Analisis sosiologi.

Pengertian structuralism (strukturalisme) adalah Metode pe­nelitian atau paradigma ini menjadi ber­pengaruh sepanjang 1960-an dan 1970-an, meskipun ia punya anteseden pada periode sebelumnya. Dalam analisis sosiologi kon­sep struktur, dalam berbagai rumusannya, menempati tempat sentral (Bottomore dan Nisbet, 1978, Bab 14) dan sejumlah ko­mentator (Piaget, 1968; Kolakowski, 1971; Schaff, 1974) mencatat bahwa konsep ini adalah elemen utama dalam pandangan fi­losofis umum dan sains di era 1930-an, yang tercermin dalam pengaruhnya pada bidang seperti matematika, biologi, linguistik, dan psikologi gestalt. Tetapi gerakan struktura­lis yang lebih belakangan mengemukakan klaim yang lebih besar, menekankan pen­tingnya identifikasi dan analisis “struktur dalam” yang mendasari dan menghasilkan fenomena yang dapat diobservasi. Dalam hal ini ia punya kaitan dengan filsafat sains realis modern (Bhaskar, 1975); dan memper­luas pendekatan strukturalis ke dalam ilmu sosial dan manusia. Strukturalisme, yang berakar pada linguistik, di mana awal mu­lanya dijumpai dalam tesis yang dijelaskan oleh Prague Linguistic Circle pada 1929 (Robey, 1973, Pengantar), kemudian masuk ke dalam kritik sastra, teori estetika dan be­berapa ilmu sosial—khususnya antropologi, melalui karya Claude Levi-Strauss, sosiologi,terutama dalam bentuk Marxisme struk­turalis Althusser, dan sejarah, di mana ide “sejarah struktural” dalam karya ANNALES SCHOOL dikaitkan dengan beberapa konsep strukturalis umum.

Antihumanis. Pengertian structuralism (strukturalisme) adalah

Sebagai pendekatan teoretis yang luas dalam ilmu sosial, strukturalisme dapat diketahui melalui penentangannya terha­dap humanisme, historisisme dan empiris­me. Strukturalisme bersifat antihumanis dalam pengertian bahwa kesadaran dan tindakan individu dan kelornpok sosial dike­luarkan dari analisis dan proposisi penjela­sannya dilihat dalam kerangka “kausalitas struktural.”Pandangan ini dengan jelas diekspresikan oleh Maurice Godelier (1966) ketika dia membedakan dua macam kondisi bagi kemunculan, fungsi dan evolusi setiap sistem sosial—aktivitas intensional dan properti nonintensional yang inheren dalam relasi sosial—dan ia menekankan pada yang disebut belakangan. Dia berpendapat bahwa dasar atau basis utama transformasi sosial dapat dijumpai dalam kompabilitas atau inkompabilitas antara struktur dengan perkembangan kontradiksi di dalam struk­tur. Oposisi humanis/strukturalis juga tam­pak dalam diskusi yang mempertentangkan nalar “dialektik” dengan nalar “analitis” oleh Claude Levi Strauss (1962, Bab 9) dan oleh Jean-Paul Sartre (1960), yang investigasi metodologisnya didesain untuk menjelaskan relasi antara kondisi struktural dan tindakan intensional—”proyek”—dari individu, dan untuk memperkenalkan pandangan indivi­dualistis dan humanis dari eksistensialisme. Pengertian structuralism (strukturalisme) adalah Antihistorisisme dimanifestasikan dalam karya Levi-Strauss yang lebih mementingkan investigasi sinkronis ketimbang diakronis, dengan tujuan menemukan karakteristik struktural universal dari masyarakat manu­sia dan mengaitkan karakteristik ini dengan struktur universal dari pikiran manusia; dan di sini strukturalisme menunjukkan kedeka­tannya dengan teori linguistik modern (Ly­ons, 1970, hlm. 99). Beberapa strukturalis Marxis, terutama Hindess dan Hirst (1975, Kesimpulan), mengemukakan pandangan antihistoris dengan kuat. Mereka menolak pandangan bahwa Marxisme adalah ilmu sejarah, sebab semua usaha untuk merumus­kan penjelasan historis muncul sebagai dok­trin teleologis, bukan teori ilmiah. Struktural­isme juga antiempiris, dalam pengertian yang sama seperti filsafat sains realis, berdasarkan penekanannya pada kecukupan kausal dari struktur dalam yang mendasari kejadian di permukaan. Aspek ini dikemukakan dengan jelas oleh Godelier (1973, hlm. 35) dalam kritiknya terhadap “fungsionalisme empiris klasik,” yang menurutnya “karena menga­caukan struktur sosial dengan relasi sosial eksternal menjadikannya tetap terpenjara dalam sistem sosial yang dikaji, dan tidak ada kemungkinan mengungkap logika di bawah permukaan.” Pengertian structuralism (strukturalisme) adalah Salah satu ciri utama gerakan struktura­lis adalah kedekatannya dengan Marxisme. Levi-Strauss menganggap Marx sebagai titik awal bagi pemikirannya sendiri, dan strukturalisme menjadi sarana utama un­tuk menyampaikan orientasi Marxis ke dalam antropologi (Godelier, 1973; Bloch, 1975; Seddon, 1978). Dalam sosiologi, dan juga antropologi, Marxisme strukturalis Al­husser, yang sangat dekat dengan orientasi pemikiran strukturalis umum, namun lebih fokus pada elemen yang sentral dalam teori Marx—mode dan relasi produksi, relasi antara level kehidupan sosial yang berbeda­beda (ekonomi, politik dan ideologi) dan kontradiksi struktural—berpengaruh besar terutama pada studi bentuk-bentuk masya­rakat, kelas sosial dan negara. Pendekatan strukturalis dikritik sejak awal oleh pengikut sudut pandang metodo­logis lain dalam ilmu sosial (misalnya, Leach, 1967) dan strukturalis Marxis dikritik oleh pemikir di luar aliran Marxis. Pada akhir 1970-an pengaruh strukturalisme menurun dan pada dekade selanjutnya -ia dibayangi oleh bangkitnya poststrukturalisme atau postmodernisme (lihat MODERNITY AND POST­MODERNITY), di mana ide struktur objektif dan tetap dari makna atau relasi sosial mu­lai ditinggalkan (Eagleton, 1983, Bab 4). Dalam cara yang kurang ekstrem, teoretisi sosial lainnya memperkenalkan kembali per­tanyaan tentang relasi antara struktur dan agen manusia, atau struktur dan pertibal►mi historis, ke dalam diskusi metodologis. l’er­soalan-persoalan tersebut merupakan tema yang sering muncul dalam pemikiran sosial.