Studi mobilitas.

Pengertian social mobility (mobilitas sosial) adalah Perubahan keanggotaan kategori sosial seseorang—bia sanya perpindahan antara lcelas sosial—per­tama kali dikonseptualisasikan secara siste­matis dalam Social Mobility oleh Pitirim Sorokin (1927), meskipun sebagian dipenga ruhi oleh ide Pareto tentang perputaran •ht (Bottomore, 1964). Pandangan multidimen sional Sorolcin dipersempit ke fokus pada kelas (okupasi) dan pendidikan oleh riset di London School of Economics (LSE) yang ke­mudian dipublikasikan sebagai Social Mobi­lity in Britain (Glass, 1954). Ini menghasilkan bukti empiris bagi beberapa penjelasan beri­kutnya mengenai batas-batas kelas, hierarki sosial dan kurangnya mobilitas antarkelas, serta studi komparatif di negara lain (lihat juga CLASS; SOCIAL STRATIFICATION, STRU(;URATION). Akan tetapi, setelah generasi selanjlrt- nya studi mobilitas pada awal 1970-an (li hat Goldthorpe, 1980 (1987); Erikson dan Goldthorpe, 1992; Payne, 1987) hanya tda sedikit data baru yang dikumpulkan, hu susnya di Inggris.

Reformasi pendi­dikan. Pengertian social mobility (mobilitas sosial) adalah

Glass dan rekan-relcannya terutailla bahas pemegang posisi berkuasa di masyara kat pascaperang, seperti pegawai negeri sipil senior. Minat mereka dalam mobilitas sosia I dari populasi umum, karenanya, adalah se­bagai konteks untuk analisis ini, dan juga untuk evaluasi efek dari reformasi pendi­dikan (1944 Education Act) terhadap sempatan kerja di masa ketika pendidikan makin penting. Temuan mo bilitas mereka (kini diakui sangat tak masuk akal) menunjukkan bahwa, meskipun ada pergeseran “jarak dekat” hanya ada sedikit sekali ayah di kalangan kelas sosial yang anaknya bisa naik ke kelas yang lebill tinggi. Penults-penulis seperti Tom Bottomore, Ralph Miliband, Frank Parkin, Anthony Giddens dan John Westergaard mengguna­kan hasil LSE dalam menyusun model struk­tur kelas yang memiliki penghalang untuk mobilitas ke atas. Di luar negeri, studi-studi baru yang melaporkan tingkat mobilitas yang lebih tinggi telah memicu perdebatan tentang keterbukaan masyarakat Amerika jika dihandingkan dengan bangsa Eropa, dan pola mobilitas yang diasosiasikan de­ngan demokrasi sosial dan kapitalisme libe­ral. Analisis mobiIitas menjadi semakin tek­nis, dan terisolasi dari analisis keIas dalam sosiologi utama. Pengertian social mobility (mobilitas sosial) adalah Setelah gap satu generasi, studi se1anjut­nya oleh tim di Oxford, Aberdeen dan Essex University berusaha memperbaiki isolasi ini. Masing-masing menemukan tingkat mobi­litas sosial yang tin.ggi di Inggris, termasuk perpindahan dari dasar ke hampir puncak hierarki pekerjaan. Di antara sejumlah cara mengukur mobilitas, menjumlah orang­orang yang mobile, misalnya, menunjuk­kan 28 persen mengalami mobilitas ke atas dalam studi LSE, 40 persen dalam studi Ox­ford 1972 dan 42 persen dalam studi Essex 1984. Studi-studi yang serupa melaporkan bahwa para profesional dan manajer (kelas “jasa”) terdiri dari 19, 28, dan 33 persen yang direkrut dari anak pekerja manual. Akan tetapi telah dinyatakan—keba­nyakan oleh Goldthorpe dan rekannya­bahwa pengukuran mobilitas yang lebih penting bukan jumlah orang yang mobile (yakni kuantitas mobilitas, mobilitas “abso­1ut”) tetapi peluang relatif mobilitas orang dari asal yang berbeda-beda. Di dalam batas teknis yang ditetapkan berdasarkan analisis kelompok, pengukuran yang disebut be­lakangan itu tampaknya menunjukkan se­dikit perubahan meskipun ada peningkatan dalam mobilitas absolut. Pandangan Gold­thorpe merefleksikan perhatian terhadap mobilitas sebagai ekspresi relasi kelas, se­dangkan pengukuran yang lebih sederhana mentinjukkan peningkatan mobilitas absoIut dis•babkan   ►leh •spansi struktui.11 dari pekerjaan kerah putih harti yang men­jadi ciri masyarakat industri. Goldthorpe berpendapat bahwa ketidakteraturan histo­ris dari proses yang disebut belakangan itu sulit dijelaskan secara sosiologis (Erikson dan Goldthorpe, 1992): konsentrasi terha­dap mobilitas absolut tidak bisa menghasil­kan analisis kelas yang memuaskan. Akan tetapi, studi historis yang lebih belakangan oleh Prandy dan Bottero (2000) dan Miles (1999) telah menimbulkan keraguan terha­dap beberapa pandangan Goldthorpe. Meski tak mengabnikan arti penting dari kelas sosial, peneliti lain seperti Saun­ders (1996), Noble (2000), Payne (1987), dan Breiger (1990) di AS, telah memfokus­kan pada rata-rata perubahan keseluruhan. Mereka herpendapat bahwa mobilitas juga harus dipahami sebagai sebuah proses yang bekerja di dalam lingkungan LABOUR MAR­KF,T konkret: ketersediaan lapangan kerja, suplai tenaga kerja terlatih, dan praktik or­ganisasional dalam rekrutmen dan promosi. Saunders melangkah lebth jauh dengan menyatakan masyarakat Inggris bukan ma­syarakat relatif tertutup. Pola mobilitasnya berkaitan dengan apa-apa yang diperkirakan akan terjadi iika”kernampuan” didistribusi­kan SeCa ra diferensial antar kelas, yakni meritokrasi. Pengertian social mobility (mobilitas sosial) adalah Kurangnya data mobilitas kon­temporer telah menghambat diskusi klaim Saunders, meskipun ini mungkin hisa diatasi jika studi yang baru membuahkan hasil. Studi-studi ini perlu disesuaikan dengan meningkatnya perubahan sosial yang me­nyebabkan analisis mobilitas tradisional se­makin problematik. Studi-studi awal dapat berkonsentrasi pada lelaki yang beke.rja penuh waktu, namun studi ini tak lagi bisa mengabaikan perempuan sebagai pekerja dengan karir okupasional sendiri dan iden­titas kelas sen.diri, ketika mayoritas wanita menikah adalah karyawan yang digaji (Payne dan Abbott, 1991). Variasi regional bertambah, di mana selatan-timur mendominasi eko­nomi Inggris, sedangkan “utara” mem.iliki tingkat pengan.gguran jangka panjang yang tinggi. Jika benar bahwa “pekerjaan seumur hidup” sudah tidak ada, apa artinya ini bagi pengukuran mobilitas sosial berdasarkan pekerjaan ayah dan pekerjaan anak seba­gai indikator kelas sosial (tentu saja, untuk analisis kelas secara keseluruhan)? Jawaban yang memadai untuk pertanyaan ini akan menentukan seberapa jauh sosiologi dapat memberi kontribusi pada debat publik ten­tang ketimpangan. sosial dan pemerataan kesempatan di dalam masyarakat modern dewasa ini.