PENGERTIAN SOSIOLINGUISTIK

By On Monday, August 26th, 2013 Categories : Bikers Pintar

siciolinguistics (sosiolinguistik)

Pendiri linguistik modern, Saussure (1966 [1916]) membagi konsep bahasa menjadi langue, bahasa sebagai sistem yang diidealisasikan, dan parole, kemampuan berbicara (speech) atau realisasi dari sistem di mana orang-orang berbicara secara aktual di dalam lingkungan tertentu. Disamping itu ia juga menggunakan istilah lain, langage, untuk kemampuan berbicara yang disistematisasikan: sistem yang terletak di balik variasi dalam bahasa yang digunakan oleh individu-individu dalam lingkungan yang berbeda. Yang menjadi inti dari sosiolinguistik adalah bahasa yang menggunakan, tanpa preferensi gaya bahasa, kebiasaan khusus dan kesalahan dari pembicara individual, tetapi tetap dengan memperhatikan perbedaan sistematis yang berkaitan dengan variasi sistematis dari latar belakang sosialnya.

Sosiolinguistik dapat dipahami dari spektrum tujuan sosiologi atau lingusitik. Karena sosiologi dikaitkan dengan struktur sosial dan kelompok sosial, institusi dan proses, maka sosiolinguistik akan meneliti pertanyaan tentang bagaimana bahasa bisa menjadi mediasinya: bagaimana bahasa mengekpresikan hubungan kekuasaan antar kelompok sosial, merefleksikan karakteristik dari institusi seperti hukum dan pemerintah, dan bagaimana bahasa mensosialisasikan norma-norma perilaku masyarakat kepada anak-anak, atau mengorganisasikan mereka ke dalam peran yang semestinya. Kontribusi khusus dari sosiolinguistik untuk sosiologi mungkin adalah menjelaskan studi proses sosial dan teori kesatuan sosial atau konflik sosial.

Linguistik dikaitkan dengan bahasa dan, karena itu, sosiolingusitik yang memandang dari tujuan spektrum disiplin ini akan membandingkan dan mempertentangkan pilihan bahasa yang dibuat oleh orang atau kelompok, baik itu secara sadar maupun tidak, berdasarkan rasa memiliki atau keinginan untuk memiliki kategori sosial yang berbeda, dan berdasarkan niat mereka di dalam situasi yang komunikatif di mana mereka menemukan diri mereka sendiri. Pilihan antara bahasa yang berbeda (Perancis atau Inggris di Quebec), gaya atau variasi bahasa (dialek Yorkshire atau Inggris standar), atau varian dari variabel bahasa (ada atau tidaknya variabel “ne” dalam negasi di Perancis), dikondisikan oleh situasi komunikasi dan mengandung konsekuensi bagi maknanya: pilihan yang berbeda akan menyampaikan pesan yang berbeda untuk rekan berbicara. Kontribusi dari sosiolinguistik untuk linguistik lebih diorientasikan pada studi makna, meneliti aturan, tata bahasa yang selalu berubah dalam latar belakang sosialnya. Dalam hal ini sosiolinguistik dan linguistik fungsional saling bekerja sama (Halliday 1985).

Tetapi karena sosiolinguistik bukan sosiologi atau linguistik, maka sosiolinguistik menggabungkan pandangan dari linguistik dengan sosiologi untuk meneliti perilaku berbicara (atau, lebih tepatnya, perilaku komunikatif) dari manusia. Para sarjana dan berbagai studi-studi telah melintasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari makrososiolinguistik, yakni survei sikap dan penggunaan kelompok dalam skala besar, yang menggunakan metode ilmu-ilmu sosial yang relevan (khususnya metode kuantitatif), sampai kepada mikrososiolinguistik, yang berhubungan dengan interaksi skala kecil, dan dekat dengan analisis percakapan dan etno-metodologi, dan biasanya menggunakan metode kualitatif. Demikian juga, sosiolinguistik mencakup usaha, yang erat kaitannya dengan perencanaan bahasa dan sosiologi (dan politik) bahasa, untuk memahami masyarakat, institusi sosial, dan proses sosial sebagaimana diperantarai oleh kekuatan sosial (bagaimana yang kuat memanipulasi wacana).

Dalam sebuah studi seminal di pertengahan 1960-an, Willam Labov (1966) meneliti bagaimana variabel bahasa tertentu direalisasikan secara berbeda oleh strata sosial yang berlainan. Di dalam lingkungan urban New York pelafalan “r” yang berbeda secara sistematis berkaitan dengan latar belakang (formalitas dan informalitas) dan kelas (pekerja dan menengah) sosial, dan karena itu Labov dapat menunjukkan bahwa ada dialek sosial yang tidak dapat diidentifikasikan. Perbedaan dalam pengucapan varian dari variabel bahasa secara sistematis berkorelasi dengan varian dari variabel sosial melalui pengukuran kuantitatif dari keduanya.

Yang mendasari sosiolinguistik Labovian adalah sosiologi “konsensual”: strata sosial dapat hidup berdampingan (coexist mobilitas struktural dan individual dapat dimungkinkan, dan masyarakat diorganisasikan dalam lingkup kontrak sosial yang diakui yang membuat komponen-komponennya dapat berfungsi sebagai satu kesatuan. Studi-studi “variasionis” tetap merupakan bagian signifikan dari sosiolinguistik (Gardner-Chloros 1991; Trudgill 1974).

Sementara itu di Inggris, Basil Bernstein (1971-5) menghubungkan penggunaan bahasa dengan kelas sosial, dan menemukan bahwa anak-anak kelas pekerja menggunakan bahasa yang “terbatas” sedangkan anak-anak kelas menengah mengontrol kode bahasa yang “berkembang.” Interpretasi dari karyanya menyimpulkan bahwa dialek sosial ditentukan oleh keadaan sosial, dan bahwa dialek kelas pekerja adalah kurang sempurna (atau bahkan cacat).

Implikasi dari sosiolinguistik korelasional ini disusun dalam program pendidikan di Amerika dan Inggris: untuk mengatasi kekurangan bahasa dari anak-anak kelas pekerja harus ditempuh melalui pendidikan dengan mengajari mereka bahasa kelas menengah. Di Amerika, dan kemudian di Inggris dan Eropa pada umumnya, “kelas sosial” dan “kelompok etnis” kulit hitam di Amerika, kaum imigran di Eropa dengan cepat dianggap sebagai, atau sinonim dengan, “terbelakang secara sosial.” Muncul reaksi terhadap hipotesis “defisit” ini: yang menjadi kelemahan bukan defisit, tetapi perbedaan, sehingga sepanjang tahun 1980-an prioritas pendidikan bergeser untuk menerima keragaman bahasa di dalam kelas mengajar dengan bahasa standar (kelas menengah kulit putih) dianggap sebagai pendekatan asimilasionis, dan bahkan dianggap berbau rasis. Sosiolinguistik pendidikan tetap merupakan fokus studi utama, dan telah memasukkan sosiolinguistik ke dalam studi kebijakan dan politik (misalnya, Fairclough 1989).

Dalam sosiolinguistik, riset diawali dengan mempertanyakan maksud dan tujuan dari studi korelasional. Data memang diperlukan, tetapi apakah yang sesungguhnya ditunjukkan oleh data? Linguistik “murni,” “inti” atau”mainstream,” yang menitikberatkan pada pembicara-pendengar yang teridealisasikan dan sistem bahasa abstrak, meski pun pada umumnya mengabaikan sosiolinguistik, ingin mengetahui bagaimana penggunaan ba hasa berkaitan dengan teori masyarakat: bagaimana institusi dan proses-proses sosial berkaitan dengan bahasa?

Untuk pertanyaan terakhir tersebut, Haber- mas (1979), Foucault (1970), dan Bourdieu (1982) memberikan beberapa jawaban dari sosiologi “konflik” : penggunaan bahasa merupakan wadah utama bagi perjuangan kekuatan-kekuatan sosial dalam sejarah. Kelas sosial yang dominan memastikan reproduksinya sendiri dengan hegemoni: yakni penggabungan dari ideologinya ke dalam diskursus yang telah diakui. Bahasa standar tidak lebih dan bentuk wacana dari pihak elit, standarisasi bahasa merupakan paralel linguistik dari rasionalisasi ekonomi, dan perjuangan sosial untuk meraih dominasi dan reproduksi direpresentasikan melalui penguasaan” kapital sosial dari bahasa elit. Pendidikan merupakan proses eliminasi: mereka yang berhasil akan bergabung dengan elit dan mempertahankan eksklusivitas mereka, bahkan jika perlu dengan mengubah bentuk diskursus dari elit. Yang melandasi sosiolinguistik adalah ketegangan dan perjuangan yang terus-menerus antara yang didominasi dan yang mendominasi.

Karena itu sosiolinguistik, menurut beberapa sarjana, menjadi studi tentang dominasi kelompok sosial melalui wacana, baik itu kelompok-kelompok yang dibedakan oleh status sosial (kelas), bahasa (regional atau minoritas non-teritorial), ataupun gender (meneliti bias gender yang melekat dalam bahasa, khususnya dari sudut pandang feminis).

Adakah unit minimal bagi sosiolinguistik, yakni elemen dasar yang menyatukan bahasa dan latar belakangnya sedemikian rupa sehingga seseorang dapat mengkarakteristikkan kontras antar peristiwa individual? Karya-karya awal mengidentifikasi kompetensi komunikatif individu dalam setting komunikasi sebagai basis untuk pendekatan yang lebih menyeluruh ketimbang identifikasi variabel bahasa yang terfragmentasi. Sekarang, mungkin, kita perlu mempertahankan empat aspek dari latar belakang bahasa (dan mungkin semua ilmu sosial), yaitu: ekspresi diri, identitas (sosial), kebiasaan dan tujuan, dan ekspresi mereka dalam komunikasi (tidak selalu melalui bahasa saja), sebagai pembentuk basis bagi unit minimal tersebut.

PENGERTIAN SOSIOLINGUISTIK | ADP | 4.5