Alat produksi kultural.

Pengertian totalitarianism (totalitarianisme) adalah Sebagai istilah taksonomik dalam ilmu sosial, totali­tarianisme dipakai sebagai cara mengkarak­teristikkan ciri dasar dari rezim satu partai di bawah diktator personal atau oligarki au­tokratik. Rezim semacam ini, yang berbeda dengan ancien regime, berusaha menciptakan CONSENSUS yang mendukung segelintir elit penguasa dengan menciptakan organisasi regimentasi massa, dengan memonopoli semua alat produksi kultural (khususnya media massa) dan dengan menggunakan me­kanisme SOCIAL CONTROL. Ini mencakup PRo­PAGANDA, ritual politik untuk memperkuat pemujaan pemimpin dan bangsa serta ber­bagai macam teknik ComooN mulai dari restriksi legal berdasarkan kebebasan dasar hingga ke teror sistematis.

Elemen totalitarianisme. Pengertian totalitarianism (totalitarianisme) adalah

Tujuan negara semacam ini adalah me­nyalurkan semua energi sosial, pOlitik, eko­nomi dan kreatif ke realisasi utopia yang diidentifikasi oleh dogma resmi, meskipun cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan ini menciptakan distopia. Stalin di Rusia, Nazi Jerman dan fasis di Italia sering dianggap sebagai contoh totalitarianisme dalam pengertian sempit ini, dan studi-studi kasus baru mengenai permutasi dan studi kebiadaban birokratik yang membahayakan manusia telah dilakukan dengan meneliti misalnya Pol Pot di Kamboja, Ceausescu di Rumania dan Saddam Hussein di Irak. Sebagai “tipe ideal” penggunaan khusus dari istilah “totalitarianisme” ini menjadi subjek kontroversi, dan beberapa ahli mem­pertanyakan kegunaannya, khususnya de­ngan mengingat bahwa Perang Dingin telah mengurangi totalitarianisme menjadi seka­dar istilah saja untuk masyarakat yang lebih “tertutup” ketimbang “terbuka” (Popper, 1945), dan karenanya tidak menjadi ang­gota “Dunia Bebas.” Setelah istilah ini dipi­sahkan dari konotasi antikomunisme atau kejayaan liberal, elemen totalitarianisme bisa dilihat dalam setiap sistem sosiopolitik yang kebijakan dan institusinya mengandung efek yang menghancurkan kebebasan manu­sia dalam kerangka tradisi Pencerahan. Bisa dikatakan bahwa totalitarian adalah rezim yang dari waktu lce waktu telah menindas penduduknya (misalnya, Kekaisaran Cina) atau menindas kultur asli (misalnya Spanyol). Elemen-elemen totalitarianisme dapat juga dideteksi dalam kolusi demokrasi (kapitalis) iberal kontemporer dengan berba­gai bentuk imperialisme “modern,” kontrol sosial, eksploitasi dan penanaman nilai dan norma yang menopang kepentingan institusi negara, media dan kapitalis. Pengertian totalitarianism (totalitarianisme) adalah Ini dapat meng­hasilkan ALIENATION warganya, dan meme­rangkap warga dalam kerangka konseptual ilusif dalam memahami peristiwa-peristiwa besar dunia (seperti perkembangan kemis­kinan di Selatan atau pemanasan global) dan struktur politik, ekonomi dan sosial yang menopangnya, yang pada gilirannya menim­bulkan disonansi kognitif dan penyangkalan akan skala pandemik (lihat Chomsky dan Herman, 1988). Penggunaan utama istilah “totalitarian” dewasa ini masih dalam konteks nilai heuris­tiknya bagi investigasi aspek struktural dari berbagai rezim personal, militer dan partai modern di seluruh dunia yang berusaha keras menciptakan ilusi dinamisme, efisiensi dan populeritas pemimpin mereka di mata rakyat, sembari berusaha mengontrol ke­hiclupan ralcyat (lihat DicTAToRsH(P). Salah satu tAnda vitalitasnya adalah penggunaan­nya sebagai konsep kunci dalam sejarah baru Third Recill (Burleigh, 2000). Yang lainnya adalah sejarah konsep yang baru (Tormey, 1995) yang membedakan antara teori totali­tarianisme “kuat” yang mengimplikasikan bahwa adalah mungkin bagi suatu rezim untuk mengontrol seluruh bidang kehidt1)- an, dengan teori “lemah” yang menerima bahwa hal itu secara a priori mustahil. Juga diperkenalkan perbaikan teori dengan meng­akui hubungan erat antara totalitarianisme dengan utopinanisme yang “lahir dari radi­kalisme, ketidakpuasan terhadap keadaan sekarang yang menimbulkan harapan alcan sesuatu yang baru” (hlm. 168), dan bertu­juan “mengubah secara komplet karakter dasar dari eksistensi manusia”. Teori totalitarianisme “lemah” yang memandang rezim jenis ini bertujuan men­jalankan kontrol komprehensif atas masyara – kat modern berdasarkan kerangka utopian untuk menciptakan “tatanan baru” adalah teori yang tidak bisa diabaikan. Meskipun demikian, ada beberapa keberatan terhadap penggunaan istilah ini sebagai alat anali­sis akademik. Pertama, perbedaan ideologi Text Box: TRADE UNION	I RAI)I IJNIONdan struktural yang radikal dapat muncul di antara dua masyarakat yang dideskrip­sikan sebagai totalitarian (misalnya Jerman di bawah Hitler dan Rusia di bawah Stalin). Secara khusus, ada variasi dalam isi dari uto­pia yang dicoba untuk direalisasikan rezim dan tingkat penggunaan koersi, teror dan pembunuhan massal untuk menekan pem­bangkangan dan menciptakan “manusia baru.” Kedua, karena ada perbedaan antara cita-cita rekayasa sosial komprehensif dan realitas manusia, setiap rezim totalitarian akan tampak sebagai rezim yang polikratik, korup dan tak efisien. Secara khusus, usaha­nya untuk memobilisasi dan menggera•kan massa akan menimbulkan depolitisasi dan demoralisasi, sedangkan mereka yang ada dalam lingkaran kekuasaan akan menjadi oportunis dan pemburu karier ketimbang menjadi para pemimpin visioner atau revo­lusioner. Inilah mengapa pluralisme, indi­vidualisme dan kreativitas tetap tersembunyi di balik permukaan sosial, dan akan dengan cepat muncul ke permukaan setelah aparat negara yang menekan dan tindakan represi telah menghilang (seperti di Jerman pasca­Nazi dan Rusia pascakomunis). Pengertian totalitarianism (totalitarianisme) adalah Mengenai hubungan totalitarianisme de­ngan “pemikiran sosial,” contoh Ita­lia, Nazi Jerman, komunis Rusia dan Cina menunjukkan bahwa energi akademis dan intelektual dapat dikerahkan oleh negara untuk menyokong negara totalitarian. Ciri negara seperti ini adalah penolakan terhadap kritik dan dialog yang sejati, dan karenanya (dalam term Sokratik atau liheral) menolak semua pemikiran sosial yang autentik. Jika “pemikiran sosial” dimaknai dalam penger­tiannya yang paling luas, maka penjelasan paling tajam terhadap eufemisime dan pe­mikiran, keinginan dan emosi yang kusut dari pihak-pihak yang tertindas dapat dite­mukan bukan dalam analisis ilmuwan sosial (misalnya Friedrich dan Brzezinski, 1956) atau intelektual pecinta kebebasan (misalnya Hannah Arendt, 1958) tetapi dalam fiksi visioner: dalam novel-novel seperti Brave New World karya Aldous Huxley, Darkness at Noon karya Arthur Koestler, 1984 karya George Orwell, The Plague karya Albert Camus, Yawning Heights karya Alexander Zinoviev, dan dalam drama-drama seperti Audience karya Vaclav Havel, dan dalam film-film seperti Brazil (1985) karya Terry Gilliam, Antz (1998) karya Tim Johnson dan Eric Darnell atau The Matrix (1999) karya Andy dan larry Wachowski.