Angka bunuh diri.

Pengertian suicide (bunuh diri) adalah Karya Emile Durkheim (1897) tetap merupakan teori sosial tentang bunuh diri yang paling lengkap, komprehen­sif dan berpengaruh. Durkheim berpendapat bahwa konsistensi angka bunuh diri adalah sebuah fakta sosial, dijelaskan oleh sejauh mana individu terintegrasi dan diregulasi oleh kekuatan moral yang membatasi ke­hidupan kolektif. Bunuh diri egoistik dan al­truistik muncul dari situasi under-integration dan over-integration dari individu dalam masyarakat, sedangkan bunuh diri anomik dan fatalistik disebabkan oleh under-regula­tion dan over-regulation. Durkheim meng­gunakan korelasi antara bunuh diri dengan beberapa asosiasi eksternal untuk menun­jukkan validitas konsepnya. Misalnya, po­pulasi Katolik memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah ketimbang Protestan se­bab masyarakat Katolik mengikat individu – kepada kolektivitas secara lebih kuat. Menu­rut Durkheim, meningkatnya egoisme dan ANOMIE menyebabkan peningkatan angka bunuh diri di masyarakat Barat. Akan tetapi, egoisme bukan konsekuensi niscara dari ma­syarakat industrial. Iga (1986) telah menun­jukkan bagaimana kebanyakan bunuh diri di Jepang modern berasal dari rasa malu individu karena gagal memenuhi tuntutan kelompok.

Kekuatan moral.

Subjektivitis berpendapat bahwa usaha untuk memahami bunuh diri harus didasar­kan pada makna bahwa pelaku bunuh diri melakukan tindakannya sendirian (Douglas, 1967; Baechler, 1979). Douglas, misalnya, dalam menolak data statistik dan mendu­kung data etnografik, menyebut data etno­grafik sebagai “konkret dan dapat diamati.” Akan tetapi, dalam mengasumsikan bebera­pa jenis akses langsung ke dunia melalui ob­servasi, dia hampir mengikuti tradisi positi­vis yang dikritiknya. Teori psikoanalitik mengenai bunuh diri, yang diawali oleh Wilhelm Stekel dan Alfred Adler, berfokus pada agresi salah tempat se­bagai motif bunuh diri. Freud (1917), yang membandingkan sikap berkabung den­gan melankolis, berpendapat bahwa, dalam melankolia libido yang bebas surut menjadi ego yang membangun identifikasi dengan objek yang hilang. Jika animositas ke arah bagian ego yang mengidentifikasi objek yang hilang cukup besar, maka ego bertindak untuk menghancurkan identi­fikasi itu dan karenanya menghancurkan dirinya sendiri. Pengaruh hipotesis Freud dalam Beyond the Pleasure Principle bahwa bunuh diri merepresentasikan kemenangan atas insting kematian dewasa ini sudah jauh berkurang bahkan di kalangan psikoanalis. Akan tetapi, ide ini dikembangkan dalam karya Menninger (1938), yang menginter­pretasikan beberapa perilaku yang meru­sak dan berpotensi membahayakan sebagai perilaku bunuh diri parsial atau kronis. Un­tuk melakukan bunuh diri, si pelaku bukan hanya harus mau mati, tetapi juga bersedia dibunuh atau membunuh.

Teori Durkheimian dan Freudian. Pengertian suicide (bunuh diri) adalah

Teori Durkheimian dan Freudian pu­nya lebih banyak kesamaan ketimbang yang diperkirakan. Keduanya menggunakan analisis teoretis untuk mengungkapkan pe­nyebab dasar dari tindakan manusia. Kedua­nya menjelaskan bunuh diri dalam term perkembangan normal dari individu dan masyarakat, dan keduanya mengeksplorasi ketegangan yang muncul dari hubungan rapuh antara unsur “kebinatangan” dan “makhluk sosial” yang ada di dalam diri se­seorang. Sebaliknya, “suicidology” modern (kini merupakan disiplin di AS, yang punya jurnal dan asosiasi tersendiri) cenderung di­landaskan pada epistemologi empiris dengan “teori-teori” tren khusus dalam bunuh diri yang “muncul” dari data. Teori psikologis dan biologis bunuh diri cenderung mencari “faktor-faktor” yang mengkarakteristikkan, atau yang lebih me­nonjol dalam, individu yang cenderung bunuh diri. Pengertian suicide (bunuh diri) adalah Psikologi kognitif misalnya menunjukkan bahwa bunuh diri dicirikan oleh proses pemikiran yang lebih terbatas, terpolarisasi dan kurang imajinatif (Neu­ringer, 1976). Serangkaian studi psikologis sosial telah mengidentifikasi individu yang cenderung bunuh diri memiliki nilai yang lebih tinggi pada skala, misalnya, “keputus­asaan,” “permusuhan,” dan harga diri yang rendah. Akan tetapi, kurangnya konsistensi dan kesulitan dalam membuat perbandingan berasal dari fakta bahwa skala yang terkait konteks tersebut bukan “ukuran” dalam pengertian objektif. Faktor genetik dan biologis menawar­kan indikator yang mungkin lebih objektif. Misalnya, sejumlah studi telah menemukan “hubungan antara perilaku bunuh diri de­ngan level rendah serotonin metabolite 5- hydroxy-indoleacetic acid (5-HIAA) dalam cairan cerebrospinal (Brown, et al., 1982). Akan tetapi, usaha untuk menjelaskan hubungan ini menghadapi kesulitan untuk menghubungkan ukuran biologis yang cang­gih dengan skala psikometrik. Korn, et al., (1990) berpendapat bahwa tanpa “pengu­kuran” fungsi psikologis yang baik, “revo­lusi biologis dalam psikiatri mungkin akan tampak kacau.” Pengertian suicide (bunuh diri) adalah Pendefinisian bunuh diri umumnya ti­dak dianggap sebagai problem. Bunuh diri adalah tindakan sengaja untuk membunuh diri sendiri. Akan tetapi, riset terhadap si­fat tindakan bunuh diri, fatal, dan nonfatal, telah menentang gagasan konvensional bah­wa semua kematian akibat bunuh diri “yang asli” dimaksudkan untuk kematian dan kare­nanya dapat dibedakan dari berbagai tinda­kan bunuh diri “palsu,” seperti “mencari pertolongan,” di mana niatnya adalah agar tetap hidup. Stengel adalah salah satu orang yang menunjukkan bahwa kebanyakan tindakan bunuh diri, termasuk mayoritas dari tindakan yang berakhir dengan kema­tian, adalah manifestasi dari perilaku yang berisiko, dilakukan dengan niat yang men­dua dan akibatnya tidak pasti (Stengel dan Cook, 1958). Beberapa periset mengguna­kan istilah “parasuicide” untuk mendeskrip­sikan perilaku yang, meski tidak termasuk kategori bunuh diri, lebih dari sekadar isyarat manipulatif. Observsi ini memenga­ruhi usaha mendefinisikan dan menteorisa­sikan bunuh diri. Stengel (1973) mendefi­nisikan bunuh diri sebagai “setiap tindakan yang disengaja untuk membahayakan diri sendiri yang menyebabkan si pelaku tidak bisa bertahan hidup.” Mungkin pertanyaan utama untuk riset sekarang ini adalah bukan mengapa orang bunuh diri, tetapi mengapa banyak orang (sekitar 100.000 setahun di Inggris dan Wales) mengambil resiko meng­hilangkan nyawanya sendiri dalam apa yang oleh Stengel disamakan dengan cobaan abad pertengahan? Etika bunuh diri tak lagi berfokus pada kesalahan moral. Pemikiran modem lebih bersimpati terhadap bunuh diri, tetapi be­lum diketahui tentang apa yang mendorong individu memisahkan dlri dari masyarakat. Di abad ke-20, dengan populasi yang makin menua dan sumber daya yang menipis, ke­munculan kembali bunuh diri sebagai tang­gung jawab sosial, bahkan kewajiban, tak lagi dapat diabaikan.