Netralisme positif.

Pengertian Third World (Dunia Ketiga) adalah Istilah tiersmonde (Dunia Ketiga) pertama kali dipak­ai pada Agustus 1952 oleh demografer Per­ancis, Alfred Sauvy, dalam sebuah artikel di koran Paris, L’Observateur yang ber­judul “Trois mondes, une planete.” Dalam dunia pascaperang yang terbelah menjadi dua “kubu,” masing-masing dipirnpin oleh negara adidaya, koloni-koloni yang meraih kemerdekaannya setelah 1945 tampaknya menyerupai tiers etat di Perancis sebelum masa revolusi, wilayah yang kekurangan privilese, keunggulan dan klergi. Di Perancis, istilah ini menarik bagi so­sialis dan Gaullis yang mencari “jalan ke­tiga” di antara Washington dan Moscow. Doktrin “netralisme positif”—netralisme yang tidak hanya ingin menghindari per­ang tetapi juga berkomitmen pada liberasi nasional dan “humanisme sosialis”—juga muncul di negara Eropa Barat lainnya. Pada 1949, ketika Yugoslavia menarik diri dari blok Soviet, prinsip “non-alignment” menyebar -ke dunia komunis.

Bangsa proletarian. Pengertian Third World (Dunia Ketiga) adalah

bangsa proletarian Internasionalisme negara-negara baru ini tampak dalam penolakan mereka bukan hanya terhadap kontrol politik dan hege­moni kultural kekuasaan kolonial tertentu, tetapi juga kolonialisme tout court. Kare­nanya negara-negara baru tersebut mendu­kung perjuangan kemerdekaan di negara­negara yang masih terjajah melawan rezim rasis, terutama di Afrika Selatan. Pendukung Pan-Afrika seperti Nkrumah juga berharap mengatasi balkanisasi benua Afrika schagai akibat dari persaingan kolonial selama Ba­haya pertikaian soal perbatasan dan gerakan pemisahan internal, dan bahaya manipu­lasi perpecahan oleh pihak luar, karenanya sangat riil, seperti terlihat dalam perang di Biafra. “Pembangunan bangsa”—pencip­taan jenis identitas kewarganegaraan baru untuk melawan apa yang dinamakan “triba­lisme”—karenanya menjadi proyek utama dari para penguasa negara-negara baru tersebut (Iihat juga NATIONAI. POPULER REGIME). Organisasi nonblok berkembang me­lalui beberapa konferensi, di Kairo, Lusaka, Aljazair, Sri Lanka, Havana dan sebagainya, dan melalui beberapa forum mulai dari PBB hingga ke gerakan “Trikontinental” yang dilindungi oleh Kuba. Tetapi problem yang lebih sering mereka hadapi adalah ekonomi ketimbang politik: problemnya bukan hanya ancaman kekuatan negara Barat, atau ko­munisme, tetapi juga kepentingan ekonomi yang terancam oleh dominasi korporasi multinasional dan institusi finansial multi­nasional. Telah diraih beberapa kesuksesan: 77 negara berkembang mendapat dukungan PBB pada World Conference on Trade and Development yang pertama kali pada 1962. Sejak 1974, aksi bersama dari kelompok negara OPEC untuk mengontrol output dan harga minyak dunia memiliki pengaruh kuat terhadap kemakmuran Barat. Di beberapa negara—termasuk “empat macan kecil” Asia Timur (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura)—terjadi investasi asing masif dan industrialisasi. Be­herapa pihak Istilah Dunia Ketiga bukannya tanpa kritik: di masa Perang Dingin, USSR me­nanggap istilah itu sebagai upaya untuk menghindari pilihan antara komunisme dan kapitalisme. Gagasan bahwa keterbe­lakangan dan kondisi buruk negara-negara Dunia Ketiga adalah kesalahan negara Barat—apa yang mereka namakan tinda­kan menghalangi perkembangan—ternyata tidak menarik bagi mereka yang meman­dang negara terbelakang itu sebagai bangsa yang muda (terkadang irasional, tidak de­wasa atau bahkan inferior). bangsa proletarian Internasionalisme negara-negara baru ini tampak dalam penolakan mereka bukan hanya terhadap kontrol politik dan hege­moni kultural kekuasaan kolonial tertentu, tetapi juga kolonialisme tout court. Kare­nanya negara-negara baru tersebut mendu­kung perjuangan kemerdekaan di negara­negara yang masih terjajah melawan rezim rasis, terutama di Afrika Selatan. Pendukung Pan-Afrika seperti Nkrumah juga berharap mengatasi balkanisasi benua Afrika schagai akibat dari persaingan kolonial selama Ba­haya pertikaian soal perbatasan dan gerakan pemisahan internal, dan bahaya manipu­lasi perpecahan oleh pihak luar, karenanya sangat riil, seperti terlihat dalam perang di Biafra. “Pembangunan bangsa”—pencip­taan jenis identitas kewarganegaraan baru untuk melawan apa yang dinamakan “triba­lisme”—karenanya menjadi proyek utama dari para penguasa negara-negara baru tersebut (Iihat juga NATIONAI. POPULER REGIME). Organisasi nonblok berkembang me­lalui beberapa konferensi, di Kairo, Lusaka, Aljazair, Sri Lanka, Havana dan sebagainya, dan melalui beberapa forum mulai dari PBB hingga ke gerakan “Trikontinental” yang dilindungi oleh Kuba. Tetapi problem yang lebih sering mereka hadapi adalah ekonomi ketimbang politik: problemnya bukan hanya ancaman kekuatan negara Barat, atau ko­munisme, tetapi juga kepentingan ekonomi yang terancam oleh dominasi korporasi multinasional dan institusi finansial multi­nasional. Telah diraih beberapa kesuksesan: 77 negara berkembang mendapat dukungan PBB pada World Conference on Trade and Development yang pertama kali pada 1962. Sejak 1974, aksi bersama dari kelompok negara OPEC untuk mengontrol output dan harga minyak dunia memiliki pengaruh kuat terhadap kemakmuran Barat. Di beberapa negara—termasuk “empat macan kecil” Asia Timur (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura)—terjadi investasi asing masif dan industrialisasi. Be­herapa pihak Istilah Dunia Ketiga bukannya tanpa kritik: di masa Perang Dingin, USSR me­nanggap istilah itu sebagai upaya untuk menghindari pilihan antara komunisme dan kapitalisme. Gagasan bahwa keterbe­lakangan dan kondisi buruk negara-negara Dunia Ketiga adalah kesalahan negara Barat—apa yang mereka namakan tinda­kan menghalangi perkembangan—ternyata tidak menarik bagi mereka yang meman­dang negara terbelakang itu sebagai bangsa yang muda (terkadang irasional, tidak de­wasa atau bahkan inferior). Negara-negara ini sedang “berkembang,” betapa pun lam­batnya, dan pada akhirnya akan membuat kemajuan, atau jika tidak, maka itu dise­babkan hanya oleh kekurangan internal sendiri-sendiri—yang berasal dari institusi sosial “tradisional” (lihat TRADmoN AND TRADMONALISM) dan warisan kultural rezim diktatorial. Beberapa ekonom dan teoretisi WORLD-SYSTE.Ivl berpendapat bahwa negara­negara itu dapat diurutkan dari negara ter­kaya hingga termiskin, tetapi dalam hal ini hanya ada satu dunia, dengan negara kaya dan miskin di dalamnya, bukan “dunia” miskin yang terpisah. Dan organisasi do­nor Barat sering secara tidak sengaja mem­perkuat -gagasan populer bahwa kelaparan di negara-negara tropis adalah akibat dari bencana alam ketimbang ulah manusia. Kritik di dalam Dunia Ketiga itu sendiri sering lebih memilih istilah “nonaligned” atau nonblok, sebab kata “Ketiga” diang­gap sebagai kategori residual, menyiratkan inferioritas dibandingkan Dunia “Pertama” dan “Kedua.” Bagaimana pun juga istilah ini dipakai secara umum. bangsa proletarian Internasionalisme negara-negara baru ini tampak dalam penolakan mereka bukan hanya terhadap kontrol politik dan hege­moni kultural kekuasaan kolonial tertentu, tetapi juga kolonialisme tout court. Kare­nanya negara-negara baru tersebut mendu­kung perjuangan kemerdekaan di negara­negara yang masih terjajah melawan rezim rasis, terutama di Afrika Selatan. Pendukung Pan-Afrika seperti Nkrumah juga berharap mengatasi balkanisasi benua Afrika schagai akibat dari persaingan kolonial selama Ba­haya pertikaian soal perbatasan dan gerakan pemisahan internal, dan bahaya manipu­lasi perpecahan oleh pihak luar, karenanya sangat riil, seperti terlihat dalam perang di Biafra. “Pembangunan bangsa”—pencip­taan jenis identitas kewarganegaraan baru untuk melawan apa yang dinamakan “triba­lisme”—karenanya menjadi proyek utama dari para penguasa negara-negara baru tersebut (Iihat juga NATIONAI. POPULER REGIME). Organisasi nonblok berkembang me­lalui beberapa konferensi, di Kairo, Lusaka, Aljazair, Sri Lanka, Havana dan sebagainya, dan melalui beberapa forum mulai dari PBB hingga ke gerakan “Trikontinental” yang dilindungi oleh Kuba. Pengertian Third World (Dunia Ketiga) adalah Tetapi problem yang lebih sering mereka hadapi adalah ekonomi ketimbang politik: problemnya bukan hanya ancaman kekuatan negara Barat, atau ko­munisme, tetapi juga kepentingan ekonomi yang terancam oleh dominasi korporasi multinasional dan institusi finansial multi­nasional. Telah diraih beberapa kesuksesan: 77 negara berkembang mendapat dukungan PBB pada World Conference on Trade and Development yang pertama kali pada 1962. Sejak 1974, aksi bersama dari kelompok negara OPEC untuk mengontrol output dan harga minyak dunia memiliki pengaruh kuat terhadap kemakmuran Barat. Di beberapa negara—termasuk “empat macan kecil” Asia Timur (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura)—terjadi investasi asing masif dan industrialisasi. Be­herapa pihak Istilah Dunia Ketiga bukannya tanpa kritik: di masa Perang Dingin, USSR me­nanggap istilah itu sebagai upaya untuk menghindari pilihan antara komunisme dan kapitalisme. Gagasan bahwa keterbe­lakangan dan kondisi buruk negara-negara Dunia Ketiga adalah kesalahan negara Barat—apa yang mereka namakan tinda­kan menghalangi perkembangan—ternyata tidak menarik bagi mereka yang meman­dang negara terbelakang itu sebagai bangsa yang muda (terkadang irasional, tidak de­wasa atau bahkan inferior). Negara-negara ini sedang “berkembang,” betapa pun lam­batnya, dan pada akhirnya akan membuat kemajuan, atau jika tidak, maka itu dise­babkan hanya oleh kekurangan internal sendiri-sendiri—yang berasal dari institusi sosial “tradisional” (lihat TRADmoN AND TRADMONALISM) dan warisan kultural rezim diktatorial. Beberapa ekonom dan teoretisi WORLD-SYSTE.Ivl berpendapat bahwa negara­negara itu dapat diurutkan dari negara ter­kaya hingga termiskin, tetapi dalam hal ini hanya ada satu dunia, dengan negara kaya dan miskin di dalamnya, bukan “dunia” miskin yang terpisah. Dan organisasi do­nor Barat sering secara tidak sengaja mem­perkuat -gagasan populer bahwa kelaparan di negara-negara tropis adalah akibat dari bencana alam ketimbang ulah manusia. Pengertian Third World (Dunia Ketiga) adalah Kritik di dalam Dunia Ketiga itu sendiri sering lebih memilih istilah “nonaligned” atau nonblok, sebab kata “Ketiga” diang­gap sebagai kategori residual, menyiratkan inferioritas dibandingkan Dunia “Pertama” dan “Kedua.” Bagaimana pun juga istilah ini dipakai secara umum. Negara-negara ini sedang “berkembang,” betapa pun lam­batnya, dan pada akhirnya akan membuat kemajuan, atau jika tidak, maka itu dise­babkan hanya oleh kekurangan internal sendiri-sendiri—yang berasal dari institusi sosial “tradisional” (lihat TRADmoN AND TRADMONALISM) dan warisan kultural rezim diktatorial. Beberapa ekonom dan teoretisi WORLD-SYSTE.Ivl berpendapat bahwa negara­negara itu dapat diurutkan dari negara ter­kaya hingga termiskin, tetapi dalam hal ini hanya ada satu dunia, dengan negara kaya dan miskin di dalamnya, bukan “dunia” miskin yang terpisah. Dan organisasi do­nor Barat sering secara tidak sengaja mem­perkuat -gagasan populer bahwa kelaparan di negara-negara tropis adalah akibat dari bencana alam ketimbang ulah manusia. Kritik di dalam Dunia Ketiga itu sendiri sering lebih memilih istilah “nonaligned” atau nonblok, sebab kata “Ketiga” diang­gap sebagai kategori residual, menyiratkan inferioritas dibandingkan Dunia “Pertama” dan “Kedua.” Bagaimana pun juga istilah ini dipakai secara umum.