Kondisi ekologis.

Pengertian sociobiology (sosiobiologi) adalah Perubahan pene­kanan dalam biologi behavioural terjadi pada pertengahan 1970-an. Pergeseran ini ditan­dai oleh publikasi karya E. O. Wilson, So­ciobiology: The New Synthesis (1975), yang menyatukan pandangan dari ekologi dan biologi populasi dengan pandangan ETI-101,0- GY dan psikologi komparatif. Dalam periode sebelumnya hasil dari berbagai bidang studi hewan mulai menunjukkan penjelasan yang koheren mengenai cara perilaku sosial ber­hubungan dengan kondisi ekologis. Dengan semakin meningkatnya penggunaan teori evolusi Darwin, bukti-bukti yang banyak dan tampak bertentangan mulai bisa dipa­hami dan subjek ini menjadi tampak men­janjikan.

Society of Zoologist.

Istilah “sosiobiologi” dipakai sejak akhir 1940-an; Animal Behaviour Society di AS pada awalnya adalah bagian dari Society of Zoologist yang disebut ” Ani­mal Behaviour and Sociobiology.” Akan tetapi, pengaruh terpenting bagi kelahiran sosiobiologi modern pada 1975 barang­kali adalah publikasi teori W. D. Hamil­ton (1964). Teori ini menjelaskan evolusi perilaku pengorbanan diri dan, yang lebih umum, pemberian bantuan kepada kera­bat selain keturunannya dengan mengor­bankan si pemberi. Hamilton memfor­malisasikan kondisi di mana sebuah gen yang dibutuhkan untuk menghasilkan pola perilaku itu dapat menyebar. Ketika kon­disi itu terpenuhi, setiap karakter yang meningkatkan kesempatan kerabat untuk bertahan hidup dapat meningkat frekuen­sinya karena kerabat-kerabatnya mungkin membawa gen-gen yang diperlukan untuk mengekspresikan karakter tersebut. Ide Hamilton adalah penting sebab ide itu memperbaiki apa yang tampaknya meru­pakan kekurangan dalam teori •volusi )ar­win. Darwin menunjukkan sebtrah proses yang melibatkan beberapa individu lehih mampu bertahan hidup clan berkembang ketimbang individu lainnya. Jika individu yang mampu bertahan atau bisa berkem­bang-biak dengan mudah membawa versi khusus dari karakternya, maka karakter itu akan semakin kuat dalam diri keturunannya. Teori seleksi kerabat Hamilton ini menjelas­kan bagaimana hasil dari proses evolusi kompetitif sering kali adalah kerja sama sia1. Sebenamya, ekstensi intuitif inilah yang menyebabkan banyak hewan mengambil resiko dan melakukan hal-hal yang buruk bagi kesehatan mereka dalam procluksi dan perawatan keturunan. Penjelasan evolusioner lainnya menge­nai kerja sama ini, yang dikemhangkan oleh pakar sosiobiologi modern, adalah bahwa semua partisipan mendapat manfaat secara langsung dari kerja sama. Individu lebih mungkin untuk bertahan hidup dan mere produksi dirinya sendiri apabila ia bekerja bersama yang lain. Bantuan mutual bisa diberikan dalam kegiatan berburu sehingga semua pihak bisa makan; misalnya, anggota pemburu serigala bisa dibagi menjadi kelom­pok pengintai dan penyergap. Pinguin akan bergerombol agar tetap hangat. Gerombolan sapi akan saling berdempetan agar mengu­rangi permukaan yang bisa digigit serangga. Robert Trivers (1971) menunjukkan bahwa dalam hewan yang sangat kompleks, ban­tuan mungkin bersifat timbal balik. jika satu babon jantan membantu pihak lain untuk memperebutkan hetina pada suatts waktu, pada waktu berikutnya ia mungkin akan mendapat bantuan. Kedua jantan itu akan mendapat keuntungan dengan bekerja sama. Penekanan pada kondisi genetik yang di­perlukan untuk ekspresi perilaku sosial, yang eksplisit dalam karya Hamilton, menimbul­kan parabel paling terkenal dalam biologi modern, yakni gen yang mementingkan diri sendiri (selfish gene). Dalam karya Richard Dawkins (1976) evolusi dilihat cialam terni gen yang bertujuan mendapatkan hal terbaik bagi dirinya sendiri. Jelas, pemikiran evolusi semacam ini membantu banyak orang me­mahami dinamika evolusi yang rumit. Penekanan genetik ini juga ada di balik banyak usulan klasik lainnya yang dikemu­kakan oleh mereka yang dikenal sebagai sosiobiolog. Robert Trivers (1972) meng­usulkan bahwa, dalam spesies yang bere­produksi secara seksual, komposisi genetik dari keturunan tidaklah identik dengan induknya yang juga berbeda secara gene­tik satu sama lain. Berdasarkan ini, ketu­runan tidak akan menyelaraskan perilaku­nya dengan induknya sebab keturunan tidak mendapat perawatan yang terus-menerus sedangkan induknya mungkin dalam posisi untuk memaksimalkan proses reproduksi­nya dengan menyimpan tenaganya untuk ke­turunan lainnya. Karena alasan ini si induk mungkin akan menghentikan perawatannya pada saat tertentu ketika keturunannya se­benarnya masih bisa mendapat manfaat dari perawatannya itu. Bukti empiris modern dari mamalia menunjukkan bahwa konflik perilaku tidak terlalu menonjol seperti yang diduga oleh teori konflik kepentingan. Ini mungkin karena adalah penting bagi ketu­runan untuk memonitor dengan hati-hati keadaan induk perawatnya. Trivers (1974) mengembangkan argu­men serupa dalam teori konflik keturunan­induk untuk menerangkan perbedaan seks dalam perilaku parental. Masing-masing induk mungkin akan menggunakan metode berbeda untuk memaksimalkan kesuksesan reproduktifnya sehingga saat yang satu masih memberi perawatan intensif kepada keturunannya, yang satunya lagi mungkin akan mencari pasangan lagi. Sekali lagi ide yang eksplisit memperkenalkan konflik an­tara kepentingan untuk merawat keturunan dengan kepentingan untuk memproduksi keturunan lagi. Tetapi mungkin ada keseim­bangan di dalamnya. Dalam banyak spesies burung, di mana jantan dan betina biasanya merawat anaknya dan salah satu induknya kemudian mati atau menghilang, induk yang masih ada menambah waktu dan energinya untuk merawat anaknya. Ini menunjukkan bahwa masing-masing burung mendapatkan keseimbangan optimal yang mema ksima I­kan kesuksesan reproduksinya. Kerja sama kedua induk itu ini paling baik dijelaskan dalam term sosiobiologi sebagai kepenti­ngan diri yang tercerahkan. Argumen optimalitas berperan penting dalam banyak perkembangan sosiobiologi lainnya. Salah satunya adalah pengenalan teori permainan untuk menjelaskan, misal­nya, campuran dari sikap agresif seperti elang dan sikap jinak seperti merpati. Model sederhana ini menunjukkan bahwa kombi­nasi strategi stabil evolusioner ,‘ESS) dapat dibentuk. Jika satu tipe perilaku menjadi le­bih sering ketimbang perilaku optimum, tipe lainnya akan diuntungkan dan, dalam evolu­si selanjutnya, akan kembali ke proporsi awal pada tingkat optimum. John Maynard Smith adalah tokoh paling menonjol dalam perkembangan teoretis ini. Model-model ini menggunakan asumsi penyederhanaan, seperti reproduksi seksual dan perulangan perilaku, tetapi membantu menjelaskan pe­mikiran tentang cara perilaku berkembang.

Teori evolusi Darwin. Pengertian sociobiology (sosiobiologi) adalah

Pencarian solusi optimal untuk aktivi­tas hewan ternak menjadi perhatian utama ECOLOGY behavioural, subjek yang berkaitan erat dengan sosiobiologi. Misalnya, apa yang mesti dilakukan hewan setelah makanan yang biasanya ada di satu tempat mulai berkurang dan habis? Pada titik mana pen­carian makanan lain akan menjadi solusi yang lebih baik ketimbang tetap berada di tempat semula? Sifat problem ini melahirkan banyak model matematika. Model-model tersebut banyak membantu menghasilkan ekspektasi yang tepat tentang apa yang se­harusnya dilakukan hewan. Hal ini kemu­dian dapat diuji lagi dengan kenyataan di lapangan. Melakukan pekerjaan dengan baik oleh hewan akan tergantung pada ke­tersediaan informasi lingkungan bagi hewan, kemampuan hewan menghitung dan waktu yang tersedia untuk menjalankan perhitun­gan tersebut. Juga, tentu saja, model ini men­gasumsikan bahwa fungsi biologis perilaku tersebut telah diketahui. Adalah mungkin bagi model yang sangat berbeda karakternya untuk menghasilkan hasil yang sama. Jacli, meskipun ilmuwan mungkin berpendapat bahwa mereka telah menyusun desain yang benar, perilaku hewan mungkin bisa beradaptasi dengan tugas yang berbeda. Model yang masuk akal dalam term biologis mungkin bisa dikembangkan dalam term matematis. Pengertian sociobiology (sosiobiologi) adalah Dalam jangka panjang, tidak akan ada susbtitusi riil untuk intuisi biologis dan para teoretisi harus bekerja sama dengan orang yang ahli mengamati hewan. Perilaku seksual masih menjadi topik yang menarik. Apa yang dilihat hewan ketika mereka memilih pasangan? Apa yang dilaku­kan pasangan untuk dinamika evolusi? Apa fungsi seks? Ada pertanyaan-pertanyaan evolusioner yang masih membingungkan orang dan kemungkinan akan terus demiki­an sampai abad depan. Bukti langsung me­ngenai perilaku biasanya kurang banyak, sehingga ahli biologi biasanya membedakan antarhipotesis-hipotesis. Apakah jawaban­nya akan memuaskan atau tidak, masih belum diketahui, sebab sistem perilaku yang diadaptasi oleh beberapa hewan mungkin akan berubah. Walau demikian, deduksi ini menyediakan salah satu cara untuk mengam­bil kesimpulan tentang peran proses evolusi Darwinian terhadap perilaku. Pendekatan tak langsung lainnya adalah menggunakan pengetahuan komparatif berbagai spesies dan habitatnya untuk menganalisis cara perkem­bangan karakter yang berbeda-beda, meng­analisis urutan kemunculan dan signifikansi fungsional dari perubahan evolusioner. Dalam bukunya mengenai sosiobiologi, E. O. Wilson berusaha menggabungkan ber­bagai riset biologi perilaku ke dalam satu tema. Pengertian sociobiology (sosiobiologi) adalah Pendekatan ini menarik karena mere­vitalisasi teori evolusi Darwin dan karena mengawinkan studi perilaku dan biologi populasi. Meskipun demikian, subjek ini tetap menjadi kontroversi, sebagian karena studi perkembangan dan integrasi perilaku, yang merupakan perhatian utama dari etolo­gi dan psikologi komparatif, dianggap tidak relevan atau tak menarik bagi pendekatan baru ini. Terdapat perbedaan opini menge­nai usaha untuk memasukkan cabang biologi khusus ke dalam ilmu sosial dan filsafat moral. Luka sebagai akibat dari konflik aka­demis dan politik butuh waktu lama untuk disembuhkan dan, selama bertahun-tahun, “Sosiobiologi!” menjadi istilah yang terus diperdebatkan dan disalahgunakan. Perten­tangan pelan-pelan mereda dan perselisihan akhirnya padam. Saat ini terjadi, agenda untuk sosiobiologi telah bergabung dengan ekologi behavioural dan kini sedikit berbeda dari subjek tersebut.