Landasan epistemologis.

Pengertian sociology of knowledge (sosiologi pengetahuan) adalah Sifat dari pengetahuan merupakan problem utama dari filsafat sejak masa Yunani-Romawi kuno. Plato, misalnya, dalam Theaetetus mengadopsi pendekatan ilmiah untuk pengetahuan dan kognisi, dan ontolo­gi dualistisnya didasarkan pada landasan epistemologis. Filsuf Pencerahan Perancis dan Skotlandia mengakui bahwa semua per­bedaan ilmu sosial berakar pada dunia sosial dan karenanya tunduk pada kontrol ma­nusia. Mereka memahami bahwa berbagai macam faktor sosial, politik dan ekonomi membentuk genesis, struktur dan isi kesa­daran manusia, dan karenanya merupakan awal dari salah satu proposisi ,utama dari sosiologi pengetahuan.

Pengalaman sosiohistoris.

Tetapi pada umumnya filsuf berusaha menunjukkan bahwa sosiologi pengetahuan mustahil atau tidak diinginkan. Kant kare­nanya berpendapat bahwa meski tidak ada persepsi tanpa konsepsi, komponen konsti­tutif dari kognisi tetaplah a priori. Demikian pula, kaum empiris dari berbagai aliran ber­pendapat bahwa pengetahuan (ilmiah) dito­pang oleh pengalaman langsung yang tak di­pengaruhi oleh kondisi sosial. Para filsuf ini sebagian besar berpendapat bahwa faktor di luar teori telah memengaruhi genesis (asal mula) ide tetapi tidak memengaruhi isi dan struktur pemikiran. Filsuf yang lain menolak RELATivism sosiologis dan berusaha meng­atasi keraguan dengan menempatkan penge­tahuan di atas landasan yang kuat, bahkan di luar pengalaman sosiohistoris. Sosiologi pengetahuan, sebaliknya, me­neliti hubungan antara kategori pemikiran, klaim pengetahuan dan realitas sosial­Seinsverbundenheit (keterkaitan eksisten­sial) dari pemikiran (Karl Mannheim). Marx adalah perintis penting bidang ini, dengan teorinya bahwa dalam kondisi tertentu reali­tas ekonomi pada akhirnya akan menentu­kan “suprastruktur” ideologis melalui proses sosioekonomi. Konsep ini masih merupakan isu sentral dalam sosiologi pengetahuan, dan mengilhami beberapa analisis problem produksi kultural, misalnya dalam karya Gyorgy Lukacs. Emile Durkheim juga seorang perintis penting dari sosiologi pengetahuan, meski­pun dia gagal mengembangkan model proses klasifikasi umum. Dia berpendapat, teru­tama dalam The Elementary Forms of the Religious Life (1912) dan dalam Primi­tive Classification (1903, bersama dengan Marcel Mauss), bahwa kategori dasar yang mengatur persepsi dan pengalaman (ruang, waktu, kausalitas, arah) berasal dari struk­tur sosial, setidaknya di dalam masyarakat yang sederhana. Durkheim, Mauss dan juga Lucien Levy-Bruhl, mengkaji bentuk-bentuk klasifikasi logis dari masyarakat “primitif” dan menyimpulkan bahwa kategori kog­nisi dasar berasal dari dunia sosial. Tetapi mereka tidak memperluas analisis ini ke ma­syarakat yang lebih kompleks. Asumsi dasar mereka banyak dikritik, tetapi banyak karya sosiologi masih menggunakan titik awal dari proposisi Durkhemian bahwa klasifikasi se­suatu akan mereproduksi klasifikasi orang. Text Box: Nee	t)•)•)Perkembangan sosiologi pengetahuan berutang budi pada karya Max Scheler dan Karl Mannheim pada 1920-an. Perkem­bangan ini bisa dianggap sebagai ekspresi intelektual di era krisis, dan cirinya yang paling khas barangkali adalah pengakuan bahwa ia berakar pada struktur sosial dan ditentukan oleh faktor sosial. Pandangan ilmu sosial dan sejarah jerman selama peri­ode di mana sosiologi pengetahuan berkem­bang di Jerman bisa dideskripsikan sebagai salah satu “kesadaran tragis.’; Pandangan Georg Simmel mengenai “tragedi kebuda­yaan” dan penegasan Max Weber bahwa proses rasionalisasi yang tak terelakkan me­nimbulkan kekecewaan terhadap dunia dan terhadap bentuk baru perbudakan adalah ekspresi dari periode di mana ahli scjarah, filsuf dan khususnya ilmuwan sosial berd• bat sengit tentang isu-isu yang diangkat ol•h historisisme, relativisme, skeptisisme filosofis dan ketidakpercayaan terhadap Geist. Pada periode inilah sosiologi peng•ta huan muncul sebagai analisis tentang regu­laritas proses sosial dan struktur sosial yang berkaitan dengan kehidupan intelektual dan dengan mode pengetahuan (Scheler), dan sebagai sebuah teori keterkaitan eksistensial dari pemikiran (Mannheim). Kedua orien­tasi itu menjauhi kritik Marxis terhadap ideologi yang memandang ideologi sebagai mistifikasi representasi realitas sosial dan to­peng kepentingan kelompok yang berkuasa dalam masyarakat. Sosiologi pengetahuan, sebaliknya, berkaitan dengan struktur in­telektual dan spiritual sebagai sesuatu yang terbentuk dalam setting sosial dan historis yang berbeda-beda (Mannheim). Max Scheler adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah Wissenssoziologie (sosiologi pengetahuan) pada awal 1920- an, dan dalam Problems of a Sociology of Knowledge (1926) dia menyediakan peng­antar sistematis yang pertama. Dia memper­luas gagasan Marxis mengenai substruktur (lihat BASE AN1) SUPERSTRUCTURE) dengan mengidentifikasi “faktor-faktor riil” yang berbeda (Realfaktoren) yang, menurutnya, mengondisikan pemikiran dalam periode historis yang berbeda dan dalam berbagai sistem sosial dan kultural. “Faktor riil” ini terkadang dianggap sebagai kekuatan ins­tingtual yang diinstitusionalisasikan, dan sebagai mewakili konsep substruktur yang ahistoris. Penegasan Scheler mengenai eksis­tensi dunia nilai eternal dan ide eternal mem­batasi kegunaan gagasannya tentang “faktor riil” untuk menjelaskan perubahan sosial dan kultural. Karl Mannheim memberikan landasan programmatik yang paling ambisius untuk analisis sosiologis terhadap kognisi. Seperti Scheler, dia memperluas konsep substruktur, menunjukkan faktor biologis, elemen psiko­logis dan fenomena spiritual yang mungkin menggantikan relasi ekonomi utama dalam subkultur, tetapi (seperti teori sains yang dominan) dia tidak menganggap bahwa pengetahuan ilmiah dan teknologi dapat di­masukkan ke dalam analisis sosiologis. Dia melakukan riset terhadap kondisi sosial yang diasosiasikan dengan bentuk pengetahuan yang berbeda-beda, dan beberapa dari stu­dinya masih dianggap sebagai contoh utama dari jenis analisis yang bisa dilakukan oleh sosiologi pengetahuan. Selain Ideologi and Utopia (1929) studinya itu mencakup studi kompetisi sebagai bentuk kultural, studi pe­mikiran konservatif, studi problem generasi, dan studi ambisi ekonomi. Mannheim percaya bahwa sosiologi pc­ngetahuan ditakdirkan berperan penting dalam kehidupan intelektual dan politik, ter­utama di era krisis, kekacauan dan konflik, dengan secara sosiologis mengkaji kondisi yang menimbulkan ide-ide yang berlawanan, filsafat politik, ideologi dan produk kultural yang beragam. Dia mengemukakan gagasan bahwa sosiologi pengetahuan adalah pen­ting bagi setiap strategi untuk menciptakan kesesuaian antara politik dan akal, dan upa­ya ini dikemukakannya dalam berbagai esai­nya tentang sosiologi pengetahuan. Secara keseluruhan dia percaya bahwa sosiologi semacam itu mengandung efek transformatif penting terhadap praktisinya: sosiologi pen­getahuan mengajak intelektual untuk menca­ri sintesis. Sosiologi pengetahuan mengubah hubungan intelektual dengan pihak-pihak yang bersaing di dalam masyarakat, mem­beri mereka jarak dan pandangan. Tetapi konsep Mannheim tentang cara sosiologi ini memengaruhi keadaan pengetahuan politik adalah konsep yang fluktuatif dan berubah­ubah. Ada tiga versi utamanya: Sosiologi pengetahuan sebagai mode pe­dagogis dan mode untuk menemui dan bertindak terhadap kekuatan lain yang ada di dalam dunia politik; Sosiologi pengetahuan sebagai instru­men pencerahan, berkaitan dengan pro­ses RATIoNALIzATIoN dan individua­si yang diidentifikasi oleh Max Weber, dan dapat dibandingkan dengan psikolo­gi, berguna untuk membebaskan orang untuk membuat pilihan yang rasional dan bertanggung jawab dengan membebaskan mereka dari kekuatan-kekuatan tersembu­nyi yang tak bisa mereka kontrol; Sosiologi pengetahuan sebagai senjata melawan mitos dan sebagai metode un­tuk menghilangkan bias-bias dari ilmu sosial, sehingga ia bisa mengatasi pro­blem fundamental dan memandu tinda­kan politik yang tepat.

Ma­syarakat modern. Pengertian sociology of knowledge (sosiologi pengetahuan) adalah

Sosiologi pengetahuan belakangan me­ngalami reorientasi ke arah analisis kehidupan sehari-hari dan pengetahuan ilmiah natural dan teknologi (keduanya diabaikan oleh sosiologi pengetahuan klasik). Buku Peter Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (1966), yang ditulis dalam tradisi PHENOMENOLOGY Alfred Schutz dan antropologi filosofis Arnold Gehlen, merepresentasikan pemisahan tegas dari sosiologi pengetahuan klasik. Segala sesua­tu yang dianggap sebagai pengetahuan di dalam masyarakat kini diterima sebagai sub­jek yang sah untuk penelitian sosio1ogis. Pengertian sociology of knowledge (sosiologi pengetahuan) adalah Diilhami oleh perkembangan sejarah sains, sosiologi pengetahuan juga berpaling ke arah analisis empiris terhadap konstruksi sosial dari fakta ilmiah, sering kali dengan menggunakan studi etnografi atas kehidup­an di laboratorium. Riset tentang “pabrik” pengetahuan alam-ilmiah menimbulkan pe­nilaian ulang atas asumsi tradisional menge­nai rasionalitas pengetahuan ilmiah. Dilihat dari lensa “strong programme” dari sosio­logi pengetahuan, pengetahuan ilmiah dan pengetahuan sehari-hari dalam kenyataan­nya adalah sama satu sama lain dalam hal tertentu (lihat SOCIOLOGY OF SCIENCE). Pengetahuan jelas selalu berperan signifi­kan dalam kehidupan manusia. Pengertian sociology of knowledge (sosiologi pengetahuan) adalah Tindakan manusia pada tingkat tertentu selalu didasari oleh pengetahuan. Kekuasaan, misalnya, tak pernah didasarkan hanya pada kekuatan fisik saja, tetapi juga pada keunggulan pe­ngetahuan. Tetapi pada saat ini pengetahuan semakin signifikan ketimbang sebelumnya. Masyarakat industri maju bisa dianggap sebagai “masyarakat pengetahuan.” Penye­baran pengetahuan ilmiah segala bidang ke­hidupan dan tindakan manusia, transformasi struktur dominasi dan ekonomi tradisional, dan menguatnya dampak dan pengaruh dari para pakar, semua itu mengindikasikan me­ningkatnya peran pengetahuan dalam ma­syarakat modern.