Metodologi sosiolinguistik.

Pengertian sociolinguistics (sosiolinguistik) adalah Seperti ter­sirat dalam narnanya, istilah ini mencakup area studi yang menghubungkan bahasa dengan masyarakat. Sebagai penghubung­an antara dua bidang penelitian yang luas, dengan pandangan teoretis dan metodologis yang berasal dari seluruh rentang disiplin, termasuk linguistik, sosiologi dan antropolo­gi, bidang sosiolinguistik belum bisa didefi­nisikan dengan tepat secara teoretis. Juga belum ada kesepakatan tentang batas pe­misah antara eksponen teori dan metodologi sosiolinguistik. Hakikatnya yang belum jelas ini, dan perselisihan tentang status teoretis­nya, bagaimanapun juga tidak mengurangi popularitasnya sebagai subjek akademis. Publikasi-publikasi yang mengacu langsung pada “sosiolinguistis” atau dengan subjudul sosiolinguistik banyak bermunculan sepan­jang tiga dekade terakhir, dengan isi yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan pe­nulisnya mengenai sifat dari disiplin ini.

Sosiologi bahasa. Pengertian sociolinguistics (sosiolinguistik) adalah

Beberapa penulis membedakan antara “dua subdivisi besar dalam bidang” sosioli­nguistik, yang satu merujuk pada LINGUISTIC dan yang satunya lagi pada sosiologi. Dalam konteks ini, subdivisi pertama “diawali de­ngan bahasa, dan kekuatan sosial dianggap memengaruhi bahasa, dan memberi kontri­busi bagi pemahaman bahasa,” sedangkan yang kedua “memandang masyarakat seba­gai titik dasar dan bahasa sebagai problem sosial dan sumber daya sosial” (Fasold, 1984, pengantar). Perbedaan ini mengge­makan apa yang oleh penulis lain dilihat sebagai perbedaan antara sosiolinguistik yang bertujuan linguistik dengan “sosiologi bahasa” (Fishman, 1968) dengan tujuan sosiologis. Yang disebut pertama biasanya terutama dipengaruhi oleh tokoh utama dalam perkembangan sosiolinguistik, Wil­liam Labov, yang menunjukkan bagaimana variasi dalam sistem linguistik khususnya pembicaraan berhubungan secara fungsional dengan SOCIAL STRATIFICATION dari kelompok yang sama. Pemisahan “variabel sosiolin­guistik,” misalnya stratifikasi akhiran dan pra-konsonan (r) dalam pembicaraan orang dewasa New York (cf. Labov, 1966 dan 1970) yang dianggap prestisius dalam komu­nitas itu, akan memungkinkan dilakukannya prediksi mengenai kemungkinan terjadinya bentuk ini berdasarkan perhatian pembicara kepada pembicaraan. jadi ada perbedaan gaya dan sosial: semakin banyak perhatian pembicara kepada ucapan (misalnya dalam membaca daftar kata ketimbang dalam pembicaraan spontan) akan semakin besar kemungkinan munculnya variabel presitse. Dari ini Labov mengemukakan interdepen­densi “variasi fungsional” dari pembicaraan dan “level kultural” seperti persepsi norma (Labov, 1970, hlm. 190). Dia juga menun­jukkan pergeseran gaya di antara bentuk yang kurang lebih prestisius, dan “hyper­correction” dari pembicara kelas bawah un­tuk menyesuaikan diri dengan bentuk yang lebih prestisius, sebagai bukti dari perubahan kesadaran(Aitchison, 1981, Bab 4). Contoh ini menjelaskan mengapa bahkan pada level mikrolinguistik dalam sosiolinguistik garis demarkasi untuk perhatian makrolinguistik dari “sosiologi bahasa” harus dikaburkan, sebab sosiologi bahasa menyangkut kajian atas sikap pembicara terhadap variasi baha­sa, dan kajian mengenai bagaimana sikap ini memengaruhi pilihan bahasa, hilangnya ba­hasa atau pemeliharaan bahasa, dan peren­canaan bahasa, meskipun di sini penekanan­nya lebih pada level masyarakat. Terlepas dari kelas dan daerah, sering kali muncul kontroversi dalam interpretasi mengenai ko­relasi antara kategori linguistik dan sosiologi (untuk diskusi yang bagus mengenai hal ini dalam hal gender, lihat Cameron, 1985; Coates, 1986). Perhatian utama sosiolinguistik di level makro antara lain: (a) kategorisasi masyara­kat atau bangsa sebagai bilingual atau multi­lingual berdasarkan jumlah bahasa berbeda yang dipakai di dalamnya, terlepas dari pe­ngakuan resmi atas bahasa ini sebagai ba­hasa nasional; (b) peran sosial dan politik dari bahasa minoritas; (c) studi “diglossia,” yang mengacu pada diferensiasi fungsional dari variasi bahasa di dalam komunitas percakapan berdasarkan variasi tinggi (H) atau rendah (L) yang biasanya berkorespon­densi dengan domain publik (H) dan privat (L)—contoh yang terkenal adalah diglossia antara bahasa Arab klasik dan bahasa Arab sehari-hari, bahasa Jerman standar dan ba­hasa Jerman-Swiss, dan juga antara bahasa Spanyol (H) dan Guarani (L) di Paraguay (lihat Ferguson, 1959; Fishman, 1967; un­tuk ringkasan lihat Fasold, 1984 Bab 2); (d) definisi dan studi “pidgins” dan “creoles”. Analisis dan deskripsi situasi sosioli­nguistik dalam komunitas percakapan, ma­syarakat atau negara tertentu, biasanya tergantung pada cara pendefinisian kategori tersebut. Pengertian sociolinguistics (sosiolinguistik) adalah Misalnya, ada ketidaksepakatan mengenai apakah variasi standar dari bahasa bisa disebut dialek yang setingkat dengan variasi bahasa sosial dan regional lainnya, dan apakah pembagian sederhana menjadi bahasa standar dan dialek sudah cukup untuk mencakup banyak level variasi sosial dan regional di negara berbeda (lihat Trud­gill, 1974; Barbour dan Stevenson, 1990, Bab S). Definisi “bahasa” sebagai enti­tas luas yang mencakup dialek yang dapat dipahami adalah definisi problematik jika kita mempertimbangkan pula kemampuan pemahaman antara pembicara dari “bahasa yang berbeda” seperti Norwegia dan Den­mark, atau pembicara dialek lokal di perba­tasan Belanda/Jerman (Trudgill, 1974) dan kurangnya pemahaman antar pembicara di beberapa dialek Jerman. Kontroversi juga menyelimuti generalisasi Labov atas basis abstraksi “komunitas percakapan” yang se­cara empiris tidak kuat (Romaine, 1982). Selain dari perhatian terhadap pendefi­nisian objek studinya, sosiolinguistik juga memerhatikan metodologinya. Berbeda de­ngan karya dalam linguistik, yang menerima dan sering kali mengandalkan pada intuisi pembicara atau periset tentang persoalan tata bahasa dari bentuk kalimat tertentu, sosiolinguistik didasarkan pada observasi aktual terhadap perilaku berbicara, lebih disukai yang spontan. Jadi banyak meto­dologi sosiolinguistik berhubungan dengan usaha mengatasi kesulitan memperoleh data semacam itu. Berdasarkan area perhatian yang luas dalam hubungan bahasa dan masyarakat dan rentang metode yang dipakai, beberapa penulis lebih memilih memandang sosioli­nguistik sebagai didefinisikan secara post hoc, berdasarkan topik dan area penelitian yang dilakukan oleh ahli bahasa, antropo­log, sosiolog, dan psikolog sosial di berbagai persilangan antara bahasa dan masyarakat (Fasold, 1990, pengantar). Ini membuat so­siolinguistik tak memiliki teori yang kukuh untuk sementara waktu, tetapi memiliki keunggulan karena tidak membatasi bidang penelitian berdasarkan metode tertentu saja. Pengertian sociolinguistics (sosiolinguistik) adalah Ia tidak menyampingkan konsep sosiolinguistik Hymes, yakni “usaha untuk memikirkan kembali kategori dan asumsi yang menjadi basis karya linguistik, dan tempat bahasa dalam kehidupan manusia” (Hymes, 1974, hlm. vii), tetapi ia juga bisa dilihat sebagai batu loncatan ke arah teori. Pendekatan alternatif terhadap teori tempat bahasa dalam kehidupan sosial dan proses sosial, yang tak lagi hanya sebagai cabang dari linguistik, dengan penekanannya pada perilaku, atau subset sosiologi, dapat dite­mukan dalam karya Halliday tentang tata bahasa sistemik (Halliday, 1978, 1985, 1987) yang dimasukkan dalam semiotika sosial umum.