Kekuatan normatif.

Pengertian truth (kebenaran) adalah Istilah ini tampaknya kon­sep yang paling sederhana dan paling sulit. Mengatakan “benar” untuk suatu pernyata­an berarti memberi penilaian padanya—ini adalah fungsi utamanya, yang darinya teori “redudansi” dan “performatif” tentang ke­benaran mendapatkan kekuatannya. Tetapi ada komitmen pada klaim tentang dunia­yang masih berpengaruh—yang darinya teori korespondensi tentang kebenaran sejak zaman Aristoteles mendapatkan kekuatan­nya. Klaim ini memuat kekuatan normatif dari pernyataan “percayalah padaku—dan bertindaklah berdasarkan kepercayaan itu” yang menjadi dasar teori pragmatis (lihat PRAGMATISM). Pada saat yang sama klaim ini, jika ditentang, membutuhkan dasar, syarat yang mesti ditunjukkan dalam teori yang koheren. Jadi penilaian kebenaran biasanya akan memuat empat dimensi, yakni aspek kebenaran kandungan, aspek deskriptif, as­pek bukti dan aspek imperatif. Jika makna dasarnya sederhana (aspek deskriptifnya), maka akan mudah untuk melihat bahwa pembicaraan kebenaran akan memenuhi ke­butuhan transendental-aksiologis, bertindak sebagai mekanisme pengatur bahasa yang dipakai pengguna untuk memahami dunia.

Teori korespondensi. Pengertian truth (kebenaran) adalah

Tetapi “kebenaran” juga merupakan konsep paling sulit: jarang ada teori tanpa kelemahan tetapi juga tidak jarang menemu­kan kebenaran atau kemasukakalan. Hal ini menimbulkan percabangan teori seperti teori makna, teori referensi, teori perspesi, teori sebab akibat, teori agen, eksperimen, dan teori komunikasi (dan karenanya me­mengaruhi sosiologi filsafat dan ONTOLOGY pada umumnya). Perbedaan dasar adalah antara teoti makna dan kriteria kebenaran. Kriteria untuk klaim yang benar akan berva­riasi sesuai konteksnya. Teori kebenaran historis terpenting di abad ke-20 adalah teori kebenaran Hegelian dan teori korespondensi, koherensi, pragma­tis, redundansi, performatif, dan konsensus. Teori Marxis menyebar di seputar spektrum teori itu—Marxisme klasik berkomitmen pada teori korespondensi, materialisme di­alektis pada teori refleksi dan Marxisme Barat biasanya memandang kebenaran seba­gai ekspresi praktis dari subjek ketimbang sebagai representasi teoretis dari suatu objek, entah itu dalam bentuk koherenis (seperti dalam Gyorgy Lukacs), pragmatis (seperti dalam Karl Korsch) atau konsensualis (seper­ti dalam Antonio Gramsci). Teori korespondensi berjaya selama per­tengahan abad kejayaan LOGICAL POSMVISM, meskipun mereka juga didukung oleh bebe­rapa kritik positivisme logis seperti J. L. Wittgenstein, teori semantik A. Tarski, dan teori ilmu pengetahuan Karl Popper. Ke­beratan dasar pengkritik teori korespondensi adalah bahwa tampaknya tidak ada sudut pandang (Archimedean) yang bisa dipakai untuk membandingkan item-item yang sa­ling berhubungan. Teori koherensi, yang dipengaruhi oleh idealisme absolut dan kini dibela oleh N. Rescher dan yang lainnya, tampaknya meru­pakan teori yang paling masuk akal dalam menjelaskan kriteria ketimbang menjelas­kan makna kebenaran. Teori Hegelian bisa dianggap sebagai kasus khusus dari teori koherensi. Tetapi, entah itu dialektika Hege­lian atau penafsiran Anglo-Saxon, teori kohe­rensi tampaknya rnengasumsikan semacam penjelasan teoretis “kebenaran” berdasar­kan teori korespondensi. Dua jenis pragmatisme yang paling ber­pengaruh berasal dari tradisi C. Peirce, William James dan John Dewey di AS dan dari perspektif Nietzschean. Tradisi AS di­populerkan oleh Richard Rorty, yang mem­berikan konsep kebenaran yang tegas (dan pragmatismenya berhubungan dengan teori matematika konstruktivis dan intuisionis). Tentu saja ada kemungkinan bahwa propo­sisi di sini adalah salah atau benar. Menu­rut tradisi Nietzschean, yang memengaruhi poststrukturalisme, kebenaran adalah “ten­tara metafora yang bergerak,” yang pada akhirnya merupakan ekspresi kekuasaan, yang harus dianggap sedang dalam tahap penghapusan sebab tidak diperlukan lagi dan mustahil. Adalah sulit untuk melihat pandangan ini, entah itu dalam bentuk Der­ridean atau Foucaultian, sebagai sesuatu se­lain penyangkalan-diri. Teori lainnya akan dibahas secara lebih ringkas. Teori redudansi, yang pada awalnya dirumuskan oleh F. P. Ramsey, tampaknya diselundupkan ke dalam kebenaran lewat pintu belakang atau menyangkal kebutuhan aksiologis dari kebenaran. Teori performa­tif yang didukung oleh P. F. Strawson, R. M. Hare dan JohnSearle tampaknya lebih memuaskan dalam hal ini namun agak meng­abaikan dasar penggunaan kebenaran, seper­ti ditekankan oleh Kripke. Pengertian truth (kebenaran) adalah Teori konsensus, meski mampu menjadi rumusan ideal, tam­paknya mendapat banyak keberatan karena berdasar teori ini dapat dikatakan bahwa 20 juta orang Perancis bisa jadi salah! Bhaskar, yang mengembangkan real­isme kritis, menyusun dialektika kebenaran dan tetrapolity-kebenaran yang merupakan konsep dengan banyak lapis. Komponen tetrapolity pertama memandang kebenaran sebagai tindakan berpedoman dan tindakan sosial dan normatif. Komponen kedua me­mandang kebenaran sebagai sesuatu yang memadai (dapat dijelaskan) dan, dalam diskursus dimensi transitif, sebagai relatif. Komponen ketiga memandang kebenaran sebagai referensi-ekspresif, yang mengklaim kebenaran absolut (menjelaskan hakikat sesuatu yang ada di dunia). Komponen ke­empat memandang kebenaran sebagai ke­benaran ontologis, sebagai kebenaran alethic (dan dengan demikian objektif) seperti hal­nya fenomena di dunia dan dasar rasional. Di sini kita membahas kebenaran sesua­tu (termasuk manusia), bukan sekadar ka­ta-kata. Dan dalam dialektika sains yang dideskripsikan oleh realisme kritis, kita bergerak dari kepastian subjektif tentangbe­berapa proposisi (atau teori) ke penerimaan kenyataan intersubjektif dari proposisi terse­but. Komunitas kini mencoba mengungkap dasar-dasar rasional dari fenomena yang dideskripsikan oleh pernyataan itu. Ketika itu dilakukan, kita mendapatkan level ke­benaran objektif atau alethic, di mana ke­benaran kini berarti penjelasan dasar dibalik fenomena. Pengertian truth (kebenaran) adalah Dalam kehidupan sosial, penge­tahuan yang lebih luas dan mendalam dapat mengkritik bentuk pengetahuan yang belum berkembang seperti tradisi teori kritis dari Marx hingga Habermas. Komitmen realisme kritis pada realisme moral membuka kemungkinan baru bagi teori kebenaran, namun itu tidak bisa di­jabarkan di sini. Cukup dikatakan bahWa Bhaskar, senada dengan argumen Haber­mas, berpendapat bahwa setiap pernyataan yang benar pada dasarnya mengimplikasikan komitmen pada proyek pembebasan manu­sia. Hal ini, qua kebebasan dan kesejahtera­an, dapat dikatakan merupakan kondisi ke­benaran subjektif atau intersubjektif.