Ide Pencerahan.

Pengertian sociology (sosiologi) adalah Meski muncul belaka­ngan dalam ilmu sosial akademik, sosiologi bagaimanapun juga berakar pada abad ke­18, dalam filsafat sejarah, survei sosial awal, dan ide Pencerahan. Dalam tahap awalnya, dan terutama dalam tulisan Auguste Comte, yang memberi nama untuk bidang ini, so­siologi umumnya berorientasi positivis dan evolusionis, dan karakter ini bertahan sam­pai abad ke-19 lewat karya Herbert Spencer, dan dalam cara berbeda melalui Karl Marx, menghubungkan disiplin ini dengan teori Darwin (lihat Soont. DARwlmsm), dengan teori kemajuan, dan dengan proyek refor­masi sosial atau revolusi. Tetapi menjelang akhir abad ke-19 sosiologi mengambil ben­tuk yang agak berbeda, dan pelan-pelan me­mantapkan diri menjadi disiplin akademis melalui tulisan-tulisan dua pemikir utama, Max Weber dan Emile Durkheim, yang, bersama Marx, bisa dianggap karya-karya­nya melahirkan sosiologi Marxis tersendiri (lihat MARxism). Meskipun mereka berbeda pendapat dan pandangan, para pemikir ini punya kesamaan mengenai konsep “ma­syarakat” sebagai objek studi yang dibeda­kan dengan tegas dari negara dan dunia poli­tik, dari sejarah khusus “orang,” “negara,” atau “peradaban”; dan mereka mendefi­nisikan dan menunjukkan prinsip-prinsip dan metode dari “sains masyarakat” yang baru ini. Mereka juga berkonsentrasi pada problem spesifik dari struktur dan perkemba­ngan kapitalisme Barat modern, merespons perubahan besar dalam kehidupan sosial, pertumbuhan gerakan kelas buruh, dan penyebaran ide-ide sosialis. Analisis Marx atas ekonomi kapitalis dan struktur kelas telah amat memengaruhi Durkheim dan Weber, khususnya Weber yang konsep dan interpretasinya dielaborasi dalam berbagai kritik penting terhadap Marxisme (Lowith, 1932). Yang lebih umum, sebagian pemiki­ran sosiologi Eropa di awal dekade abad ke­20 berkisar pada konfrontasi antara Marxis dan teori lainnya.

Karakteristik nasional dan regio­nal.

Tetapi pada saat yang sama, sosiologi juga punya karakteristik nasional dan regio­nal. Pertama-tama ia terbatas di Eropa Barat dan Amerika Utara, yakni, pada wilayah di mana kapitalisme industri berkembang dengan pesat. Namun di dalam wilayah ini sosiologi juga mengambil karakter yang ber­beda di antara negara-negara di dalamnya. Di AS beberapa sosiolog awal, khususnya W. G. Summer, sangat dipengaruhi oleh ide individualisme Spencer, laissez-faire, dan sur­vival of the fittest (Flofstadter, 1955), namun pandangan yang berbeda dan reorientasi pe­mikiran sosial muncul pada pergantian abad itu (White, 1957): sosiolog seperti Lester F. Ward, E. A. Ross, Albion Small dan Thor­stein Veblen, yang dipengaruhi pula oleh ide-ide Marx, menegaskan kembali kaitan disiplin ini dengan gerakan reformasi sosial dan mendukung intervensi negara, sebuah pandangan yang tampak jelas dalam karya jurusan sosiologi di University of Chicago, yang didirikan oleh Small, yang mendomi­nasi sosiologi Amerika selama dua dekade hingga pertengahan 1930-an (lihat IICAGO SOSIOLOGY). Di Inggris, teori evolusi Spencer dikaji ulang oleh L. T. Hobhouse menjadi pemikiran yang lebih kolektivis dan berori­entasi reformasi, yang diasosiasikan dengan teori kemajuan (Collini, 1979), yang terus mendominasi subjek ini hingga pasca-Perang Dunia II, terutama melalui karya Morris Ginsberg. Akan tetapi, sosiologi punya tem­pat kecil di universitas-universitas di Inggris, sedangkan pengaruh Marxisme sebagai teori ekonomi atau teori sosiologi juga kecil. Baru pada paruh kedua abad ke-20 disiplin itu menjadi mapan, dalam bentuk yang seba­gian besar dipengaruhi oleh ide-ide Amerika dan Eropa. Situasi di beberapa negara Eropa kon­tinental sangat berbeda. Di Jerman dan Austria, teori sosial Marxis, yang pertama kali berkembang di luar universitas, tetap mendapat tempat utama sejak awal abad ke-20 sampai awal 1930-an dan amat me­mengaruhi sosiolog lainnya. Tema utama dari sosiologi Weber—asal usul kapital­isme modern, problem interpretasi historis, ekonomi dan masyarakat, kelas dan status, kekuasaan politik—semuanya muncul dari pertemuannya dengan pemikiran Marxis, dan dipengaruhi oleh debat mengenai sifat dari analisis dan penjelasan sosial. Weber juga mengangkat persoalan lebih umum yang berkenaan dengan penjelasan historis, problem objektivitas dalam kaitannya de­ngan orientasi nilai, dan peran penjelasan kausal, yang bertentangan dengan pemaha­man interpretatif, dalam sosiologi dan ilmu sosial lainnya (Outhwaite, 1975). Yang sangat berpengaruh terhadap sosiologi se­lanjutnya bukan hanya tulisan-tulisan meto­dologis Weber, tetapi juga kritiknya ter­hadap Marxisme dan konsepnya mengenai perkembangan masyarakat modern sebagai proses rasionalisasi dunia (Brubaker, 1984). Raymond Aron dan C. Wright Mills meng­adopsi perbedaan Weber antara struktur ke­las dengan sistem kekuasaan politik, meski dalam konteks orientasi politik yang berbeda. Aron, khususnya, mengelaborasi skema petnikiran di mana peran elit (lihat Etstl. THEoRY) dianalisis dalam kaitannya dengan stratifikasi sosial, dan melakukan perban­dingan antara pluralitas elit di masyarakat Barat dengan elit di Uni Soviet (Aron, 1950). Dia mengembangkan sosiologi historis yang dipengaruhi oleh Weber dalam konsepsinya mengenai kemunculan masyarakat industri modern sebagai fenomena khas Western yang menandai pemutusan radikal dalam evolusi masyarakat manusia (Aron, 1967). Yang lebih baru, tema rasionalisasi Weber dikaji secara kritis oleh Habermas (1981) dalam studi komprehensif mengenai pendekatan teoretis yang berbeda-beda untuk subjek ini. Dia menyimpulkannya dengan membeda­kan dua tipe utama masyarakat rasional di masa sekarang, kapitalisme terorganisir dan sosialisme birokratis. Di Perancis, sosiologi Durkheim juga berkembang sebagai lawan untuk teori Marxis, terutama lewat penjelasannya me­ngenai pembagian kerja dan relasi kelas (1893), kuliahnya tentang sosialisme (1928) dan penolakannya terhadap materialisme historis dalam studinya tentang sebab dan fungsi sosial dari agama (1912), tetapi ia juga banyak dipengaruhi oleh konsep ilmu pengetahuan positivis dan neo-Kantian dan oleh filsafat evolusionis Comte. Namun Durkheim, seperti Weber, juga mengangkat persoalan lebih besar tentang cakupan teori sosiologi (Lukes, 1973; Nisbet, 1974), yang dijelaskan secara sistematis dalam bukunya tentang metode sosiologi (1895) di mana dia mengemukakan skema analisis kausal dan fungsional dan penjelasan sosiologis tersen­diri yang sangat berbeda dengan penjela­san psikologis. Konsep sosiologinya terse­bar luas di Perancis pada masa antarperang melalui jurnal yang didirikannya, L’Annee sociologique, yang melahirkan DURKHEIM SCHOOL. Penjelasan ini juga berpengaruh di tempat lain, terutama dalam antropologi sosial Inggris, dan juga sosiologi Amerika sebagai faktor utama dalam perkembangan aliran fungsionalis yang tujuan sosiologis­nya adalah menganalisis cara institusi dan kelompok yang berbeda-beda memberi kon­tribusi pada integrasi dan persistensi seluruh masyarakat (lihat FUNCTIONALISM). Di tempat lain di Eropa kontribusi pa­ling berpengaruh diberikan oleh Vilfredo Pa­reto (1916-19) dan Gaetano Mosca (1896), khususnya dalam teori elit mereka, yang dikembangkan untuk menentang teori ke­las Marxis, yang menimbulkan kontroversi mengenai elit dan demokrasi, dan relasi elit dengan kelas (Bottomore, 1964). Karya Pa­reto juga berpengaruh melalui perbedaan yang dibuatnya antara tindakan “logis” dan “nonlogis” (berkaitan dengan beberapa isu yang diangkat Weber dalam analisisnya ten­tang tipe tindakan sosial), dan argumennya bahwa ke banyak tindakan manusia adalah nonlogis, merupakan hasil dari dorongan dan sentimen yang disebutnya “residu,” yang sering dikamuflasekan dalam doktrin dan sistem teoretis, yang diistilahkan “cle-rivasi” (lihat IDEOLOGY; SOCIOLOGY OF KNOWI.- EDGE). Terdapat perhatian sosiologi pula di Rusia, dan setelah revolusi, Bukharin (1921) menjelaskan “sistem sosiologi” Marxis, namun naiknya Stalin ke arena kekuasaan mengakhiri perkembangannya dan sosiologi diganti dengan doktrin resmi materialisme historis, yang disajikan dalam bentuk teori evolusi kasar yang kurang mengandung re­fleksi kritis atau uji empiris. Pada 1930-an sosiologi menjadi mapan dalam berbagai bentuk di banyak negara in dustri. Di AS, di mana subjek ini diajarkm; di banyak universitas, ia umumnya b•rsilat empiris dan berorientasi reformasi, seperti dalam karya mazhab Chicago, namun senta kin dipengaruhi oleh teori-teori Eropa, yang menyediakan titik awalbagi karya teoreti 1 ‘a I cott Parsons (1937) meskipun teori tinda k an sosialnya berpengaruh besar setelah perang, Di Jerman dan Austria sosiologi sangat di pengaruhi oleh Weber, dan oleh karya ;eorg Simmel (1908) yang memandang disiplin tni sebagai pendekatan baru yang melibat kan analisis “bentuk-bentuk” sosiasi (so•iation) atau interaksi sebagai sesuatu yang berb•dn dengan isi historis dikembangkan lebili jut oleh Leopold von Wi•se (19.33) menintli “sosiologi sistematis” umum, dan oleh sosio­logi Marxis yang dirumuskan dalam Aus­TRo-MARxism. Tetapi perkembangan yang bervariasi dan kuat ini diakhiri setelah 1933 oleh rezim Sosialis Nasional. Di Perancis, disiplin ini didominasi oleh konsep-konsep Durkheim, meskipun konsep tersebut diten­tang oleh kritik Marxis, dan beberapa pengi­kut Durkheim—Halbwachs (1938) dalam studi kelas sosialnya, dan Simiand (1932) dalam sosiologi ekonomisnya—lebih dekat pada sosiologi Marxis dalam menegaskan pentingnya fenomena ekonomi.

Sistem sosial. Pengertian sociology (sosiologi) adalah

Tetapi setelah Perang Dunia II, dan khu­susnya pada 1960-an, terjadi perkembangan pesat sosiologi dan subjek ini menjadi ilmu sosial akademik yang mapan, untuk pertama kalinya dalam skala internasional. Penga­ruh sosiologi Amerika, level perkembangan riset empiris dan ketersediaan dana riset, semuanya amat penting dalam kebangkitan sosiologi di Eropa Barat dan di seluruh du­nia, dan ini tampak dalam dua arah: dalam pertumbuhan pesat riset empiris yang lebih canggih, komparatif dan lintas-nasional, dan dalam dampak dari teori tindakan Parsons terhadap pemikiran sosiologis yang amat besar sebab Parsons banyak mengambil dari konsep-konsep awal, dari karya Pa­reto, Durkheim dan Weber, dalam menyu­sun teorinya sendiri. Teori ini, dalam versi aslinya, mengangkat heberapa persoalan, dan berusaha memecahkan, isu relasi antara tindakan individu atau agen manusia dengan. struktur sosial, seperti pernah dikemuka­kan oleh Simmel dan Weber; namun dalam karya Parsons yang belakangan penekanan­nya adalah pada analisis struktur sosial, atau “sistem sosial” (1951) dan proses evolusi so­sial (1966). Teorinya yang matang ini diang­gap oleh beberapa kritikus sebagai termasuk kategori sosiologi sistem sosial (determinis­tik) yang berbeda tajam dengan sosiologi tindakan yang lebih menekankan pada kon­struksi dunia sosial oleh anggotanya sebagai makhluk yang kreatif dan bertujuan (Dawe, 1978). Tetapi selama dua dekade teori sistem Parsons (juga disebut fungsionalisme-struktural) dimodifikasi dalam beberapa hal oleh R. K. Merton (1949). Modifikasi ini meng­hasilkan paradigma dominan di dalam sosio­logi Amerika. Tetapi pandangan ini selalu ditentang dari perspektif lain, bukan hanya oleh mereka yang mementingkan agen ma­nusia, tetapi juga oleh sosiolog yang berori­entasi historis, entah itu dari kubu Marxis atau Weberian, oleh mereka yang masih bekerja dalam kerangka positivis-empiris, dan oleh pemikir radikal yang mengkritik apa yang mereka anggap sebagai konserva­tisme politik. Penurunan paradigma fungsionalis di­mulai pada 1960-an ketika terjadi transfor­masi besar sosiologi. Konflik internasional, dan khususnya Perang Vietnam, kemun­culan gerakan sosial baru, perkembangan pembangkang dan oposisi di negara Eropa Barat dan Eropa Timur, melebarnya kesen­jangan antara negara kaya dan miskin, telah memicu reorientasi radikal dari pemikiran sosial. Yang menjadi isu utama untuk di­analisis adalah perubahan dan konflik so­sial, bukan lagi integrasi sosial dan regulasi kehidupan sosial berdasarkan norma atau “sistem nilai bersama.” Seperti pernah ditu­lis Weber dalam esainya tentang objektivitas (1904): “akan tiba saatnya ketika situasi berubah Cahaya probleni kultural besar telah muncul. Sains juga harus bersiap untuk mengubah sudut pandang dan konsepnya.” Daiam iklim intelektual baru inilah sosiologi berkembang, sedangkan pengaruh pemiki­ran Marxis Barat (lihat WESTERN MARXISM) meningkat dengan cepat, bahkan menyebar luas ke Eropa Timur saat ortodoksi Stalin terpecah. Reorientasi dan ekspansi disiplin ini di­iringi dengan meningkatnya spesialisasi dan profilerasi area riset baru—misalnya riset konteks sosial dari pertumbuhan ekonomi, bentuk baru imperialisme, peran kekuasaan dalam kehidupan sosial, gender, kelompok etnis dan gerakan sosial—banyak dari riset ini yang mendekatkan sosiologi dengan ilmu sosial lain, terutama ekonomi, antropologi, dan ilmu politik. Tetapi pada saat yang sama keragaman paradigma juga cenderung me­ningkat, dan perpecahan disiplin ini menjadi aliran pemikiran yang berbeda menjadi se­makin menonjol. Pemikiran Marxis, yang mungkin mampu membentuk unifikasi teo­retis, menjadi makin terdiferensiasi sebagai akibat dari reinterpretasi dan rekonstruksi gagasan Marx. Pandangan yang ekstrem dikemukakan oleh Marxisme strukturalis Louis Althusser (lihat STRucTuRALIsm) dan teori kritis FRANKFURT scHoot.. Ada kontroversi di semua ilmu sosial mengenai pendekatan teoretis fundamen­tal, tetapi dalam sosiologi, yang rnengklaim bisa merumuskan prinsip ilmu sosial umum, kontroversi itu selalu tajam dan sengit. Ada tiga isu utama. Pertama berkaitan dengan arti penting struktur sosial—yang meme­ngaruhi pola perilaku, institusi formal—dan kesadaran dalam kehidupan sosial, tindakan individu atau kelompok: apakah masyara­kat harus dilihat sebagai hasil dari tindakan­tindakan ini, atau, sebaliknya, apakah niat individu dan kelompok dan kemungkinan tindakan harus dilihat sebagai produk dari masyarakat. Problem ini diperdebatkan se­jak awal hingga sekarang: oleh Marx (1852) dalam observasinya bahwa “manusia men­ciptakan sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak bisa menciptakannya sekehendak hat­inya”; oleh Simmel (1908) dalam rumusan­nya mengenai “dua karakterisasi manusia yang bertentangan secara logis” yakni se­bagai “produk dan isi masyarakat” dan se­bagai “makhluk otonom”; oleh Berger dan Luckmann (1966) dalam pernyataan mereka mengenai tiga aspek fundamental dalam ke­hidupan sosial, “masyarakat adalah produk manusia. Masyarakat adalah realitas objek­tif. Manusia adalah produk sosial”; dan oleh banyak sosiolog yang berkomitmen pada determinisme sosial dalam aliran strukturalis atau versi lain atau mereka yang berkomit­men pada konsep tindakan individual (khu­susnya tindakan rasional; lihat RATIONAL CHOICE THEoRY) dan interpretasi interaksi antar-individu dalam kehidupan sehari-hari (Wolff, 1978; lihat juga Pt IF.NomEN0LoGY), atau mereka yang berusaha mengatasi opo­sisi ini melalui konsep seperti “destrukturi­sasi” dan “restrukturisasi” (Gurvitch, 1958; lihat STRUCTURATION), atau “produksi diri masyarakat”(Touraine, 1973). Text Box: S1'2 1Isu utama kedua adalah hubungan an­tara struktur sosial dengan perubahan histo­ris. Jenis strukturalisme yang diperkenalkan dalam antropologi sosial oleh Levi-Strauss (1958) dan kemudian masuk ke dalam sosiologi, umumnya bersifat historis dan sering menolak kemungkinan atau relevansi penjelasan historis, dan karenanya berkon­flik dengan teori perubahan sosial dan perkembangan sosiologis, entah itu Webe­rian, Marxist atau evolusionis. Dalani kasus teori Marxist problemnya mungkin dipecah­kan dengan menggunakan ide “kontradiksi struktural” (Godelier, 1972), tetapi tendensi umum pemikiran strukturalis adalah mem­pertanyakan manfaat penjelasan historis dan memandangnya sebagai konstruksi ideologis yang arbitrer. Pengertian sociology (sosiologi) adalah Namun Goldmann (1970) menjelaskan “strukturalisme genetik” dan berpendapat bahwa dari sudut pandang ini struktur yang menyusun perilaku manusia bukan “fakta universal,” namun “fenomena yang berasal dari asal-usul masa lalu” yang transformasinya membayangi “evolusi masa depan” (lihat juga Piaget, 1968). Isu ketiga, yang bersinggungan dengan kedua isu lainnya, berkaitan dengan sifat umum dari penjelasan sosiologis dan khu­susnya dengan gagasan CAUSALITY dalam kehidupan sosial. Di sini terdapat perbedaan luas antara penganut penjelasan kausal, dalam bentuk positivis atau realis (lihat Posmvism; REAusm), mereka yang mendu­kung penjelasan dalam term keadaan-tujuan (fungsionalisme), dan mereka yang menolak ide penjelasan kausal apa pun untuk proses sosial dan lebih memilih interpretasi makna tindakan manusia (lihat HERMENEUTIC). Se • mua sosiolog utama telah bergelut dengan persoalan ini: Marx, yang menunjukkan “positivisme laten” (Wellrner, 1969), metode realis atau dialektis (lihat Dinu.cnc) atau metode fenomenologi; Weber, yang pandan­gannya mengenai sifat sosiologi mendekat­kan penjelasan kausal dengan pemahaman makna, yang keduanya diperlukan untuk memahami kehidupan sosial secara lengkap; dan Durkheim, yang mendukung penjelasan kausal dan fungsional, meskipun dia lebih banyak menggunakan penjelasan fungsional dalam studi-studinya. Meskipun ada problem dan perbedaan mendasar ini, sosiologi sangat memengaruhi pemikiran sosial modern; sebagian karena perhatian pada sifat dan prinsip utama ilmu sosial inilah maka sosiologi menjadi titik utama debat yang, meski tidak memecahkan problem, bisa menjelaskan kesulitan-kesu­litan spesifik dari generalisasi dan penjela­san kejadian dan proses sosial (Outhwaite, 1987). Namun pemikiran sosiologi juga ber­pengaruh dalam hal lain, yakni menyajikan pemahaman konteks sosial yang lebih luas. Banyak dari studi sosiologi yang paling me­narik dibuat bersama dengan disiplin lain: misalnya, dalam sosiologi ekonomi di mana tradisi ekonomi politik dimunculkan kemba­li dan penelitian Weber (1921) dan Schum­peter (1942) dinilai kembali sebagai titik awal studi; dalam sosiologi politik di mana penjelasan institusi politik formal diperluas oleh studi tentang partai, pemilu, kelompok penekan dan gerakan sosial, dan analisis konsep-konsep seperti demokrasi, birokrasi dan kewarganegaraan; dalam perluasan riset sejarah sosial, yang dalam beberapa kasus dilihat sebagai sejarah struktur sosial (Burke, 1980); dan banyak studi tentang perkembangan Dunia Ketiga di mana para sosiolog, antropolog, ekonom dan ilmuwan politik berpartisipasi dan terkadang ikut bekerja sama. Pengertian sociology (sosiologi) adalah Dalam domain lain sosiologi juga memengaruhi ilmu ekonomi pascape­rang dan SociAt. PoLicY, melalui riset terha­dap perkembangan negara kesejahteraan di negara-negara industri (Marshall, 1970) dan negara industri baru, dan riset terhadap sifat probiem sosial dan efektivitas tindakan un­tuk mengatasinya (Wootton, 1959; Merton dan Nisbet, 1961). Prestasi sosiologi dalam bidang yang berbeda-beda ini adalah prestasi riil dan subs­tansial, memperluas pengetahuan kehidupan sosial dan menyediakan basis empiris dan rasional untuk pembuatan kebijakan. Wa­lau demikian, terdapat kekecewaan dengan berlanjutnya perpecahan dan fragmentasi di dalam disiplin yang tampaknya merentang di sepanjang bidang yang luas, mulai dari filsa­fat ilmu ke penelitian detail terhadap keane­han bentuk aktivitas manusia yang mungkin menjelaskan atau malah mengaburkan kon­disi manusia secara umum. Masih diperta­nyakan apakah akan terwujud disiplin yang koheren secara intelektual, yang mengisi harapan akan adanya ilmu masyarakat para­digmatis yang menyatu, atau apakah me­ningkatnya spesialisasi akan diiringi dengan perkembangan model dan meningkatnya pertikaian antar pendukung teori-teori yang berbeda.)Di masa mendatang, dalam waktu dekat, tampaknya yang mungkin terjadi adalah kemungkinan yang kedua, namun konsekuensinya belum semuanya jelas; kon­troversi setidaknya akan memastikan bahwa sosiologi tetap merupakan bidang yang hidup dan kritis, bukan sekadar menjaga status quo, dan ide-ide baru mungkin akan bermunculan dan memberi pengaruh baru pada pemikiran sosial dan bentuk-bentuk kehidupan sosial.