Elemen dan relasi.

Pengertian system theory (teori sistem) adalah Istilah sistem mencakup sistem mesin, organisme, psiko­logi dan sosial, yang berbeda dengan tindak­an individual dan bagian-bagian. Sistem adalah sekumpulan elemen dan relasi, dipi­sahkan oleh batas-batas lingkungannya, yang selalu lebih kompleks ketimbang sistem itu sendiri (lihat Hall dan Fagen, 1968; All­port, 1968). Menurut Niklas Luhmann, “Perbedaan dalam kompleksitas” antara sistem dan lingkungan tempat sistem berada adalah “problem fundamental bagi teori sistem, poin utama dari referensi analisis fungsional” (Luhmann, 1970-90, vol. 2, hlm. 210; lihat juga FUNCFIONALISM).

Sistem psikologis. Pengertian system theory (teori sistem) adalah

Sistem sosial mungkin berupa interaksi, organisasi atau masyarakat secara keselu­ruhan. Sistem sosial, seperti halnya sistem psikologis, mungkin dikarakteristikkan ber­dasarkan penggunaan maknanya. Akan teta­pi elemen-elemennya bukan person, manusia atau subjek, namun tindakan intersubjektif atau komunikatif (lihat COMMUNICATION). Sistem sosial mengoordinasikan tindakan. Tetapi sistem itu bukanlah bentuk kehidupan sosiokuktural atau kehidupan             y.ing dicirikan oleh fakta bahwa mereka mengo­ordinasikan niat aktor sedemikian rupa sehingga sistem tampak, dalam perspcktif aktor itu sendiri (perspektif partisipan), se­bagai konteks yang bermakna dan dapat di­interpretasikan. Sistem sosial tidak bisa dipa­hami atau tidak bisa disalahpahami, bukan ekspresi konsensus anteseden atau bukan implementasi konsensus kesadaran. Sistem sosial mengoordinasikan konsekuensi dari tindakan, yang secara objektif menjalankan keseluruhan fungsi dari perspektif pengamat atau sistem pengamat. Tindakan ekonomi, misalnya, yang ber makna dan karenanya dapat diinterpre­tasikan dari perspektif partisipan, dikombi­nasikan oleh pasar ke dalam sebuah sistem di mana satu tindakan ekonomi mengikuti tindakan lainnya. Apa yang menentukan hubungan dan urutan tindakan dalam ruang dan waktu bagaimanapun juga bukanlal) niat tetapi apakah pembeli punya uang atau tidak atau apakah pembeli membelanjakan uangnya atau tidak. Mekanisme uang tidak ada kaitannya dengan niat dan keyakinan, rancangan, gagasan dan kepentingan. Yang penting di sini adalah konsekuensi dari tin dakan membeli. Sistem sains beroperasi d• ngan cara yang sama: yang penting di siiii bukanlah program riset konkret dan im­plikasi riset seperti nilai sosial, tetapi yang penting adalah apakah apa yang diproduksi itu adalah benar atau salah. Sistem sains se­perti itu menutup mata terhadap segala hal lainnya, khususnya terhadap relasi mak na yang kompleks antara sains dan dunia ke­hidupan. Efek terpenting dari diferensiasi fungsional adalah bahwa “pasukan berger­ak, penulis menulis, dan menteri menga­tur—apakah mereka peduli pada situasi ter­tentu atau tidak (Luhmann, 1970-90, vol. 2). Sosiologi awal memberi penjelasan satu sisi tentang proses ini sebagai salah satu proses birokratisasi, berdasarkan model tinda k:11 I rasional-bertujuan. Teori sistem cenderung memperlakukan proses yang sama sebagai perolehan dari kebebasan yang bcrasal dari penghilangan beban tanggung jawal) individual (cf. Luhmann, (976, hlm. 287 ff). Abstraksi dari perspektif dan orientasi aktor mengandung konsekuensi penting ba­gi status metodologis dari teori sistem. Se­bagai teori, ia berhubungan dengan usaha menjelaskan, bukan memahami. Tetapi ia tidak dapat membuat klaim, atau paling banter hanya menawarkan klaim amat ter­batas, bahwa ia bisa menjelaskan hubungan kausal. Teori sistem sosiologis setidaknya merekonsiliasikan dirinya dengan ketidak­mampuan virtualnya untuk memberikan penjelasan kausal, bersama dengan konsep empris, obserbvasibilitas, dan sebagainya. Ia menjelaskan ketidaktepatan dan sirkulari­tas penjelasan fungsionalnya bukan dengan kekhususan ontologis dari domain objek yang disusun secara simbolis atau, seperti sosiologi verstehende, dengan kemustahilan untuk melepaskan diri dari lingkaran her­meneutika, tetapi dengan kompleksitas dan opasitas struktur sistem yang pada prin­sipnya tidak bisa menjadi sasaran analisis kausal. Sistem ,ultopoielic (pembentukan­diri) mengubah dirinya dengan menciptakan struktur baru dengan cara tak terduga. Teori sistem itu sendiri, bagaimanapun juga, se­makin berpegang teguh pada metodenya sen­diri dan menjelaskan batas-batas penjelasan kausalnya melalui fungsi sosialnya dan kon­disi fungsional dari reproduksi-dirinya seba­gai teori ilmiah (Maturana, 1982; Schmidt, 1987; Luhmann, 1988). Interpretasi atas sekumpulan makna, se­perti dilakukan oleh W. Dilthey atau Max Weber, tidak ditolak oleh teori sistem, tetapi dipra anggapkan. Niklas Luhmann, seperti Talcott Parsons, memulai dari fakta bahwa, misalnya, dalam kultur Protestan tindakan ekonomi disusun oleh beragam sudut pan­dang dan makna yang berbeda dengan pan­dangan katolik atau Islam di banyak negara. Hanya ketika tindakan membentuk kehidup­an dunia yang dapat dipahami itulah sistem ekonomi modern dapat mengl«)ordinasikan tindakan secara eksklusif melalui efek aliran uang terhadap konsekuensi dari tindakan. Masyarakat selalu “secara sistematis mensta­bilkan sekumpulan tindakan dari kelompok yang terintegrasi secara sosial” (Habermas, 1981, vol. 2). Akan tetapi, dalam masyarakat modern dengan fungsi yang berbeda-beda, tak lagi penting soal dari mana seseorang berasal. Komunitas, agama, dan kesadaran kolektif, asal-usul historisme, status sosial dan kewa­jiban kekerabatan adalah tidak relevan, mes­kipun kekuatan integratif sosialnya masih dianggap ada. Satu-satunya hal yang pen­ting dalam sistem pasar yang dapat diakses secara merata dan bebas adalah apakah se­seorang bisa membayar atau tidak. Melalui institusionalisasi legal, pasar bebas telah me­misahkan diri dari ikatan persaudaraan dan tatanan privilese, dari famili dari stratifikasi dan dari ruang politik. Seperti diakui oleh Marx, tatanan strata sosial dan kelas telah kehilangan otonomi lamanya dan menjadi hampir sepenuhnya bergantung pada orga­nisasi-diri autopoietic dari sistem ekonomi. Berdasarkan teori ruang nilai Max We­ber, Talcott Parsons (1966, 1971) mengem­bangkan teori MODERN1TY dalam term dife­rensiasi fungsional. Proses ini mengubah komponen tindakan individual—nilai kon­stitutif laten, norma integratif, motif tujuan, sumber adaptif—yang diintegrasikan ke dalam tindakan komunikatif menjadi kinerja sistem fungsional diferensial khusus. Baik itu di level “sistem tindakan umum” maupun di level “sistem sosial” dan subsistem integratif dari sistem tindakan, sistem yang mengambil alih tugas pemrosesan informasi internal, ino­vasi dan reproduksi komunikatif-simbolik atas nilai dan norma dipisahkan dari sistem yang menjamin adaptasi sistem tindakan dan sistem sosial ke lingkungan eksternal. Proses perubahan evolusioner (lihat EvoLUTIONARY PROCESSES 1N SOC1F1’Y) yang menim- bulkan perkembangan sistem masyarakat modern dapat dijelaskan oleh pergeseran dari stratifikasi sosial ke diferensiasi fung­sional. Kemunculan institusi kultural otonom memungkinkan legitimasi norma konkret yang mengikat komunitas sosial. Sistem pendidikan posttradisional, ekonomi yang mengatur-diri, seni otonom dan agama yang diindividualisasikan (etika Protestan) adalah contoh-contoh historis yang terpenting. Me­lalui pengaruh umum, formasi asosiasi bebas yang inklusif dan terbuka dapat diintegrasi­kan secara sosial ke dalam sistem komuni­tas sosial. “Komunitas kemasyarakatan” Parsons, yang diinstitusionalisasikan secara yurisdiktif dalam CrFIZENSHIP, adalah tempat kebebasan asosiatif seperti yang dipahami oleh Tocqueville. Kita juga bisa mendeskrip­sikan organisasi-diri komunitas sosial seba­gai “kesatuan sosial dari kesatuan sosial” pada level yang lebih tinggi dan refleksif se­perti dideskripsikan oleh John Rawls. Pengertian system theory (teori sistem) adalah Dalam pertukaran antarsistem, ini menyediakan sistem politik dengan dukungan Joyal, me­lalui pengaruhnya terhadap warga, sedang­kan sistem administratif politik menyediakan kekuasaan yang dibutuhkan oleh komunitas sosial warga melalui pengaturan kebebasan berasosiasi berdasarkan kesetaraan. Pemisahan kekuasaan politik dari penga­ruh tindakan komunikatif dalam asosiasi sosial karenanya memberi kebebasan untuk menetapkan diferensiasi sosial dan mengim­plementasikan struktur yurisdiksi dan ad­ministratif kepada ruang politik; misalnya, adalah perlu untuk memisahkan organisasi kerja modern dari oikos, atau adalah perlu untuk melindungi fungsi sosialisasi keluarga dari mobilisasi ekonomi anggota keluarga. Sebuah sistem ekonomi, yang dibebaskan oleh intervensi politik massif dari semua komitmen nilai, batasan normatif dan tu­gas-tugas politik dapat berkonsentrasi pada maksimalisasi kinerja dan mengembangkan kekuatan produktif yang tanpa itu semua sistem masyarakat modern akan kekurangan kekuatan motivasi. Model diferensiasi fungsional ini meng­alami beberapa kesulitan mendasar. Menu­rut Parsons, setiap bentuk formasi sistem melalui diferensiasi fungsional tampak seba­gai pemisahan sistem dan kehidupan dunia yang tidak menimbulkan problem–tidak problematik karena dia membayangkan kehidupan dunia hanya dalam pengertian tradisionalisme, partikularisme, penyebaran dan kolektivisme afektual. Menumtnya, dife­rensiasi fungsional adalah emansipasi dari batasan alam dan dari batasan sosiasi tradi­sional. Pengertian system theory (teori sistem) adalah Jadi, misalnya, dia dapat mendeskrip­sikan perkembangan Uni Soviet, bahkan di akhir 1960-an, sebagai modernisasi progresif di jalan menuju sistem masyarakat modern Barat dan hanya mengalami kekurangan di domain tertentu. Interpretasi optimistik atas perkembangan Soviet ini tidak didasarkan pada prasangka ideologis yang mendukung komunisme, tetapi pada kebutaan katego­rial. Konsep diferensiasi fungsional meng­izinkan analisis transformasi modern dan di­solusi bentuk sosialisasi tradisional, tetapi di sini tidak bisa diajukan pertanyaan apakah ada proses modernisasi (seperti teror Stalin) yang bukan hanya menghancurkan bentuk sosialisasi tradisional tetapi juga menghan­curkan kemungkinan sosialisasi itu sendiri. Jika demikian halnya, teori sistem fungsio­nalis tidak bisa melepaskan diri dari tudu­han bahwa ia mengandung filsafat historis tersembunyi. Paling tidak tampaknya seolah­olah teori sistem dipaksa oleh kategorinya untuk mengabaikan patologi modernisasi. Kekhawatiran Habermas mengarah ke sini, dan analisis diskursus polemik Michel Fou­cault mendapat kekuatan sebagai tindakan korektif untuk optimisme teori sistem dalam memandang modernitas.