PENGERTIAN TIGA TIPOLOGI PERS

By On Sunday, May 10th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Apakah Anda punya pendapat tentang citra pers dewasa ini? Ada yang menganggap pers kita sudah larut dalam iklim dan irama kapitalisme global. Dalam kapitalisme global, pers tidak berbeda dengan sebuah perusahaan yang senantiasa mengejar keuntungan maksimal dengan investasi minimal. Dengan logika industri dan perusahaan, apa pun akan disajikan pers selama hal itu bisa dijadikan sebagai komoditas.

Ada juga yang berpendapat pers kita sudah berada di luar jalur, yang dalam bahasa Jawa disebut keblablasan. Demi pers, apa pun ditulis, dilaporkan, diberitakan, disebarluaskan. Kemerdekaan pers akhirnya berubah drastis dari semula mengundang simpati, tetapi ternyata akhirnya malah menjadi pemicu gelombang antipati. Untuk mengenali lebih jauh masalah ini, kita dapat menganalisis pers berdasarkan kualitas dan wilayah sirkulasinya. Menurut Djen Amar (1984?31-32), kualitas pers dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar. Dalam buku ini saya tambahkan satu kelompok lagi yakni kelompok pers kuning (yellow newspaper) sehingga semuanya menjadi tiga kelompok, sebagai berikut:

  1. Pers berkualitas [quality newspaper)
  2. Pers populer [popular newspaper)
  3. Pers kuning [yellow newspaper)
  4. Pers berkualitas

Penerbitan pers berkualitas memilih cara penyajian ysng etis, moralis, intelektual (Amar, 1984:32). Pers berkualitas beoar-benar dikelola secara konseptual dan profesional walaupun -orientasi bisnisnya tetap komersial. Pers jenis ini serius dalam segala hal dengan mengutamakan pendekatan rasional institusional. Materi laporan, ulasan, dan tulisan pers berkualitas termasuk berat. Sangat dihindari pola dan penyajian pemberitaan yang bersifat emosional frontal. Segala sesuatu dilihat rnenurut pandangan, aturan, norma, etika, dan kebijakan yang suciah baku serta terbukti aman bagi kepentingan dan kelangsungan k:emajuan perusahaan. Pers jenis ini sangat meyakini pendapa t bahwa kualitas dan , kredibilitas media hanya bisa diraih melalui pendekatan profesionalisme secara total. Penerbitan pers benkualitas, ditujukan untuk masyarakat kelas menengah-atas.

  1. Pers populer

Penerbitan pers populer memilih cara penyajian yang sesuai dengan selera zaman, cepat berubah-ubah, sederhana., tegaslugas, enak pandang, mudah dibaca, kaya warna, dan sangat kompromistis dengan tuntutan pasar. Pers jenis ini menyukai pilihan kata, ungkapan, idiom, atau judul yang diambil dari dan sedang populer dalam masyarakat. Pers populer sangat menekankan nilai serta kepentingan komersial. Dalam pengamatan Amar (1984:32), penerbitan pers populer memilih cara penyajian dan pendekatan yang kurang etis, emosional (bombastis), dan kadang-kadang sadistis.

Dalam pandangan pers populer, segala sesuatu bzisa dilakukan atau bisa diubah demi pemenuhan kebutuhan dan kepuasan khalayak pembaca. Materi laporan, tulisan, dan ulasan pers populer umumnya ringan. Pers populer lebih banyaK dimakdan ambisi pers lokal adalah menjadi “raja” di kotanya sendiri. Pers lokal bisa disebut sebagai kamus dan cerrain berjalan sebuah kota karena apa pun peristiwa dan fenomena tentang kota tersebut, pasti dijumpai di dalamnya. Sebagai contoh, mulai dari nomor-nomor telepon penting sampai dengan tempattempat barang loakan termasuk buku-buku tua, dapat dijumpai dengan mudah pada halaman-halaman media pers lokal. Kebijakan redaksional pers lokal lebih bertumpu pada pengembangan dimensi kedekatan geografis dan kedekatan psikologis (proximity)dalam segala dimensi dan implikasinya. Pers lokal bisa juga disebut sebagai sebuah kota.Di Indonesia, pers lokal dewasa ini tumbuh bagai jamur di musim hujan. Kecenderungan demikian merupakan dampak positif dari reformasi dan era otonomi daerah. Benar kata teori politik, pers hanya akan tumbuh subur di atas tanah yang dipupuk dengan sistem politik demokratis. Aspirasi, transparansi, dan bahkan aneka imajinasi serta fantasi masyarakat, otomatis menyeruak ke atas permukaan melalui pintu kesadaran-kesadaran kultural dan intelektual baik secara individual maupun secara struktural. Ini tentu saja amat melegan hati kita.

  1. Pers nasional (national pers)

Pers nasional lebih banyak berkedudukan di ibu kota negara. Wilayah sirkulasinya meliputi seluruh propinsi, atau setidaktidaknya sebagian besar propinsi yang berada dalam jangkauan sirkulasi melalui transportasi udara, darat, sungai, dan laut. Untuk memenuhi tuntutna distribusi dan sirkulasi, pers nasional lebih banyak mengembangkan teknologi sistem cetak jarak jauh. Kebijakan redaksional pers nasional lebih banyak menekankan kepada masalah, isu, aspirasi, tuntutan, dan kepentingan nasional secara keseluruhan tanpa memancMng sekat-sekat geografis atau ikatan primordial seperti agama, budaya, dan suku bangsa. Sebagai contoh, konflik Aceh, kerusuhan Ambon, isu-isu penegakan hukum, demokratisasi, hak asasi manusia, keadilan dan kesejahteraan, senantiasa menjadi sorotan pers nasional. Isu-isu semacam itu bahkan tidak hanya berlaku secara nasional tetapi juga menjangkau wilayah serta kepentingan masyarakat global secara universal. Dengan sistem cetak jarak jauh, surat kabar nasional akan bisa beredar di banyak tempat pada saat yang sama secara serentak. Salah satu keunggulan sistem cetak jarak jauh adalah kemampuannya dalam memangkas dan bahkan menghilangkan dimensi ruang dan waktu. Dengan sistem ini, jarak Jakarta-Semarang yang semula ditempuh dengan armada sirkulasi darat selama enam jam, justru menjadi nol persen. Tak lagi lagi dibutuhkan armada. Juga tak lagi dibutuhkan waktu tempuh. Cukup investasi untuk percetakan saja pada tahap awal pendirian. Setelah itu tinggal perawatan dan bahkan percetakan itu juga digunakan untuk mecetak buku-buku atau surat kabar dan majalah dari penerbit lain. Strategis sekali. Faktor inilah yang menyebabkan sistem cetak jarak jauh selalu dipersulit oleh rezim Orde Baru dahulu.

  1. Pers internasional (international pers)

Pers internasional hadir di sejumlah negara dengan menggunakan tekologi sistem cetak jarak jauh dengan pola pengembangan zona atau wilayah. Sebagai contoh, kita di Indonesia membaca majalah Times, Newsweek atau surat kabar harian International Herald Tribune edisi Asia, sementara warga Inggris menikmati Times atau International Herald Tribune edisi Eropa. Cover story (cerita sampul) tentang presiden kita, misalnya, tidak akan ditemukan untuk Times edisi Eropa karena di sana presiden kita, menurut perspektif berita, tidak laku dijual. Boleh jadi, cover story edisi Eropa justru mengangkat temuan terbaru sekutar misteri kematian Puteri Diana. Wilayah sirkulasi pers internasional lebih banyak terpusat di ibu kota negara dan beberapa kota besar negara setempat yang masuk dalam satelit pengaruhnya baik secara politis maupun secara industri dan bisnis. Surat kabar International Herald Tribune misalnya, hanya beredar di lingkungan terbatas di Batam, Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Incoming search terms:

  • contoh pers berkualitas
  • tipologi pers
PENGERTIAN TIGA TIPOLOGI PERS | ADP | 4.5