Teori konsumsi.

Pengertian taste (selera) adalah Kemampuan untuk menilai dan mengapresiasi hal-hal yang indah, ba­gus, baik atau pantas, dan propensitas un­tuk memproduksi atau mengonsumsi objek (seperti karya seni) yang memuat kapasitas ini, adalah dua sisi selera. Gagasan ini telah lama ada di dalam pemikiran sosial Barat, merentang dari Kant hingga Hume dan Plato, namun gagasan ini anehnya diabai­kan oleh ilmu sosial. Hingga belakangan ini, kecuali pembahasan stylization kehidupan oleh Max Weber dan teori konsumsi men­colok oleh Thornstein Veblen, gagasan ini hampir milik eksklusif para filsuf dan ahli sejarah dan kritik seni (Osborne, 1970), dan juga biolog—ringkasnya, ia dimasukkan ke dunia kultur tinggi atau sejenisnya. Jadi entri selera dalam International Encyclopedia of the Social Sciences (Wenzel, 1968) memper­lakukan selera, bersama dengan bau (smell), semata-mata sebagai fenomena fisik-kimiawi dan entri itu tidak menyebut dimensi sosial sama sekali.

Validitas univer­sal.

Karena itu adalah tugas filsafat dan AEs­THETICS untuk mengeksplorasi selera dan konturnya. Pemikiran filsafat modern menge­nai topik tersebut didasarkan pada pem­bahasan Kant dan bisa dikarakteristikkan sebagai pencarian esensi transhistoris dari selera. Dalam bagian pertama dari Critique of Judgement (1790) yang membahas pe­nilaian estetika, Kant mengangkat “problem selera“: bagaimana kita bisa mengeluarkan penilaian yang mengklaim “validitas univer­sal” ketika “dasar penentuannya” adalah respons paling privat terhadap objek dunia, yaitu kesenangan? Atau, apakah mungkin bagi selera, yang berasal dari perasaan sub­jektif spontan kita, untuk mengesampingkan “keputusan berdasarkan bukti” tetapi bisa “disepakati oleh orang lain?” Jawaban Kant adalah memisahkan “selera murni” dengan “kesenangan aksar” untuk mengisolasi disposisi untuk “membedakan” dan “meng­apresiasi” keindahan (Cohen dan Guyer, 1982); yang disebut belakangan menolak meletakkan indra di bawah hal-hal umum dan vulgar (das Vulgare) untuk merayakan finalitas bentuk. Yang jelas, tidak semua fil­suf mengadopsi gagasan Kantian mengenai fakultas apresiasi dan pembedaan murni. Wittgenstein (Lectures and Conversations, n. d. h. 8), misalnya, jelas merujuk pada aspek ntropologis yang berbeda dengan konsep selera karismatik ketika dia menegaskan bahwa “untuk mendeskripsikan apa yang Anda maksud dengan selera budaya, Anda harus mendeskripsikan budayanya.” Baru pada dua dekade terakhir riset dalam sosiologi CulTuRE telah menghancur­kan monopoli estetika filosofis dan sastra, menggantikan gagasan esensialis tentang selera dengan konsep relasional yang me­ngaitkan selera dengan dinamika kesenja­ngan CLASS. Tujuan estetika murni adalah mengontologisasikan selera dalam rangka mencari entitas Platonik, sedangkan sosiologi berusaha menyejarahkannya. Menurut Nor­bert Elias (1939), stAndar selera kita adalah produk historis dari “proses peradaban” selama berabad abad yang melibatkan multi­plikasi progresif dari pembatasan dan lara­ngan atas fungsi fisik dari tubuh (makan dan pengosongan, tidur, seks, dan kekerasan). Transformasi sensibilitas Eropa yang dicatat oleh standar ini muncul pertama kali dalam wilayah kerajaan sebelum merambat turun dari aristokrasi ke kelas menengah dan pe­kerja melalui pembentukan negara dan pa­sifikasi masyarakat. Corbin (1982) mengem­bangkan argumen dalam domain penciuman (smell) dengan mengungkapkan bagaimana modifikasi standar penciuman—apa yang dianggap bau busuk dan wangi, aroma apa yang bisa ditoleransi, kelompok bau apa yang dianggap “menyengat”—di Perancis abad ke-19 mengekspresikan konflik an­tarkelas-kelas di kota industri. Dalam kenyataannya, kategori yang kita pakai untuk menentukan hierarki selera, seperti selera “tinggi” dan selera “rendah,” berasal dari proses historis sakralisasi kultur di mana persoalan artistik dan sopan san­tun kelas istimewa diinstitusionalisasikan menjadi kanon penilaian estetika universal. Pengertian taste (selera) adalah Levine menjelaskan perjuangan panjang di Amerika untuk “membangun standar este­tika, untuk memisahkan seni sejati dari seni vulgar” sehingga, pada pergantian abad, Usaha menciptakan konsumen kultural se­bagai koleksi orang yang bereaksi secara individual dengan keterbatasan “selera” terhadap kinerja akan membutuhkan kerja aktif memisah-misahkan, menjinakkan, dan memilah audien, aktor, gaya dan genre, yang menggunakan cara mencemarkan hiburari “populer” secara sistematis. Selera seni men­jadi alat pemisahan sosial yang berkaitan de­ngan kemunculan kelas menengah ke atas.

Revolusi Copernican. Pengertian taste (selera) adalah

Tetapi dalam Distinction kita menjum­pai jawaban sosiologi yang amat berbeda dengan konundrum selera Kantian. Di da­lam karya itu, Pierre Bourdieu (1979) memi­cu semacam revolusi Copernican di wilayah ilmu selera dengan mengemukakan tiga prinsip utama dari perspektif dominan. Per­tama, dia meninggalkan batas sakral yang menjadikan kultur yang sah sebagai semesta terpisah dengan mengembalikan konsumsi estetika ke dalam konsumsi sehari-hari: seperangkat disposisi yang sama—yang oleh Bourdieu disebut habitus—menentukan pilihan seseorang dalam hal musik dan olah­raga, lukisan dan gaya rambut, teater dan makanan. Kedua, bertentangan dengan ideo­logi karismatik, Bourdieu mengobservasi bukan hanya bahwa kebutuhan kultural dan kapasitas kultural adalah produk dari pen­didikan dan pengasuhan kelas, tetapi juga bahwa ada homologi antara hierarki barang dan hierarki konsumen, sehingga preferensi estetis terpantul dalam organsiasi struktur ruang sosial. Konsekuensinya selera hanya dapat dipahami secara relasional, di dalarn sistem oposisi dan komplementer antar-gaya hidup dan antarposisi sosial yang saling ber­korespondensi di dalam struktur kelas. Jadi “selera kebebasan” kelas atas, yang mengutamakan cara di atas materi ber­dasarkan jarak elektif terhadap kebutuhan ekonomi, mendefinisikan dirinya sendiri de­ngan menolak untuk tunduk pada dorongan primer, yang mereka anggap merupakan selera kelas buruh. Kelas pekerja menun­jukkan “selera kebutuhan” yang mengeks­presikan etos kelas dan bukan merupakan estetika sepanjang ia menolak memisahkan seni dan kehidupan dan mensubordinasikan fungsi pada bentuk. Di antara mereka, sele­ra horj uis kecil-kecilan adalah ,manifestasi dari kemauan kultural yang ditentukan oleh kesenjangan antara pengakuan legitimasi kultur borjuis dan rendahnya kapasitas me­reka untuk mendapatkannya. Pengertian taste (selera) adalah Inovasi ketiga Bourdieu adalah menunjukkan bahwa cara memperoleh kode spesifik yang diperlukan untuk menguraikan karya kultural—melalui lingkungan yang dikenali atau pengajaran di sekolah—masih bertahan dan memengaruhi semua praktik kultural. Yang lebih penting, ketika kode itu mengambil bentuk kategori kognitif yang tarnpaknya bersifat individual, namun dialokasikan secara tal< merata di antara kelompok-kelompok, kode ini se­cara otomatis memberikan perbedaan sosial: ia berfungsi sebagai kapital kultural yang menaturalisasikan perbedaan kelas. Maka selera ternyata bukan hasil dari spontanitas individual, tetapi merupakan bentuk par excellence nasib sosial (amor fati), “kultur kelas yang diubah menjadi ala­miah, yakni diwujudkan” (Bourdieu, 1979, hlm. 190) dan ditakdirkan beroperasi seba­gai kode kekuasaan. Dengan mengungkap­kan selera sebagai senjata dan pertaruhan dalam perjuangan klasifikasi di mana kelom­pok-kelompok berusaha menjaga atau me­ningkatkan posisi mereka dalam masyarakat dengan menggunakan gaya hidup mereka sebagai satu-satunya art de vivre yang sah, Bourdieu telah mengembalikan homo aes­theticus ke dunia sehari-hari, dunia umum yang penuh pertentangan, yakni kembali ke jantung ilmu sosial.