan penduduk kawasan kumuh perkotaan dicap sebagai “kelas ber­bahaya.”