Cara hidup rakyat.

Pengertian tradition and traditionalism (tradisi dan tradisionalisme) adalah Tradisi menempati keduduk­an khusus dalarn adat istiadat, konvensi, dan cara hidup rakyat yang merupakan bagian dari kultur manusia. Tradisi biasa­nya diartikan sebagai adat yang punya akar di masa lalu dan mengandung aura sakral. Kata tradisi berasal dari kata kerja Latin tradere yang berarti menyampaikan, men­transmisikan, menyerahkan melalui waktu. Walaupun kata kerja ini dapat berarti trans­misi hal-hal trivial atau biasa, ia pelan-pelan dipakai untuk hal-hal yang paling penting, untuk “deposit” dari masa lalu yang men­gandung nilai luar biasa bagi masa kini dan, mungkin, masa depan.

Aliran intelektual. Pengertian tradition and traditionalism (tradisi dan tradisionalisme) adalah

Kita bicara tentang ajaran Kristen tradisional di Eropa dan monarki, patriarkalisme, konstitusionalisme dan seni lama sebagai tradisional. Untuk hal yang kurang penting kita bisa menggunakan is­tilah “adat istiadat” atau “folkways.” Adalah keliru jika memandang tradisi itu statis dan cenderung mengarah ke keadaan diam. Migrasi, perang dan revolusi dalam HisToRY memuat keinginan kelompok-ke­lompok untuk membela, melindungi atau bahkan menghilangkan tradisi. Revolusi dan bentuk gerakan besar lainnya bukan hanya berasal dari perasaan akan adanya ketida­kadilan tetapi juga dari pemahaman sejarah tentang tradisi larna yang dilanggar. Mampu menunjukkan bahwa praktik saat ini telah menjauhi atau melanggar tradisi yang di­hormati sama artinya dengan memperkuat tradisi. Seperti ditunjukkan oleh sejarah Marxisme, partisan kiri berbicara mengenai ajaran Marx yang “riil” dan “benar” dalam kontroversi doktrin melawan partisan ka­nan, dan walaupun mereka mungkin tidak menggunakan kata “tradisi” namun istilah itu sering menjadi substansi tulisan mereka. Hal yang sama juga terjadi dalam agama. Se­jarah Kristen sejak masa Reformasi sebagian besar adalah sejarah sekte dan schisme. Para penulis dan pimpinan sekte-sekte baru men­egaskan bahwa betapa pun radikalnya aliran sempalan mereka, sekte itu didasarkan pada keinginan untuk kembali ke “agama masa kuno” atau ke “tradisi Yesus Kristus yang murni.” Adalah sulit untuk memisahkan sejarah ide tradisi saat ini dari aliran intelektual yang menggerakkan Eropa Barat dari mereka yang menyebut dirinya sebagai Tradis ionalis pada masa selama dan sesudah Revo­lusi Perancis. Saya secara khusus merujuk pada Louis Gabriel de Bonald dan jospeh de Maistre. Penggunaan istilah “konser­vatif” baru lazim pada 1820-an di Inggris dan Perancis. Tetapi tradisionalisme sebagai filsafat politik, dan sebagai label, sudah ada sejak 1790-an. Adalah Edmund Burke yang bertanggung jawab atas hal ini. Yang menarik, dia tampaknya tidak menggunakan isti­lah “tradisi” atau “tradisionalisme” dalam karyanya yang berjudul Reflections on the Revolution in France, tetapi dia menggu­nakan kata “prasangka,” dan argumennya mengenai “prasangka, dengan melibatkan nalar” adalah salah satu ringkasan untuk tradisi dan tradisionalisme yang paling jelas yang pernah ditulis. Apa yang dikecam oleh Burke dan se­mua tradisionalis awal abad ke-19 adalah revolusi Perancis dan ide Pencerahan tentang nalar, individualisme, kebebasan dan keseta­raan, yang kemudian menyebar ke pemerin­tahan-pemerintahan di Eropa. Dalam me­nyebarkan ide ini, revolusi tersebut harus mengecam institusi Rezim Lama: monarki, aristokrasi, gereja, gilda, komunitas pede­saan, dan sebagainya. Apa yang diserang revolusi adalah pe­mujaan diri tradisionalis. Pengertian tradition and traditionalism (tradisi dan tradisionalisme) adalah Ini pada dasarnya adalah nilai-nilai dan struktur abad pertengah­an; bukan kebetulan bahwa medievalisme dan tradisionalisme mengalami kebangkitan simultan di abad ke-19. Kita melihatnya dalam seni dan ilmu sosial. Di bidang seni ada tokoh-tokoh seperti Augustus Pugin, William Morris dan John Ruskin; di bidang ilmu sosial ada Friedrich Karl von Savigny dan Hegel di Jerman dan Auguste Comte dan Pierre Le Play di Perancis. Beberapa dari mereka berlebih-lebihan dalam memuji Abad Pertengahan dan amat mendukung in­stitusi tradisional seperti keluarg. a patriarkis, komunitas desa, gilda dan sistem kelas so­sial. Mereka sama-sama mengecam kekuat­an dunia modern seperti industrialisme dan teknologi, dan juga dalam beberapa kasus mengecam demokrasi massa dan egalitarian­isme, yang tampak menghancurkan dasar­dasar tradisi. Dapat dikatakan bahwa per­tentangan antara Tradisional dan Modern, seperti kita jumpai sejak awal abad ke-19 hingga saat ini di dalam tulisan-tulisan Barat, tak lain adalah varian dari tema yang sama dari Gemeinschaft dan Gesellschaft, status dan kontrak, dan tipe solidaritas yang dise­butkan Emile Durkheim dalam Division of Lahour in Society (1893). Perbedaan Max Weber antara Tradisional dan Rasional juga berkaitan dengan hal ini. Terakhir, harus ditekankan bahwa tra­disionalisme, CONSERVATISM, dan politik aliran kanan adalah berbeda; setidaknya sejak awal abad ke-10 ketika ketiga kata ini mendapatkan konotasinya yang sekarang. Tradisionalis berdasarkan definisinya loyal kepada cara lama. Tetapi ini bukan berarti mereka konservatif dalam pengertian di Barat, dan juga bukan berarti tradisionalis berada dalam aliran politik kanan. Pengertian tradition and traditionalism (tradisi dan tradisionalisme) adalah Jadi, penghormatan tradisionalis terhadap ke­kerabatan, agama, kelas sosial dan hal-hal sakral bukan berarti selalu sesuai dengan preferensi konservatif pada individualisme, pasar bebas, libertarianisme dan properti dan profit tanpa batasan. Berkenaan de­ngan hubungannya dengan politik, kita cukup mengingat beberapa kelompok tra­disionalis yang fanatik di dunia modern yang amat loyal kepada satu atau dua tradisi yang kadang-kadang mendorong mereka lebih dekat kepada kelompok kiri revolusioner ketimbang kelompok kanan atau konservatif. Irish Republican Army (IRA) dan Basque ETA mungkin sudah me­madai sebagai contohnya, namun pada saat ini kita mungkin bisa menyebut contoh di Timur Tengah dan kebangkitan Islam tra­disionalis tertentu di sana.