Ortodoksi ekonomi.

Pengertian trade union (serikat pekerja) adalah Organisasi bu­ruh yang dikenal sebagai “serikat pekerja” telah eksis di Inggris sejak akh.ir abad ke-18. Sidney dan Beatrice Webb dalam definisi klasiknya (1920, hlm. 1) menyatakan bah­wa “sebuah serikat pekerja, sebagaimana kami memahami istilah ini, adalah asosiasi berkelanjutan dari para pencari upah yang bertujuan menjaga atau meningkatkan kon­disi kerja mereka.” Ortodoksi ekonomi, dengan paradigma transaksi individualnya, menganggap serikat ini tidak bisa dipahami (dan tidak tepat). Sosiologi kesulitan dalam mengonseptualisa­sikan kombinasi organisasi formal dengan kolektivitas informal dan spontan dari seri­kat ini. Usaha paling ekstensif untuk meng­aplikasikan analisis sosial kc serikat pekerja telah dilakukan oleh kelompok partisan, terutama dalam tradisi Marxis. Perhatian utama adalah pada sejauh mana, dan dalam kondisi apa, serikat pekerja memunculkan (atau, sebaliknya, merintangi) revolusi pro­letar. Karya Marx dan Engels tidak menye­diakan teori serikat pekerja yang konsisten atau sistematis, dan kaum Marxis abad ke­20 mengelaborasi banyak perspektif yang saling bertentangan.

Debat serikat pekerja. Pengertian trade union (serikat pekerja) adalah

Salah satu pendekatan datang dari pam­flet Lenin What Is To Be Done? (1902). Sebagian dipengaruhi oleh bacaannya atas karya Webb, Lenin berpendapat bahwa “perjuangan ekonomi” oleh serikat pekerja tidak pernah berkembang secara spontan menjadi gerakan politik yang komprehensif; karenanya “kesadaran serikat buruh” mem­butuhkan petunjuk dari partai revolusioner. Pengertian trade union (serikat pekerja) adalah Pendapat bahwa serikat pekerja dapat men­jadi agen efektif dalam menentang relasi so­sial kapitalis dalam bidang lapangan kerja, namun dapat memberi kontribusi pada transformasi sosial radikal hanya di bawah kepemimpinan partai, telah menjadi gagasan sentral dalam ortodoksi komunis. Argumen terkenal lainnya (dan terka­dang merupakan argumen pelengkap) me­nyatakan bahwa serikat pekerja sebagai institusi formal secara inheren mengembang­kan karakteristik konservatif, menunjukkan apa yang oleh Roberto Michels (1911) dise­but sebagai “hukum besi oligarki.” Dalam varian yang berbeda, pemimpin dan pejabat mengembangkan kepentingan pribadi yang bertentangan dengan kepentingan “rakyat jelata”; menjadi terlibat dalam tawar­menawar dengan majikan dan karenanya melakukan pembelaan atas “legalitas indus­tri” (Gramsci, 1910-20); atau menentang militansi melalui perhatian eksesif terhadap stabilitas organisasional serikat pekerja. Beragam strategi telah diusulkan untuk mengatasi tendensi ini. Sindikalis meminta serikat pekerja menghindari kesepakatan dengan majikan dan melakukan pemogok­an umum revolusioner (lihat Ridley, 1970); sebelum 1914, kemungkinan pemogokan massa juga dipAndang secara optimis oleh Marxis yang Ichih ortodoks seperti Rosa Luxemburg (1906). Yang lainnya berusaha merekonstruksi scrikat pekerja menjadi lem­baga industri yang komprehensif, mampu mengambil alih pelaksanaan industri; contoh terkenalnya adalah Industrial Workers of the Wor1d (atau “Wobblies”), yang dibentuk di USA pada 1905 di bawah pengaruh teoretisi De Leon (lihat Dubofsky, 1969). Sepanjang periode 1914-1918 formasi organisasi bu­ruh di banyak negara yang terlibat perang cenderung relatif independen dari bentuk struktur serikat formal dan mampu bersaing dalam mengontrol produksi, memberikan model alternatif lain—yang dianalisis oleh Gramsci, dan dikembangkan oleh teoretisi lain seperti Pannekoek sebagai basis tin.tuk teori “komunisme dewan” (Smart, 1978). Setelah pembentukan Communist Interna­tional, sebuah elemen penting dalam strategi sayap kiri adalah pendirian gerakan “rakyat jelata” di dalam serikat pekerja resmi. Pengertian trade union (serikat pekerja) adalah Tak­tik ini kemudian dipakai oleh kelompok Trotskyis. Sejak revolusi Soviet, peran serikat pe­kerja dalam masyarakat sosialis telah me­nimbulkan perdebatan di kalangan Marxis. Dalam “debat serikat pekerja” pada I 920- 1, Trotsky berpendapat bahwa mereka akan secara formal tunduk pada negara, sedangkan Workers Opposition menegas­kan bahwa mereka seharusnya tetap inern pakan kekuatan independen dalam bidang ekonomi. Pandangan Lenin munctil sebagai pemenang: bahwa meski independen seci1r.1 formal serikat pekerja harus mengikuti kepemimpinan partai, sebagai “saluran transinisi dari Partai Komunis ke massa.” 1)i walt Stalin, ironisnya, model kontrol negara .113 Trotsky diimplementasikan secara efektif (lihat Deutscher, 1950), dan setel.th 1945 diperluas ke rezim komunis Timur.