PENGERTIAN TEORI PERSONAL-SITUASIONAL

64 views

Para ahli teori ‘orang-orang terkemuka’ dan teori situasional berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya terlupakan. Westburgh (1931) menyatakan bahwa penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk: (1) sifat-sifat afektif, intelektual, dan tindakan individu; (2) kondisi khusus individu di dalam pelaksanaannya. Case (1933) menyatakan bahwa kepemimpinan diha-silkan dari rangkaian tiga faktor, yaitu:

(1)          sifat kepribadian pemimpin;

(2)          sifat dasar kelompok dan anggotanya; dan

(3)          peristiwa (perubahan atau masalah) yang dihadapkan kepada kelompok.

Brown (1936) mengajukan lima hukum dinamika medan kepemimpinan. Pemimpin harus:

(1)          memiliki karakter keanggotaan kelompok yang dipimpinnya;

(2)          memiliki potensi yang tinggi di lapangan sosial;

(3)          menyesuaikan diri dengan struktur medan yang ada;

(4)          menyadari kecenderungan jangka panjang dalam struktur medan; dan

(5)          mengakui/menerima bahwa dengan meningkatnya potensi harus diimbangi dengan kurangnya kemerdekaan dalam hal kepemimpinan.

Sebagai hasil penelitian dan teori yang dikembangkan setelah Perang Dunia II, terdapat pengembangan titik tolak pandangan. Menurut Gerth dan Mills (1952), untuk mengerti kepemimpinan, perhatian harus diarahkan kepada:

(1)          sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa;

(2)          membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pegang dan motifnya mengikuti dia;

(3)          penampilan peran yang harus dimainkannya sebagai pemimpin; dan

(4)          Kaitan kelembagaan yang melibatkan dia dan pengikutnya. Gibbs (1954) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan fenomena interaksional dalam struktur kelompok di antara para anggotanya dalam usaha mencapai tujuan bersama.

Stogdill dan Shartle (1955) berpendapat bahwa kepemimpinan harus dipandang sebagai hubungan antarindividu dalam satu kelompok, dan penelitian tentang kepemimpinan harus dalam kerangka dimensi struktural dan fungsional dari organisasi.

Bennis (1961) mengajukan revisi terhadap teori kepemimpinan dan memasukkan pertimbangan berikut:

(1)          birokrasi impersonal dan pengukuran yang rational;

(2)          organisasi informal dan hubungan interpersonal;

(3)          autokrasi yang bijaksana sebagai hasil dari struktur hubungan atasan-bawahan yang tercipta;

(I) perluasan tugas dan supervisi yang terpusat pada pekerja sehingga memungkinkan timbulnya aktualisasi diri pada diri individu; dan (5) pengelolaan partisipatif dan konsultasi bersama sehingga memungkinkan integrasi tujuan individual dan tujuan organisasi.

Cattel (1951) berpendapat bahwa dua fungsi primer dari kepemim-pinan adalah:

(1)          membantu kelompok dalam menemukan arti dari tujuan yang telah ditetapkan bersama; dan

(2)          membantu kelompok dalam menentukan tujuan.

Yang pertama menyangkut syntality (pengukuran performance) dan yang kedua dengan synergy (dorongan dan arah tujuan) dari kelompok.

Hollander (1958, 1964) menyatakan bahwa pemimpin kelompok memperoleh ‘idiosyncrasy credit’ (semacam hak istimewa) untuk sedikit menyimpang dari norma kelompok atas seizin para anggota kelompok tanpa membahayakan statusnya di kelompok.

Incoming search terms:

  • pengertian situasional
  • Situasional
  • Teori personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *