Isu temporalitas.

Pengertian time (waktu) adalah Konsep waktu belakangan ini mendapat peran sentral dalam pemikiran sosial. Sampai 1980-an, publikasi tentang isu temporalitas di dunia sosial biasanya di­awali dengan keluhan bahwa waktu adalah kategori yang sering diabaikan dalam teori sosial dan dalam ilmu-ilmu sosial (misal­nya Bergmann, 1983; Elias, 1982; Luscher, 1974; Martins, 1974). Namun sejak awal 1990-an, muncul banyak buku dan artikel tentang masalah waktu (misalnya Adam, 1990, 1995, 1999; Naert, 1992, 2000a, 2000b; Gosden, 1994). Pada 1992 sebuah jurnal baru, Time and Society, diluncurkan dan sepenuhnya didedikasikan untuk isu-isu yang berkaitan dengan waktu. Bermunculan pula banyak konferensi akademik, termasuk Time and Value (Lash, Quick dan Roberts, 1998) dan pertemuan tahunan British Socio­logical Association baru-baru ini telah mem­bahas problem waktu. Waktu tampaknya telah naik daun

Konsep waktu.

Benarkah? Apa yang dimaksud dengan waktu? Apakah ini mengacu pada selang waktu, asimetri antara masa lalu dan seka­rang, hubungan antara kontinuitas dan per­ubahan, atau sesuatu yang lain? Menurut pendapat saya, adalah tidak informatif un­tuk berbicara tentang waktu seperti itu: ber­bicara tentang “teori yang sensitif terhadap -waktu” atau “mengabaikan waktu” hanya akan menimbulkan kebingungan dan keru­wetan. Tidak banyak yang bisa diperoleh dengan menggunakan konsep kabur seperti “proses” atau “dinamika” waktu, seperti misalnya membicarakan tentang teori “dina­mis versus statis.” Ringkasnya, akan lebih berguna untuk berbicara tentang komponen waktu yang berbeda-beda—cara di mana waktu masuk ke dalam teori. Lalu apa komponen waktu tersebut? Saya membedakan empat dimensi. Satu di­mensi merujuk pada pentingnya selang waktu. Komponen lainnya berkaitan dengan hubungan antara aspek invariabel dan aspek transien, atau aspek kontinuitas dan peruba­han. Dimensi ketiga berkaitan dengan sifat dan hubungan antar mode-mode temporal; yakni, masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Dan komponen terakhir berhubung­an dengan status rentang temporal yang ber­variasi. Perbedaan paling tegas adalah antara anali­sis sinkronis dan diakronis. Studi sinkronis “mengurung” selang waktu, dan mengambil potret dari apa-apa yang diinvestigasi. Studi diakronis, di lain pihak, berurusan dengan objek studi yang berkembang melalui wak­tu. Studi itu sendiri tidak selalu membutuh­kan lebih banyak waktu ketimbang analisis sinkronis, namun objek risetnya merentang di sepanjang periode waktu tertentu. Be­berapa pengulas mendeskripsikan oposisi antara diakronis dan sinkronis berdasarkan akar Yunani dan Judaeo-Kristen. Filsuf Yu­nani seperti Plato dan Parmenides menolak relevansi waktu karena mereka menganggap yang riil ada dalam keseluruhan yang ada dalam waktu sekarang, yang menjadi kom­ponen teleologis dari poin Judaisme yang merujuk pada arti penting selang waktu. Kebanyakan analisis sosial adalah diak­ronis, namun ada dua pengecualian: be­berapa bentuk penelitian strukturalis dan fungsionalis menempatkan waktu dalam satu wadah. Berbeda dengan ortodoksi dan difusionisme evolusioner abad ke-19, STRuc­TURALISM menisbahkan prioritas epistemolo­gis dan metodologis ke> analisis sinkronis. Salah satu cabang strukturalisme berpaling ke linguistik (misalnya Saussure, 1916) dan menjelaskan kehidupan sosial dengan meng­ambil analogi dan metafora dari analisis sistem linguistik. Makna item kultural atau artefak kultural dapat diambil dari hubung­an perbedaannya dengan item atau artefak lain yang bekerja sama di dalain sistem yang sama pada saat sekarang. Karenanya seseorang tidak perlu berpaling pada waktu untuk menisbahkan makna. Cabang kedua didasarkan pada warisan Emile Durkheim, dan mencoba menjelaskan bagaimana struk­tur dasar menyebabkan orang bertindak atau berpikir. Beberapa penulis strukturalis, seperti Claude Levi-Strauss, berusaha meng­ungkapkan oposisi biner universal yang digunakan orang secara tak sadar untuk memahami atau mengelompokkan situasi di sekitar mereka. Sekali lagi,- tujuan dari struktur laten ini tidak selalu membutuhkan analisis lewat waktu. Tentu saja akan keliru jika kita ber­asumsi, seperti ditunjukkan oleh beberapa komentator, bahwa kebanyakan analisis sosial yang didasarkan pada strukturalisme adalah analisis sinkronis. Sesungguhnya ada tradisi riset yang diilhami oleh strukturalis, misalnya yang dilakukan oleh aliran An­nales (misalnya Braudel, 1980; Burke, 1990) dan oleh Michel Foucault (1989a, 1989b). Demikian pula, akan keliru melabeli analisis fungsionalis sebagai analisis sinkronis. Tu­lisan evolusi Parsons yang belakangan (Par­sons, 1966, 1977) menunjukkan hal yang se­baliknya, juga neofungsionalisme Alexander dan strukturalisme-fungsional Luhmann. Tetapi yang benar (dan mungkin memberi kontribusi pada penyebaran mispersepsi bahwa analisis fungsional adalah bersifat historis) adalah bahwa beberapa fungsio­nalis awal, seperti Malinowski (1944) dan Radcliffe-Brown (1952) amat mendukung analisis sinkronis. Adalah ironis bahwa, meskipun Malinowski dan Radcliffe-Brown meninggalkan banyak riset historis atas masyarakat buta huruf, pemikiran mereka berakar dalam evolusionisme. Mereka ke­beratan pada beberapa klaim semi-ilmiah yang dikemukakan oleh karya evolusioner dalam antropologi akhir abad ke-19, bukan karena teorisasinya cacat, namun karena konklusinya didasarkan pada data yang ti­dak reliabel. Bagi para fungsionalis awal, praktik dan artefak kultural tidak direplikasi begitu saja; mereka terus-menerus disesuai­ kan dan disesuaikan-ulang dengan k►ndisi sosial yang baru. Karenanya pen•litian ten­tang bagaimana persistensi praktik ini mem­beri kontribusi pada Icohesi atau stabilitas sistem di mana praktik-praktik ini inuncul saat ini. Sekali lagi, kita tikda boleh mere­mehkan pemikiran evolusi. Setiap penalaran fungsionalis, seperti yang didukung oleh Radcliffe-Brown dan yang lainnya, bersang­kutan dengan gagasan dari (apa yang dise­but Parsons) “prasyarat fungsional univer­sal”: survival atau disintegrasi sistem sosial akan tergantung pada apakah kebutuhan sosial (misalnya, integrasi sosial minimum) terpenuhi atau tidak. Beberapa sumber sekunder mereduksi perbedaan antara analisis diakronis dan sinkronis ke perbedaan antara studi keter­tiban dan perubahan. Orang dapat meinaha mi mengapa pandangan ini dianut. Banyak analisis sinkronis mendeskripsikan hubung an antara bagian-bagian dari sistem sosial dan berharap bisa menjelaskan hal-hal yang menyebabkan sesuatu terjadi. Tetapi scjak 1970-an sejumlah teoretisi menunjukkan cara di mana tatanan sosial diperoleh me­lalui waktu—oleh individu yang tahu yang memahami lingkungannya dan menciptakan kehidupan sosial yang dapat diprediksi. I lal ini menurut mereka adalah analisis diakro nis. Teori strukturasi Giddens berkisar di seputar ide ini. Namun bisa juga dikatakan bahwa kerangka karya Bourideu ada dalain pAndangan yang serupa (Bourdieu, I 977b; Giddens, 1981b; 1984). Dimensi kedua berkaitan dengan hubungan antara yang invariabel dan yang transien. Se bagaimana komponen waktu yang pertama, adalah mungkin untuk melacak genealogi oposisi ini ke perbedaan antara akar Yunani dan Yahudi. Perkembangan filsafat yang lebih modern juga dapat dilihat dari sudut pandang dikotomi antara prinsip eternal dan perubahan. Secara khusus, pandangan Cartesian abad ke-17 dan pencarian prin­sip matematika yang mendasarinya dapat dianggap sebagai perluasan perhatian terha­dap hal-hal yang seragam (invariant), sedang­kan, sebagai reaksinya, Pragmatis abad ke­19 memandang Darwinisme sebagai batu loncatan ilmiah bagi filsafat proses (Kuklick, 1979, hlm. 118 ff, 143ff, 160-79; Toulmin dan Goodfield, 1982, hlm. 42-4; Wendorff, 1980). Banyak konsep yang diperkenalkan teo­retisi dan filsuf yang mengacu pada konti­nuitas dan perubahan. Di antara yang per­tama adalah adalah “statik sosial” Comte, “bentuk sosial” Radcliffe-Brown, “Iongue duree” Braudel, dan penggunaan “struktur” oleh Giddens. Di antara yang kedua adalah “dinamika sosial” Comte, “struktur” Rad­cliffe-Brown, konsep Pragmatis mengenai “kebaruan” dan “kemunculan” dan peng­gunaan “perpecahan” dan “diskontinuitas” oleh Foucault. Namun yang lebih penting adalah bahwa teori-teori berbeda dalam cara mereka mengonseptualisasikan hubung­an antara kontinuitas dengan perubahan, dan penentuan prioritas metodologis atau ontologis. Beberapa teoretisi menetapkan peran eksklusif pada struktur yang relatif invarian yang mendasari interaksi sosial dan memperlakukan arus temporal sebagai ilusi. Dalam strukturalisme, dan khususnya dalam sejarah versi aliran Annales, Braudel dan yang lainnya bereaksi menentang “histoire evenementielle”—sekadar sejarah kejadian atau sejarah tokoh besar yang membentuk masa lalu kita. Sebaliknya, Braudel dan yang lainnya menyatakan bahwa sejarah meng­gunakan beberapa pandangan sosiologis, khususnya ide Durkheim. Histoire evene­mentielle hanya berpuas diri dengan level data yang dapat diakses, sedangkan aliran Annales berusaha mencari struktur laten yang ada di baliknya (Burke, 1990; Braudel, 1949, kata pengantar). Teoretisi lainnya menolak mengang­gap aliran temporal sebagai kontruksi yang tak masuk akal. Mereka antara lain berasal dari Pragmatisme Amerika, sosiologi figur­asi, teori sistem Luhmann, dan pandangan dari perkembangan teori evolusi dan kom­pleksitas terbaru (Mead, 1959; Elias, 1970, 1982; Luhmann, 1976b, 1979b, 1982b; By­rne, 1988; Runciman, 1989). Beberapa dari kontribusi ini dapat dilihat sebagai reaksi terhadap sifat statis dari ortodoksi struk­tural-fungsionalis. Sosiologi figurasi Elias, dalam reaksinya terhadap skema referensi Parsons, berusaha menisbahkan priori­tas khusus pada ciri dinamis dari interaksi manusia. Titik awal Elias adalah bahwa, sebagaimana bahasa gagal menangkap si­fat dinamis dari realitas, demikian pula ko­sakata sosiologi kita tidak bisa menangkap perubahan-perubahan yang terjadi di dunia sosial. Kebanyakan teori, seperti teori Par­sons, menunjukkan kontinuitas padahal ada perubahan, dan karenanya dibutuhkan ko­sakata sosiologis baru (Elias, 1970, 1982). Kontribusi lainnya memperlihatkan signifi­kansi filosofis yang lebih luas. Ini berlaku untuk Philosophy of the Present karya G. H. Mead, sebuah filsafat proses yang beroperasi di berbagai level, mulai dari dunia kosmolo­gi, kemasyarakatan hingga individual. Mead dipengaruhi oleh Alfred Whitehead dan Henri Bergson, dan ia menolak pandangan kausalitas Laplacian. Dia menganggap ke­munculan sesuatu yang baru adalah tak bisa diperkirakan: bahkan penjelasan lengkap tentang apa yang mendahului suatu kejadian tidak bisa diprediksi. Dimensi sosiologis dari teori waktu Mead masih belum dikembang­kan, tetapi dia menyebut dua cara di mana hal-hal baru muncul pada level sosial. Orang sering menghadapi kejadian-kejadian tak terduga yang membuat mereka merefleksi­kan masa lalu dan masa depan. Meskipun orang mengandalkan pada orang lain yang digeneralisasikan, namun si “aku” masih tetap tak dapat diprediksi (Mead, 1929, 1959, 1972). Filsafat proses G. H. Mead berpengaruh terhadap penulis lainnya. Herbert Blumer menolak menerima pandangan Durkheimi­an bahwa struktur atau regulasi normatif ditetapkan pada, atau diinternalisasikan oleh, orang-orang. Karenanya tidak ada bentuk kehidupan sosial praeksis atau mereproduksi­diri sendiri yang independen dari prosedur interpretasi orang: institusi dan pola sosial akan ditafsirkan ol•l► orang dan dapat selalu ditafsirka► ulang atau direvisi penafsiran­nya. Juga tidak ada makna intrinsik untuk suatu objek, dan tidak ada makna yang ada dalam benak manusia: makna suatu objek bagi individu berasal dari tendensinya untuk bertindak terhadap objek, dan karenanya makna itu bisa berubah dari waktu ke waktu (Blumer, 1969, hlm. 70 ff). Karya Luhmann bahkan lebih dipengaruhi oleh teori waktu Mead. Dengan mengombinasikan filsafat Mead, refleksi de Vauvenargue tentang waktu dan teori autopoiesis Maturana dan Varela, Luhmann berusaha untuk menyusun sebuah teori yang akan mencakup kontinui­tas dan kemunculan hal baru. Kejadian yang baru muncul adalah lokus realitas, dan masa lalu dan masa depan diperlakukan sebagai horison waktu sekarang. Ambisi Luhmannn adalah menyusun teori yang menjelaskan ketidakmampuan prediksi masa depan, dan menerang.kan kapasitas sistem untuk me­nyerap atau menyesuaikan diri dengan ke­munculan atau kebaruan (Luhmann, 1976b; 1979b; 1982b). Terakhir, telah dilakukan usaha untuk menunjukkan signifikansi so­siologis dari filsafat proses Mead, dan mer­ekonsiliasikan pandangan-pandangan ini dengan pemikiran evolusi kontemporer. Ti­tik awalnya adalah bahwa, saat berhadapan dengan kejadian tak terduga (seperti kon­sekuensi tak terduga dari suatu tindakan), orang biasanya secara kolektif merenungi hal-hal yang selama ini diterima begitu saja, merekonstruksi masa lalu secara simbolis dan bertindak berdasaran hal tersebut. Ide ini kemudian dikaitkan dengan mekanisme feedback evolusioner, fenomena lock-in, de­pendensi-jalan dan perkembangan “chreo­dic”. Abad ke-20 juga tidak nyaman dengan usaha sebelumnya untuk membangun kon­tinuitas antara mode-mode temporal, atau menarik kesimpulan dari masing-masing mode. Populeritas (pada poin waktu ter­tentu) rasionalisme kritis dan postmodern­isme menunjukkan efek ini. Betapa pun berbedanya dua cabang pemikiran ini, mereka sama-sama skeptis terhadap semua teori sejarah. Dalam Poverty of Historicism karya Popper (Popper, 1957), “historisisme” adalah setiap usaha, seperti usaha Marx, untuk mengungkap “hukum perkembangan sejarah,” yang akan membuat seseorang bisa memprediksi sejarah. Menurut Popper, pre­diksi ini sebenarnya hanya ramalan. Prediksi adalah pernyataan kondisional dan dapat difalsifiaksi, sedangkan ramalan adalah nonkondisional dan karenanya tidak bisa difalsifikasi dan bersifat nonilmiah. Lebih jauh, apa yang dinamakan hukum ini sesung­guhnya adalah tren, dan tren tidak selalu berlanjut di masa depan. Beberapa argumen postmodern juga sama. Lyotard mendeskrip­sikan kondisi postmodern sebagai kondisi ke arah “metanarasi.” Yang dimaksudkannya adalah bahwa filsafat postmodern bersikap skeptis terhadap semua usaha, entah itu Marxis atau lainnya, untuk memasukkan se­luruh sejarah (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan) ke dalam satu kerangka teoretis tunggal. Ini menjelaskan mengapa Foucault, yang dalam banyak hal diletakkan dalam tradisi postmodern, lebih memilih metocle arkeologis yang menegaskan diskontinuitas sejarah dan metode Nietszche dengan fokus­nya pada peran kontingensi. Kedua metode ini menolak jenis tulisan sejarah yang secara artifisial mengonstruksi kontinuitas lintas waktu.

Rentang temporal. Pengertian time (waktu) adalah

Dimensi keempat didasarkan pada perbe­daan antar rentang temporal dan skala waktu. Yang saya maksud dengan rentang temporal adalah tipe durasi yang merupakan objek analisis. Telah diketahui bahwa, dalam ilmu alam, disiplin yang berbeda atau sub­subdisiplin yang berbeda mencakup rentang temporal yang berbeda. Beberapa fisikawan berusaha merekonsiliasikan mekanisme yang tak dibalikkan di level makroskopik dengan hukum yang dapat dibalik yang dapat di­aplikasikan pada dunia mikroskopik, dan beberapa ahli biologi mengambil pandangan sejarah evolusi dari studi perkembangan em­briologi dalam rentang waktu yang pendek (Coveney, 2000; Friday, 2000): Demikian pula, beberapa teoretisi sosial fokus pada periode waktu yang panjang, sedangkan yang lainnya mempelajari keahlian dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kon­teks ini Giddens membedakan antara waktu historis, waktu institusional, dan duree dari kehidupan sehari-hari (Giddens, 1981a, hlm. 19ff.). Kebanyakan kontribusi abad ke-19 untuk pemikiran sosial adalah berhubung­an dengan periode waktu yang panjang: misalnya, materialisme historis Marx, tesis rasionalisasi Weber, dan teori Durkheim ten­tang pergeseran dari solidaritas mekanik ke organik, yang mencakup kerangka waktu beberapa abad. Di sepanjang abad ke-20, sebagian lantaran bertambahnya pengaruh dari fenomonologi dan pendekatan herme­neutika, pendulum mulai bergeser ke arah lain, tetapi belakangan ini, seperti dalam fisika dan biologi, telah dilakukan usaha teo­retis untuk menghubungkan rentang tempo­ral yang berbeda-beda ini. Dengan memaclukan fenomenologi Hu­serl dengan perhatian sosiologis, Alfred Schutz memperkenalkan gagasan duree dalam pemikiran sosial, dan menunjukkan sejauh mana duree sebagaimana yang dipa­hami Bergson diatur oleh “rasionalitas com­mon sense.” Bertentangan dengan “rasion­alitas ilmiah,” rasionalitas akal sehat orang didasarkan pada epoche sikap natural: du­nia sosial diterima begitu saja sampai terjadi gejolak atau peristiwa baru (Schutz, 1962, hlm. 3-47). Mengikuti tradisi Schutzean ini, etnometodologi Garfinkel mempelajari secara detail rutinitas yang mengfsi rentang temporal sehari-hari kita, dan menunjukkan sejauh mana daya-prediksi kehidupan sosial bergantung pada penjelasan dan prosedur in­terpretasi orang (Garfinkel, 1967; Heritage, 1984). Akan keliru jika memAndang minat Garfinkel terhadap duree Schutz sebagai pergeseran menjauh dari disiplin sosiologi menuju ke psikologi sosial. Etnometodologi mengandung pertanyaan sosiologis yang jelas: seperti Parsons (dan Durkheim), Garfin­kel berusaha menjelaskan bagaimana tatan­an sosial muncul dengan mengingat bahwa orang yang berbeda tujuan (atau sama) hi­dup berdampingan. Apa yang membedakan Garfinkel dengan pendahulu sosiologinya adalah bahwa dia menunjukkan bahwa stu­di duree Schutz pada dasarnya adalah amat penting untuk menjelaskan dilema sosiologis dari tatanan sosial. Ini menjelaskan menga­pa Giddens menggunakan Garfinkel untuk menghubungkan beragam rentang temporal dan untuk menunjukkan bahwa reproduksi struktur pada akhirnya bergantung pada ja­ringan prosedur interpretasi, anggapan dan ekspektasi yang kompleks, yang melalui itu semua individu memahami dan bertindak dalam lingkungannya. Sementara Parsons berusaha memahami tatanan sosial sebagai tindakan penyeimbangan fungsional antara sistem sosial dan personalitas, kini tatanan dianggap sebagai sesuatu yang diciptakan dalam praktik rutin kehidupan sehari-hari, yang ada di dalam waktu yang tak bisa diba­likkan (Giddens, 1984; 1993). Usaha Giddens untuk mengatasi perten­tangan antara rentang temporal yang berbecla-beda juga mengandung reaksi terhadap dua sumbu waktu: yang pertama mengacu pada signifikansi selang waktu, yang lainnya pada hubungan antara aspek invarian clan perubahan. Beberapa komentator mereduksi perbedaan antara analisis sinkronis dan diak­ronis ke perbedaan antara studi ketertiban dan perubahan. Kita dapat memahami me­ngapa pandangan ini dianut: banyak analisis sinkronis mendeskripsikan hubungan antara bagian-bagian sistem sosial yang berbeda sehingga diharapkan dapat memberi kontri­busi untuk menjelaskan mengapa segala ses­uatu terjadi seperti yang terlihat. Pendekatan Giddens berbeda. Penjelasannya tentang tatanan sosial mengimplikasikan bahwa ketertiban dicapai melalui waktu—melalui individu berpengetahuan yang menjelaskan lingkungan mereka dan menyusun kehidu­pan sosial yang dapat diprediksi. Karenanya studi reproduksi masyarakat adalah analisis diakronis. Pengertian time (waktu) adalah Tak perlu dikatakan lagi, penjelasan di atas bukan diskusi lengkap tentang waktu dalam pemikiran sosial. Ia mendiskusikan teori­teori abstrak—bukan refleksi teoretis ten­tang masyarakat tertentu. Juga ada banyak literatur tentang perbedaan antara masyara­kat “maju” yang berbeda dengan tipe ma­syarakat sebelumnya, dan bagaimana per­bedaan-perbedaan ini dapat diartikulasikan dalam term temporal. Demi kejelasan, saya membedakan antara usaha untuk meng­karakteristikkan modernitas di satu pihak, dan usaha untuk mengidentifikasi sifat ma­syarakat dewasa ini di pihak lain. Sejak konsep awalnya, sosiologi telah menunjukkan minat terhadap transisi ke arah masyarakat modern, dan gagasan wak­tu menjadi penting bagi argumen-argumen yang dikemukakannya. Pertama, beberapa penulis memandang rasionalisasi sebagai ciri khas modemitas. Menurut Max Weber (1904-5), misalnya, Calvinisme dan kapital­isme rasional diiringi dengan meningkatnya penggunaan metodis atas waktu, sedangkan kebangkitan birokrasi mengimplikasikan daya prediksi yang makin besar dalam bidang eko­nomi dan politik. Dalam nada yang sama, Michel Foucault (1977a) mencatat bahwa transisi ke arah masyarakat yang disiplin diiringi dengan pengawasan yang lebih rasio­nal dan menyeluruh terhadap setiap segmen waktu untuk memprediksi dan mengontrol perilaku orang. Kedua, beberapa pihak ber­pendapat bahwa apa yang membedakan modernitas dari pramodern adalah bahwa modernitas mampu merefleksikan masa lalu dan memisahkan diri dari masa lalu. Masa sekarang, karenanya, menempati peran yang lebih menonjol karena ia memuat kemung­kinan dan mungkin mengimplikasikan pe­misahan dengan masa lalu. Pandangan ini tercermin dalam pembedaan yang dilaku­kan Claude Levi-Strauss antara masyarakat “dingin” dan “panas.” Masyarakat dingin seperti instrumen mekanis; mereka terus beroperasi secara tetap sampai muncul pro­blem. Masyarakat panas adalah mirip mesin termodinamika yang menggunakan banyak energi, selalu butuh pengisian ulang dan terus-menerus berubah (Levi-Strauss, 1967; 1975). Ketiga, beberapa pihak menunjuk­kan dilema eksistensial yang dihadapi oleh individu modern. Misalnya, Mircea Eliade (1954) menunjukkan bahwa, dalam setting pramodern, agama memungkinkan orang untuk menempatkan diri mereka dalam es­katologi. Pada awalnya modernitas melan­jutkan hal ini, tetapi pada akhirnya ia me­lemahkan hubungan antara individu dengan narasi yang lebih luas. Dalam pandangan sekuler ini, orang dipaksa untuk menempati masa sekarang yang abadi. Pengertian time (waktu) adalah Ini membawa kita pada isu apakah ma­syarakat kontemporer adalah perluasan dari modernitas ataukah hasil dari pemutusan dengan modernitas. Beberapa penulis, seperti jameson, menegaskan diskontinuitas an­tara “masyarakat postmodern” kontempo­rer dengan modernitas, dan ia berpendapat hahwa masyarakat dewasa ini dicirikan oleh fluiditas dan kesementaraan. Estetika post­modern berbeda dari modernisme dalam hal bahwa kebaruannya dianggap mustahil; postmodern mengartikulasikan dan merearti­kulasikan prestasi estetika masa lalu secara ironis (Jameson, 1991). Yang lainnya, seperti Giddens atau Beck, menekankan kontinuitas dengan modernitas dan berbicara tentang “modernitas tinggi” atau “modernitas yang intensif.” Giddens berbicafa tentang “pen­jarakan ruang-waktu” yang diartikannya sebagai bahwa orang kini memiliki banyak alat teknologi untuk mengatasi batasan spa­sial-temporal. Giddens, yang dipengaruhi Parsons, mendiskusikan bagaimana orang juga menggunakan tanda-tanda simbolik, seperti uang, untuk mengatasi ruang dan waktu (Giddens, 1990, 1992). Dalam nada yang sama, saat mengomentari “masyarakat berisiko” Beck, Adam mencatat bahwa kita kini menghadapi berbagai macam efek nega­tif yang tak diharapkan dari usaha-usaha sebelumnya untuk menguasai alam, dan solusinya seharusnya melampaui kerangka “jangka-pendek” yang menjadi ciri kebi­jakan saat ini. Situasi sekarang ini problema­tik karena individu tidak lagi dapat meng­gunakan pengetahuan mereka tentang masa lalu untuk secara efektif mengatasi problem masa kini dan masa depan (Adam, 1995, 1999).